BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Talasemia mayor merupakan kelainan hemolitik herediter berat yang membutuhkan transfusi darah rutin, sehingga menimbulkan penumpukan zat besi yang harus diatasi dengan terapi kelasi besi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi transfusi darah dan kelasi besi (Deferasirox dan Deferipron) terhadap outcome klinis pasien talasemia mayor rawat jalan BPJS di RS Sentra Medika Cibinong periode Januari–Desember 2025. Penelitian ini merupakan penelitian farmakoekonomi dengan metode Cost Effectiveness Analysis (CEA), desain observasional analitik non-eksperimental, pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis dan klaim BPJS/INA-CBG's. Sampel sebanyak 55 pasien dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan outcome klinis (pencapaian target kadar hemoglobin disertai penurunan kadar feritin) lebih tinggi pada kelompok transfusi darah dan Deferasirox (30%) dibandingkan kelompok transfusi darah dan Deferipron (27%). Rata-rata biaya medis langsung kelompok Deferasirox (Rp1.367.580) lebih rendah dibandingkan kelompok Deferipron (Rp2.708.515). Nilai Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) kelompok Deferasirox (Rp45.586) lebih rendah dibandingkan kelompok Deferipron (Rp100.315), dengan nilai Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) sebesar -Rp446.978. Terapi transfusi darah dan Deferasirox berada pada kuadran dominan (efektivitas lebih tinggi, biaya lebih rendah). Dapat disimpulkan bahwa terapi transfusi darah dan Deferasirox lebih cost-effective dibandingkan terapi transfusi darah dan Deferipron terhadap outcome klinis pasien talasemia mayor.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di RS Permata Bekasi periode 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan data rekam medis pasien anak rawat inap dengan diare. Evaluasi kualitatif dilakukan menggunakan metode Gyssens, sedangkan evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), sedangkan kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Gyssens, jumlah antibiotik, maupun ATC/DDD dengan lama rawat inap maupun outcome klinis (p>0,05). Disimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap maupun outcome klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Abstrak: Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi bakteri yang memerlukan terapi antibiotik sehingga evaluasi penggunaan antibiotik penting dilakukan untuk memastikan ketepatan terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan outcome klinis pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap 115 rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73,0% penggunaan antibiotik termasuk kategori rasional berdasarkan metode Gyssens, sedangkan cefixime memiliki nilai Total DDD tertinggi dan bersama ceftriaxone termasuk dalam segmen DU90%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas penggunaan antibiotik (p=0,018) dan kuantitas penggunaan antibiotik (p=0,004) dengan outcome klinis. Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional berhubungan dengan keberhasilan terapi pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih.