BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Nyeri haid (dismenore) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami wanita usia reproduksi. Hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan tingkat produktivitas, serta mengganggu kualitas hidup wanita. Salah satu metode alternatif yang digunakan untuk mengurangi nyeri haid adalah akupunktur, terutama untuk kasus dismenore akibat sindrom stagnasi qi dan xue menurut konsep pengobatan tradisional Tiongkok (PTT).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi akupunktur Titik SP 6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong), dan ST 36 (Zusanli) terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue di klinik bidan “S” Bandung.
Metode: penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi selama januari-juni 2025. Intervensi berupa terapi akupunktur dilakukan 3–5 hari sebelum menstruasi. Intensitas nyeri diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale) sebelum dan sesudah terapi. Analisis data menggunakan uji wilcoxon signed-rank test karena data tidak berdistribusi normal.
Hasil: penelitian terhadap 30 subjek, diperoleh sebanyak 15 subjek berusia 21 tahun (50 %), 7 subjek berusia 18 tahun (23.3 %), 7 subjek berusia 22 tahun (23.3 %) dan 1 subjek berusia 24 tahun (3,3%). Responden terdiri dari 18 mahasiswa (60%), 5 karyawan swasta (16.7 %) dan 7 pelajar (23.3 %). Skor skala nyeri minimum diangka 4 dan maksimum diangka 8 sebelum dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 10 responden (33.3 %) diangka 6, 9 responden (30 %) diangka 7, 9 responden (30 %) diangka 5, 1 responden ( 3.3 %) diangka 8 dan 1 responden (3.3 %) diangka 1. Skor skala nyeri minimum diangka 1 dan maksimum diangka 6 setelah dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 13 responden (43.3 %) diangka 1, 8 responden (26.7 %) diangka 2, 6 responden (20 %) diangka 3, 1 responden ( 3.3 %) diangka 4, 1 responden (3.3 %) diangka 5, dan 1 responden (3.3 %) diangka 6.
Kesimpulan: skor skala nyeri rata-rata angka sebelum terapi sebesar 6.00 dan sesudah terapi sebesar 2.06. Perbedaan rata-rata skor skala nyeri sebelum dan setelah sebesar 3.94 (65%) yang berarti terapi akupunktur efektif terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue. Perbedaan signifikan antara intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi akupuntur diperoleh dari hasil uji wilcoxon signed rank test, diperoleh nilai p = 0,000 (< 0,05)
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Dismenore merupakan salah satu gangguan yang umum dialami oleh remaja putri saat menstruasi dan dapat berdampak pada aktivitas, konsentrasi belajar, serta kualitas hidup. Penanganan dismenore umumnya dilakukan dengan obat pereda nyeri, namun penggunaan metode non-farmakologis seperti kompres air hangat menjadi alternatif yang aman, murah, dan minim efek samping. Kompres hangat memberikan kehangatan untuk kenyamanan dan mengurangi rasa sakit atau kram otot. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh kompres air hangat terhadap nyeri haid (dismenore) pada remaja putri kelas 10 & 11 di SMAIT Nurul Fajri. Metode: Menerapkan metode kuantitatif menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 remaja putri yang mengalami dismenore dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian kompres air hangat pada perut bawah dilakukan selama 15–20 menit. Pengukuran nyeri dilakukan menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Berdasarkan temuan penelitian, rata-rata usia responden adalah 15,90 tahun dengan rentang usia 15–17 tahun. Skor nyeri sebelum perlakuan memiliki nilai rata-rata 4,87 (kategori nyeri sedang), dan setelah perlakuan turun menjadi 2,20 (kategori nyeri ringan). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara kompres air hangat terhadap penurunan nyeri haid. Kesimpulan: Kompres air hangat efektif dalam menurunkan intensitas nyeri haid pada remaja putri. Metode ini dapat dijadikan alternatif penanganan non-farmakologis yang aman dan praktis untuk mengurangi dismenore.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Salah satu keluhan yang muncul saat menstruasi adalah nyeri dengan tingkat yang bervariasi, mulai dari yang ringan hingga berat. Nyeri ini yang biasanya disebut dengan dismenorea, yaitu keadaan nyeri hebat dan dapat menggangu aktifitas sehari-hari (Kusminar, 2012). Dismenorea merupakan gangguan menstruasi yang sering dilaporkan dan merupakan masalah ginekologi paling umum di antara wanita baik dewasa maupun remaja (Larasati & Alatas, 2016). Remaja pada 3 tahun pertama menarche banyak yang melaporkan mengalami dismenorea dan wanita usia 17-24 tahun kemungkinan besar mengalami dismenorea (Lowdermilk et al., 2013). Menurut Traditional Chiness Medicine (TCM) dismenore dalam bahasa China disebut dengan Tong jing disebabkan oleh serangan dingin dan staqnasi qi-hati selama menstruasi yang mengakibatkan staqnasi darah atau defisiensi darah. Stagnasi qi-hati dapat menjadi konsekuensi dari ketidakharmonisan emosional dan mental, seperti depresi, kemarahan, frustrasi, dan dendam. Dismenorea merupakan permasalahan ginekologi utama yang sering dikeluhkan oleh wanita. Angka kejadian dismenorea di dunia sangat besar. Sekitar 90% dari remaja wanita mengalami dismenorea serta lebih dari 50% mengalami dismenorea primer dengan 10-20% mengalami gejala yang cukup parah. Prevalensi dismenorea di Indonesia sebesar 64,25% yang terdiri dari dismenorea primer 54,89% serta dismenorea sekunder 9,36% (Yusuf, 2017).Selain itu Nyeri Haid juga dapat dikurangi dengan mengkomsumsi obat tradisional seperti Chai Hu Shu Gan Tang. Chai Hu Shu Gan Tang merupakan ramuan herbal China yang berfungsi untuk membantu mengurangi gejala PMS (Pramenstruasi Sindrome) seperti perubahan mood, mudah marah, dan sakit kepala, selain itu juga dapat membantu meredakan nyeri haid dan melancarkan haid yang tidak teratur (Peillin, 2011).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Nyeri haid (dismenorea primer) adalah nyeri menstruasi sebagai nyeri singkat sebelum atau selama menstruasi. Menurut WHO terdapat 1.769.425 jiwa (90%) wanita mengalami dismenore. Di Indonesia nyeri haid (dismenore) berkisar 55%, Jawa Barat sebanyak 54,9%, di Bekasi sebanyak 63,2% wanita usia subur mengalami nyeri haid (dismenorea). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan metode penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 60 wanita usia subur. Teknik analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa 40 responden (87%) usia menarche ≥ 11 tahun dengan nyei haid (dismenorea primer), sebanyak 47 responden (83,9%) lama menstruasi normal (4-7 hari) dengan nyeri haid (dismenorea primer), dan sebanyak 33 responden (89,2%) aktivitas fisik berat dengan nyeri haid (dismenorea primer). Dari hasil uji chi-square antara usia menarche dengan nyeri haid sendiri menunjukkan nilai p (0,024) < a (0,05), maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil uji chi-square antara lama menstruasi dengan nyeri haid menunjukkan nilai p (0,023) < a (0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil uji chi-square antara aktifitas fisik dengan nyeri haid menunjukkan nilai p (0,044) < a (0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak.Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu, ada hubungan yang signifikan antara usia menarche, lama menstruasi, dan aktivitas fisik dengan kejadian nyeri haid di PT X tahun 2022.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) Laporan Penelitian, Februari 2023 Asprinda Octalerian Wardani, NIM : 221050002 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Haid (Dismenorea Primer) Pada Pekerja Wanita Usia Subur di PT X Tahun 2022 ABSTRAK Nyeri haid (dismenorea primer) adalah nyeri menstruasi sebagai nyeri singkat sebelum atau selama menstruasi. Menurut WHO terdapat 1.769.425 jiwa (90%) wanita mengalami dismenore. Di Indonesia nyeri haid (dismenore) berkisar 55%, Jawa Barat sebanyak 54,9%, di Bekasi sebanyak 63,2% wanita usia subur mengalami nyeri haid (dismenorea). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan metode penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 60 wanita usia subur. Teknik analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa 40 responden (87%) usia menarche ≥ 11 tahun dengan nyei haid (dismenorea primer), sebanyak 47 responden (83,9%) lama menstruasi normal (4-7 hari) dengan nyeri haid (dismenorea primer), dan sebanyak 33 responden (89,2%) aktivitas fisik berat dengan nyeri haid (dismenorea primer). Dari hasil uji chi-square antara usia menarche dengan nyeri haid sendiri menunjukkan nilai p (0,024) α (0,05), maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil uji chi-square antara lama menstruasi dengan nyeri haid menunjukkan nilai p (0,023) α (0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil uji chi-square antara aktifitas fisik dengan nyeri haid menunjukkan nilai p (0,044) α (0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak.Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu, ada hubungan yang signifikan antara usia menarche, lama menstruasi, dan aktivitas fisik dengan kejadian nyeri haid di PT X tahun 2022. Kata Kunci : Nyeri Haid, Usia Menarche, Lama Menstruasi, Aktivitas Fisik PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) Research Report, February 2023 Asprinda Octalerian Wardani, NIM : 221050002 Factors Affecting Menstrual Pain (Primary Dysmenorrhea) in Reproductive Age Female Workers at PT X in 2022 ABSTRACT Menstrual pain (primary dysmenorrhea) is menstrual pain as brief pain before or during menstruation. According to WHO there are 1,769,425 souls (90%) of women experiencing dysmenorrhea. In Indonesia menstrual pain (dysmenorrhea) ranges from 55%, West Java as much as 54.9%, in Bekasi as many as 63.2% of women of childbearing age experience menstrual pain (dysmenorrhea). This study used an analytic observational research design with cross sectional research methods. The sampling technique used simple random sampling technique with a sample of 60 women of childbearing age. The univariate data analysis technique used the frequency distribution and the bivariate analysis used the chi-square test. The results showed that 40 respondents (87%) were menarche ≥ 11 years old with menstrual pain (primary dysmenorrhea), 47 respondents (83.9%) had normal menstrual periods (4-7 days) with menstrual pain (primary dysmenorrhea), and as many as 33 respondents (89.2%) heavy physical activity with menstrual pain (primary dysmenorrhea). From the results of the chi-square test between the age of menarche and menstrual pain itself, it shows a p value (0.024) α (0.05), then Ha is accepted and Ho is rejected. The results of the chi-square test between the length of menstruation and menstrual pain show a value of p (0.023) α (0.05), so Ha is accepted and Ho is rejected. The results of the chi-square test between physical activity and menstrual pain show a p value (0.044) α (0.05) so Ha is accepted and Ho is rejected. The conclusion in this study is that there is a significant relationship between menarche age, menstrual duration, and activity. with the incidence of menstrual pain at PT X in 2022. Keywords: Menstrual Pain, Menarche Age, Menstrual Length, Physical Activity
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : Dismenore dapat dikurangi baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Secara farmakologi yakni dengan obat golongan Nonsteroidal AntiInflamatory Drugs (NSAID) seperti Ibuprofen, Naproxen, Disclofenac, Hidrocodone dan Acetaminofene, tetapi obat-obatan tersebut menyebabkan ketergantungan dan memiliki kontraindikasi (Andria et al., 2016) dan terapi non farmakologi yang bisa digunakan yaitu dengan pengobatan herbal, tehnik relaksasi, yoga kompres hangat dan terapi massage. Terapi massage yang dapat digunakan yaitu dengan massage effleurage. Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping seperti obat-obatan karena terapi non farmakologis menggunakan proses fisiologis (Zuraida & Aslim, 2020).
Metode Penelitian : metode yang digunakan adalah metode pre eksperimen. Analisa yang digunakan
pretest dan post test. Penelitian ini menggunakan data primer dari wawancara dan pengisian kuesioner. Hasil dan Pembahasan : sebanyak 25 responden yang sesuai karakteristik responden, 12 orang (48%) berumur 11 tahun, 10 orang (40 %) berumur 12 tahun, 3 orang (12%) berumur 13 tahun. Adanya hubungan antara massage Effleurage dengan tingkat nyeri haid. Adanya hubungan sebelum diberikan therapi massage effleurage ( p value = 0.005) dan setelah diberikan therapy massage effleurage ( p value
= 0.009 ).
Kesimpulan dan saran : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan dilakukannya massage effleurage tingkat nyeri dismenore pada remaja putri mengalami penurunan. Dilihat dari signifikasi terdapat pengaruh massage effleurage terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja putri. Pemberian massage
effleurage dapat menyebabkan berkurangnya hipoksia pada jaringan, hal tersebut dikarenakan kadar
oksigen dijaringan meningkat sehingga menyebabkan nyeri berkurang. Selama pijatan, senyawa endorphin akan dikeluarkan oleh tubuh sebagai Pereda nyeri alami tubuh dan menciptakan rasa nyaman.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Abstrak
Menurut (World Health Organization (WHO), 2016) angka kejadian perempuan yang mengalami nyeri
menstruasi sejumlah 1.769.425 jiwa (90%) dengan 10% – 15% mengalami nyeri mestruasi berat. Untuk mengurangi
rasa nyeri haid dapat ditangani dengan 2 cara yaitu secara farmaklogis dan non farmokologis, namun sebagian besar
wanita hanya menangani nyeri haid tersebut dengan obat merek dagang yang berfungsi sebagai analgetic dan tanpa
konsultasi dokter. Maka diperlukan alternatif lain untuk mengatasi masalah nyeri haid yaitu dengan cara terapi non
farmakologis yang diberikan tanpa penggunaan bahan kimia, mudah, dan aman. Tujuan penelitian adalah mengetahui
pengaruh pemberian terapi air kelapa hijau terhadap nyeri haid pada remaja putri di Pondok Pesantren Daarul Fikri
Kabupaten Bekasi Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan quasi
eksperimen dengan rancangan non-randomized pretest and posttest. Populasi dalam penelitian ini remaja putri
sebanyak 150 orang.Teknik pengambilan sampel dengan minimal sampling , yaitu 15 responden yang diberikan
intervensi dan 15 responden tidak diberikan intervensi. Analisis data menggunakan uji independent sample T test.
Hasil uji statistik bivariat yang diberikan air kelapa hijau menunjukkan bahwa nilai Sig (2-tailed) 0,00 < 0,05 artinya
ada perbedaan pemberian terapi air kelapa hijau pada remaja putri di Pondok Pesantren Daarul Fikri Tahun 2021.
Simpulan ada pengaruh pemberian terapi air kelapa hijau pada remaja putri yang mengalami nyeri haid. Disarankan
remaja putri yang mengalami nyeri haid untuk mengkonsumsi air kelapa hijau selama 3 hari berturut-turut sebanyak
200ml pada pagi dan sore hari dimulai dari hari pertama haid.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Terapi merupakan salah satu cara untuk dapat mengatasi gangguan kesehatan seperti Dismenore dan ini merupakan keluhan ginekologis yang paling umum diantara wanita dewasa dan remaja. Hal ini apabila tidak dilakukan tindakan yang tepat akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam aktivitas fisik sehari-hari. Untuk mengurangi nyeri haid dapat dilakukan dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Terapi non farmakologi di kenal sebagai terapi yang lebih aman dari pada terapi faramakologi yang cenderung memiliki efek samping membahayakan yang ditimbulkan dari obat-obatan. Terapi non faramakologi hadir sebagai terapi yang murah, mudah dan tidak membahayakan, salah satu terapi non farmakologi adalah terapi akupresur. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Seung-Hun Cho, menunjukkan Akupresur dapat mengurangi rasa sakit dan kecemasan khas dismenorea. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan selama 3 hari di Dessa Sukakarya yang dihadiri oleh 34 remaja. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini dalam pemanfaatan terapi akupresur dapat dilihat dari adanya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan remaja putri tentang teknik relaksasi akupresur untuk mengatasi nyeri haid sehingga remaja putri dapat mengurangi kebiasaan konsumsi obat – obatan atau jamu untuk mengurangi nyeri haid.