Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Nuzul Gyanata Adiwisastra

8 karya publik ditemukan.

2026: 32025: 22024: 3

Formulasi dan Evaluasi Tablet Hisap Nutraseutikal Limbah Pangan Kulit Pisang Raja (Musa x paradisiaca L.) sebagai Antioksidan Terhadap Histologi Paru Mencit

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Paparan asap rokok menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan jaringan paru. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit pisang raja menjadi sediaan tablet hisap nutraseutikal, mengevaluasi mutu fisik dan tingkat penerimaan sediaan, serta mengetahui efek protektifnya terhadap histopatologi paru mencit yang dipapar asap rokok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo dengan desain post-test only control group design. Ekstrak kulit pisang raja diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan diformulasikan menjadi tiga formula tablet hisap dengan konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik tablet, uji hedonik, serta pengamatan histopatologi paru berdasarkan skor hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang raja mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin dengan rendemen sebesar 14,47%. Seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi sifat fisik, kecuali Formula III pada uji kekerasan. Uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis dan Formula II memperoleh tingkat penerimaan terbaik. Pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa Formula III memberikan skor kerusakan paru terendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,000), dan uji Tukey HSD menunjukkan bahwa Formula III memberikan efek protektif yang lebih baik dibandingkan Formula I serta tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positif dan kelompok normal.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Secara Gyssens dan ATC/DDD Terhadap Outcome Klinis Pasien Rawat Inap Diare Anak di RS Pertama Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di RS Permata Bekasi periode 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan data rekam medis pasien anak rawat inap dengan diare. Evaluasi kualitatif dilakukan menggunakan metode Gyssens, sedangkan evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), sedangkan kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Gyssens, jumlah antibiotik, maupun ATC/DDD dengan lama rawat inap maupun outcome klinis (p>0,05). Disimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap maupun outcome klinis.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Secara Kualitatif dan Kuantitatif Terhadap Outcome Klinis Infeksi Saluran Kemih Rawat Inap di RS Permata Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Abstrak: Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi bakteri yang memerlukan terapi antibiotik sehingga evaluasi penggunaan antibiotik penting dilakukan untuk memastikan ketepatan terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan outcome klinis pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap 115 rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73,0% penggunaan antibiotik termasuk kategori rasional berdasarkan metode Gyssens, sedangkan cefixime memiliki nilai Total DDD tertinggi dan bersama ceftriaxone termasuk dalam segmen DU90%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas penggunaan antibiotik (p=0,018) dan kuantitas penggunaan antibiotik (p=0,004) dengan outcome klinis. Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional berhubungan dengan keberhasilan terapi pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih.

Pengembangan Serbuk Liofilisasi Umbi Bit (Beta vulgaris L) Dengan Kombinasi Apel Hijau (Malus sylvestris Mill) Sebagai Antianemia

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan global yang ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Penanganan anemia umumnya menggunakan suplementasi zat besi, namun konsumsi makanan fungsional seperti kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau juga berpotensi sebagai alternatif alami. Umbi bit kaya akan zat besi dan senyawa betasianin, sedangkan apel hijau mengandung vitamin C yang berperan meningkatkan penyerapan zat besi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain pretest-posttest control group design. Sebanyak 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) diinduksi anemia menggunakan phenylhidrazine 60 mg/KgBB lalu dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kelompok positif dan tiga kelompok perlakuan yang diberi kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau dengan dosis 200 mg/KgBB dengan konsentrasi masing-masing 10%, 15%, dan 20% selama 7 hari. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu tikus putih betina, sehat, berusia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g. Hasil analisis data menggunakan one-way ANOVA. Hasil menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin secara signifikan pada semua kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol negatif. Kombinasi serbuk pada konsentrasi 20% menunjukkan efek paling optimal dalam meningkatkan kadar hemoglobin, disusul konsentrasi 15% dan 10%. Kombinasi serbuk umbi bit mengandung kadar zat besi (Fe) 48,392 mg/20 g dan apel hijau mengandung persen kadar vitamin C sebanyak 61,4052 mg/10 g pada pola linier kuat (R² = 0,9674) yang efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada tikus anemia. Konsentrasi 20% merupakan dosis yang paling optimal dengan nilai P-Value < 0,05 yaitu 0,0081. Pemberian kombinasi serbuk umbi bit dengan apel hijau kepada tikus putih betina yang menderita anemia dinilai dapat meningkatkan kadar hemoglobin.

Pengembangan Sediaan Nutrasetikal Tablet Effervescent Umbi Bit (Beta vulgaris L) Kombinasi Apel Hijau (Malus sylvestris Mill) Sebagai Antianemia

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Anemia merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin dalam tubuh. Salah satu solusi untuk mengatasi anemia adalah dengan menggunakan tablet effervescent yang mengandung bahan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan tablet effervescent dengan kombinasi umbi bit (Beta vulgaris L.) dan apel hijau (Malus sylvestris Mill) sebagai solusi alami untuk mengatasi anemia. Penelitian ini juga bertujuan untuk menguji efektivitas tablet effervescent dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada tikus yang diinduksi anemia dengan menggunakan phenylhydrazine. Umbi bit dan apel hijau digunakan karena kandungan zat besi dan vitamin C-nya yang dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin. Formula tablet effervescent yang diuji terdiri dari tiga variasi, yaitu Formula I, Formula II, dan Formula III, dengan konsentrasi serbuk yang berbeda. Hasil uji menunjukkan bahwa Formula III, yang mengandung 300 mg umbi bit dan 600 mg apel hijau, memberikan peningkatan kadar hemoglobin tertinggi. Evaluasi uji hedonik terhadap rasa, warna, aroma, tekstur, dan kesukaan keseluruhan menunjukkan bahwa Formula III juga paling disukai oleh responden, menandakan bahwa formulasi tersebut tidak hanya efektif secara farmakologis, tetapi juga diterima secara organoleptik.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat Inap Demam Tifoid Anak di Rumah Sakit Permata Bekasi Tahun 2023

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 70% kematian terjadi di Asia. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di negara Indonesia. Demam tifoid merupakan salah satu dari 20 penyakit terbanyak yang dilaporkan di puskesmas di Kota Tangerang pada tahun 2020, berdasarkan data penyakit rawat jalan dari lembaga tersebut. Tujuan penelitian : Untuk menilai penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid yang dirawat di Rumah Sakit X pada tahun 2023, dengan penekanan pada penggunaan obat yang bijaksana atau tepat. Metode : Penelitian ini menggabungkan data noneksperimental berupa rekam medis retrospektif pasien anak di Rumah Sakit X yang didiagnosis menderita demam tifoid antara bulan Januari dan Desember 2023. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dan kuantitatif. Formulir khusus digunakan untuk mengumpulkan data, dan pasien anak yang didiagnosis menderita demam tifoid antara usia 1 dan 18 tahun diikutsertakan dalam penelitian ini tanpa memandang kondisi medis yang menyertainya. Analisis Chi-Square digunakan untuk memeriksa data. Hasil : Nilai p sebesar 0,000 dari pengujian SPSS, yang kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa terdapat korelasi substansial antara kualitas penggunaan antibiotik sebagaimana ditentukan oleh teknik Gyssens dan hasilnya. Serupa dengan ini, evaluasi metode ATC/DDD terhadap kualitas penggunaan antibiotik juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan hasilnya, yang diperkuat oleh nilai p analisis SPSS sebesar 0,000, yang sekali lagi menunjukkan adanya korelasi karena nilainya kurang dari 0,05. Kesimpulan : Nilai p sebesar 0,000, atau kurang dari 0,05 menunjukan adanya hubungan kualitas dan kuantitas antibiotik terhadap outcame klinis.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Penyakit Diare Anak di Instalasi Rawat Inap RS Permata Bekasi Tahun 2023

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Di seluruh dunia, antibiotik adalah obat yang paling sering digunakan, dengan 20-26% di antaranya disalahgunakan. Sangat penting untuk memilih antibiotik secara hati-hati untuk pengobatan diare pada anak-anak, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti dosis, cara pemberian, dan lama pengobatan. Dengan menggunakan pendekatan Gyssens dan metode DDD (Definied Daily Dose), penelitian ini bermaksud untuk menilai penggunaan antibiotik pada gangguan diare pada anak di instalasi rawat inap rumah sakit X pada tahun 2023. Metode Penelitian: Penelitian observasional dengan rancangan crosssectional bersifat retrospektif dengan menggunakan metode non-eksperimental digunakan dalam penelitian ini. Pengambilan sampel secara purposif digunakan untuk memilih 155 pasien anak dengan diare yang dirawat di rumah sakit X pada tahun 2023. Rekam medis pasien menyediakan data, yang kemudian diperiksa menggunakan uji Chi-square non-parametrik. Hasil: Berdasarkan demografi pasien anak yang didiagnosis diare di rumah sakit X pada tahun 2023, terdapat lebih banyak pasien laki-laki dibandingkan pasien perempuan - 82 (52,9%) dan 111 (71,6%) pasien berada pada rentang usia tertinggi, yaitu antara usia 1-4 tahun. Sefotaksim adalah jenis antibiotik yang paling sering digunakan untuk pasien diare anak (61 pasien, 39,4%), dan 155 pasien (100%) memiliki hasil klinis dipulangkan atau sembuh dari diare anak. Ketika pasien diare remaja diberikan antibiotik dengan menggunakan pendekatan Gyssens, sebanyak 68 obat (41,3%) dikategorikan sebagai kategori 0, dan ketika antibiotik diberikan dengan menggunakan metode ATC/DDD, seftriakson adalah antibiotik yang paling sering digunakan. Kesimpulan: Uji statistik dengan nilai p-value 0,000 <0,05 didapatkan hubungan antara kualitas penggunaan antibiotik yang ditentukan oleh metode Gyssens dan metode ATC/DDD dalam kaitannya dengan hasil klinis.