ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari (Tanjung et al., 2023). Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian (WHO, 2022). Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri (Huang et al., 2026), namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group dengan nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil dengan purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2x/minggu selama 4-6 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p0,05). Penelitian dilaksanakan di Kantor Supra Group, Jakarta Pusat pada Juni-Juli 2026. Hasil: Penelitian melibatkan 20 responden dengan karakteristik usia 21-30 tahun (55%), laki-laki (55%), dan durasi kerja ≥4 jam/hari. Rata-rata skor NRS sebelum intervensi 4,45 (nyeri sedang) menurun menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value = 0,000 (p0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping. Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), dengan penurunan rata-rata skor NRS dari 4,45 menjadi 1,15. Terapi ini aman dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh citra merek dan promosi media sosial terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Ritel Modern Mandalika Perfume Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 116 responden yang merupakan konsumen Mandalika Perfume. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi dengan bantuan program SPSS. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial Citra Merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian, kemudian Promosi media sosial juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Secara simultan, Citra Merek dan Promosi media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, yang ditunjukkan oleh nilai F hitung sebesar 101,924 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,643 menunjukkan bahwa citra merek dan promosi media sosial mampu menjelaskan 64,3% variasi keputusan pembelian, sedangkan 35,7% sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Berdasarkan hasil tersebut, kedua variabel memiliki peran dalam meningkatkan keputusan pembelian konsumen di Toko Ritel Modern Mandalika Perfume Bogor.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh promosi dan harga
terhadap keputusan pembelian peritel pada PT Distribusi Voucher Nusantara di
Kabupaten Bogor. Latar belakang penelitian ini dilandasi adanya persaingan ketat
dalam industri distribusi voucher telekomunikasi yang menuntut perusahaan untuk
menerapkan strategi promosi yang efektif dan penerapan harga yang kompetitif agar
dapat mempertahankan loyalitas peritel.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kuantitatif dengan teknik survei melalui penyebaran kuesioner kepada 92 responden
yang merupakan peritel mitra PT Distribusi Voucher Nusantara. Teknik penentuan
sampel menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Analisis data
dilakukan menggunakan regresi linier berganda yang meliputi uji validitas, uji
reliabilitas, uji t, uji f, dan koefisien determinasi (R²).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi (X₁) memiliki pengaruh positif
dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y) dengan nilai t hitung positif lebih
besar dari t tabel (11,814 > 1,6615) dan Sig lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) Harga
(X₂) juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dengan
nilai t hitung positif lebih besar dari t tabel (13,975 > 1,6615) dan Sig lebih kecil dari
0,05 (0,000 < 0,05) Secara simultan, promosi dan harga juga berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian dengan nilai f hitung lebih besar dari f tabel (140,680 >
3,095) dan Sig lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) Nilai koefisien determinasi (R²)
sebesar 0,754, yang berarti 75,4% variasi keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh
promosi dan harga.
Dengan demikian, semakin efektif promosi dan semakin kompetitif kebijakan
harga yang diterapkan oleh PT Distribusi Voucher Nusantara, maka semakin tinggi
keputusan pembelian peritel.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting (CINV) merupakan salah satu efek samping kemoterapi yang sering dialami pasien kanker dan dapat menurunkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien. Pengelolaan CINV dapat dilakukan melalui pendekatan farmakologis maupun nonfarmakologis. Aromaterapi Peppermint merupakan salah satu terapi komplementer nonfarmakologis yang dapat digunakan sebagai intervensi pendukung untuk membantu mengurangi keluhan mual dan muntah pada pasien yang menjalani kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi Peppermint terhadap Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting (CINV) pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental one group pretest-posttest dengan jumlah sampel sebanyak 62 pasien. Tingkat CINV diukur sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi Peppermint menggunakan Rhodes Index of Nausea, Vomiting and Retching (INVR). Analisis data dilakukan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor CINV sebelum intervensi sebesar 12,47 dan setelah intervensi sebesar 11,89, dengan penurunan rata-rata sebesar 0,58 poin. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z = -3,449 dan p-value = 0,001 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor CINV sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi Peppermint. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian aromaterapi Peppermint berpengaruh terhadap penurunan tingkat CINV pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Hasil penelitian ini mendukung penggunaan aromaterapi Peppermint sebagai salah satu terapi komplementer nonfarmakologis untuk membantu mengurangi CINV dan meningkatkan kenyamanan pasien selama menjalani kemoterapi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis, dan perilaku yang muncul menjelang menstruasi serta dapat menimbulkan nyeri dan mengganggu aktivitas remaja putri. Pumpkin seeds (Cucurbita moschata) mengandung magnesium, zinc, asam lemak tak jenuh, dan senyawa bioaktif yang berpotensi membantu mengurangi intensitas nyeri PMS. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi pumpkin seeds (Cucurbita moschata) terhadap intensitas nyeri Premenstrual Syndrome pada remaja putri di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel sebanyak 38 remaja putri dipilih menggunakan purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Responden diberikan pumpkin seeds sangrai sebanyak 28 gram per hari selama 10 hari berturut-turut, dimulai pada awal fase luteal. Intensitas nyeri diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) 0–10. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebelum intervensi, sebagian besar responden mengalami nyeri sedang sebanyak 18 responden (47,4%), nyeri berat 12 responden (31,6%), dan nyeri ringan 8 responden (21,1%), dengan rata-rata skor 5,79 ± 2,220. Setelah intervensi, 24 responden (63,2%) mengalami nyeri ringan, 9 responden (23,7%) tidak nyeri, dan 5 responden (13,2%) mengalami nyeri sedang, dengan rata-rata skor 1,92 ± 1,683. Terjadi penurunan rata-rata intensitas nyeri sebesar 3,87 poin. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p < 0,001. Penelitian dilakukan tahun 2026. Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian pumpkin seeds (Cucurbita moschata) sebanyak 28 gram per hari selama 10 hari terhadap penurunan intensitas nyeri Premenstrual Syndrome pada remaja putri
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Mual dan muntah merupakan keluhan umum pada ibu hamil trimester I akibat perubahan fisiologis selama kehamilan. Di Indonesia, sekitar 50–75% ibu hamil mengalami mual dan muntah pada trimester pertama. Kondisi berlebihan dapat mengganggu aktivitas, menurunkan asupan makanan dan cairan, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan janin. Penatalaksanaan dapat dilakukan secara farmakologis dengan vitamin B6 (piridoksin) dan nonfarmakologis dengan aromaterapi lemon. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan penurunan mual dan muntah antara pemberian kombinasi aromaterapi lemon dan vitamin B6 dengan vitamin B6 di TPMB Diana Mardiana, S.Tr.Keb., Bdn. Tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental dan rancangan pretest-posttest with control group design. Sampel berjumlah 36 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah, terdiri atas 18 responden kelompok intervensi dan 18 kelompok kontrol, dengan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi diberikan kombinasi aromaterapi lemon dan vitamin B6, sedangkan kelompok kontrol diberikan vitamin B6. Tingkat mual dan muntah diukur menggunakan Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE). Analisis data menggunakan Paired Sample T-Test, Wilcoxon Signed Rank Test, dan Mann-Whitney U Test dengan α = 0,05. Hasil: Penelitian menunjukkan rata-rata skor mual dan muntah kelompok intervensi menurun dari 11,28 menjadi 4,94, sedangkan kelompok kontrol dari 11,17 menjadi 8,00. Uji Paired Sample T-Test pada kelompok intervensi dan Wilcoxon Signed Rank Test pada kelompok kontrol masing-masing memperoleh p = 0,000. Uji Mann-Whitney U Test memperoleh p = 0,000 (p < 0,05), menunjukkan terdapat perbedaan penurunan mual dan muntah antara kedua kelompok. Kesimpulan: Kombinasi aromaterapi lemon dan vitamin B6 lebih efektif dibandingkan vitamin B6 saja. Saran: Diharapkan bagi bidan mempertimbangkan aromaterapi lemon sebagai terapi nonfarmakologis pendamping dalam asuhan kebidanan ibu hamil trimester I.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kehamilan trimester III merupakan periode yang dapat meningkatkan kecemasan ibu karena semakin dekat dengan proses persalinan. Kecemasan yang tidak dikelola dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu dalam menghadapi persalinan. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi kecemasan adalah aromaterapi lavender. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di RSIA Bunda Trinanda Karawang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest tanpa kelompok kontrol. Sampel penelitian berjumlah 31 ibu hamil trimester III yang mengalami kecemasan dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum diberikan aromaterapi lavender, sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 24 responden (77,4%), kecemasan sedang sebanyak 6 responden (19,4%), dan tidak mengalami kecemasan sebanyak 1 responden (3,2%), dengan rata-rata skor HARS sebesar 18,32. Setelah diberikan aromaterapi lavender, sebanyak 25 responden (80,7%) mengalami kecemasan ringan, 5 responden
(16,1%) tidak mengalami kecemasan, dan 1 responden (3,2%) mengalami kecemasan sedang, dengan rata-rata skor HARS menurun menjadi 16,00. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z = -4,651 dan p-value = 0,000 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender. Kesimpulan: Pemberian aromaterapi lavender berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di RSIA Bunda Trinanda Karawang Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Mual dan muntah merupakan keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil terutama pada trimester I. Kondisi mual muntah yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu aktivitas ibu dan memengaruhi pemenuhan kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi mual muntah adalah aromaterapi peppermint. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi peppermint terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Sukatenang Kabupaten Bekasi Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester I dengan jumlah 32 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengukuran mual muntah dilakukan sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi peppermint selama tiga hari menggunakan kuesioner Pregnancy Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE-24). Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum diberikan aromaterapi peppermint, sebanyak 17 responden (53,1%) mengalami mual muntah kategori sedang dan 15 responden (46,9%) kategori ringan. Setelah diberikan aromaterapi peppermint seluruh responden 30 responden (100%) mengalami mual muntah kategori ringan. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value = 0,000 (<0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian aromaterapi peppermint terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Sukatenang Kabupaten Bekasi Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai oleh perubahan hormonal yang dapat memicu sindrom psikosomatik dan berdampak pada kualitas hidup perempuan. Aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) diduga berperan dalam memengaruhi kualitas hidup selama masa perimenopause. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan aktivitas fisik dan IMT terhadap kualitas hidup perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause di Kampung Rawasentul Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif komparatif dengan pendekatan case-control. Sampel terdiri atas 66 responden, yaitu 33 kelompok kasus dan 33 kelompok kontrol yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF), World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF), Menopause Rating Scale (MRS), serta pengukuran IMT. Analisis data dilakukan menggunakan uji One Way ANOVA, Kruskal–Wallis, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategori aktivitas fisik maupun IMT pada seluruh domain kualitas hidup (p>0,05). Namun, pada kelompok kasus aktivitas fisik dan IMT secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan pengaruh signifikan pada seluruh domain kualitas hidup. Disimpulkan bahwa aktivitas fisik dan IMT tidak menunjukkan perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategorinya, tetapi secara simultan berpengaruh terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis pada perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause. Perempuan disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki atau senam ringan, selama sekitar 30 menit, 3–5 kali per minggu, secara rutin dan bertahap sesuai kemampuan dan mempertahankan IMT normal dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang untuk membantu menjaga kualitas hidup.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Dispepsia yang disertai gejala mual merupakan gangguan pencernaan dengan jumlah kasus yang terus meningkat, sehingga diperlukan alternatif nonfarmakologis berbahan alami untuk membantu meredakannya. Minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) memiliki aktivitas antiemetik, sedangkan minyak atsiri cendana (Santalum album L.) berpotensi memberikan efek relaksasi dan antidepresan. Penelitian ini bertujuan memformulasikan kombinasi kedua minyak atsiri tersebut ke dalam sediaan aromaterapi roll-on serta mengevaluasi karakteristik fisik dan tingkat kesukaan sediaan yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang dilaksanakan pada tiga formula dengan total konsentrasi minyak atsiri 30%, yaitu Formula I (20%:10%), Formula II (15%:15%), dan Formula III (10%:20%) minyak jahe : minyak cendana. Evaluasi meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, bobot jenis, volume terpindahkan, iritasi, dan hedonik terhadap 30 responden, dengan data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 24. Hasil menunjukkan seluruh formula homogen, berwarna kuning pucat, memiliki pH 5, daya sebar 5,433-5,500 cm, bobot jenis 0,925-0,935 g/ml, dan volume terpindahkan 9,730-9,750 ml yang memenuhi persyaratan serta tidak menimbulkan iritasi, namun nilai viskositas 1,231-1,950 cps belum memenuhi persyaratan 2,3-6,0 cps. Uji hedonik menunjukkan variasi konsentrasi memengaruhi tingkat kesukaan pada parameter tekstur (p=0,015) dan bau (p=0,029), dengan Formula III memperoleh tingkat kesukaan tertinggi. Kombinasi minyak atsiri jahe dan cendana dapat diformulasikan menjadi sediaan aromaterapi roll-on dengan karakteristik fisik yang cukup baik, dan Formula III berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai sediaan aromaterapi untuk membantu meredakan mual.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor, dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian. Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri, namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas.
Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin.
Metode: Penelitian eksperimen kuasi dengan desain interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group yang mengalami nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil secara purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2 kali/minggu selama 4 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p<0,05).
Hasil: Sebanyak 20 responden berpartisipasi (55% usia 21-30 tahun, 55% laki-laki, seluruhnya bekerja ≥4 jam/hari). Rata-rata skor NRS menurun dari 4,45 (nyeri sedang) menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping.
Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), aman, dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kesulitan intubasi merupakan tantangan utama anestesi yang meningkatkan risiko morbiditas. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi rasio lingkar leher (NC/TMD), jarak thyromental (TMD), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap derajat kesulitan intubasi (skala Cormack-Lehane) di RSUD Kabupaten Bekasi.
Metode: Studi analitik observasional cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa yang menjalani anestesi umum elektif periode 1–31 Desember 2025. Data antropometri dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji bivariat, regresi logistik, serta evaluasi kurva ROC/AUC untuk mengukur akurasi prediktor.
Hasil: Terdapat korelasi signifikan (P < 0,05) antara rasio NC/TMD, TMD, dan IMT dengan tingkat kesulitan intubasi. Rasio NC/TMD menunjukkan akurasi tertinggi (AUC 0,912) dibandingkan IMT (0,818) dan TMD (0,817). Temuan ini menegaskan bahwa rasio NC/TMD adalah alat skrining non-invasif yang paling komprehensif dalam memprediksi penyulit jalan napas.
Kesimpulan: Rasio lingkar leher merupakan prediktor paling akurat untuk menilai risiko kesulitan intubasi pada pasien dewasa. Hasil ini diharapkan dapat memperkuat penilaian praoperatif penata anestesi dan menjadi dasar pengembangan pedoman manajemen jalan napas di Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. Keywords: Pediatric Tuina, eating pattern, children, Spleen Qi Deficiency Syndrome.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM) dan
merupakan salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Kasus tekanan
darah tinggi secara global cukup tinggi, yaitu satu dari tiga orang penduduk di
dunia mengalami Hipertensi. Sekitar dua pertiga dari populasi tersebut tinggal di
negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Perbandingan empat dari
lima orang penderita hipertensi tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Namun
jika negara – negara mendapatkan pengobatan yang memadai, 76 juta kematian
dapat dicegah antara tahun 2023 – 2050 (WHO, 2023).
Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi dengan sindrom akumulasi phlegma lembab di Jiao
Tengah.
Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-
eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling ,
melibatkan 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur
Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan
terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah
sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar
139 mg/dl (5 subjek = 25%) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5%).
Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan
intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10%). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan
intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl
(1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah
dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5%) dan paling rendah sebesar
76 mg/dl (2 subjek = 10%).
Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap tekanan darah
pada penderita hipertensi sindrom akumulasi phlegma lembab di jiao tengah,
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tekanan darah
sebelum dan sesudah intervensi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Premenstrual syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala yang muncul 2–14 hari sebelum menstruasi dan dialami sekitar 90% perempuan usia reproduktif. Salah satu faktor yang memengaruhi PMS adalah stres, terutama pada remaja putri SMA yang rentan mengalami tekanan akademik. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan keparahan gejala PMS pada siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan desain penelitian analitik korelasional. Sampel penelitian ini sebanyak 282 siswi dihitung menggunakan rumus slovin dengan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner DASS-Y dan SPAF. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No: 005143/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025). Hasil: Uji korelasi Spearman diperoleh nilai sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05 dan correlation coeffisien sebesar 0,555. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan keparahan gejala PMS pada siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara dengan kategori kekuatan hubungan kuat dan arah positif. Saran: Remaja putri diharapkan dapat memahami hubungan tingkat stres dengan keparahan gelaja PMS, sehingga mampu mengendalikan stres dan mengatur gaya hidup sehat, sedangkan peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel kondisi fisik dan gaya hidup dengan metode lebih beragam untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses fisiologis alami yang dialami oleh
setiap wanita sebagai tanda kematangan seksual. Namun, gangguan menstruasi seperti
siklus tidak teratur, perdarahan berlebihan, atau nyeri haid sering terjadi dan dapat
memengaruhi kualitas hidup wanita secara fisik, psikologis, dan sosial. Dalam
pendekatan TCM, gangguan menstruasi dipandang sebagai ketidakseimbangan Qi dan
darah, yang salah satunya dapat disebabkan oleh sindrom defisiensi Qi (Qi Xu). Salah
satu terapi yang digunakan dalam TCM untuk mengatasi gangguan ini adalah
akupunktur. Dimana akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik-titik tertentu untuk
menyeimbangkan aliran energi tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengatur
fungsi hormonal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur pada
penderita gangguan menstruasi dengan sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma
Bakti, Bandung.
Metode: penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis kuantitatif
dengan populasi sebanyak 40 dan sampling sebanyak 30 dengan kriteria inklusi dan
ekslusi. Subjek penelitian dari bulan april-juni 2025 di Klinik Akupunktur Darma Bakti,
Bandung, Jawa Barat. Sampel Wanita berusia 17-55 tahun dengan terapi akupunktur
sebanyak 10x dengan periode 2x minggu.
Hasil: Hasil Uji-t Berpasangan menunjukkan nilai t-statistik adalah 7,097 dengan
derajat kebebasan (df) 29. Nilai p (two-tailed) yang diperoleh adalah 0,0000000828.
jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yakni α=0.05.
Kesimpulan: terapi akupunktur efektif dalam mengurangi volume perdarahan
menstruasi pada penderita gangguan menstruasi dengan sindrom Qi Xu.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) termasuk salah satu penyakit tidak menular (PTM). Diabetes Mellitus (DM) menurut American Diabetes Association adalah sutau kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes dikenal sebagai Xiāo Kĕ dalam pengobatan tradisional tiongkok. Xiāo Kĕ ditandai dengan kondisi peningkatan asupan makanan dan minuman, peningkatan diuresis, penurunan berat badan, dan urin berbau manis keruh. Kondisi ini terjadi karena kekurangan yin, pola makan tidak teratur, serta kegagalan dalam mengatur emosi dan kelelahan
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Ndalem PUIN Daun Mas, kota Bekasi, Jawab Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: jumlah responden perempuan sebanyak 15 subjek (75 %) dan laki-laki sebanyak 5 subjek (25 %). Mayoritas responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 4 subjek (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi pekerjaan responden 9 karyawan (45 %), 5 wiraswasta (25 %), 5 ibu rumah tangga (25 %), dan 1 mahasiswa (5%). Sebelum dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 142 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 128.00 mg/dl. Setelah dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 121 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 106.00 mg/dl.
Kesimpulan: terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 135 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 114.75 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 20.30 mg/dl. Hasil uji Paired Sample T-Test dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000, yang jauh lebih kecil dari ambang batas 0.005. Artinya, hipotesis nol (H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima, menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penyakit Diabetes ini merupakan pintu masuk bagi penyakit- penyakit lainnya seperti stroke, penyakit jantung, infeksi kaki, kerusakan kulit atau gangrene yang dapat mengakibatkan amputasi, gagal ginjal dan bahkan disfungsi seksual sekalipun. Terapi tuina merupakan pilihan pengobatan yang aman dan efektif untuk neuropati perifer diabetik. Terapi tuina menunjukkan perbaikan dibandingkan pengobatan rutin, yang menunjukkan manfaat dalam meredakan gejala secara keseluruhan.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: Frekuensi responden paling banyak sebanyak 4 responden (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi responden paling sedikit sebanyak 1 responden (5%) pada usia 20, 21, 23, 30 tahun. Mayoritas responden merupakan perempuan sebanyak 12 responden (60%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 29 tahun (20%). Karakteristik subjek sebagai karyawan sebanyak 8 orang (40%) dan pekerjaan paling sedikit sebagai petugas Rumah Sakit sebanyak 2 orang (10 %). Kadar gula darah berkisar antara 131–163 mg/dL sebelum dilakukan intervensi tuina. Frekuensi paling banyak pada ukuran 138, 142, 144, 148 mg/dl (10 %). Sedangkan frekuensi paling sedikit pada penelitian responden. Setelah dilakukan intervensi terdapat perbedaan kadar gula antara 120-149 mg/dl. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupuntur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo kĕ) dengan sindrom panas lambung dengan nilai signifikansi sebesar 0.000.
Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 145 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 131.30 dengan perbedaan penurunan sebesar 14.00 mg/dl (9.6%).