Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

21 hasil
Subjek: Akupunktur
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Nei Guan Kombinasi Herbal Wedang Pala untuk Pasien Insomnia Berbagai Sindrom

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Insomnia adalah gangguan tidur tersering dalam praktik klinis yang menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Obat sedatif-hipnotik konvensional memiliki efek samping seperti ketergantungan dan gangguan kognitif, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman. Akupunktur titik PC 6 (Nei Guan) dan herbal wedang pala berpotensi memberikan efek sinergis untuk mengatasi insomnia. Tujuan: Menganalisis pengaruh akupunktur PC 6 kombinasi wedang pala terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia. Metode: Penelitian pretest-posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif ini melibatkan 30 pasien insomnia di Klinik Velda, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, yang dibagi menjadi dua kelompok: akupunktur PC 6 + wedang pala (n=15) dan akupunktur PC 6 saja (n=15). Intervensi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu). Kualitas tidur diukur dengan Insomnia Severity Index (ISI) saat pre-test dan post-test. Analisis menggunakan uji Shapiro-Wilk (normalitas) dan Paired T-Test (hipotesis). Hasil: Seluruh data berdistribusi normal (p > 0,05). Kelompok kombinasi menunjukkan penurunan skor ISI yang sangat signifikan dari 15,20 ± 4,98 menjadi 7,00 ± 2,72 (t(14) = -17,85; p < 0,001). Kelompok akupunktur saja menurun dari 16,20 ± 4,24 menjadi 8,73 ± 2,60 (t(14) = -18,63; p < 0,001). Kedua kelompok mengalami perbaikan yang sangat signifikan secara statistik (p < 0,001). Kesimpulan: Akupunktur PC 6, baik tunggal maupun kombinasi dengan wedang pala, efektif menurunkan skor ISI (meningkatkan kualitas tidur) pada pasien insomnia moderat. Kombinasi menunjukkan kecenderungan efek lebih besar, mengindikasikan efek sinergis antara kedua terapi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tuina Teknik Rou Fa Titik Akupunktur Bl 23, Bl 25, Dan Bl 40 Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pinggang pada Pasien Dewasa

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (low back pain) merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering ditemukan, dengan prevalensi global mencapai 619 juta kasus pada 2020. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi gangguan muskuloskeletal sebesar 7,30%. Penatalaksanaan konvensional menggunakan OAINS bersifat simtomatik dan kurang efektif mengatasi penyebab mendasar nyeri pinggang kronis, sehingga dibutuhkan alternatif terapi komplementer seperti Tuina. Tujuan: Menganalisis pengaruh terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretestposttest kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 30 responden di Klinik Velda, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi Tuina teknik Rou Fa diberikan sebanyak 8 kali pertemuan (2 kali per minggu selama 4 minggu). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) saat pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan Shapiro-Wilk dan pairedsamples t-test. Hasil: Rata-rata skor NRS menurun signifikan dari 4,83 (SD = 1,949) sebelum intervensi menjadi 1,03 (SD = 1,273) setelah intervensi. Penurunan rata-rata sebesar 3,800 poin (SD = 1,064) atau setara dengan 78,7% dari skor awal. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (t = -19,571; df = 29; p < 0,001). Kesimpulan: Terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 berpengaruh signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa di Klinik Velda.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Nei Guan Kombinasi Herbal Wedang Pala untuk Pasien Insomnia Berbagai Sindrom

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Insomnia adalah gangguan tidur tersering dalam praktik klinis yang menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Obat sedatif-hipnotik konvensional memiliki efek samping seperti ketergantungan dan gangguan kognitif, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman. Akupunktur titik PC 6 (Nei Guan) dan herbal wedang pala berpotensi memberikan efek sinergis untuk mengatasi insomnia. Tujuan: Menganalisis pengaruh akupunktur PC 6 kombinasi wedang pala terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia. Metode: Penelitian pretest-posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif ini melibatkan 30 pasien insomnia di Klinik Velda, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, yang dibagi menjadi dua kelompok: akupunktur PC 6 + wedang pala (n=15) dan akupunktur PC 6 saja (n=15). Intervensi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu). Kualitas tidur diukur dengan Insomnia Severity Index (ISI) saat pre-test dan post-test. Analisis menggunakan uji Shapiro-Wilk (normalitas) dan Paired T-Test (hipotesis). Hasil: Seluruh data berdistribusi normal (p > 0,05). Kelompok kombinasi menunjukkan penurunan skor ISI yang sangat signifikan dari 15,20 ± 4,98 menjadi 7,00 ± 2,72 (t(14) = -17,85; p 0,001). Kelompok akupunktur saja menurun dari 16,20 ± 4,24 menjadi 8,73 ± 2,60 (t(14) = -18,63; p 0,001). Kedua kelompok mengalami perbaikan yang sangat signifikan secara statistik (p 0,001). Kesimpulan: Akupunktur PC 6, baik tunggal maupun kombinasi dengan wedang pala, efektif menurunkan skor ISI (meningkatkan kualitas tidur) pada pasien insomnia moderat. Kombinasi menunjukkan kecenderungan efek lebih besar, mengindikasikan efek sinergis antara kedua terapi.

62 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Akumulasi Phlegma Lembab Jiao Tengah di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat Bandung

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM) dan merupakan salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Kasus tekanan darah tinggi secara global cukup tinggi, yaitu satu dari tiga orang penduduk di dunia mengalami Hipertensi. Sekitar dua pertiga dari populasi tersebut tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Perbandingan empat dari lima orang penderita hipertensi tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Namun jika negara – negara mendapatkan pengobatan yang memadai, 76 juta kematian dapat dicegah antara tahun 2023 – 2050 (WHO, 2023). Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan sindrom akumulasi phlegma lembab di Jiao Tengah. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling , melibatkan 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25%) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10%). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5%) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10%). Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom akumulasi phlegma lembab di jiao tengah, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Akupunktur Pada Penderita Gangguan Menstruasi Sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses fisiologis alami yang dialami oleh setiap wanita sebagai tanda kematangan seksual. Namun, gangguan menstruasi seperti siklus tidak teratur, perdarahan berlebihan, atau nyeri haid sering terjadi dan dapat memengaruhi kualitas hidup wanita secara fisik, psikologis, dan sosial. Dalam pendekatan TCM, gangguan menstruasi dipandang sebagai ketidakseimbangan Qi dan darah, yang salah satunya dapat disebabkan oleh sindrom defisiensi Qi (Qi Xu). Salah satu terapi yang digunakan dalam TCM untuk mengatasi gangguan ini adalah akupunktur. Dimana akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik-titik tertentu untuk menyeimbangkan aliran energi tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengatur fungsi hormonal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur pada penderita gangguan menstruasi dengan sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung. Metode: penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis kuantitatif dengan populasi sebanyak 40 dan sampling sebanyak 30 dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek penelitian dari bulan april-juni 2025 di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung, Jawa Barat. Sampel Wanita berusia 17-55 tahun dengan terapi akupunktur sebanyak 10x dengan periode 2x minggu. Hasil: Hasil Uji-t Berpasangan menunjukkan nilai t-statistik adalah 7,097 dengan derajat kebebasan (df) 29. Nilai p (two-tailed) yang diperoleh adalah 0,0000000828. jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yakni α=0.05. Kesimpulan: terapi akupunktur efektif dalam mengurangi volume perdarahan menstruasi pada penderita gangguan menstruasi dengan sindrom Qi Xu.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita Dislipidemia Sindrom Dahak dan Retensi Lembab

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Peningkatan penyakit tidak menular (PTM), khususnya dislipidemia, menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Dislipidemia berkontribusi pada risiko penyakit kardiovaskular melalui akumulasi lipid dalam darah. Pengobatan konvensional umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pendekatan komplementer seperti akupunktur dari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) mulai dilirik sebagai alternatif yang efektif. Akupunktur dipercaya dapat menyeimbangkan energi tubuh dan meningkatkan metabolisme lipid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada pasien dislipidemia sebagai upaya pengelolaan PTM yang lebih holistik.. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain preeksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di klinik akupunktur, Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur dua kali seminggu sebanyak 6 kali dan dilakukan cek total kolesterol darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Rata-rata kadar kolesterol sebelum terapi adalah 255,50 mg/dL dan menurun menjadi 251,37 mg/dL setelah terapi, dengan rata-rata penurunan 4,13 mg/dL. Uji Paired Sample t-Test menunjukkan p-value < 0,001, menandakan perbedaan signifikan secara statistik. Hasil ini mendukung efektivitas akupunktur dalam membantu menurunkan kadar kolesterol darah sesuai prinsip TCM. Kesimpulan: Terapi akupunktur secara teratur pada titik ST36, ST40, LI4, LI11, SP6, CV4, CV6, CV12, LV3, dan ST25 efektif membantu menurunkan kadar kolesterol darah pada penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab.

17 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes (Xiao Ke) Sindrom Panas Lambung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) termasuk salah satu penyakit tidak menular (PTM). Diabetes Mellitus (DM) menurut American Diabetes Association adalah sutau kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes dikenal sebagai Xiāo Kĕ dalam pengobatan tradisional tiongkok. Xiāo Kĕ ditandai dengan kondisi peningkatan asupan makanan dan minuman, peningkatan diuresis, penurunan berat badan, dan urin berbau manis keruh. Kondisi ini terjadi karena kekurangan yin, pola makan tidak teratur, serta kegagalan dalam mengatur emosi dan kelelahan Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Ndalem PUIN Daun Mas, kota Bekasi, Jawab Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden perempuan sebanyak 15 subjek (75 %) dan laki-laki sebanyak 5 subjek (25 %). Mayoritas responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 4 subjek (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi pekerjaan responden 9 karyawan (45 %), 5 wiraswasta (25 %), 5 ibu rumah tangga (25 %), dan 1 mahasiswa (5%). Sebelum dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 142 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 128.00 mg/dl. Setelah dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 121 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 106.00 mg/dl. Kesimpulan: terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 135 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 114.75 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 20.30 mg/dl. Hasil uji Paired Sample T-Test dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000, yang jauh lebih kecil dari ambang batas 0.005. Artinya, hipotesis nol (H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima, menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektifitas Akupunktur Pada Penderita Nyeri Punggung Bawah di Klinik Akupunktur Kebun Rumput Cimahi

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Data WHO (2019) menunjukan bahwa 33% penduduk di negara berkembang mengalami nyeri persisten. Warga negara Inggris yang mengalami nyeri punggung bawah sekitar 17,6 juta orang dan sekitar 1,1 juta mengalami kelumpuhan tungkai bawah akibat nyeri punggung bawah. Sekitar 7,6% sampai 37% keluhan nyeri punggung bawah terjadi di Indonesia. Kondisi yang menurut fungsinya tanpa adanya keluhan sangat memperngaruhi produktivitas. Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) menyatakan bahwa rasa sakit nyeri punggung bawah disebabkan oleh ketidakharmonisan internal antara yin dan yang, qi dan darah, dan perbedaan dalam lima elemen. Akupunktur dilaksanakan untuk menyeimbangkan antara yin dan yang pada tubuh yang tidak seimbang dari sakit nyeri punggung bawah. Terapi dari akupunktur dapat meningkatkan kualitas hidup individu. Tujuan: penelitian untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita nyeri punggung bawah di klinik akupunktur Kebun Rumput, Cimahi, Jawa Barat. Metode: Penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan Mei-juni 2025 di klinik Akupunktur Kebun Rumput Cimahi Jawa Barat. Sampel berusia 30-50 tahun dengan terapi Akupunktur seminggu 2 kali sebanyak 6 kali dilakukan test nyeri setelah di lakukan terapi. Hasil: dari 20 responden terpilih mengalami penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi akupunktur selama 6 kali sebanyak 1 subjek (60 %), 1 subjek (66,66 %), 1 subjek (75 %), 1 subjek (80 %), 4 subjek (83,33 %), 1 subjek (85,71 %) 2 subjek (87,5 %), 5 subjek (100 %). Rata-rata mengalami penurunan skala nyeri sebesar 82,35 %. Mekanisme kerja akupunktur terhadap nyeri punggung bawah melibatkan beberapa aspek, termasuk: akupunktur dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam titik-titik tertentu pada tubuh, yang dapat merangsang respons fisiologis, terjadi pelepasan neurotransmitter. Dalam konteks nyeri punggung bawah, akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri dan kekakuan dengan cara, yaitu: mengurangi tekanan pada saraf, mengurangi inflamasi dan peradangan, meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas, dan mengurangi stres dan kecemasanan. Kesimpulan: Responden mengalami penurunan skala nyeri rata-rata sebesar 82,35 %. Hal ini menunjukkan bahwa akupunktur sangat efektif menurunkan skala nyeri punggung bawah. Penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi akupuntur membuat kualitas hidup penderita meningkat.

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Yang Hati Naik

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Prevalensi hipertensi di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 34,1% berdasarkan survei nasional di 2018 dengan perkiraan menderita hipertensi sekitar 70 juta lebih penduduk Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan patofisiologis tubuh di mana tekanan darah suatu individu melebihi ambang normal yaitu 120 mmHg tekanan sistolik dan 80 mmHg tekanan diastolik. Hipertensi sindrom yang hati terjadi karena manisfestasi tekanan darah tinggi, sakit kepala di pelipis, mata atau sisi lateral kepala, pusing, tinnitus, tuli, tekanan darah sistolik tinggi, penglihatan kabur, mulut dan tenggorokan kering, insomnia, iritabilitas, mudah lelah, mudah emosi marah, pinggang dan lutut lemah, mudah lupa dan leher kaku. Akupunktur dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dengan menyeimbangkan energi Yin dan Yang dalam tubuh. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan model one group pre-post test. Sebanyak 30 subjek penderita hipertensi dengan sindrom yang hati naik menjalani terapi akupunktur selama enam hari berturut-turut. Lokasi penelitian di Pusat Kesehatan Devine Healing, Kota Jakarta Pusar selama bulan Januari- Mei 2025.Terapi akupunktur selama 30 menit/sesi selama 6 kali terapi. Titik akupunktur yang digunakan adalah LR 3, GV 20, KI 3, SP 6, dan ST 36. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah terapi. Hasil: Seluruh responden (30 orang) mengalami penurunan tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 30,53 mmHg (19.38 %), dari 157,53 mmHg menjadi 127,00 mmHg. Tekanan darah diastolik menurun rata-rata sebesar 8,5 mmHg (8.68%), dari 97,83 mmHg menjadi 89,33 mmHg. Penurunan tekanan darah sistolik lebih besar terjadi pada laki-laki (36 mmHg) dibandingkan perempuan (25,75 mmHg), sedangkan penurunan diastolik lebih tinggi pada perempuan (9,38 mmHg) dibandingkan laki-laki (7,5 mmHg). Berdasarkan usia, penurunan tekanan darah diastolik tertinggi terjadi pada kelompok usia 30–39 tahun (30 mmHg), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik terbesar terjadi pada kelompok usia 40–49 tahun (34,11 mmHg). Kesimpulan: ada pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Terapi akupunktur bisa dijadikan sebagai pendekatan integratif antara ilmu pengobatan kesehatan modern dan tradisional terutama pada penatalaksanaan pengaruh terapi akupunktur terhadap hipertensi sindrom yang hati naik.

20 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Tipe 2 (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Yin Ginjal

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) adalah sebuah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kekurangan insulin atau resistensi terhadap insulin. Penyakit DM termasuk salah satu penyakit tidak menular. Penyakit ini termasuk kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. Hiperglikemia yang terjadi akibat dari kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi yin ginjal. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di , Kota Bekasi, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: subjek penelitian terbanyak berada pada usia 27 tahun (6 subjek = 30 %), terrendah pada usia 22 tahun (1 subjek = 5 %). Distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian perempuan lebih tinggi (13 subjek = 65 %) dibandingkan dengan laki – laki (7 subjek = 35 %). Subjek penelitian terbanyak adalah wiraswasta (11 Subjek = 55 %), karyawan ( subjek = 25 %) dan ibu rumah tangga (4 subjek = 20 %). Kadar gula tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 142 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 128 mg/dl (1 subjek = 5 %). Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %). Penurunan kadar gula terbanyak sebesar 115 mg/dl (4 subjek = 20 %). Kadar gula darah yang mengalami penurunan tertinggi di angka 23 mg/dl sebanyak 3 subjek dengan presentase (15 %), sedangkan terendah diangka 18 mg/dl sebanyak 2 subjek dengan presentase (10 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi yin ginjal dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 136.25 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 115.80 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 24.45 mg/dl (17.94 %).

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Terapi Akupunktur Titik SP6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong) dan ST 36 (Zusanli) Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Penderita Nyeri Haid Sindrom Stagnasi QI dan Xue di Klinik Bidan "S" Bandung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Nyeri haid (dismenore) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami wanita usia reproduksi. Hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan tingkat produktivitas, serta mengganggu kualitas hidup wanita. Salah satu metode alternatif yang digunakan untuk mengurangi nyeri haid adalah akupunktur, terutama untuk kasus dismenore akibat sindrom stagnasi qi dan xue menurut konsep pengobatan tradisional Tiongkok (PTT). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi akupunktur Titik SP 6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong), dan ST 36 (Zusanli) terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue di klinik bidan “S” Bandung. Metode: penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi selama januari-juni 2025. Intervensi berupa terapi akupunktur dilakukan 3–5 hari sebelum menstruasi. Intensitas nyeri diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale) sebelum dan sesudah terapi. Analisis data menggunakan uji wilcoxon signed-rank test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil: penelitian terhadap 30 subjek, diperoleh sebanyak 15 subjek berusia 21 tahun (50 %), 7 subjek berusia 18 tahun (23.3 %), 7 subjek berusia 22 tahun (23.3 %) dan 1 subjek berusia 24 tahun (3,3%). Responden terdiri dari 18 mahasiswa (60%), 5 karyawan swasta (16.7 %) dan 7 pelajar (23.3 %). Skor skala nyeri minimum diangka 4 dan maksimum diangka 8 sebelum dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 10 responden (33.3 %) diangka 6, 9 responden (30 %) diangka 7, 9 responden (30 %) diangka 5, 1 responden ( 3.3 %) diangka 8 dan 1 responden (3.3 %) diangka 1. Skor skala nyeri minimum diangka 1 dan maksimum diangka 6 setelah dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 13 responden (43.3 %) diangka 1, 8 responden (26.7 %) diangka 2, 6 responden (20 %) diangka 3, 1 responden ( 3.3 %) diangka 4, 1 responden (3.3 %) diangka 5, dan 1 responden (3.3 %) diangka 6. Kesimpulan: skor skala nyeri rata-rata angka sebelum terapi sebesar 6.00 dan sesudah terapi sebesar 2.06. Perbedaan rata-rata skor skala nyeri sebelum dan setelah sebesar 3.94 (65%) yang berarti terapi akupunktur efektif terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue. Perbedaan signifikan antara intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi akupuntur diperoleh dari hasil uji wilcoxon signed rank test, diperoleh nilai p = 0,000 (< 0,05)

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Hiperaktivitas Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu faktor utama penyebab kematian di dunia, dengan angka kematian mencapai sekitar 7,5 juta jiwa setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, prevalensi hipertensi menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, tercatat bahwa sebanyak 34,1% penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi patofisiologis yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah melebihi batas normal, yaitu di atas 120/80 mmHg. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti sakit kepala di pelipis atau sisi kepala, pusing, telinga berdenging, gangguan pendengaran, pandangan kabur, mulut dan tenggorokan kering, gangguan tidur, mudah lelah, mudah marah, gangguan ingatan, kelemahan pada pinggang dan lutut, serta kekakuan pada leher. Terapi Akupunktur dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penyakit hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat Bandung. Sampel berusia 40-60 tahun dengan terapi akupunktur sebanyak 4 sesi terapi selama 4 hari berturut-turut dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan signifikan tekanan darah sistolik dari rata-rata 153 mmHg menjadi 130 mmHg (p = 0,000) dan tekanan darah diastolik dari 87 mmHg menjadi 75 mmHg (p = 0,000) setelah terapi akupunktur. Kesimpulan: Pengobatan Tradisional Tiongkok khususnya terapi akupunktur terbukti secara statistik signifikan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Akupunktur dapat dijadikan alternatif untuk pengelolaan hipertensi.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabates (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Yin Yang

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diantara penyakit tidak menular (PTM), salah satunya termasuk diabetes mellitus (DM). Diabetes adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes merupakan penyakit metabolik kronik sehingga apabila terlambat dideteksi atau tidak ditangani dengan tepat, maka akan dapat mengakibatkan kerusakan serius dan mengancam jiwa. Ancamannya bisa pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf (WHO, 2025). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom defisiensi yin yang. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: mayoritas responden merupakan perempuan (70%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 38 tahun (20%). Kadar gula darah berkisar antara 126–140 mg/dL sebelum dilakukan intervensi akupunktur. Intervensi yang diberikan berhasil menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada seluruh subjek, ditandai dengan penurunan kadar tertinggi menjadi 119 mg/dL dan kadar terendah mencapai 104 mg/dL. 4. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupunktur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo Kĕ) dengan sindrom defisiensi yin yang dengan nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo Kĕ) sindrom defisien yin yang dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 134.25 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 111.90 dengan perbedaan rata-rata penurunan sebesar 22.35 mg/dl.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabates (Xiao Ke) Sindrom Panas Paru

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, termasuk di Indonesia. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi dan dampaknya terhadap masyarakat. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi (14 subjek = 70 %) dibandingkan dengan laki – laki (6 subjek = 30 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun (4 subjek = 20 %), terrendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Subjek penelitian terbanyak adalah buruh pabrik (9 subjek = 45 %), pedagang ( 6 subjek = 30 %) dan IRT (5 subjek = 25 %). Sebelum dilakukan intervensi terdapat subjek penelitian dengan angka tertinggi sebesar 141 mg/dl (1 subjek =5 %) dan paling rendah 127 mg/dl (1 subjek = 5 %) dengan rata-rata 135.60 mg/dl. Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %) dengan rata-rata 110.45 mg/dl. Penurunan kadar gula tertinggi di angka 24 mg/dl sebanyak 4 subjek (20 %), sedangkan terendah diangka 19 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 135.60 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 110.45 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 25.15 mg/dl (18.54 %).

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur dan Seduhan Murraya Paniculata (Jiu Li Xiang) Terhadap Penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) Pada Penderita Obesitas Sindrom Panas Lambung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Obesitas (Féi Pàng) merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengalami peningkatan signifikan di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2023, prevalensi obesitas nasional mencapai 28,7% dan lebih tinggi pada kelompok wanita usia subur. Obesitas berkontribusi pada gangguan metabolisme, risiko penyakit tidak menular, serta disfungsi hormonal dan reproduksi. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), obesitas dipandang sebagai akibat ketidakseimbangan fungsi limpa dan lambung, akumulasi kelembaban, serta sindrom panas lambung (Wei Re). Penanganan yang tepat memerlukan pendekatan holistik seperti akupunktur dan herbal. Salah satu herbal yang digunakan adalah Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng), yang secara empiris dan farmakologis memiliki efek hipolipidemik dan peluruh panas. Terapi ini diyakini dapat menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT) secara efektif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) terhadap penurunan IMT pada wanita penderita obesitas dengan sindrom panas lambung. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 20 orang wanita usia 21–36 tahun yang menjalani terapi sebanyak 6 kali selama 2 minggu di Klinik Petos Sehat Jakarta. Data dikumpulkan melalui pengukuran IMT sebelum dan sesudah intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil: Rerata IMT sebelum terapi menunjukkan nilai 30,19 kg/m² Setelah intervensi, rerata nilai IMT menurun menjadi 29,31 kg/m². Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05), yang menandakan adanya pengaruh terapi terhadap penurunan indikator obesitas. Kesimpulan: Terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan IMT pada penderita obesitas dengan sindrom panas lambung. Pendekatan integratif ini dapat menjadi alternatif terapi non-farmakologis yang efektif dan aman dalam menangani obesitas pada wanita usia subur.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Akupunktur Terhadap Penurunan Rasa Cemas Pada Penderita Fobia Gelap (Nyctophobia) Dengan Berbagai Sindrom

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Manusia secara alami membutuhkan rasa aman, namun ketakutan berlebihan seperti Nyctophobia (fobia gelap) dapat mengganggu keseimbangan fisik dan emosional. Data dari NP Istanbul Hospital (2023) menunjukkan 11% populasi global mengalami nyctophobia, yang berdampak pada aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup melalui respons cemas irasional terhadap kegelapan. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), nyctophobia dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi vital (Qi), terutama pada sistem Limpa dan Hati, memicu gejala kecemasan, kelelahan, dan gangguan pencernaan. Akupunktur telah terbukti efektif mengurangi kecemasan, seperti pada studi Boucher et al. (2011) dan Luo et al. (2021). Namun, penelitian tentang akupunktur untuk nyctophobia, khususnya yang mempertimbangkan variasi pola ketidakseimbangan PTT, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh akupunktur pada nyctophobia dan menganalisis respons terapi berdasarkan pola ketidakseimbangan PTT. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan rasa cemas pada penderita nyctophobia (fobia gelap) dengan berbagai sindrom. Tujuan khusus meliputi mendeskripsikan karakteristik usia, jenis kelamin, dan sindrom subjek penelitian; mendeskripsikan tingkat kecemasan sebelum dan setelah terapi akupunktur; serta menganalisis perbedaan tingkat kecemasan pada penderita nyctophobia sebelum dan setelah menjalani terapi akupunktur. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimen (one group pre-test post-test design). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 7 orang subjek penelitian. Lokasi penelitian dilakukan di Klinik Akupunktur PMA, Kota DKI Jakarta, Jawa Barat, pada bulan Mei-Juni 2025. Intervensi berupa terapi akupunktur dilakukan sebanyak tujuh kali setiap hari selama 1 minggu. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian angket Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah intervensi, serta wawancara singkat setelah pengisian HARS tiap sesi dan wawancara mendalam pada sesi terakhir. Hasil: Diperoleh data dari 7 subjek penelitian, menunjukkan 5 subjek (71%) mengalami penurunan kecemasan dari rentang sedang ke tidak ada kecemasan, 1 subjek (14%) dari sedang ke ringan, dan 1 subjek (14%) dari berat ke sedang, mengindikasikan penurunan tingkat kecemasan setelah intervensi akupunktur. Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap penurunan rasa cemas pada penderita fobia gelap (Nyctophobia) dengan berbagai sindrom.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Kualitas Hidup Penderita Pasca Stroke

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang yang berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Terapi akupunktur, sebagai bagian dari pengobatan tradisional Tiongkok, telah digunakan secara luas sebagai terapi komplementer dalam rehabilitasi pasca stroke. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis literatur ilmiah mengenai pengaruh terapi akupunktur terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke. Metode: Studi ini menggunakan metode literatur review terhadap 15 jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2024. Data dikumpulkan dari berbagai basis data online seperti National Center of Biotechnology Information (NCBI), Frointiers in Neurology, Google Scholar, dan Garuda Ristekbrin. Hasil: Mayoritas studi menunjukkan bahwa akupunktur memberikan dampak positif terhadap aspek fisik, psikologis, dan sosial pasien pasca stroke. Terapi ini terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi motorik, mengurangi nyeri, memperbaiki kualitas tidur, dan menurunkan kelelahan serta depresi. Kesimpulan: Akupunktur merupakan terapi komplementer yang efektif dan aman untuk meningkatkan kualitas hidup penderita pasca stroke, terutama bila dikombinasikan dengan rehabilitasi konvensional.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Fungsi Gerak Pada Pasien Stroke Dengan Sindrom Hiperaktif Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Stroke merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada jaringan otak dan gangguan fungsi tubuh, terutama fungsi gerak. Stroke dapat menyebabkan kelumpuhan atau gangguan motorik pada satu sisi tubuh (hemiparesis), kesulitan berbicara, dan penurunan kemampuan sensorik. Gangguan motorik yang terjadi setelah stroke adalah salah satu penyebab utama kecacatan pada pasien stroke dan memerlukan penanganan rehabilitasi untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Terapi Akupunktur terhadap fungsi gerak pada pasien stroke dengan sindrom Hiperaktif Yang Hati. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan Quasi experimental design atau desain eksperimen semu, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 responden penelitian dari bulan maret-juni 2025 di , Kota Bekasi, Jawa Barat. Sampel berusia 41-75 tahun dengan terapi Akupunktur secara teratur 2 kali seminggu selama 8 kali. Hasil: Subjek penelitian ini terbanyak berada pada usia 46-50 tahun (4 responden = 20%) dan 66-70 tahun (4 responden = 20%), dan terendah pada usia 71-75 tahun (1 responden = 5 %). Distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 responden penelitian menunjukkan bahwa skala gerak dari pasien sebelum diberikan perlakuan paling banyak pada skala 2 dengan persentase 55% (11 responden), lalu distribusi frekuensi skala gerak pada pasien stroke setelah diberikan perlakuan adalah paling banyak pada skala 4 dengan persentase sebesar 40% (8 responden) Kenaikan perubahan skala gerak pada pasien stroke sebelum dan setelah diberikan perlakuan mengalami kenaikan paling banyak pada skala angka 2 dengan persentase sebesar 45% (9 responden). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk mendapatkan nilai pre-test 0,001 dan nilai post-test 0,001 berarti nilai signifikansi nilai <0.05, sehingga data diatas tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji Wilcoxon . Hasil Uji Wilcoxon didapat hasil berupa nilai Z dari data skala gerak pada pasien stroke yang diberi perlakuan akupunktur memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 atau +0,001, yang artinya bahwa terdapat pengaruh pemberian perlakuan akupunktur terhadap perubahan skala gerak pada pasien stroke. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan fungsi skala gerak pada pasien stroke dengan sindrom Hiperaktif Yang hati, dengan rata-rata skala gerak sebelum intervensi pada skala 2 dan skala gerak rata-rata setelah intervensi pada skala 4, maka terdapat perbedaan kenaikan skala perubahan sebesar skala 2 setelah diberikan intervensi.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Pada Penderita Susah Tidur Sindrom Api Liver Mengganggu Jantung di Pluit Karang

2024•Koleksi Perpustakaan

Susah Tidur yang dikenal masyarakat sebagai Insomnia adalah gangguan tidur dimana seseorang sulit memulai tidur atau tidak bisa tidur dengan lelap, mudah terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Prevalensi insomnia di Indonesia cukup tinggi sementara masyarakat tidak menyadari insomnia dapat menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan penampilan terganggu, dalam jangka panjang memberikan efek ke seluruh tubuh. Tujuan penelitian untuk peneliti sendiri adalah untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur pada penderita susah tidur, sedangkan untuk pengembangan ilmu, harapan peneliti adalah dapat dijadikan acuan pengembangan ilmu akupunktur. Metode Penelitian yang diterapkan adalah penelitian kuantitatif dengan metode pra eksperimental One group pretest-posttest design. Dalam penelitian ini sampel penelitian sebesar 24 responden dengan sumber data primer. Penelitian dilakukan dengan wawancara, observasi dan skala pengukuran tingkat insomnia. Hasil penelitian didapat dari 24 responden yang memenuhi kriteria penelitin. Sebelum terapi akupunktur tingkat insomnia sangat berat sebesar 29%, insomnia berat sebesar 63%, insomnia ringan 8%. Dan setelah terapi akupunktur tidak terdapat insomnia sangat berat dan insomnia berat, sementara insomnia ringan sebesar 62,5%, yang tidak merasakan insomnia lagi sebesar 37,5%. Kesimpulan dari penelitian, berdasarkan uji Wilcoxon didapat p-value < 0,05 yang berarti terapi akupunktur memberi pengaruh pada penderita susah tidur sindrom Api Liver mengganggu Jantung. Saran dengan berbagai keterbatasan dari peneliti, semoga penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pengembangan ilmu akupunktur lebih lanjut

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Tinnitus Dengan Sindrom Hiperaktif Api Hati di Toko Obat Teksin Tahun 2023

2024•Koleksi Perpustakaan

Pendahuluan: Gejala telinga berdengung pada tinnitus dengan sindrom hiperaktif api hati dapat dikurangi dengan menggunakan pengobatan alternatif yaitu akupunktur, dan titik yang digunakan adalah titik Ermen, Tinggong, Tinghui, Yifeng, Zhongzhu, Taichong, dan Qiuxu.Terapi akupunktur ini lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping, dan dinilai lebih mudah dan lebih terjangkau untuk masyarakat umum. Metode Penelitian: Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data primer dari wawancara dan pengisian kuesioner. Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 37 responden yang sesuai karakteristik responden. Adanya hubungan antara terapi akupunktur dengan telinga berdengung. Adanya hubungan sebelum diberikan terapi akupunktur. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan dilakukannya akupunktur pada titik Ermen, Tinggong, Tinghui, Yifeng, Zhongzhu, Taichong, dan Qiuxu, telinga berdengung mengalami penurunan. Dilihat dari signifikasi terdapat pengaruh akupunktur terhadap penurunan telinga berdengung pada tinnitus.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail