ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Tingginya jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 menimbulkan beban biaya yang begitu besar. Berdasarkan data laporan tahunan, diabetes melitus tipe 2 masuk ke dalam 10 besar penyakit terbanyak. Tujuan: Menganalisis efektivitas biaya dan terapi pasien diabetes tipe 2 di rumah sakit marzoeki mahdi pada periode Juli-Desember 2022. Metode: Menghitung nilai ACER dan ICER berdasarkan kelompok terapi obat antidiabetik oral yaitu kelompok A terapi tunggal, kelompok B terapi kombinasi 2 obat, kelompok C terapi kombinasi 3 obat. Hasil: Nilai ACER atau nilai biaya terendah pada kelompok A sebesar Rp 15.115 terapi obat glimepiride, kelompok B sebesar Rp 28.561 terapi kombinasi obat metformin dan glimepiride, kelompok C sebesar Rp 9.233 terapi kombinasi obat metformin, glimepird, dan piglitazon. Nilai ICER atau biaya yang dibutuhkan untuk mengganti terapi obat yang lebih baik pada kelompok A sebesar Rp 4.173 terapi obat gliquidon, kelompok B sebesar Rp 27.488 terapi kombinasi obat metformin dan pioglitazone, kelompok C sebesar Rp 16.662 terapi kombinasi obat metformin, gliquidon, dan pioglitazone. Kesimpulan: Nilai ACER terendah yaitu pada kelompok C sebesar Rp 9.233 dengan kombinasi obat metformin, glimepird, dan pioglitazone. Nilai ICER terendah pada kelompok A dengan terapi obat gliquidon.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Talasemia mayor merupakan kelainan hemolitik herediter berat yang membutuhkan transfusi darah rutin, sehingga menimbulkan penumpukan zat besi yang harus diatasi dengan terapi kelasi besi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi transfusi darah dan kelasi besi (Deferasirox dan Deferipron) terhadap outcome klinis pasien talasemia mayor rawat jalan BPJS di RS Sentra Medika Cibinong periode Januari–Desember 2025. Penelitian ini merupakan penelitian farmakoekonomi dengan metode Cost Effectiveness Analysis (CEA), desain observasional analitik non-eksperimental, pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis dan klaim BPJS/INA-CBG's. Sampel sebanyak 55 pasien dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan outcome klinis (pencapaian target kadar hemoglobin disertai penurunan kadar feritin) lebih tinggi pada kelompok transfusi darah dan Deferasirox (30%) dibandingkan kelompok transfusi darah dan Deferipron (27%). Rata-rata biaya medis langsung kelompok Deferasirox (Rp1.367.580) lebih rendah dibandingkan kelompok Deferipron (Rp2.708.515). Nilai Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) kelompok Deferasirox (Rp45.586) lebih rendah dibandingkan kelompok Deferipron (Rp100.315), dengan nilai Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) sebesar -Rp446.978. Terapi transfusi darah dan Deferasirox berada pada kuadran dominan (efektivitas lebih tinggi, biaya lebih rendah). Dapat disimpulkan bahwa terapi transfusi darah dan Deferasirox lebih cost-effective dibandingkan terapi transfusi darah dan Deferipron terhadap outcome klinis pasien talasemia mayor.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas klinis dan efisiensi biaya pengobatan demam tifoid menggunakan terapi tunggal ceftriaxon, cefixime, serta terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan analisis cost-effectiveness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas pengobatan pada kelompok terapi tunggal adalah sebesar 66,66% untuk ceftriaxon dan 66,66% untuk cefixime, sedangkan terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime pada kelompok B menunjukkan efektivitas 100%. Rata-rata total biaya pengobatan yang dikeluarkan untuk masing-masing terapi adalah Rp4.721.391 (ceftriaxon), Rp5.303.698 (cefixime), dan Rp4.599.894 (ceftriaxon dan cefixime). Analisis biaya-efektivitas rata-rata (Average Cost-Effectiveness Ratio/ACER) menunjukkan nilai sebesar Rp70.827 untuk ceftriaxon, Rp79.563 untuk cefixime, dan Rp45.998 untuk terapi kombinasi. Sementara itu, nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) untuk peralihan terapi dari ceftriaxone tunggal ke cefixime tunggal adalah Rp582.307. Berdasarkan hasil tersebut, terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime memberikan efektivitas klinis tertinggi dengan nilai efisiensi biaya yang paling optimal dibandingkan terapi tunggal. Oleh karena itu, terapi kombinasi dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang lebih cost-effective dalam penanganan pasien demam tifoid.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Tingginya jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 menimbulkan beban biaya yang begitu besar. Berdasarkan data laporan tahunan, diabetes melitus tipe 2 masuk ke dalam 10 besar penyakit terbanyak. Tujuan: Menganalisis efektivitas biaya dan terapi pasien diabetes tipe 2 di rumah sakit marzoeki mahdi pada periode Juli-Desember 2022. Metode: Menghitung nilai ACER dan ICER berdasarkan kelompok terapi obat antidiabetik oral yaitu kelompok A terapi tunggal, kelompok B terapi kombinasi 2 obat, kelompok C terapi kombinasi 3 obat. Hasil: Nilai ACER atau nilai biaya terendah pada kelompok A sebesar Rp 15.115 terapi obat glimepiride, kelompok B sebesar Rp 28.561 terapi kombinasi obat metformin dan glimepiride, kelompok C sebesar Rp 9.233 terapi kombinasi obat metformin, glimepird, dan piglitazon. Nilai ICER atau biaya yang dibutuhkan untuk mengganti terapi obat yang lebih baik pada kelompok A sebesar Rp 4.173 terapi obat gliquidon, kelompok B sebesar Rp 27.488 terapi kombinasi obat metformin dan pioglitazone, kelompok C sebesar Rp 16.662 terapi kombinasi obat metformin, gliquidon, dan pioglitazone. Kesimpulan: Nilai ACER terendah yaitu pada kelompok C sebesar Rp 9.233 dengan kombinasi obat metformin, glimepird, dan pioglitazone. Nilai ICER terendah pada kelompok A dengan terapi obat gliquidon.