BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja putri dan dapat dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan serta kehilangan darah saat menstruasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian makanan tambahan berbahan pangan sumber zat gizi, seperti cookies pumpkin seeds (Cucurbita moschata). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian cookies pumpkin seeds (Cucurbita moschata) terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri di MTs Nihayatul Amal Serang Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian berjumlah 20 remaja putri yang mengalami anemia ringan. Intervensi berupa cookies pumpkin seeds diberikan sebanyak 100 gram per hari selama 10 hari, dibagi dalam dua kali pemberian. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah intervensi dengan jeda 5 hari setelah intervensi selesai. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan seluruh responden (20 orang; 100%) mengalami anemia ringan sebelum intervensi dengan rata-rata kadar hemoglobin 11,17 ± 0,433 g/dL. Setelah intervensi, 8 responden (40%) mencapai kategori normal dan 12 responden (60%) masih mengalami anemia ringan, dengan rata-rata kadar hemoglobin 11,75 ± 0,592 g/dL. Terdapat peningkatan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 0,58 g/dL dan hasil uji menunjukkan p < 0,001. Kesimpulannya, terdapat perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah pemberian cookies pumpkin seeds (Cucurbita moschata)
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Prestasi akademik pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb). Sarapan berperan sebagai sumber energi utama bagi otak sehingga mendukung konsentrasi dan kemampuan belajar, sedangkan kadar Hb yang rendah dapat mengurangi suplai oksigen ke otak dan berpotensi mengganggu fungsi kognitif. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb) dengan prestasi akademik pada siswi di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 247 siswi kelas XI SMAN 3 Cikarang Utara, dengan sampel sebanyak 71 responden yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mengenai kebiasaan sarapan, pengukuran kadar Hb menggunakan alat Easy Touch GCHb, pengukuran status gizi berdasarkan IMT/U, serta pengambilan data prestasi akademik berdasarkan peringkat kelas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian: Mayoritas responden berusia 17 tahun (62,0%), memiliki status gizi baik (66,2%), dan orang tua berpendidikan terakhir SMA (73,2%). Sebagian besar responden memiliki kebiasaan sarapan ≥4x/minggu (62,0%), kadar Hb normal (≥12 g/dl) 87,3%, dan yang belum kategori prestasi akademik (54,9%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dengan prestasi akademik (p=0,011; OR=73,4%;95%CI=0,093–0,758). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan prestasi akademik (p=0,140; OR=69,5%;95% CI=0,059–1,585). Kesimpulan: Kebiasaan sarapan berhubungan dengan prestasi akademik pada siswi SMAN 3 Cikarang Utara, sedangkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kadar Hb dan prestasi akademik pada sampel penelitian. Saran: Sekolah diharapkan meningkatkan edukasi mengenai pentingnya sarapan bergizi seimbang serta bekerja sama dengan puskesmas dalam pelaksanaan pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja putri.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status gizi, kondisi menstruasi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi dan protein. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 71 remaja putri. Penilaian status gizi dilakukan berdasarkan IMT/U, sedangkan informasi mengenai riwayat menstruasi diperoleh melalui kuesioner. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dan protein dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan alat Hb digital. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data. Hasil: Dari 71 responden, sebanyak 47 orang (66,2%) mempunyai status gizi normal. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi paling banyak termasuk kategori cukup, yaitu 32 orang (45,1%), sedangkan konsumsi makanan sumber protein kategori cukup berjumlah 34 orang (47,9%). Berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, 62 responden (87,3%) berada pada kategori normal dan 9 responden (12,7%) mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,975), riwayat menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,193), frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000), serta frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri dan dapat berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, kelelahan, serta menurunnya produktivitas sehari-hari. Salah satu faktor yang diduga berperan terhadap kejadian anemia adalah kualitas tidur. Pada masa remaja terjadi perubahan ritme sirkadian yang menyebabkan kecenderungan tidur lebih larut, ditambah dengan beban akademik dan penggunaan gawai yang dapat menurunkan kualitas tidur. Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh dan proses pembentukan hemoglobin sehingga meningkatkan risiko terjadinya anemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 1 Cabangbungin tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 84 siswi remaja putri yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan kejadian anemia ditentukan berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan alat Hb meter dengan batas anemia <12 g/dL. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,1% responden memiliki kualitas tidur buruk dan 56,0% responden mengalami anemia. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 1 Cabangbungin.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap status gizi, daya tahan tubuh, serta prestasi belajar. Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dapat dilakukan melalui pemanfaatan pangan lokal sumber zat besi, seperti kacang hijau dan kacang merah, sebagai alternatif intervensi non-farmakologis yang mudah diterima oleh remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian puding kacang hijau dan puding kacang merah terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi anemia di SMPN 1 Cabangbungin. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest–posttest two group design. Sampel terdiri dari 58 siswi yang mengalami anemia dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok puding kacang hijau dan kelompok puding kacang merah. Intervensi diberikan selama 7 hari berturut-turut. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan pretest dan posttest, serta Uji Mann-Whitney untuk membandingkan efektivitas kedua kelompok. Hasil: Seluruh responden memiliki kadar hemoglobin <12,0 g/dl pada awal penelitian. Setelah intervensi, sebagian besar responden mengalami peningkatan kadar hemoglobin. Sebanyak 41,4% responden pada kelompok puding kacang hijau dan 44,8% pada kelompok puding kacang merah mencapai kadar hemoglobin normal >12,0 g/dl. Kesimpulan: Pemberian puding kacang hijau dan kacang merah efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada siswi anemia dan berpotensi diterapkan sebagai intervensi non-farmakologis di lingkungan sekolah
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal dan menjadi masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan pada remaja putri. Kondisi ini dipengaruhi oleh kehilangan darah saat menstruasi, pola makan yang tidak seimbang, serta kebiasaan melewatkan sarapan pagi. Data Puskesmas Cikarang Utara tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Salah satu upaya nonfarmakologis yang mudah diterapkan adalah pembiasaan sarapan pagi dengan telur ayam rebus yang mengandung protein, zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang berperan penting dalam proses pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh kebiasaan sarapan pagi telur ayam rebus terhadap kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 64 siswi yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa sarapan pagi telur ayam rebus diberikan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat pemeriksaan Hb. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Universitas Medika Suherman dengan Nomor Surat NO.005220/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025. Hasil: Sebelum intervensi, 41 siswi (64,1%) berada pada kategori anemia dan 23 siswi (35,9%) tidak anemia. Setelah intervensi, jumlah siswi tidak anemia meningkat menjadi 53 orang (82,8%), sedangkan 11 siswi (17,2%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan kadar hemoglobin yang bermakna secara statistik (Z = –6,192; p = 0,000). Kesimpulan: Sarapan pagi telur ayam rebus berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal dan sering dialami remaja putri akibat menstruasi, kurangnya asupan zat besi, serta pola makan tidak seimbang. Data Puskesmas Cikarang tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Upaya penanganan dapat dilakukan melalui intervensi nonfarmakologis berbasis pangan lokal. Bayam merah dan kurma mengandung zat besi, folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi jus bayam merah dan kurma terhadap kadar hemoglobin pada siswi anemia. Metode: Penelitian menggunakan desain preeksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 53 siswi dengan kadar hemoglobin <12 g/dL. Intervensi jus bayam merah dan kurma diberikan sekali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan penelitian telah memperoleh persetujuan etik. Hasil: Sebelum intervensi seluruh responden (100%) mengalami anemia. Setelah intervensi, 47 siswi (88,7%) mencapai kategori tidak anemia dan 6 siswi (11,3%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p<0,05 sehingga terdapat peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan. Kesimpulan: Konsumsi jus bayam merah dan kurma berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi anemia. Saran: Sekolah dan tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi serta mendorong konsumsi pangan kaya zat besi pada remaja putri.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Anemia pada ibu hamil, khususnya pada trimester pertama, merupakan salah satu masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan. Susu kedelai merupakan sumber zat besi nabati yang mudah diperoleh dan berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di TPMB Erika Utami.
Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experimental menggunakan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan kadar hemoglobin <11 gr/dL di TPMB Erika Utami sebanyak 30 orang, yang sekaligus menjadi sampel dengan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik Paired Sample T-Test. Hasil Penelitian rata-rata kadar hemoglobin sebelum intervensi sebesar 8,660 gr/dL meningkat menjadi 11,717 gr/dL setelah intervensi pemberian susu kedelai dengan takaran 200 ml selama 7 hari. Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kadar hemoglobin sebelum dan setelah intervensi.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian susu kedelai terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di TPMB Erika Utami Tahun 2025. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi acuan alternatif pemberian intervensi gizi alami bagi ibu hamil dengan anemia. Disarankan tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan edukasi mengenai pangan lokal, khususnya kedelai, sebagai upaya pencegahan dan penanganan anemia sejak dini.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan yang umum di Indonesia dan menjadi faktor risiko berbagai komplikasi, seperti persalinan prematur, berat badan lahir rendah, hingga kematian ibu. Kekurangan hemoglobin pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh asupan gizi yang kurang, kondisi fisiologis, dan faktor sosial ekonomi. Salah satu intervensi non-farmakologis yang potensial adalah konsumsi jus kurma, karena kandungannya kaya zat besi, vitamin C, dan asam folat yang berperan dalam pembentukan hemoglobin dan sel darah merah.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus kurma terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 30 ibu hamil anemia yang diambil dengan teknik purposive sampling. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah pemberian jus kurma selama 7 hari berturut-turut. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk, sedangkan analisis perbedaan rata-rata menggunakan paired sample t-test dengan taraf signifikansi 0,05 Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin sebelum intervensi adalah 8,87 g/dL dan meningkat menjadi 10,13 g/dL setelah intervensi. Hasil uji paired sample t-test menghasilkan p = 0,000 (<0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kadar hemoglobin sebelum dan sesudah konsumsi jus kurma. Kesimpulannya: jus kurma efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia. Disarankan tenaga kesehatan mempertimbangkan jus kurma sebagai intervensi tambahan dalam program penanggulangan anemia, sedangkan penelitian lanjutan diharapkan melibatkan jumlah sampel lebih besar, durasi intervensi lebih panjang, serta mempertimbangkan variabel lain seperti pola makan dan aktivitas fisik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Hemoglobin berperan penting dalam transportasi oksigen ke
seluruh tubuh. Penurunan kadar hemoglobin dapat mengakibatkan defisiensi
oksigen pada jaringan, yang berpotensi menyebabkan anemia. Anemia ditandai
dengan gejala seperti kelelahan, pusing, dan penurunan konsentrasi, dan merupakan
masalah kesehatan yang harus diselesaikan, terutama di kalangan remaja putri.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
konsumsi protein, tingkat aktivitas fisik, dan ketahanan pangan keluarga dengan
kadar hemoglobin pada remaja putri. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode studi observasional analitik
dengan desain cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 516 siswi berusia
15–18 tahun di SMAN 3 Cikarang Utara, dengan 92 siswi terpilih sebagai sampel
melalui teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025.
Teknik analisis data yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil Penelitian : Hasil
penelitian menunjukkan bahwa 33 siswi (35,9%) mengalami anemia dari total 92
siswi yang menjadi sampel penelitian. Selain itu, ditemukan 45 siswi (48,9%)
memiliki asupan protein yang kurang, 39 siswi (42,4%) melakukan aktivitas fisik
berat, dan 37 siswi (40,2%) berada dalam kategori rawan pangan. Terdapat
hubungan yang signifikan antara konsumsi protein (p = 0,000), aktivitas fisik (p =
0,000), dan ketahanan pangan keluarga (p = 0,047) dengan kadar hemoglobin pada
remaja putri. Saran : Disarankan agar instansi kesehatan melakukan pemeriksaan
kadar hemoglobin secara rutin dan memberikan penyuluhan gizi secara berkala di
sekolah-sekolah. Langkah ini penting untuk mendeteksi anemia secara dini serta
meningkatkan pemahaman mengenai pola makan dan gaya hidup sehat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan global yang ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Penanganan anemia umumnya menggunakan suplementasi zat besi, namun konsumsi makanan fungsional seperti kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau juga berpotensi sebagai alternatif alami. Umbi bit kaya akan zat besi dan senyawa betasianin, sedangkan apel hijau mengandung vitamin C yang berperan meningkatkan penyerapan zat besi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain pretest-posttest control group design. Sebanyak 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) diinduksi anemia menggunakan phenylhidrazine 60 mg/KgBB lalu dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kelompok positif dan tiga kelompok perlakuan yang diberi kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau dengan dosis 200 mg/KgBB dengan konsentrasi masing-masing 10%, 15%, dan 20% selama 7 hari. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu tikus putih betina, sehat, berusia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g. Hasil analisis data menggunakan one-way ANOVA. Hasil menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin secara signifikan pada semua kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol negatif. Kombinasi serbuk pada konsentrasi 20% menunjukkan efek paling optimal dalam meningkatkan kadar hemoglobin, disusul konsentrasi 15% dan 10%. Kombinasi serbuk umbi bit mengandung kadar zat besi (Fe) 48,392 mg/20 g dan apel hijau mengandung persen kadar vitamin C sebanyak 61,4052 mg/10 g pada pola linier kuat (R² = 0,9674) yang efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada tikus anemia. Konsentrasi 20% merupakan dosis yang paling optimal dengan nilai P-Value < 0,05 yaitu 0,0081. Pemberian kombinasi serbuk umbi bit dengan apel hijau kepada tikus putih betina yang menderita anemia dinilai dapat meningkatkan kadar hemoglobin.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Anemia adalah kondisi medis yang ditandai dengan jumlah sel darah merah yang rendah atau kadar hemoglobin yang rendah dalam tubuh. Dalam kondisi anemia, risiko terjadinya abortus, persalinan prematur, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin dan rahim menjadi lebih tinggi.Terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencegah anemia pada kehamilan, yaitu melalui terapi farmakologi dan non-farmakologi dengan pemberian tablet Fe dan sari kacang hijau. Tujuan : Untuk mengetahui perbandingan antara pemberian Tablet Fe dengan Sari Kacang Hijau terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil di Klinik M Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang tahun 2024. Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pendekatan Non Equivalent Control Group Design.. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 responden. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon Range List dan Uji Mann-Whitney. Hasil : Kelompok Tablet Fe yang diberikan tablet Fe sebanyak 15 orang mengalami peningkatan Hb dengan dengan rata-rata 18.13. Responden sebanyak 15 orang pada kelompok Kacang Hijau yang diberikan sari kacang hijau dengan rata-rata kenaikan Hb adalah 12.87. Nilai t hitung yang didapatkan adalah 2.698 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai t tabel pada derajat kebebasan/degree of freedom (df) 28 adalah 2.048 atau t hitung (2.698) > t tabel (2.048) sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada peningkatan kadar Hb pada kelompok Tablet Fe dibandingkan dengan kelompok Kacang Hijau dengan nilai p-value 0.099 < 0,05. Kesimpulan: Terdapat Perbandingan Antara Pemberian Tablet Fe Dengan Sari Kacang Hijau Terhadap Peningkatan Hemoglobin Pada Ibu Hamil Di Klinik M Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang Tahun 2024Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam pemecahan masalah untuk menyusun perencanaan, pengelolaan, dan pelayanan kesehatan khususnya bagi ibu hamil untuk meningkatkan kadar Hemoglobin.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan masalah kesehatan primer yang terjadi di masyarakat serta seringkali dijumpai di seluruh dunia, terutama pada Negara berkembang seperti Indonesia. Karena itu remaja putri merupakan tahapan umur yang mempunyai tingkat resiko terkena anemia lebih tinggi dari remaja putra. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui pengaruh komsumsi jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri kelas X di MAN 1 Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan pre-eksperimental desaign dengan model one grup pre-test-post-test design. Pengumpulan data menggunakan instrument pemeriksaan kadar hemoglobin Sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Analisis yang digunakan adalah uji statistic wilcoxon ranks. Pengambilan sampel dengan Systematic random samping sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan menggunakan probability Sampling. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin. Ini dibuktikan dengan p velue 0,000. Kesimpulan : Dari penelitian ini, ada pengaruh jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri kelas X di MAN 1 Bekasi Tahun 2024. Saran : Diharapkan dengan adanya penelitian ini, remaja putri dapat menambah pengetahuan, informasi, edukasi dan manfaat non farmakologi seperti jus buah naga bisa meningkatkan kadar hemoglobin.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Anemia pada kehamilan dapat menyebabkan prematuritas dan pertumbuhan janin terhambat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia prevelensi anemia di dunia mencapai 41% dan prevelensi di Indonesia sebesar 37,1%. Berdasarkan data hasil Dinas Kabupaten Bekasi tahun 2022 dengan kadar hb < 8gr/dL sebanyak 631 kasu, hb < 9-10gr/dL sebanyak 7389 kasus. Data ini memberikan pehaman tentang Tingkat anemia pada ibu hamil. Terong Belanda diketahui mengandung vitamin C yang berfungsi meningkatkan penyerapan zat besi yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kadar Hb. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jus terong Belanda terhadap Anemia pada ibu hamil trimester II. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif Quassy Eksperimen dengan desain Pretest Posttest Control Group, yang dilakukan di TPMB Sumiati, amd. Keb Cipayung Bekasi. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester II yang kadar Hb nya < 11gr/dL dan tekhnik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan tekhnik Total Sampling sebanyak 30 responden. Instrument menggunakan alat pemeriksaan Hb yang telah dikalibrasi dan lembar observasi. Dengan menggunakan uji statistic yaitu uji Paired Sample T-Test. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan jus terong Belanda yang artinya, terdapat peningkatan kadar Hb ibu hamil setelah diberikan jus terong Belanda, diketahui nilai p value 0,000<0,05. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa menaikkan kadar Hb pada ibu hamil yang anemia menggunakan pemberian jus terong Belanda berpengaruh dalam perubahan dan meningkatkan kadar Hb pada ibu hamil yang anemia di TPMB Sumiati Cipayung, Kab. Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Masalah pokok kesehatan yang timbul di remaja putri adalah kurangnya asupan nutrisi sebagai penyebab anemia kekurangan zat besi yang berakibat pada status gizi remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian kurma terhadap kadar hemoglobin. Jenis penelitian yang digunakan eksperimental dengan adanya perlakuan atau intervensi. Dengan populasi seluruh siswi kelas X, IX, dan XII di Sekolah menengah kejuruan Negeri 1 Setu, yang berjumlah 536 siswi. Teknik sampling menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus minimal sampel size dan jumlah sampel yang diambil 82 orang. Analisis data pada menggunakan uji parametric dengan analisis paired t-Test. Hasil penelitian uji statistic paired sampel T-test didapatkan p-value sebesar 0,000 dengan nilai korelasi sebesar 0,991. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian buah kurma terhadap kenaikan kadar hemoglobin pada siswi di Sekolah menengah kejuruan negeri 1 Setu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Remaja putri sering mengalami gangguan menstruasi, yang umumnya sering terjadi ialah keterlamabatan siklus mnstruasi dan siklus menstruasi yang tidak normal. Data Riskesdas menyatakan sebanyak 13,7% mengalami masalah mesntruasi pada tahun 2018. Salah satu dampak dari tidak teraturnya siklus menstruasi ialah tidak normalnya kadar hemoglobin, hal ini dijelaskan dalam faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin yang salah satu faktornya ialah siklus menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan siklus menstruasi dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMK Sentra Medika. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif korelasi, dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 118 responden pada remaja putri, sampel yang digunakan sebanyak 91 responden pada remaja putri, menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner siklus menstruasi dan test kadar hemoglobin. Hasil penelitian menunjukan 46 responden (50,5%) memiliki siklus menstruasi normal, 25 responden (27,5%) memiliki siklus menstruasi pendek, dan 20 responden (22,0%) memiliki siklus menstruasi panjang. Sejumlah 51 responden (56,0%) memiliki kadar hemoglobin normal dan 40 responden (44%) memiliki kadar hemoglobin tidak normal. Uji bivariat pada siklus menstruasi dengan kadar hemoglobin memiliki nilai p-value 0,000,05, maka dapat diartikan bahwa Ho ditolak. Kesimpulannya yaitu ada hubungan antara siklus menstruasi dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMK Sentra Medika. Diharapkan siswi lebih memperhatikan siklus menstruasi agar mencegah terjadinya gangguan siklus menstruasi serta kadar hemoglobin yang tidak normal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masalah pokok kesehatan yang timbul di remaja putri adalah kurangnya asupan nutrisi sebagai penyebab anemia kekurangan zat besi yang berakibat pada status gizi remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian kurma terhadap kadar hemoglobin. Jenis penelitian yang digunakan eksperimental dengan adanya perlakuan atau intervensi. Dengan populasi seluruh siswi kelas X, IX, dan XII di Sekolah menengah kejuruan Negeri 1 Setu, yang berjumlah 536 siswi. Teknik sampling menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus minimal sampel size dan jumlah sampel yang diambil 82 orang. Analisis data pada menggunakan uji parametric dengan analisis paired t-Test. Hasil penelitian uji statistic paired sampel T-test didapatkan p-value sebesar 0,000 dengan nilai korelasi sebesar 0,991. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian buah kurma terhadap kenaikan kadar hemoglobin pada siswi di Sekolah menengah kejuruan negeri 1 Setu.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Anemia merupakan rendahnya sel darah merah, dimana kadar hemoglobin serta hematokrit dibawah normal. Remaja salah satu kelompok yang rentan terkena anemia dikarenakan oleh gaya hidupnya terutama pada remaja putri. Anemia yang terjadi pada remaja akan berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, prestasi belajar, konsentrasi, kebugaran dan produktifitasnya. Di puskesmas Ciledug dari 3 SMP data anemia pada remaja putri tertinggi terjadi di SMP Muhammadiyah Ciledug sebanyak (63,63%) dengan 66 siswi, rata-rata kadar hemoglobin yang dimiliki oleh remaja putri di SMP tersebut adalah 9,4-11,4gr/dl.
Tujuan : Mengidentifikasi hubungan pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Muhammadiyah Ciledug Kabupaten Cirebon tahun 2020.
Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswi SMP yang berjumlah 66 siswi, teknik sampel yang digunakan yaitu Total Sampling dengan jumlah sampel 62 siswi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan seseorang. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat dengan munggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikan α < 0,05.
Hasil : Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri dengan nilai p-value¬ (0,000) yang artinya < 0,05.
Saran : Diharapkan remaja dapat menambah informasi mengenai anemia yang bisa didapat melalui buku, media cetak maupun internet sehingga mereka dapat melakukan pencegahan anemia dengan cara mengkonsumsi makanan yang tinggi akan zat besi serta mengkonsumsi tablet penambah darah untuk meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Anemia merupakan salah satu kelainan darah yang umumnya
terjadi ketika kadar sel darah dalam tubuh menjadi terlalu rendah. WHO
menyebutkan bahwa 818 juta anak-anak dan perempuan yang dipengaruhi oleh
anemia, sebagian besar dinegara berkembang. Setiap tahun 1 juta meninggal
remaja dan anak-anak (0-4) dan wanita hamil adalah dengan satu estimasi global
Prevalensi dari 43% dan 51% berturut-turut. Anemia terjadi sering pada negara
berkembang dan Negara Industri. berdasarkan hasil studi pendahuluan yang
dilakukan pada 64 mahasiswi S1 Kperawatan Reguler dengan melakukan
pengukuran kadar hemoglobin pada 10 mahasiswi didapatkan 80% mengalami
kadar hemoglobin dibawah normal yang mengindikasikan terjadinya anemia.
Tujuan : Mengetahui Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Peningkatan Kadar
Hemoglobin Pada Mahasiswi S1 Keperawatan Reguler Dengan Anemia Di
Institut Medika Drg. Suherman Tahun 2019
Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada pre eksperiment design
dengan rancangan one group pre-test post-test. Populasi pada penelitian ini yaitu
seluruh mahasiswi S1 keperawatan reguler dengan anemia berjumlah 20. Sampel
yang diambil sebanyak 20 responden dengan menggunakan total sampling yang
mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi. Insrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah alat ukur hemoglobin yaitu GCHb, sendok makan dan lembar
ceklis. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa
uji T-test dengan nilai signifikan α < 0,05.
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kadar hemoglobin sebelum
diberikan madu terendah adalah 9,5 gr/dl tertinggi adalah 1,8 gr/dl. Kadar
hemoglobin sesudah diberikan madu terendah adalah 9,8 gr/dl tertinggi adalah
14,7 gr/dl.
Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian madu hutan dengan peningkatan kadar
hemoglobin pada mahasiswi S1 Keperawatan reguler.
Saran : Diharapkan bagi mahasiswi keperawatan reguler khususnya agar lebih
mengkonsumsi banyak makanan (daging, ikan, ayam, hati, telur dan sayuran hijau
seperti daun katuk, daun kelor, daun singkong, bayam) yang dapat meningkatkan
kadar hemoglobin dan mengkonsumsi zat besi jika dengan suplemen
menimbulkan banyak efek samping maka dapat menggunakan penatalaksanaan
non farmakologi yaitu pemberian madu
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Alat kontrasepsi dalam rahim yang merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang
memiliki efektifitas tinggi. Namun ada beberapa efek samping yang membuat pengguna KB AKDR merasa tidak nyaman, yaitu meningkatnya jumlah darah menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan menoragia dengan kadar hemoglobin pada akseptor KB AKDR.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik kuantitatif dengan menggunakan desain
penelitian cross sectional. Tenik pengambilan sampel ini secara total sampling yaitu sebanyak 43 responden yang merupakan akseptor KB AKDR di wilayah Desa Wangun Harja Kabupaten Bekasi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan alat pemeriksa HB digital, analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat. Hubungan variabel dependent dan independen di uji dengan Chi-square.
Hasil penelitian Uji Statistik berdasarkan analisis univariat didapatkan bahwa sebagaian ibu yang
menggunakan KB AKDR di Desa Wangun Harja yang mengalami anemia sebanyak 21 (48,8%) dan yang tidak mengalami anemia sebanyak 22 (51,2%) sedangkan akseptor KB AKDR yang mengeluh
mengeluarkan darah lebih banyak dari sebelumnya atau menoragia sebanyak 30 (69,8%) dan yang yang tidak mengalami menoragia 13(30,2%. Berdasarkan analisa bivariat Uji Chi-square didapatkan hasil bahwa variabel yang berhubungan dengan menoragia dengan kadar hemoglobin pada akseptor kb AKDR (P.value 0,036 dan OR 0,174)
Kesimpulan dari 1 variabel yang diteliti (menoragia) hasilnya berhubungan dengan kadar
hemoglobin pada akseptor kb AKDR di Desa Wangun Harja Kabupaten Bekasi. Saran yang diharapkan dapat menerapkan asuhan pasca pemasangan AKDR dalam mengantisipasi efek samping dari kontrasepsi AKDR, yaitu menoragia yang berdampak kejadian pada anemia difiensi zat besi.