ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Berdasarkan data Riskesdas 2018 masyarakat yang terdata yaitu di
Provinsi Jawa Barat sebesar 186.809 orang, sedangkan untuk prevalensi ISPA yang
terdiagnosa di provinsi Jawa Barat ada pada peringkat ke 7 yaitu sebesar 4,7%.
Provinsi Jawa Barat termasuk kedalam 10 besar yang banyak terjadi kasus ISPA.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Peresepan
Antibiotik Oral Pada Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Di Klinik Tiara
Cibinong Bogor Periode April-September 2022.
Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif yang bersifat
Retrospektif, populasi yang digunakan pada penelitian ini semua resep yang masuk di
Klinik Tiara periode April-September tahun 2022.
Hasil: Penggunaan antibiotik oral yaitu laki-laki sebanyak 55 pasien (55%) dari 100
pasien. Kelompok usia yang lebih banyak mendapatkan antibiotik oral yaitu adalah
anak-anak 39 pasien (39%) dari 100 pasien. Zat aktif Antibiotik yang lebih banyak
diresepkan adalah cefadroxil sebanyak 49 pasien (49%) dari 100 resep. Golongan
antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu golongan sefalosporin sebanyak 55
pasien (55%) dari 100 resep dan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan yaitu
sirup 50 pasien (50%) dari 100 resep
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Antibiotik berfungsi untuk membunuh ataupun menghambat pertumbuhan patogen dan pada umumnya digunakan untuk terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Masyarakat Indonesia sebanyak 92% salah dalam penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik pada anak berbeda degan orang dewasa. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 207. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik pursosive sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian sebanyak 137. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Mayoritas responden memiliki pengetahuan tentang antibotik tergolong kurang sebanyak 85 atau 62.0% responden dan mayoritas responden memiliki tingkat rasionalitas tergolong kurang sebanyak 80 atau 58.4%. Hasil uji didapatkan nilai p yaitu 0.000 dan koefisiensi korelasi sebesar 0.507. hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif (searah) dan kuat. Pada penelitian ini terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh. Saran untuk responden yaitu lebih meningkatkan pengetahuan tentang obat terutama tentang antibiotik dan untuk Desa Taringgul Tonggoh diharapkan sering mengadakan kegiatan yang mengedukasi masyarakat tentang obat terutama antibiotik dengan cara bekerjasama dengan bagian kesehatan wilayah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di RS Permata Bekasi periode 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan data rekam medis pasien anak rawat inap dengan diare. Evaluasi kualitatif dilakukan menggunakan metode Gyssens, sedangkan evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), sedangkan kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Gyssens, jumlah antibiotik, maupun ATC/DDD dengan lama rawat inap maupun outcome klinis (p>0,05). Disimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap maupun outcome klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Abstrak: Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi bakteri yang memerlukan terapi antibiotik sehingga evaluasi penggunaan antibiotik penting dilakukan untuk memastikan ketepatan terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan outcome klinis pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap 115 rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73,0% penggunaan antibiotik termasuk kategori rasional berdasarkan metode Gyssens, sedangkan cefixime memiliki nilai Total DDD tertinggi dan bersama ceftriaxone termasuk dalam segmen DU90%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas penggunaan antibiotik (p=0,018) dan kuantitas penggunaan antibiotik (p=0,004) dengan outcome klinis. Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional berhubungan dengan keberhasilan terapi pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahun, dengan 9,2 juta kasus secara global. Penyakit ini menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi, dengan 92% kasus berasal dari Asia dan Afrika. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik pasien dewasa pneumonia dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik di instalasi rawat inap RS Sentra Medika Cikarang tahun 2024. Metode : Penelitian ini merupakan studi non-eksperimental dengan desain deskriptif yang menggunakan pendekatan retrospektif melalui data rekam medis. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Hasil : Berdasarkan data rekam medis pasien pneumonia dewasa yang memenuhi kriteria inklusi di RS Sentra Medika Cikarang, mayoritas pasien berusia 56–65 tahun (69%) dan didominasi oleh laki-laki (54%). Penyakit penyerta terbanyak adalah TB Paru (23%). Terapi antibiotik yang paling banyak digunakan adalah terapi tunggal Levofloxacin (38%). Evaluasi dengan Metode Gyssens menunjukkan bahwa 77% penggunaan antibiotik tergolong tidak rasional. Kesimpulan : Evaluasi menggunakan Metode Gyssens di RS Sentra Medika Cikarang menunjukkan bahwa mayoritas penggunaan antibiotik tergolong tidak rasional.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan tingkat kejadian yang tinggi terutama di wilayah Jawa Barat. Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan terhadap keberhasilan pengobatan pasien Tuberkulosis di Puskesmas Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 80 pasien Tuberkulosis Paru yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner kepatuhan MMAS-8, dan data rekam medis mengenai status keberhasilan pengobatan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (90%) dan tingkat kepatuhan rendah (85%). Keberhasilan pengobatan tercapai pada (12,5%) pasien. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,827) dan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,365).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 70% kematian terjadi di Asia. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di negara Indonesia. Demam tifoid merupakan salah satu dari 20 penyakit terbanyak yang dilaporkan di puskesmas di Kota Tangerang pada tahun 2020, berdasarkan data penyakit rawat jalan dari lembaga tersebut. Tujuan penelitian : Untuk menilai penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid yang dirawat di Rumah Sakit X pada tahun 2023, dengan penekanan pada penggunaan obat yang bijaksana atau tepat. Metode : Penelitian ini menggabungkan data noneksperimental berupa rekam medis retrospektif pasien anak di Rumah Sakit X yang didiagnosis menderita demam tifoid antara bulan Januari dan Desember 2023. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dan kuantitatif. Formulir khusus digunakan untuk mengumpulkan data, dan pasien anak yang didiagnosis menderita demam tifoid antara usia 1 dan 18 tahun diikutsertakan dalam penelitian ini tanpa memandang kondisi medis yang menyertainya. Analisis Chi-Square digunakan untuk memeriksa data. Hasil : Nilai p sebesar 0,000 dari pengujian SPSS, yang kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa terdapat korelasi substansial antara kualitas penggunaan antibiotik sebagaimana ditentukan oleh teknik Gyssens dan hasilnya. Serupa dengan ini, evaluasi metode ATC/DDD terhadap kualitas penggunaan antibiotik juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan hasilnya, yang diperkuat oleh nilai p analisis SPSS sebesar 0,000, yang sekali lagi menunjukkan adanya korelasi karena nilainya kurang dari 0,05. Kesimpulan : Nilai p sebesar 0,000, atau kurang dari 0,05 menunjukan adanya hubungan kualitas dan kuantitas antibiotik terhadap outcame klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Di seluruh dunia, antibiotik adalah obat yang paling sering digunakan,
dengan 20-26% di antaranya disalahgunakan. Sangat penting untuk memilih antibiotik secara
hati-hati untuk pengobatan diare pada anak-anak, dengan mempertimbangkan faktor-faktor
seperti dosis, cara pemberian, dan lama pengobatan. Dengan menggunakan pendekatan
Gyssens dan metode DDD (Definied Daily Dose), penelitian ini bermaksud untuk menilai
penggunaan antibiotik pada gangguan diare pada anak di instalasi rawat inap rumah sakit X
pada tahun 2023. Metode Penelitian: Penelitian observasional dengan rancangan crosssectional
bersifat retrospektif dengan menggunakan metode non-eksperimental digunakan
dalam penelitian ini. Pengambilan sampel secara purposif digunakan untuk memilih 155
pasien anak dengan diare yang dirawat di rumah sakit X pada tahun 2023. Rekam medis pasien
menyediakan data, yang kemudian diperiksa menggunakan uji Chi-square non-parametrik. Hasil: Berdasarkan demografi pasien anak yang didiagnosis diare di rumah sakit X pada tahun
2023, terdapat lebih banyak pasien laki-laki dibandingkan pasien perempuan - 82 (52,9%) dan
111 (71,6%) pasien berada pada rentang usia tertinggi, yaitu antara usia 1-4 tahun. Sefotaksim
adalah jenis antibiotik yang paling sering digunakan untuk pasien diare anak (61 pasien,
39,4%), dan 155 pasien (100%) memiliki hasil klinis dipulangkan atau sembuh dari diare
anak. Ketika pasien diare remaja diberikan antibiotik dengan menggunakan pendekatan
Gyssens, sebanyak 68 obat (41,3%) dikategorikan sebagai kategori 0, dan ketika antibiotik
diberikan dengan menggunakan metode ATC/DDD, seftriakson adalah antibiotik yang paling
sering digunakan. Kesimpulan: Uji statistik dengan nilai p-value 0,000 <0,05 didapatkan
hubungan antara kualitas penggunaan antibiotik yang ditentukan oleh metode Gyssens dan
metode ATC/DDD dalam kaitannya dengan hasil klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Berdasarkan data Riskesdas 2018 masyarakat yang terdata yaitu di Provinsi Jawa Barat sebesar 186.809 orang, sedangkan untuk prevalensi ISPA yang terdiagnosa di provinsi Jawa Barat ada pada peringkat ke 7 yaitu sebesar 4,7%. Provinsi Jawa Barat termasuk kedalam 10 besar yang banyak terjadi kasus ISPA.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Peresepan Antibiotik Oral Pada Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Di Klinik Tiara Cibinong Bogor Periode April-September 2022.
Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif yang bersifat Retrospektif, populasi yang digunakan pada penelitian ini semua resep yang masuk di Klinik Tiara periode April-September tahun 2022.
Hasil: Penggunaan antibiotik oral yaitu laki-laki sebanyak 55 pasien (55%) dari 100 pasien. Kelompok usia yang lebih banyak mendapatkan antibiotik oral yaitu adalah anak-anak 39 pasien (39%) dari 100 pasien. Zat aktif Antibiotik yang lebih banyak diresepkan adalah cefadroxil sebanyak 49 pasien (49%) dari 100 resep. Golongan antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu golongan sefalosporin sebanyak 55 pasien (55%) dari 100 resep dan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan yaitu sirup 50 pasien (50%) dari 100 resep.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Antibiotik berfungsi untuk membunuh ataupun menghambat pertumbuhan patogen dan pada umumnya digunakan untuk terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Masyarakat Indonesia sebanyak 92% salah dalam penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik pada anak berbeda degan orang dewasa. Pada penelitian ini penulis mengangkat dari hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional cross sectional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik pursosive sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian sebanyak 137. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman dengan aplikasi SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh dengan nilai p yaitu 0.000 dan koefisiensi korelasi sebesar 0.507. hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif (searah) dan kuat.