BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Nyeri persalinan pada kala I fase aktif merupakan kondisi fisiologis yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan memerlukan penatalaksanaan nonfarmakologis yang aman. Metode birth ball digunakan untuk mendukung mobilitas ibu dan gerakan pelvis selama persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Pengaruh metode birth ball terhadap nyeri pada ibu bersalin kala I fase aktif di TPMB Sritina Kabupaten Bekasi Tahun 2026.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif quasi-experimental dengan desain pretest-posttest. Penelitian dilakukan pada 35 ibu bersalin kala I fase aktif. Intensitas nyeri diukur sebelum dan sesudah pemberian metode birth ball menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Data skor nyeri berpasangan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi seluruh 35 responden (100,00%) berada pada kategori nyeri berat dengan rata-rata skor 7,86. Setelah intervensi seluruh 35 responden (100,00%) berada pada kategori nyeri sedang dengan rata-rata skor 5,00. Rata-rata penurunan skor nyeri sebesar 2,86 poin. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p < 0,001, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antara skor nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode birth ball.
Dapat disimpulkan bahwa pengaruh metode birth ball berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada ibu bersalin kala I fase aktif di TPMB Sritina Kabupaten Bekasi Tahun 2026. Metode ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis dalam asuhan kebidanan untuk membantu meningkatkan kenyamanan ibu selama persalinan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kanker payudara merupakan masalah kesehatan yang memerlukan deteksi dini melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran perempuan. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) merupakan salah satu upaya deteksi dini yang dapat dilakukan secara mandiri. Studi pendahuluan di Posyandu Harja Mekar menunjukkan bahwa sebagian besar Wanita Usia Subur (WUS) belum mengetahui kanker payudara dan manfaat SADARI. Edukasi melalui media leaflet dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan karena informasi disajikan secara ringkas, sistematis, dan dapat dibaca kembali. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi melalui media leaflet terhadap pengetahuan WUS tentang kanker payudara melalui SADARI di Posyandu Harja Mekar Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest. Populasi sekaligus sampel berjumlah 50 WUS usia 20–49 tahun dengan teknik total sam-pling. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner 20 item sebelum dan sesudah edukasi melalui leaflet. Analisis dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum edukasi, 33 responden (66%) memiliki pengetahuan kurang, 17 responden (34%) cukup, dan tidak terdapat responden dengan pengetahuan baik. Setelah edukasi, 39 responden (78%) memiliki pengetahuan baik, 10 responden (20%) cukup, dan 1 responden (2%) kurang. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan 47 responden mengalami peningkatan pengetahuan, tidak terdapat penurunan, dan 3 responden memiliki nilai tetap. Hasil analisis menunjukkan p < 0,001, sehingga terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah edukasi melalui media leaflet. Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian edukasi melalui media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan Wanita Usia Subur tentang kanker payudara melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) di Posyandu Harja Mekar Tahun 2026
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang efektif, namun penggunaannya masih relatif rendah dibandingkan metode kontrasepsi lainnya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi pemilihan metode kontrasepsi adalah tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS). Hasil studi pendahuluan di Posyandu Nusa Indah I menunjukkan bahwa dari 20 WUS yang diwawancarai, hanya 4 responden (20%) memiliki pengetahuan yang baik mengenai AKDR, sedangkan 16 responden (80%) masih memiliki pengetahuan yang kurang memadai. Oleh karena itu, diperlukan media edukasi yang mudah dipahami dan dapat digunakan kembali, salah satunya media leaflet. Tujuan : Mengetahui pengaruh edukasi media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan wanita usia subur tentang Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di RT 01 RW 01 Desa Sukadami Tahun 2026. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental menggunakan one group pretest-posttest design. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah wanita usia subur yang sudah menikah dan terdaftar di RT 01 RW 01 Desa Sukadami sebanyak 45 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan mengenai AKDR yang terdiri dari 15 item pertanyaan valid. Intervensi diberikan melalui edukasi menggunakan media leaflet. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Paired Sample T-Test. Hasil : Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data pretest berdistribusi normal dengan nilai signifikansi 0,466 dan data posttest berdistribusi normal dengan nilai signifikansi 0,367 (p > 0,05). Hasil analisis menggunakan uji Paired Sample T-Test diperoleh nilai t = -42,532, df = 44, dan nilai Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi menggunakan media leaflet serta terdapat pengaruh yang signifikan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan wanita usia subur mengenai AKDR. Kesimpulan : Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian edukasi menggunakan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan wanita usia subur mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di RT 01 RW 01 Desa Sukadami Tahun 2026. Media leaflet dapat digunakan sebagai salah satu media pendidikan kesehatan dalam kegiatan promosi kesehatan dan program keluarga berencana untuk meningkatkan pengetahuan WUS mengenai metode kontrasepsi jangka panjang
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kanker serviks merupakan masalah kesehatan reproduksi yang masih membutuhkan perhatian, khususnya pada Wanita Usia Subur (WUS). Keterbatasan informasi mengenai penyebab, faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini dapat memengaruhi kesadaran WUS dalam melakukan tindakan pencegahan. Pemberian edukasi kesehatan melalui leaflet merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pemahaman mengenai kanker serviks. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian edukasi menggunakan leaflet terhadap pengetahuan WUS mengenai kanker serviks di Majelis Ta’lim Al-Muhajirin Cikarang Tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pra-eksperimental melalui model one-group pretest-posttest. Sebanyak 47 WUS dilibatkan sebagai responden dengan teknik t1otal sam pling. Edukasi kesehatan diberikan menggunakan me1dia leaflet, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Normalitas data dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk, kemudian perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil : Sebelum pemberian edukasi, mayoritas responden berada pada kategori pengetahuan cukup yaitu 22 orang (46,8%) dan kurang 18 orang (38%). Setelah edukasi diberikan, sebanyak 39 responden (83%) berada pada kategori pengetahuan baik dan tidak terdapat responden yang masih termasuk dalam kategori pengetahuan kurang. Hasil uji Wilcoxon memperoleh p-value = 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan aidanya pengaruh signifikan edukasi menggunakan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan WUS mengenai kanker serviks. Kesimpulan : Edukasi kesehatan menggunakan leaflet berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan WUS mengenai kanker serviks di Majelis Ta’lim Al-Muhajirin Cikarang Tahun 2026
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pelecehan seksual merupakan masalah global dan nasional yang serius, dengan remaja sebagai kelompok berisiko tinggi. Data menunjukkan tingginya angka kekerasan seksual di DKI Jakarta, khususnya Jakarta Timur. Minimnya pengetahuan remaja tentang pelecehan seksual menjadi faktor utama yang perlu diatasi melalui edukasi yang efektif. Media infografis sebagai media digital visual dinilai mampu meningkatkan pemahaman secara ringkas dan menarik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi menggunakan media digital infografis terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang pelecehan seksual di SMA Gita Kirtti 3 Jakarta tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan one group pretest-posttest dengan desain pre-eksperimen. Sampel pada penelitian ini berjumlah 53 siswa kelas XI yang menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum edukasi, pengetahuan responden berada pada kategori baik (62,3%), cukup (20,8%), dan kurang (17%). Setelah edukasi, terjadi peningkatan signifikan dengan 98,1% responden berada pada kategori baik. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Kesimpulan: Edukasi menggunakan media digital infografis efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pelecehan seksual di SMA Gita Kirtti 3 Jakarta tahun 2026. Diharapkan pihak sekolah dapat menyelenggarakan edukasi berkala dan peneliti selanjutnya melakukan evaluasi jangka panjang
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Produksi ASI yang tidak optimal merupakan salah satu kendala dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu nifas. Teknik Marmet merupakan metode nonfarmakologis berupa kombinasi pijatan dan pemerahan payudara secara manual yang dapat membantu merangsang pengeluaran ASI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh teknik Marmet terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Sukatenang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Produksi ASI diukur sebelum dan sesudah pemberian teknik Marmet. Intervensi dilakukan dua kali sehari selama tiga hari dengan durasi 15 menit. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 24 responden (80,0%) memiliki produksi ASI tidak lancar dan 6 responden (20,0%) lancar. Setelah intervensi, 27 responden (90,0%) memiliki produksi ASI lancar dan 3 responden (10,0%) tidak lancar. Rata-rata produksi ASI meningkat dari 18,67 ± 5,026 mL menjadi 42,50 ± 7,873 mL. Hasil Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan seluruh responden mengalami peningkatan produksi ASI dengan p-value = 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan: Teknik Marmet berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Sukatenang Tahun 2026 dan dapat menjadi salah satu intervensi nonfarmakologis dalam asuhan kebidanan untuk mendukung optimalisasi produksi ASI.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Proses persalinan sering menimbulkan nyeri hebat yang dapat memicu stres dan kecemasan. Salah satu metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri dan ketegangan saat melahirkan adalah hypnobirthing. Namun, pengetahuan ibu hamil tentang hypnobirthing masih tergolong rendah. Subyek dan Metode : Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain cross-sectional, di lakukan di TPMB Riris. Populasi adalah seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di TPMB Riris pada bulan Mei-Juli 2025 sebanyak 60 arang dan jumlah sampel sama dengan jumlah sampel 60 orang yaitu total sampling. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Variabel dependen yaitu pengetahuan ibu hamil tentang hypnobirthing dan variabel independen yaitu usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, sumber informasi dan dukungan tenaga kesehatan. Instrumen pengukuran variabel menggunakan kuesioner. Analisis data yaitu analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Didapatkan hasil variabel pengetahuan baik 60%, usia ibu tidak beresiko 83,3%, pendidikan tinggi 85%, ibu hamil tidak bekerja 75%, paritas tidak beresiko 85%, terpapar sumber informasi 85% dan dukungan tenaga kesehatan yg mendukung 86,7%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara umur (p=0,073) dengan pengetahuan ibu hamil tentang hypnobirthing. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan (p=0,002), pekerjaan (p=0,033), paritas (p=0,002), sumber informasi (p=0,002), dan dukungan tenaga kesehatan (p=0,005) dengan pengetahuan ibu hamil tentang hypnobirthing. Kesimpulan : Faktor pendidikan, pekerjaan, paritas, sumber informasi, dan dukungan tenaga kesehatan berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang hypnobirthing. Perlunya intervensi edukasi lebih intensif dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia tahun 2016-2018 yaitu pada tahun 2016 sebesar 91,58%. Pada tahun 2017 cakupan imunisasi dasar lengkap mengalami penurunan 85,41%. Pada tahun 2018 mengalami penurunan 57,95%. Data pada tahun 2019 cakupan imunisasi rutin di Indonesia masih dalam kategori kurang memuaskan, dimana cakupan Pentavalent-3 dan MR tidak mencapai 90% dari target. Oleh karenanya kami melakukan penelitian akhir dengan mengambil topik hubungan antara umur,pendidikan,paritas,ekonomi,partisipasi dan dukungan keluarga terhadap pemberian imunisasi DPT. Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini yaitu metode analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional yang memiliki tujuan untuk untuk mengetahui umur, Pendidikan, paritas, ekonomi, partisipasi dan dukungan keluarga terhadap pemberian imunisasi DPT. Hasil dari uji pada hubungan antara umur dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT mendapatkan P Value ialah sebesar 0,036, kemudian Pendidikan dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT mendapatkan P Value ialah sebesar 0,016, hubungan paritas dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT mendapatkan P Value ialah sebesar 0,055, hubungan ekonomi dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT mendapatkan P Value ialah sebesar 0,036, hubungan partisipasi dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT mendapatkan P Value sebesar 0,016 dan hubungan dukungan keluarga dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT mendapatkan P Value sebesar 0,037. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu paritas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pengetahuan pemberian imunisasi DPT di BPM Hesty Nurul desa Sukajaya. Sedangkan faktor pendidikan memiliki hubungan yang signifikan terhadap pengetahuan pemberian imunisasi DPT di BPM Hesty Nurul desa sukajaya karena nilai p value 0,016
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : HIV/AIDS di kalangan remaja telah menjadi permasalahan kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama karena meningkatnya jumlah kasus pada kelompok usia tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di Posyandu Remaja Desa Karangasih Bekasi Tahun 2025. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian terdiri dari dua yaitu: variabel bebas meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, dukungan orang tua, dukungan teman sebaya dan sumber informasi. Variabel terikat yaitu pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Total sampling digunakan untuk mengetahui jumlah sampel sebanyak 75 responden. Teknik analisis data univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara jenis kelamin (p-value 0,001), usia (p-value 0,014), pendidikan (p-value 0,009), dukungan orang tua (p-value 0,000), dukungan teman sebaya (p-value 0,000), sumber informasi (p-value 0,000) dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Kesimpulan : Ada hubungan antara pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dengan jenis kelamin, usia remaja, pendidikan, dukungan orang tua, dukungan teman sebaya, dan sumber informasi. Meningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS memerlukan pendekatan komprehensif dengan menyediakan akses ke informasi yang akurat, tidak menstigma, dan sesuai dengan perkembangan remaja.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh orang tua. Dampak kurang gizi terhadap balita dapat berakibat terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025.
Metode : Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui factor yang memiliki hubungan dengan status gizi balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian terdiri dari dua yaitu: variabel bebas meliputi usia balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, asupan makan, penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Variabel terikat yaitu status gizi balita. Total sampling digunakan untuk mengetahui jumlah sampel sebanyak 110 responden. Teknik analisa data menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan hasil bahwa Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025 adalah usia balita (p-value 0,024), pendidikan ibu (p-value 0,000), pekerjaan ibu (p-value 0,007), status ekonomi (p-value 0,000), asupan makan balita (p-value 0,000), riwayat penyakit infeksi balita 3 bulan terakhir (p-value 0,000), pengetahuan ibu (p-value 0,000).
Kesimpulan : Ada hubungan antara status gizi dengan usia balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, asupan makan balita, penyakit infaksi balita, dan pengetahuan ibu. Disarankan bagi masyarakat untuk lebih mengetahui factor yang berhubungan dengan status gizi balita, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pencegahan terjadinya gizi kurang pada balita, dengan mengikuti penyuluhan gizi yang dilakukan kader posyandu agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada balita.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latarbelakang: Kehamilan merupakan periode krusial yang memerlukan perhatian khusus, termasuk upaya menjaga kebugaran dan kesiapan menghadapi persalinan. Salah satu intervensi yang terbukti bermanfaat adalah senam hamil, yang dapat membantu mengurangi nyeri punggung, memperkuat otot, serta meningkatkan kesiapan fisik dan mental ibu. Namun, tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat senam hamil di Kabupaten Bekasi masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di Klinik Cahaya Medika tahun 2025. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 ibu hamil dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrument yang digunakan yaitu kuesioner dengan data analisi yaitu univariat dan bivariat dengan Chi-Square test untuk melihat hubungan berbagai faktor dengan tingkat pengetahuan responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pendidikan (p = 0,000), sumber informasi (p = 0,000), serta dukungan tenaga kesehatan (p = 0,001) dengan pengetahuan ibu hamil. Sebaliknya, variabel umur (p = 0,789), paritas (p = 0,497), dan pekerjaan (p = 0,099) tidak berhubungan secara signifikan. Mayoritas responden (51,7%) masih memiliki pengetahuan rendah tentang senam hamil. Kesimpulan dan saran, pendidikan, akses informasi yang memadai, dan dukungan tenaga kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai senam hamil. Temuan ini menegaskan perlunya program edukasi kesehatan yang lebih efektif, serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi strategi intervensi yang berkelanjutan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi masalah kesehatan global, salah satunya disebabkan keterlambatan deteksi tanda bahaya kehamilan. Pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya sangat penting untuk mencegah komplikasi. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan trimester II dan III di TPMB Jayanti Bekasi tahun 2025.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah seluruh ibu hamil trimester II dan III yang melakukan pemeriksaan kehamilan di TPMB Jayanti pada Mei 2025 dengan jumlah sampel 50 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara umur (p=0,004), pendidikan (p=0,002), pekerjaan (p=0,025), paritas (p=0,013), sumber informasi (p=0,003), dan dukungan tenaga kesehatan (p=0,006) dengan pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan trimester II dan III.
Kesimpulan: Faktor umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, sumber informasi, dan dukungan tenaga kesehatan berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan. Perlunya intervensi edukasi lebih intensif dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pada dasarnya, semua kehamilan memiliki risiko. Ibu hamil yang tidak menjalani Antenatal Care (ANC) secara teratur, dapat mengakibatkan masalah seperti tidak terpantau dengan baiknya kondisi ibu dan janin, meningkatnya risiko komplikasi kehamilan karena lambatnya akses ke pelayanan kesehatan saat ada tanda bahaya kehamilan, dan kurangnya persiapan untuk proses kehamilan. Untuk menghindari terjadinya angka kematian ibu termasuk resiko tinggi akan kejadian pre eklamsia pada ibu hamil maka diwajibkan melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) yang baik dan teratur. Untuk mengetahui faktor-faktor apa aja yang berhubungan dengan kepatuhan antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder pada pasien ibu hamil di Puskesmas Kalangsari sebanyak 177 responden. Dimana peneliti menentukan ukuran sampel dengan metode purposive random sampling. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan faktor-faktor apa aja yang berhubungan dengan kepatuhan antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025 yaitu usia, pendidikan, paritas, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan. Teridentifikasi distribusi frekuensi pada ibu hamil dalam melakukan antenatal care di Puskesmas Kalangsari Tahun 2025, dimana sebagian besar memiliki usia 26-35 tahun sebanyak 59,9%, pendidikan menengah sebanyak 72,9%, paritas multipara sebanyak 59,9%, dukungan suami yang tinggi sebanyak 65,0%, serta memiliki dukungan tenanga kesehatan yang tinggi sebanyak 66,1%. Didapatkan p-value < 0,05 dengan urutan (0,001, 0,002, 0,005, 0,000, 0,000). Untuk meningkatkan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan ANC maka perlu adanya dukungan suami, pendidikan yang tinggi, serta dukungan tenaga kesehatan yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan yang umum di Indonesia dan menjadi faktor risiko berbagai komplikasi, seperti persalinan prematur, berat badan lahir rendah, hingga kematian ibu. Kekurangan hemoglobin pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh asupan gizi yang kurang, kondisi fisiologis, dan faktor sosial ekonomi. Salah satu intervensi non-farmakologis yang potensial adalah konsumsi jus kurma, karena kandungannya kaya zat besi, vitamin C, dan asam folat yang berperan dalam pembentukan hemoglobin dan sel darah merah.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus kurma terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 30 ibu hamil anemia yang diambil dengan teknik purposive sampling. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah pemberian jus kurma selama 7 hari berturut-turut. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk, sedangkan analisis perbedaan rata-rata menggunakan paired sample t-test dengan taraf signifikansi 0,05 Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin sebelum intervensi adalah 8,87 g/dL dan meningkat menjadi 10,13 g/dL setelah intervensi. Hasil uji paired sample t-test menghasilkan p = 0,000 (<0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kadar hemoglobin sebelum dan sesudah konsumsi jus kurma. Kesimpulannya: jus kurma efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia. Disarankan tenaga kesehatan mempertimbangkan jus kurma sebagai intervensi tambahan dalam program penanggulangan anemia, sedangkan penelitian lanjutan diharapkan melibatkan jumlah sampel lebih besar, durasi intervensi lebih panjang, serta mempertimbangkan variabel lain seperti pola makan dan aktivitas fisik.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara menstruasi terakhir sampai dengan persalinan. Setelah bayi baru lahir akan tetap membawa resiko suatu penyakit, salah satunya adalah penyakit ikterus neonatorum. Penyebab ikterus secara umum bisa terjadi saat sejak sebelum hamil, selama kehamilan, proses persalinan dan saat perawatan bayi baru lahir. Salah satu penyebabnya adalah perawatan bayi baru lahir karena tingkat pengetahuan ibu masih rendah.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Ikterus Neonatorum Di PMB Bidan Wiwin Wulandari Bekasi 2023.
Metode: Menggunakan penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain Cross Sectional dan menggunakan Accidental sampling dengan jumlah responden 90.
Hasil : Berdasarkan Hasil uji statistic chi Square diperoleh nilai Usia (P= 0,003), Pendidikan (P=0,007), Pekerjaan (P=0,000), Sumber informasi (P=0,000), Pendapatan Keluarga (P=0,001), dan Dukungan Kesehatan (P=0,000).
Kesimpulan: Dari hasil nilai P Value dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, pendapatan keluarga, dan tenaga kesehatan terhadap pengetahuan ibu hamil tentang ikterus neonatorum.
Saran : Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi para pelajar dan diharapkan bagi para pelajar untuk memahami lebih dalam mengenai ikterus neonatorum.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Preeklampsia merupakan peningkatan tekanan darah diikuti dengan peningkata n protein dalam urin. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa, ibu meningga l dunia pada masa kehamilan atau masa bersalin sebesar 585.000 setiap tahunnya,dan diketahui sebesar 58,1% disebabkan karena preeklampsiadan eklampsia. Kematian ibu di Indonesia yang disebabkan oleh preeklampsidan eklampsisekitar 15% -25%.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan cross sectional (pengamatan sewaktu, pengumpulan data variable independen dan variable dependen secara bersamaan). Populasi seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di TPMB Rosliana Kabupaten Bekasi periode 1 April – 1 Agustus 2024 sebanyak 65 orang. Instrument penelitian menggunakan rekam medis analisi data univariat menggunakan presentase dan bivariate menggunakan uji Chi- Square.
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan usia ibu dengan pengetahuan preeklampsia ibu hamil di TPMB Rosliana tahun 2024. Hal ini didasarkan pada hasil uji chi-square diperoleh nilai p value p=0.003 (p value = 0,05). Pada perhitunga n risk estimate diperoleh nilai odds ratio OR=5.478, sehingga dapat disimpulkan bahwa usia ibu <20 & >35 tahun lebih beresiko 5 kali memiliki pengetahuan rendah dibandingkan usia ibu 20 – 35 tahun.
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan pendidikan ibu dengan pengetahuan preeklampsia ibu hamil di TPMB Rosliana tahun 2024. Hal ini didasarkan pada hasil uji chi-square diperoleh nilai p value p=0.000 (p value<0,05). Pada perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds ratio OR=170.000 (CI : 18.682 – 1546.971), maka bisa disimpulkan bahwa Pendidikan <SMA lebih beresiko 170 kali memiliki pengetahuan rendah dibandingkan dengan Pendidikan ≥ SMA.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penyakit kanker serviks ialah penyakit kedua terbanyak pada perempuan dan ialah penyakit beresiko tinggi yang menyerang remaja. Vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) diharapkan dapat menghentikan peningkatan sel-sel kanker, khususnya di negara-negara yang masih sulit melakukan program skrining. Tujuan: Untuk menambah pengetahuan Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Mengenai Kanker Serviks Dengan Motivasi Melakukan Vaksin HPV di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan. Subyek dan Metode: Jenis penelitian yang dimanfaatkan ialah analisis kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang mengukur motivasi remaja putri dalam melakukan vaksin HPV dan tingkat pengetahuan remaja putri mengenai kanker serviks. Populasi pada penelitian ini ialah siswi remaja putri kelas X.1 sampai X.10 di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan dengan total 253 siswi. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 155 siswi. Hasil: Hasil penelitian membuktikan mayoritas remaja putri mempunyai tingkat pengetahuan baik sejumlah 108 responden (69,7%) serta motivasi melaksanakan vaksin HPV baik sejumlah 104 responden (67,1%). Kesimpulan: Ada korelasi pengetahuan remaja putri mengenai kanker serviks dengan motivasi melaksanakan vaksin HPV di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan (p value=0,000 <a=0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Galaktagog merupakan obat atau makanan yang mengandung suatu zat atau senyawa yang dapat memicu, mempertahankan, memperlancar dan meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Manfaat pemberian ASI eksklusif sangat banyak namun sayang prevalensi pemberian ASI masih relatif rendah.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui perbandingan jumlah ASI dengan suplementasi kelor dan katuk pada ibu menyusui bayi 0-6 bulan. Metodologi Penelitian: Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi experiment dengan non-equivalent control group design. Tempat penelitian dilakukan di Posyandu Melati Muaragembong. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan dan ASI eksklusif. Sampel penelitian berjumlah 20 responden yang dibagi menjadi dua kelompok perlakukan. Kelompok pertama diberi suplemen kelor dan kelompok kedua diberi suplemen katuk yang kemudian akan diobservasi selama 2 minggu untuk dinilai bagaimana pengaruhnya terhadap peningkatan jumlah ASI. Instrument pengumpulan data dengan data primer, analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji Shapiro wilk. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji T (Paired Sampel T Test dan Independent Sample T-Test)) dengan tingkat level of significant a= 5%. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa Suplemen kelor (p-value = 0,000 < a (0,05)) dan suplemen katuk (p-value = 0,000 < a (0,05)) sama-sama dapat meningkatkan jumlah ASI. Tidak ada perbedaan peningkatan jumlah ASI antara kelompok ibu menyusui yang diberikan suplemen kelor dan suplemen katuk (p-value = 0,668). Kesimpulan: Sehingga dapat disimpulkan bahwa suplemen kelor dan suplemen katuk sama-sama dapat meningkatkan jumlah ASI, sehingga bisa direkomendasikan sebagai salahsatu suplemen tambahan yang dapat membantu peningkatan jumlah produksi ASI pada ibu menyusui khususnya bagi ibu-ibu yang mengalami keluhan ASI sedikit atau kurang.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan yang tercangkup dalam domain kognitif mempunyai enam tiangkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Tujuan : Untuk menganalisis pengetahuan wanita usia subur (WUS) dengan tingginya tingkat penggunaan kontrasepsi suntik di TPMB Masitoh Hardiyanti. Metode : Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena yang diamati Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 173 responden. Analisis data menggunakan Uji Chi-Square Hasil : Hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p= 0.001 < 0,05 untuk umur, p=0.021 <0,05 untuk pendidikan, p= 0.001 <0,05 untuk pekerjaan, p=0.014 <0,05 untuk sumber informasi dan p= 0.000 <0,05 untuk dukungan keluarga. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi dan dukungan keluarga terhadap tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) di TPMB Masitoh Hardiyanti. Kesimpulan: Diharapkan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik akseptor KB suntik dan menjadi bahan evaluasi bagi petugas kesehatan untuk pemberian konseling