BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Demam merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dan memerlukan penanganan yang tepat. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah kompres bawang merah yang secara empiris digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bawang merah terhadap penurunan suhu pada balita demam di Klinik Handayani Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pengukuran suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian kompres bawang merah. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan suhu tubuh balita setelah diberikan kompres bawang merah. Nilai p-value hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian kompres bawang merah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompres bawang merah berpengaruh terhadap penurunan suhu pada balita demam di Klinik Handayani Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Bayi baru lahir rentan mengalami hipotermia karena sistem termoregulasi yang belum matang. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) melalui kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) dapat membantu menjaga kestabilan suhu tubuh bayi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh IMD terhadap peningkatan suhu tubuh bayi baru lahir di RSIA Permata Sarana Husada Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 40 bayi baru lahir yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling pada Juli–Agustus 2026. Suhu tubuh diukur pada menit pertama setelah lahir dan setelah 1 jam pelaksanaan IMD menggunakan termometer digital. Analisis data menggunakan Paired Sample t-Test dengan α=0,05. Hasil: Sebelum IMD, seluruh responden (100%) mengalami hipotermia dengan rata-rata skor kategori suhu 1,00 (SD=0,000). Setelah IMD selama 1 jam, rata-rata skor meningkat menjadi 1,53 (SD=0,506). Sebanyak 21 bayi (52,5%) mencapai suhu normal, sedangkan 19 bayi (47,5%) masih mengalami hipotermia ringan. Hasil uji statistik menunjukkan nilai t=-6,565, df=39, dan p-value=0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan pelaksanaan IMD terhadap peningkatan suhu tubuh bayi baru lahir. IMD minimal 1 jam perlu dioptimalkan sebagai upaya membantu menjaga suhu tubuh bayi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Sensasi nyeri pascaoperasi Sectio Caesarea (SC) dengan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) tetap menjadi keluhan utama yang tidak dapat dihindarkan sepenuhnya akibat efek wearing-off anestesi dan dimulainya mobilisasi dini. Rasa nyeri ini dapat menghambat proses pemulihan fisik dan laktasi. Salah satu intervensi non-farmakologis yang aman dan efektif untuk mengurangi intensitas nyeri adalah teknik relaksasi napas dalam. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien post SC ERACS di RS Siloam Lippo Cikarang Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest design. Jumlah sampel sebanyak 30 responden ibu post SC ERACS yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) intervensi teknik relaksasi napas dalam selama 15 menit menggunakan instrumen Numeric Rating Scale (NRS). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil: Sebelum diberikan intervensi (pretest), seluruh responden (100%) mengalami nyeri sedang dengan rata-rata skor nyeri sebesar 4,63 ± 0,490. Setelah diberikan intervensi (posttest), seluruh responden (100%) mengalami penurunan nyeri menjadi kategori ringan dengan rata-rata skor nyeri sebesar 2,13 ± 0,730 (penurunan rata-rata sebesar 2,50 poin). Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan nilai Z = -4,942 dan nilai signifikansi p < 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post SC ERACS di RS Siloam Lippo Cikarang. Teknik relaksasi napas dalam direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam Standar Prosedur Operasional (SPO) asuhan kebidanan sebagai terapi komplementer pendamping analgetik farmakologis.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Masa nifas merupakan periode penting dalam pemulihan ibu setelah persalinan. Salah satu proses fisiologis yang perlu dipantau adalah involusi uterus, yang ditandai dengan penurunan Tinggi Fundus Uteri (TFU). Mobilisasi dini merupakan salah satu upaya yang dapat membantu mempercepat proses involusi uterus dan mencegah komplikasi masa nifas. Tujuan: Mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap proses involusi uterus pada ibu nifas 6 jam di Praktik Mandiri Bidan Sanih Wilayah Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Quasy Experiment dan pendekatan One-Group Pretest-Posttest. Populasi dan sampel penelitian berjumlah 30 ibu nifas 6 jam yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling. Pengukuran TFU dilakukan sebelum dan sesudah intervensi mobilisasi dini menggunakan metline. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan Paired Sample t-Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Rata-rata TFU sebelum dilakukan mobilisasi dini adalah 13,057 cm (SD ± 0,8332 cm), dengan nilai minimum 11,2 cm dan maksimum 14,8 cm. Setelah dilakukan mobilisasi dini, rata-rata TFU menurun menjadi 11,167 cm (SD ± 0,8860 cm), dengan nilai minimum 9,7 cm dan maksimum 12,8 cm. Terjadi penurunan rata-rata TFU sebesar 1,89 cm (SD ± 0,4037 cm). Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai t-hitung = 25,641 dan p-value = 0,001 (p < 0,05), sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan antara mobilisasi dini terhadap proses involusi uterus pada ibu nifas 6 jam. Simpulan: Mobilisasi dini terbukti mempercepat involusi uterus, sehingga disarankan menjadi asuhan rutin ibu nifas
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Dismenore merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas serta proses belajar. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media video animasi terhadap pengetahuan remaja putri tentang dismenore di SMP Negeri 4 Cikarang Selatan Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest. Sampel sebanyak 96 remaja putri dipilih dengan stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Guttman sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil menunjukkan sebelum intervensi terdapat 65 responden (67,7%) berpengetahuan kurang, 27 (28,1%) cukup, dan 4 (4,2%) baik. Setelah intervensi, seluruh responden (100%) memiliki pengetahuan baik. Uji Wilcoxon menunjukkan p = 0,000 (p < 0,05), sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Kesimpulannya, terdapat pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media video animasi terhadap peningkatan pengetahuan remaja putri tentang dismenore.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Diare masih menjadi salah satu penyebab kesakitan pada balita dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengetahuan ibu, personal hygiene, sanitasi ling-kungan, dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Klinik Salsabila Husada Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sec-tional. Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih dari populasi 130 balita menggunakan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan data sekunder melalui buku KIA. Analisis dilakukan secara univariat dan bi-variat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p<0,001), personal hygiene (p<0,001), dan sanitasi lingkungan (p<0,001) dengan kejadian diare pada balita. Sementara itu, status gizi tidak berhubungan secara sig-nifikan dengan kejadian diare (p=0,873; OR=0,841; 95% CI=0,348–2,034). Kes-impulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu, personal hygiene, dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Upaya pencegahan perlu diarahkan pada peningkatan edukasi ibu, penerapan PHBS, serta perbaikan sanitasi lingkungan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri. Kurangnya pengetahuan mengenai keputihan dapat meningkatkan risiko terjadinya keputihan patologis. Edukasi menggunakan media booklet merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media booklet terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang keputihan di SMP Negeri 5 Cikarang Timur Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel berjumlah 77 siswi kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan tentang keputihan yang terdiri dari 20 pertanyaan benar dan salah. Hasil: Sebelum diberikan edukasi, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 40 responden (51,95%), kategori kurang sebanyak 34 responden (44,16%), dan kategori baik sebanyak 3 responden (3,90%). Setelah diberikan edukasi menggunakan media booklet, tingkat pengetahuan meningkat menjadi kategori baik sebanyak 54 responden (70,1%) dan kategori cukup sebanyak 23 responden (29,9%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh edukasi dengan media booklet terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang keputihan di SMP Negeri 5 Cikarang Timur Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Keputihan merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan dapat berdampak pada aktivitas harian maupun psikososial. Data WHO (2021) menunjukkan bahwa 75% perempuan di dunia pernah mengalami keputihan, dengan 45% di antaranya lebih dari dua kali. Di Indonesia, prevalensi mencapai sekitar 90%, di mana 60% kasus terjadi pada kelompok usia remaja. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2021 mencatat prevalensi keputihan pada remaja usia 15–24 tahun sebesar 31,8%. Hasil survei awal di SMP Qur’an ElTahfidh mengungkapkan bahwa 21,5% siswi mengalami keputihan, namun mayoritas belum memahami perbedaan antara keputihan fisiologis (normal) dan patologis (abnormal). Hal ini mengindikasikan masih terbatasnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi di kalangan remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kejadian keputihan pada remaja putri kelas VIII dan IX di SMP Qur’an ElTahfidh tahun 2025. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 93 responden menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square serta Odds Ratio (OR). Analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,000; OR=7,875), usia (p=0,001; OR=0,257), personal hygiene (p=0,000; OR=7,286), serta sumber informasi (p=0,007; OR=0,295) dengan kejadian keputihan. Diperlukan program edukasi kesehatan reproduksi yang lebih intensif dan berkelanjutan, baik melalui sekolah, keluarga, maupun tenaga kesehatan, agar remaja mampu memahami perbedaan keputihan normal dan patologis, meningkatkan kebersihan diri, serta menerapkan perilaku pencegahan sejak dini. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan bagi strategi promosi kesehatan remaja secara lebih terarah.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja putri dan dapat berdampak pada pertumbuhan serta prestasi belajar. Data WHO tahun 2021 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada wanita usia reproduktif cukup tinggi (29,6), termasuk pada remaja meningkat dari 21,6% menjadi 22,3%. Di Jawa Barat, prevalensi anemia pada remaja putri mencapai 40%. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang anemia menggunakan media video terhadap pengetahuan remaja putri. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Intervensi berupa pemutaran video edukatif berdurasi sekitar 10 menit yang menguraikan pengertian, penyebab, gejala, pencegahan, serta cara konsumsi tablet tambah darah (TTD). Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner 20 item sebelum dan sesudah intervensi. Sampel penelitian adalah 62 siswi yang dipilih dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, mayoritas responden berpengetahuan kurang (74,2%), sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi berpengetahuan baik (82,3%). Uji statistik memperoleh nilai p = 0,000 (< 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan pendidikan kesehatan menggunakan media video terhadap peningkatan pengetahuan tentang anemia. Simpulan dari penelitian ini adalah media video efektif sebagai sarana edukasi kesehatan. Disarankan agar sekolah dan tenaga kesehatan lebih memanfaatkan media audiovisual dalam program promosi kesehatan remaja.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kanker payudara merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat, dengan jumlah kasus mencapai 2,3 juta pada tahun 2020 dan diperkirakan bertambah hingga tahun 2040 (WHO). Deteksi dini merupakan langkah penting dalam pencegahan, salah satunya melalui edukasi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Namun, pengetahuan remaja putri mengenai SADARI masih tergolong rendah, sehingga diperlukan upaya pendidikan kesehatan dengan metode yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan metode demonstrasi terhadap peningkatan pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMK Jayabeka 01 Karawang Tahun 2025. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 103 remaja putri yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pretest dan posttest yang berisi 20 pertanyaan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan setelah intervensi, dengan nilai p-value 0,000 (p < 0,05). Sebanyak 85 responden mengalami peningkatan pengetahuan, 18 responden tidak mengalami perubahan, dan tidak ada yang mengalami penurunan. Sebelum intervensi, mayoritas responden berada pada kategori cukup (67%), namun setelah diberikan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi, sebagian besar (82,5%) berada pada kategori baik. Pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang SADARI. Intervensi ini dapat dijadikan strategi edukatif yang tepat dalam upaya deteksi dini kanker payudara pada remaja, serta direkomendasikan untuk diterapkan secara berkesinambungan di sekolah.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan reproduksi yang banyak dialami remaja akibat kurangnya pengetahuan dan perilaku berisiko. Di Indonesia tahun 2022 tercatat 20.783 kasus IMS, menunjukkan masih tingginya prevalensi. Minimnya pengetahuan remaja menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya angka tersebut. Salah satu upaya pencegahan adalah melalui pendidikan kesehatan dengan media cetak, seperti leaflet, yang dinilai efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang IMS di SMP Islam Al-Mu’min.Metode: Desain Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 68 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang disebarkan sebelum dan sesudah intervensi. Uji normalitas menggunakan kolmogorov smirnov test, sedangkan Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil univariat dan bivariat penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan dengan media leaflet tentang infeksi menular seksual sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan rendah. Setelah diberikan intervensi, terjadi peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan remaja. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media leaflet terhadap pengetahuan remaja tentang IMS. Kesimpulannya: Pendidikan kesehatan dengan media leaflet dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang infeksi menular seksual. Oleh karena itu, disarankan bagi petugas kesehatan agar dapat menggunakan media leaflet dalam melakukan pendidikan kesehatan dalam rangka meningkatkan pengetahuan remaja tentang infeksi menular seksual.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Wanita usia subur (WUS) 15–49 tahun merupakan sasaran utama program Keluarga Berencana (KB). Namun, tingkat penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) masih rendah. Data SDKI 2017 menunjukkan hanya 4% WUS menggunakan AKDR, jauh di bawah kontrasepsi suntik (32%) dan pil (14%). Di Kabupaten Bekasi, dari 470.064 WUS, hanya 6,3% yang memilih AKDR. Studi awal di TPMB Hj. Wiwin Wulandari menemukan bahwa 90% dari 20 responden lebih memilih suntik dibandingkan AKDR. Rendahnya minat ini mendorong peneliti untuk menelaah faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan AKDR. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya penggunaan AKDR pada WUS di TPMB Hj. Wiwin Wulandari, S.ST., M.Si. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 60 WUS yang diambil melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Terdapat hubungan signifikan antara usia (p=0,028), paritas (p=0,048), pengetahuan (p=0,021), pendidikan (p=0,008), dan pekerjaan (p=0,000) dengan penggunaan AKDR. Terdapat pengaruh yang signifikan antara usia, paritas, pengetahuan, pendidikan, dan pekerjaan terhadap pemilihan AKDR. Diperlukan peran aktif bidan dalam memberikan edukasi serta dukungan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan minat WUS terhadap AKDR, guna mendukung program KB jangka panjang yang efektif.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Lama kala I persalinan yang berlangsung terlalu lama dapat
meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan janin, seperti kelelahan, distress janin, dan
tindakan medis invasif. Pelvic rocking merupakan teknik non-farmakologis yang terbukti
dapat mempercepat pembukaan serviks. Tujuan: Mengetahui pengaruh pelvic rocking
terhadap lama kala I persalinan. Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain
kuantitatif dengan metode pra-eksperimen dan pendekatan static group comparison.
Penelitian dilakukan di TPMB Bidan Yuyun Tahun 2025 dengan jumlah sampel 30 ibu
bersalin yang diambil secara total sampling. Variabel dependen adalah lama kala I
persalinan, sedangkan variabel independen adalah pelvic rocking. Analisis data
menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Pada kelompok
intervensi, 73,3% ibu bersalin mengalami kala I normal, sedangkan pada kelompok kontrol
73,3% mengalami kala I tidak normal. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh
signifikan antara pelvic rocking dengan lama kala I persalinan (p=0,011). Kesimpulan:
Pelvic rocking efektif digunakan untuk mempercepat kala I persalinan secara fisiologis dan
aman.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Ruptur perineum adalah perlukaan jalan lahir yang terjadi pada saat kelahiran bayi baik menggunakan alat maupun tidak menggunakan alat. Menurut (WHO) terdapat 2,7 juta kasus rupture perineum pada ibu bersalin, diperkirakan akan mencapai 6,3 juta ditahun 2050. Di Asia rupture perineum dalam masyarakat tercatat 50% dari kejadian rupture perineum di dunia yang menunjukkan bahwa masalah ini memerlukan perhatian lebih. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Rupture Perineum Pada Ibu Bersalin di TPMB Silvy Kusmiran Amd.Keb Tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dari bulan Januari - Desember 2024 sebanyak 86 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil: Hasil penelitian di ketahui bahwa dari hasil uji chi-square diperoleh nilai ρ-value 0,003 < α (0,05), artinya ada hubungan paritas dengan rupture perineum. hasil uji chi-square diperoleh nilai ρ-value 0,063 < α (0,05), artinya ada hubungan umur ibu dengan ruptur perineum. hasil uji chi-square diperoleh nilai ρ-value 0,004 < α (0,05), artinya ada hubungan jarak kehamilan dengan ruptur perineum. hasil uji chi-square diperoleh nilai ρ-value 0,031 < α (0,05), artinya ada hubungan berat badan bayi lahir dengan ruptur perineum di TPMB Silvy Kusmiran Amd.Keb Tahun 2024. Hasil penelitian ini bertujuan sebagai masukan kepada bidan dilingkungan sekitar untuk memberikan asuhan kebidanan yang bermanfaat dan mengurangi dampak terjadinya ruptur perineum.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Dismenore merupakan salah satu gangguan yang umum dialami oleh remaja putri saat menstruasi dan dapat berdampak pada aktivitas, konsentrasi belajar, serta kualitas hidup. Penanganan dismenore umumnya dilakukan dengan obat pereda nyeri, namun penggunaan metode non-farmakologis seperti kompres air hangat menjadi alternatif yang aman, murah, dan minim efek samping. Kompres hangat memberikan kehangatan untuk kenyamanan dan mengurangi rasa sakit atau kram otot. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh kompres air hangat terhadap nyeri haid (dismenore) pada remaja putri kelas 10 & 11 di SMAIT Nurul Fajri. Metode: Menerapkan metode kuantitatif menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 remaja putri yang mengalami dismenore dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian kompres air hangat pada perut bawah dilakukan selama 15–20 menit. Pengukuran nyeri dilakukan menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Berdasarkan temuan penelitian, rata-rata usia responden adalah 15,90 tahun dengan rentang usia 15–17 tahun. Skor nyeri sebelum perlakuan memiliki nilai rata-rata 4,87 (kategori nyeri sedang), dan setelah perlakuan turun menjadi 2,20 (kategori nyeri ringan). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara kompres air hangat terhadap penurunan nyeri haid. Kesimpulan: Kompres air hangat efektif dalam menurunkan intensitas nyeri haid pada remaja putri. Metode ini dapat dijadikan alternatif penanganan non-farmakologis yang aman dan praktis untuk mengurangi dismenore.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pada tahun 2020, Berdasarkan data WHO menyatakan bahwa KPD di Indonesia sebanyak 65%, angka kejadian KPD di Jawa Barat sebanyak 230 kasus. Rencana strategi Nasional memperdayakan wanita, keluarga dan masyarakat melalui promosi kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Ketuban Pecah Dini di Sentra Medika Hospital Cikarang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan Deskriptif Case Control adalah studi analitik yang menganalisis hubungan dengan menggunakan logika terbalik yaitu menentukan penyakit (Outcome) terlebih dahulu kemudian mengidentifikasi penyebab. Sampel berjumlah 528 ibu hamil yang mengalami KPD dan yang non KPD. Instrumen penelitian ini berupa data sekunder. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan dilihat dari nilai (p value <0,05) antara usia ibu (p=0,003), paritas (p=0,011), usia kehamilan (p=0,033), riwayat KPD (p=0,009), pekerja (p=0,003) dengan kejadian KPD di Sentra Medika Cikarang Tahun 2025. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara usia ibu, paritas, usia kehamilan, riwayat KPD dan pekerjaan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Anemia dikenal sebagai adanya penurunan massa eritrosity atau massa sel darah merah yang mengakibatkan terganggunya fungsi dan ketidakmampuan hemoglobin untuk membawa oksigen secara memadai ke organ-organ. Alasan dilakukan penelitian ini adalah tingginya pravelensi anemia pada remaja putri di SMKN 1 Pebayuran. Dari survei terhadap 50 responden, peneliti menemukan bahwa 84% siswi mengalami anemia dan 16% tidak anemia. Menurut pengakuan sisiwi, mereka tidak pernah meminum tablet tambah darah selama menstruasi Tujuan : untuk mengidentifikasi faktor yang terkait dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMKN 1 Pebayuran. Metode: Penelitian ini memakai desain Analitik Kuantitatif, pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian ini sejumlah 139 responden. Pengambilan sampel dengan metode stratified random sampling sejumlah 67 remaja. Intrumen penelitian ini memakai kuesioner. Analisis data memakai Univariat serta bivariat. Hasil memperlihatkan bahwasanya terdapat korelasi antara pengetahuan dengan anemia pada remaja putri (p- value 0,028 <0,05) OR 3.339. Terdapat korelasi antara konsumsi TTD dengan anemia (p-value 0,000
<0,05) OR 13.417. Terdapat korelasi antara lama menstruasi dengan anemia (p-value 0,003<0,05) OR
6.255. Terdapat korelasi antara status ekonomi orang tua dengan anemia (p-value 0,000 < 0,05) OR
8.054. Terdapat korelasi antara pola istirahat dengan anemia, (p-value 0,011 < 0,05) OR 5.017. Kesimpulan: penelitian ini dapat disimpulkan bahwasanya terdapat korelasi antara pengetahuan, konsumsi TTD, lama menstruasi, pola istirahat dan status ekonomi orang tua
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Dismenore merupakan rasa sakit atau ketidak nyamanan di bagian bawah perut yang dirasakan oleh wanita sebelum, selama menstruasi. Ada dua cara meringankan nyeri dismenore, pertama terapi dengan mengkonsumsi obat dan yang kedua terapi tanpa mengkonsumsi obat. Terapi tanpa mengkonsumsi obat bisa dengan cara relaksasi dan olahraga senam dismenore. Senam dismenore bisa memberikan kenyamanan pada otot sekitar pinggang, perut, dan panggul. Jika dilakukan terus menerus dengan teratur, juga dapat menyebabkan perasaan nyaman secara bertahap. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh senam dismenore terhadap nyeri dismenore pada remaja putri di MTS Alwathoniyah 55 Karang Bahagia. Metode: Menerapkan metode kuantitatif dan menggunakan desain quasy eksperiment one group pretest-postest. Subjek penelitian ini remaja putri sedang menderita dismenore berjumlah 30 responden. Hasil: Berdasarkan temuan penelitian, usia rata-rata responden yaitu 14 tahun. Mayoritas responden mengalami nyeri sebelum dengan intensitas sedang dengan presentase 60%, Sementara itu, dalam pengukuran sesudah, umumnya responden mendapat penurunan nyeri dismenore menjadi nyeri ringan presentase 70%, Selanjtnya, terdapat pula kenaikan jumlah responden yang tidak merasakan nyeri dengan presentase 20% dari 0%. Bersumber hasil penelitian wilcoxon didapatkan nilai p value= 0,000(p<0,05) bermakna ada pengaruh senam dismenore pada penurunan nyeri dismenore. Diharapkan pada wanita sedang dismenore untuk melakukan olahraga ringan untuk mengurangi dismenore.