BAKTI SOSIAL IMDS DAN KOPERASI KMS PEMERIKSAAN KESEHATAN DAN PEMINJAMAN ALAT-ALAT KESEHATAN
BAKTI SOSIAL IMDS DAN KOPERASI KMS PEMERIKSAAN KESEHATAN DAN PEMINJAMAN ALAT-ALAT KESEHATAN
Profil penulis
45 karya publik ditemukan.
BAKTI SOSIAL IMDS DAN KOPERASI KMS PEMERIKSAAN KESEHATAN DAN PEMINJAMAN ALAT-ALAT KESEHATAN
Latar Belakang: Dismenore primer merupakan nyeri perut saat haid. Gejala dismenore yaitu rasa kram perut bagian bawah sampai punggung. Di Indonesia kejadian dismenore primer sebesar 60-70%. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas XI di SMKN 1 Rengasdengklok Kabupaten Karawang tahun 2026. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu 233 remaja putri kelas XI. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin dengan hasil 147 remaja putri kelas XI. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik stratified random sampling dan random sampling. Dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Intrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner. Analisis data pada penelitian ini yaitu univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: menunjukkan variabel yang berhubungan dengan dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas XI di SMKN 1 Rengasdengklok adalah usia menarche (p=0,002), faktor genetik (p=0,023), dan tingkat stress (p=0,000). Simpulan: Dari 3 variabel yang diteliti hasilnya ada hubungannya dengan dismenore primer pada remaja putri kelas XI di SMKN 1 Rengasdengklok. Saran: Diharapkan remaja putri kelas XI di SMKN 1 Rengasdengklok yang mengalami dismenore diharapkan dapat melakukan upaya penanganan yang tepat serta menerapkan pola hidup sehat dan mengelola stres dengan baik agar keluhan dismenore tidak mengganggu aktivitas sehari-hari maupun proses belajar
Latar Belakang: ASI eksklusif diberikan selama enam bulan pertama kehidupan bayi tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Namun, masih terdapat ibu yang mengalami terputusnya pemberian ASI eksklusif. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan pengetahuan ibu, dukungan suami, dan pekerjaan ibu. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terputusnya pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarmukti Cikarang Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 84 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan p<0,05. Hasil: Sebanyak 51 responden mengalami terputusnya pemberian ASI eksklusif dan 33 responden memberikan ASI eksklusif. Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu, dukungan suami, dan pekerjaan ibu dengan terputusnya pemberian ASI eksklusif, masing-masing dengan p-value<0,001. Kesimpulan: Pengetahuan ibu, dukungan suami, dan pekerjaan ibu berhubungan dengan terputusnya pemberian ASI eksklusif. Diperlukan peningkatan edukasi ASI eksklusif serta dukungan suami, keluarga, dan lingkungan, khususnya bagi ibu bekerja.
Latar Belakang: Produksi ASI yang kurang merupakan salah satu permasalahan yang dapat memengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemenuhan nutrisi ibu melalui konsumsi pangan yang berpotensi sebagai laktagogum, salah satunya sayur daun kelor (Moringa oleifera). Daun kelor mengandung zat gizi dan senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung produksi ASI. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi sayur daun kelor terhadap produksi ASI pada ibu menyusui bayi usia 0–6 bulan di Desa Sukarapih wilayah kerja Puskesmas Tambelang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan two group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu menyusui yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing 15 responden, dengan teknik total sampling. Kelompok intervensi diberikan sayur bening daun kelor ±100gram satu kali sehari selama 7 hari, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi daun kelor. Analisis data menggunakan Paired Sample t-Test dan Independent Sample t-Test. Hasil: Rata-rata produksi ASI kelompok kontrol meningkat dari 205,66 ml menjadi 236,00 ml, dengan peningkatan 30,33 ml. Pada kelompok intervensi, rata-rata produksi ASI meningkat dari 215,13 ml menjadi 281,20 ml, dengan peningkatan 66,06 ml. Hasil Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p <0,001 pada kedua kelompok. Hasil Independent Sample t-Test menunjukkan nilai p <0,001, dengan selisih rata-rata peningkatan produksi ASI sebesar 35,73 ml antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulan dan Saran: Terdapat pengaruh konsumsi sayur daun kelor terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui bayi usia 0–6 bulan di Desa Sukarapih wilayah kerja Puskesmas Tambelang Tahun 2026. Konsumsi sayur daun kelor selama 7 hari menunjukkan peningkatan produksi ASI yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Ibu menyusui diharapkan dapat memperhatikan upaya untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi ASI, salah satunya dengan menjaga asupan nutrisi dan menerapkan pola hidup sehat.
Latar Belakang: Produksi ASI yang belum optimal pada masa nifas dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Tujuan: Penelitian ini mengetahui pengaruh Woolwich Massage terhadap produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Kecamatan Batujaya Karawang Tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan non-equivalent control group design. Sampel berjumlah 40 ibu nifas yang dibagi menjadi kelompok Woolwich Massage (n=20) dan kelompok kontrol (n=20). Produksi ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi. Woolwich Massage dilakukan selama 3 hari, 2 kali sehari dengan durasi 15 menit. Analisis data menggunakan Shapiro-Wilk, Paired Samples t-Test, dan Independent Samples t-Test. Hasil: Penelitian menunjukkan rata-rata produksi ASI kelompok Woolwich Massage meningkat dari 155,55 ml menjadi 248,65 ml dengan peningkatan 93,10 ml dan hasil Paired Samples t-Test p=0,000. Pada kelompok kontrol, rata-rata produksi ASI meningkat dari 180,10 ml menjadi 187,15 ml dengan peningkatan 7,05 ml dan p=0,000. Uji Independent Samples t-Test terhadap selisih peningkatan menunjukkan t=9,611; df=37,740; p=0,000 dengan mean difference 61,50 ml (95% CI 48,542–74,458). Kesimpulan: Terdapat perbedaan peningkatan produksi ASI yang signifikan antara kelompok Woolwich Massage dan kelompok kontrol. Woolwich Massage dapat dipertimbangkan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk membantu meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas. Saran: Woolwich Massage dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis dalam pelayanan ibu nifas untuk membantu meningkatkan produksi ASI.
Latar Belakang: Pemberian ASI diberikan selama enam bulan pertama namun masih menjadi permasalahan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui determinan atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Sukarahayu, wilayah kerja Puskesmas Tambelang. Metode Penelitian: jenis penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2026 dengan melibatkan populasi sebanyak 51 ibu menyusui. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling sehingga diperoleh 51 responden. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner dan data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square (α = 0,05). Hasil Penelitian: bahwa sebagian besar responden 33 (64,7%) tidak memberikan ASI eksklusif. Analisis bivariat membuktikan terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan pendidikan ibu (p < 0,001), pengetahuan ibu (p < 0,001), dukungan suami (p < 0,001), dan dukungan keluarga (p < 0,001). Kesimpulan: rendahnya capaian ASI eksklusif di Desa Sukarahayu dipengaruhi secara signifikan oleh faktor pendidikan, kurangnya pengetahuan, serta minimnya dukungan dari suami dan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang komprehensif dengan melibatkan partisipasi suami dan keluarga untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif
Ruam popok (diaper rash) merupakan masalah kulit yang sering terjadi pada bay akibat iritasi urine, feses, kelembaban, dan gesekan popok. Prevalensi globa mencapai 65% (WHO, 2022), sementara di Indonesia dilaporkan 7–35% dan d Kabupaten Bekasi sebesar 10,28%. Pengetahuan ibu yang kurang tentang persona hygiene bayi menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan risiko terjadiny ruam popok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yan berhubungan dengan kejadian ruam popok pada bayi di Desa Karang Bar Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Tahun 2025.Penelitian merupaka jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 88 responden dipilih dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui angket kepada ibu yan memiliki bayi usia 0–6 bulan. Analisis menggunakan uji chi-square denga perhitungan odds ratio (OR). Dari penelitian ini diperoleh hasil yaitu tidak terdapa hubungan signifikan antara pendidikan dengan ruam popok (p=0,249; OR=0,552 maupun sikap (p=0,067; OR=2,565). Namun terdapat hubungan signifikan antar pekerjaan dengan ruam popok (p=0,047; OR=2,644) serta pengetahuan (p=0,018 OR=3,246). Responden dengan pengetahuan kurang memiliki peluang tiga kal lebih besar memiliki bayi yang terkena ruam popok dibandingkan dengan ib berpengetahuan baik. Pengetahuan ibu sangat erat kaitannya dengan pendidika dan memengaruhi perilaku dalam menjaga kesehatan kulit bayi. Ketepata perawatan perianal memerlukan perilaku ibu yang baik dalam menjaga kebersiha kulit bayi.
Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi utama sekaligus terbaik bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupannya. Namun, banyak ibu postpartum masih menghadapi hambatan dalam produksi ASI yang dipengaruhi oleh faktor fisiologis maupun psikologis. Kondisi ini menegaskan pentingnya penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu dalam meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas, usia, status gizi, dukungan keluarga, serta keterpaparan informasi dengan tingkat pengetahuan ibu postpartum mengenai peningkatan produksi ASI di TPMB Bidan Jayanti Kecamatan Cikarang Utara tahun 2025. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 50 responden dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, odds ratio (OR), serta confidence interval (CI) 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel paritas (p=0,274), status gizi (p=1,000), usia (p=0,157), dan keterpaparan informasi (p=0,338) tidak memiliki hubungan bermakna dengan pengetahuan ibu. Sebaliknya, dukungan keluarga berpengaruh signifikan (p=0,001), di mana ibu tanpa dukungan keluarga berisiko 43 kali lebih besar memiliki pengetahuan rendah (OR=43,000; CI 95%: 3,365–549,547). Dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga merupakan faktor dominan dalam meningkatkan pengetahuan ibu postpartum tentang produksi ASI. Temuan ini menekankan pentingnya melibatkan keluarga dalam program edukasi laktasi guna mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi intervensi berbasis keluarga sebagai strategi peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi.
Latar Belakang : Imunisasi adalah proses pemberian vaksinasi kepada seseorang untuk membantu mereka menjadi kebal terhadap penyakit tertentu. Vaksin merangsang system kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibody yang dapat melawan penyakit tertentu. Indikator data dari Klinik Amelia. Jumlah anak Indonesia yang tidak divaksinasi pada tahun 2018 hingga 2023 adalah 1.879.820 anak. Cakupan vaksinasi dasar di Indonesia juga mengalami penurunan, dari 93,7% pada tahun 2019 menjadi 84,5% pada tahun 2021. Capain imunisasi dasar lengkap dari januari sampai dengan maret 2025 hanya 62,5% yang tercapai Imunisasi dasar lengkap. Tujuan : Penelitian bertujuan untuk mengetahui Faktor- faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap di klinik Amelia tahun 2025. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitaif dengan desain cross sectional, populasi seluruh ibu yang memiliki bayi usia 0–12 bulan yang tinggal di wilayah layanan Klinik Amelia. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 80 responden. Pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner. Analisis hubungan antar variable menggunakan uji chi square. Hasil Penelitian : Hasil Penelitian ini dengan uji statistik bivariat dengan menggunakan chi square menunjukan bahwa usia (p= 0,000) , pendidikan (p=0,000), pekerjaan (p=0,000), sumber informasi (p=0,000). Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara usia, pekerjaaan, pendidikan, sumber informasi dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap di klinik amelia tahun 2025.
Latar belakang: Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan social ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia pada kehamilan akan membahayakan ibu dan janin. Dari studi pendahuluan di TPMB Bidan Ria, Desa Sukaraya, ditemukan 2 dari 10 ibu hamil mengalami anemia ringan dengan kadar Hb 10–11,9 gr/dL. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di TPMB Bidan Ria Desa Sukaraya Kecamatan Karang Bahagia Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional untuk mengungkapkan hubungan antara variabel dependen dan independen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang memeriksakan Kadar Hb di TPMB Bidan Ria yaitu berjumlah 50 orang ibu hamil dan teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan total sampling dengan jumlah 50 orang. Pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuisioner. Analisis statistik yang digunakan adalah dsitribusi frekuensi dan Chi Square. Hasil penelitian: memperlihatkan bahwa ibu hamil anemia yaitu sebanyak 18 orang responden ( 36%). Dan kejadian anemia pada ibu hamil diTPMB Bidan Ria sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor diantaranya umur (p=0,001), paritas (p=0,007), Pendidikan(p=0,002), pekerjaan(p=0,007), pengetahuan(p=0,000) dan keterpaparan informasi(p=0,000). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian Anemia Adalah pengetahuan dengan nilai OR 15,000 (CI 95%). Artinya ibu hamil yang memiliki Tingkat pengetahuan kurang memiliki peluang 15 kali untuk mengalami Anemia. Kesimpulan: untuk TPMB Bidan Ria agar lebih aktif lagi melaksanakan konseling-konseling gizi selama kehamilan dan penyuluhan-penyuluhan Kesehatan.
Latar Belakang: Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan merupakan upaya penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi. Namun, angka cakupan ASI eksklusif masih rendah di beberapa wilayah. Perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, sikap, dan dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi. Metode: Jenis penelitian adalah analitik dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 80 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sikap, sumber informasi, dan dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pemberian ASI eksklusif. Hasil: Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan bivariat dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan pemberian ASI eksklusif. Univariat menunjukkan mayoritas responden memberikan ASI eksklusif (75,0%), berpendidikan > SMA (67,5%), tidak bekerja (70,0%), memiliki pengetahuan baik (73,8%), bersikap positif (76,3%), mendapat dukungan keluarga (71,3%), dan terpapar sumber informasi (67,5%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pendidikan (p=0,001), pekerjaan (p=0,010), pengetahuan (p=0,002), sikap (p=0,015), dukungan keluarga (p=0,005), serta sumber informasi (p=0,025) dengan pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan sumber informasi. Upaya peningkatan ASI eksklusif perlu difokuskan pada peningkatan edukasi, penyediaan informasi, serta dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat.
Latar Belakang : Kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita hamil adalah isu kesehatan yang sangat penting di Indonesia. Angka prevalensinya mencapai 16,9% pada tahun 2023, dengan sebagian besar kejadian terjadi di Kabupaten Bekasi. KEK dapat menambah kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, termasuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Salah satu solusi untuk menangani KEK adalah melalui program gizi seperti pemberian makanan tambahan (PMT). Telur ayam yang direbus adalah sumber protein hewani yang kaya akan nutrisi dan dapat membantu meningkatkan berat badan ibu hamil yang mengalami KEK. Tujuan : Menganalisa pengaruh konsumsi telur ayam rebus terhadap peningkatan berat badan pada ibu hamil dengan KEK yang tinggal di Puskesmas Cipayung. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan studi quasi eksperimen One grup pre-post test Sampel terdiri dari 30 wanita hamil yang mengalami KEK, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan memberikan tiga butir telur ayam rebus setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji-t berpasangan. Hasil : Sebelum dilakukan intervensi, rata-rata berat badan wanita hamil tercatat 46,28 kg. Setelah mengonsumsi telur ayam rebus selama 14 hari, berat badan rata-rata meningkat menjadi 47,33 kg. Uji tersebut menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan konsumsi telur ayam rebus terhadap pertambahan berat badan pada ibu hamil dengan KEK. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengaruh positif protein hewani dari telur terhadap status gizi ibu hamil. Kesimpulan : Konsumsi telur ayam rebus dapat meningkatkan berat badan secara signifikan pada perempuan hamil dengan kekurangan energi kronik di Puskesmas Cipayung. Tindakan ini menjadi pilihan yang efisien dan hemat biaya untuk memperbaiki status gizi ibu, mendukung perkembangan janin, dan mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan.
Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada wanita, yang umumnya disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) merupakan metode deteksi dini yang efektif untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kanker serviks. Namun, cakupan pemeriksaan IVA di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku wanita usia reproduksi (WUS) dalam melakukan tes IVA di Desa Sukamanah, Kecamatan Sukatani. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang dan melibatkan 82 WUS melalui consecutive sampling. Variabel independen meliputi pendidikan, pengetahuan, sikap, sumber informasi, dan dukungan suami. Hasil menunjukkan bahwa 61% responden belum pernah melakukan tes IVA. Terdapat hubungan signifikan antara perilaku tes IVA dengan pengetahuan (p=0,003), sikap (p=0,021; OR=3,3), dan dukungan suami (p=0,003; OR=5,087). Pendidikan dan sumber informasi tidak berhubungan secara signifikan.
Abstrak: Imunisasi adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut, bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan penyakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-12 bulan, Jenis penelitian ini adalah survey kuantitatif, dengan desain non eksperimental dan pengumpulan data dilakukan secara cross sectional. populasi dalam penelitian ini seluruh ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan. pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dengan jumlah sampel 50 responden. pengumpulan data dengan menyebarkan kuesoner. analisis yang digunakan adalah univariat dan bivariat dengan uji chis quare. Hasil Penelitian uji statistic univariat di dapatkan cakupan imunisasi tidak tercapai sebanyak 27 responden (54,0%), dan hasil imunisasi yang tercapai sebanyak 23 responden (46.0%), Analisis bivariat menunjukan variabel yang berhubungan signifikan dengan rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-12 bulan adalah varibel tingkat pengetahuan dengan nilai p value 0.000 or 13,571 (95% ci 3,416-53,926), variabel pendidikan dengan nilai p value 0.000 ,or 12,600 (95% ci: 3,288-48,287), varibel sumber informasi dengan nilai p value 0.000, or 11,281 (95 ci: 2,900-43,878), variabel dukungan keluarga dengan nilai p value 0.000, or 16,292 (95% ci: 3,970-66,860), variabel peran kader dengan nilai p value 0.000, or 4,453 (95 ci: 1.35314.653). Kesimpulan: Bahwa adanya hubungan pengetahuan,pendidikan,sumber informasi, dukungan keluarga, peran kader terhadap rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi 012 bulan
Latar Belakang : Wanita premenopause sering tidak memiliki kesadaran lengkap mengenai peristiwa menopause yang akan datang, yang menyebabkan peningkatan prevalensi gejala menopause. Penyelidikan dilakukan pada tahun 2024 di Desa Karang Rahayu, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan tingkat kecemasan wanita premenopause terhadap transformasi fisik dan psikologis. Subyek dan Metode: Penelitian ini memanfaatkan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Desa Karang Rahayu terletak di Kecamatan Karang Bahagia Kabupaten Bekasi, lokasi penelitian berlangsung. Penelitian ini melibatkan 110 responden wanita yang berusia antara 40 dan 49 tahun, dan teknik pengambilan sampel total digunakan untuk mengumpulkan data. Para responden akan diwawancarai secara pribadi melalui kuesioner terstruktur. Variabel independent pada penelitian ini ialah usia, sikap, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, serta dukungan suami, sedangkan variabel dependent ialah tingkat kecemasan pada wanita premenopause. Instrumen yang dimanfaatkan pada studi ini ialah kuesioner. Data yang dikumpulkan menjalani berbagai proses termasuk pengeditan, pengkodean, penilaian, tabulasi, pembersihan, dan penyebaran informasi. Analisis data pada penelitian ini mencakup dua fase utama: Analisis Univariat dan Bivariat. Hasil: Dari hasil peneltian diperoleh dari 110 responden, menggunakan uji chi-square diperoleh hasil Tingkat kecemasan dengan usia memiliki nilai (OR=0,320; 95% CI= 0,108 hingga 0,948; p-value=0,034), Tingkat kecemasan dengan pendidikan memiliki nilai (OR= 2.434; 95% CI= 1.126 hingga 5.261; p-value = 0,023), Tingkat kecemasan dengan pekerjaan memiliki nilai (OR= 4.957; 95% CI= 1.282 hingga 19.171; p-value= 0,012), Tingkat kecemasan dengan pengetahuan memiliki nilai (OR= 2.711; 95% CI= 1.244 hingga 5.905; p-value= 0,011), Tingkat kecemasan dengan sikap memiliki nilai (OR= 6.346; 95% CI= 2.013 hingga 20.010; p-value= 0,001), Tingkat kecemasan dengan dukungan suami memiliki nilai (OR= 3.750; 95% CI= 1.679 hingga 8.375; p-value= 0,001). Kesimpulan: Dari hasil tersebut bisa ditarik kesimpulan ada hubungan antara usia, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, serta dukungan suami dengan tngkat kecemasan wanita premenopause.
Latar Belakang: Anemia merupakan masalah kesehatan primer yang terjadi di masyarakat serta seringkali dijumpai di seluruh dunia, terutama pada Negara berkembang seperti Indonesia. Karena itu remaja putri merupakan tahapan umur yang mempunyai tingkat resiko terkena anemia lebih tinggi dari remaja putra. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui pengaruh komsumsi jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri kelas X di MAN 1 Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan pre-eksperimental desaign dengan model one grup pre-test-post-test design. Pengumpulan data menggunakan instrument pemeriksaan kadar hemoglobin Sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Analisis yang digunakan adalah uji statistic wilcoxon ranks. Pengambilan sampel dengan Systematic random samping sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan menggunakan probability Sampling. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin. Ini dibuktikan dengan p velue 0,000. Kesimpulan : Dari penelitian ini, ada pengaruh jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri kelas X di MAN 1 Bekasi Tahun 2024. Saran : Diharapkan dengan adanya penelitian ini, remaja putri dapat menambah pengetahuan, informasi, edukasi dan manfaat non farmakologi seperti jus buah naga bisa meningkatkan kadar hemoglobin.
Nyeri punggung bawah selama kehamilan adalah masalah umum yang dialami banyak ibu hamil. Nyeri ini sering terjadi di daerah lumbosakral, yaitu area di bagian bawah punggung dan panggul. Penyebab utama nyeri ini biasanya melibatkan beberapa faktor yaitu perubahan postur tubuh, penambahan berat badan dan perubahan pada struktur tulang belakang. Untuk mengetahui pengaruh kompres hangat terhadap intensitas nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di TPMB Bdn. Hj. Wiwin Wulandari, S.ST.,M.Si sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Penelitian menggunakan metode Pre-Eksperimen dengan One-Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian diambil dengan teknik Shapiro Wilk sebanyak 30 responden. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon.Ada pengaruh kompres hangat terhadap intensitas nyeri punggung ibu hamil trimester III di peroleh p-value =0,00 (P<0,05. Hal ini menunjukan bahwa kompres hangat dapat menurunkan frekuensi nyeri punggung ibu hamil trimester III. Ada pengaruh Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Punggung Ibu Hamil Trimester III. Diharapkan bidan dapat menerapkan kompres hangat sebagai metode nonfarmakologis yang mudah dan praktis sebagai salah satu alternative dalam mengurangi nyeri punggung ibu hamil Trimester III.
Latar Belakang : Badan Pusat Statistik Nasional (2023) mencatat jumlah remaja antara usia 10 hingga 19 tahun di Indonesia selbanyak 44,25 juta jiwa. Pergaulan belbas pada remaja dapat berdampak negatif pada remaja yang sangat merugilkan. Tujuan : penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku seks pranikah remaja Kelas XI di MAN 1 Bekasi tahun 2024. Metode : penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling dengan rumus Slovin yaitu sebanyak 190 orang responden siswi kelas XI. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-square. Hasil : analisis bivariat ada hubungan pengetahuan nilai P-Value 0,000, sikap P-Value 0,001, sumber informasi P-Value 0,008, peran orang tua P-Value 0,000, dan peran teman sebaya P-Value 0,008 (P-Value = P<a 0,05) terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja kelas XI di MAN 1 Bekasi Tahun 2024. Kesimpulan : dari penelitian ini, ada hubungan antara pengetahuan, sikap, sumber informasi, peran orang tua dan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja kelas XI di MAN 1 Bekasi Tahun 2024. Diharapkan bagi instansi pendidikan, mampu secara edukatif memberikan wawasan, dan bimbingan terhadap perilaku seksualitas yang menyimpang. Sehingga, dapat menjadikan siswa/i dapat berperilaku positif sebagaimana mestinya.