2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dan keberhasilan pengobatannya sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT). Tingkat pengetahuan pasien dan kejadian Drug Related Problem (DRP) diduga menjadi faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan kejadian Drug Related Problem (DRP) terhadap kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis di Puskesmas Sukaraya. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 68 pasien tuberkulosis yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner DRP, dan kuesioner kepatuhan, sedangkan analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (61,8%), tidak mengalami DRP (86,8%), dan memiliki kepatuhan pengobatan rendah (80,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan (p = 0,000), sedangkan kejadian DRP tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pengobatan (p = 0,759). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis, sedangkan kejadian Drug Related Problem (DRP) tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi pelayanan kefarmasian melalui edukasi, konseling, dan pemantauan terapi secara berkala untuk meningkatkan kepatuhan pasien serta mendukung keberhasilan pengobatan tuberkulosis.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang masih tinggi di dunia dan Indonesia, tingkat pengetahuan diduga berperan dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Apotek Kaffah Farma. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 55 pasien hipertensi yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner HK-LS dan MMAS-8, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik (47,3%), namun kepatuhan penggunaan obat antihipertensi masih rendah (61,8%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi (p = 0,551). Disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Apotek Kaffah Farma. Hasil ini menunjukkan bahwa kepatuhan kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti dukungan keluarga, peran petugas kesehatan, akses layanan kesehatan, serta motivasi yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah komplikasi. Obat antihipertensi golongan ACE-Inhibitor dan Calcium Channel Blocker banyak digunakan, tetapi dapat menimbulkan efek samping yang berpotensi memengaruhi kepatuhan pasien. Tujuannya untuk mengetahui hubungan efek samping penggunaan obat antihipertensi golongan ACE-Inhibitor dan Calcium Channel Blocker dengan tingkat kepatuhan pasien di Apotek Kaffah Farma. Penelitian ini menggunakan desain correlational study dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 55 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner efek samping obat dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact Test. Hasil dari penelitian ini diketahui mayoritas responden menggunakan Calcium Channel Blocker (74,5%), mengalami efek samping kategori sedang (40,0%), dan memiliki kepatuhan kategori sedang (67,3%). Hasil uji Fisher's Exact Test menunjukkan nilai p = 1,00. Kesimpulan dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping penggunaan obat antihipertensi golongan ACE-Inhibitor dan Calcium Channel Blocker dengan tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Apotek Kaffah Farma.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu tantangan utama dalam bidang kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional, dan menjadi indikator penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Indonesia menempati posisi kedua terbanyak di dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India, dengan estimasi 10,6 juta kasus secara global pada tahun 2022. Meskipun terdapat peningkatan pelaporan kasus selama pandemi COVID-19, tingkat keberhasilan pengobatan nasional pada tahun 2023 masih berada di angka 86,5%, di bawah target 90%. Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, termasuk Kabupaten Bekasi yang mencatat 13.515 kasus hingga Februari 2024, dan Kecamatan Cikarang Utara menjadi salah satu wilayah dengan kasus tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien TBC di Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian ini sebanyak 95 responden. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil analisis korelasi antara variabel usia terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p < 0,05, sehingga ada hubungan antara usia terhadap tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis paru. Pendidikan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,041, sehingga ada hubungan antara pendidikan terhadap tingkat pengetahuan pasien, kategori pengobatan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,028, sehingga ada hubungan antara kategori pengobatan terhadap tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis paru. Hasil analisis korelasi antara variabel usia terhadap tingkat kepatuhan menunjukkan hasil p = 0,002, sehingga ada hubungan antara usia terhadap tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru. variabel tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan mendapatkan nilai p-value sebesar 0,337 dan nilai signifikan yang digunakan pada penelitian ini yaitu 0,05.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi berperan penting dalam proses penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap gambaran kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cikarang Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien TB paru rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi, diambil menggunakan metode purposive sampling selama periode Juni–Juli 2025. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan, Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) untuk kepatuhan, dan kuesioner Short-from-36 (SF-36) untuk kualitas hidup. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik, tingkat kepatuhan tinggi, dan kualitas hidup yang tinggi. Uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan (p = 0,519), tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup (p = 0,468), maupun tingkat kepatuhan dengan kualitas hidup (p = 0,962). Kesimpulan: Bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien, maka semakin baik kualitas hidup yang dimiliki. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan edukasi dan strategi kepatuhan pasien guna memperbaiki outcome pengobatan tuberkulosis.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Tuberkulosis disebut juga TB, merupakan penyakit yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sering terjadi akibat masukya bakteri ke dalam jaringan paru-paru melalui udara sehingga menimbulkan penyakit yang disebut tuberkulosis primer. Tujuan : Untuk mengetahui deskripsi hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cabang Bungin. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik observasional yang dilakukan secara cross-sectional dengan pengambilan data secara prospektif pada periode Juni-Juli tahun 2025 di Puskesmas Cabang Bungin. Hasil : penelitian berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang bersedia berpartisipasi, paling banyak responden berjenis kelamin laki-laki (55,8%), usia palimg banyak antara 26-35 tahun (28,8%), paling banyak memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) (55,8%), responden paling banyak bekerja (73,1%), responden paling banyak yang telah memasuki fase lanjutan pengobatan (61,5%) dan responden paling banyak dalam kategori 1 (pasien baru) (86,5%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan paling banyak yaitu 40 responden (76,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sementara 5 responden (9,6%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 7 responden (13,5%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepatuhan sebanyak 25 responden (48,1%), memiliki tingkat kepatuhan yang baik, 8 responden (15,4%) memiliki tingkat kepatuhan yang cukup, dan 19 responden (36,5%) menunjukkan tingkat kepatuhan yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang berpartisipasi, sebagian besar yaitu 46 responden (88,5%), memiliki tingkat kualitas hidup tinggi, 6 responden (11,5%) memiliki tingkat kualitas hidup rendah. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan dengan nilai p=0,048 (p<α). Sedangkan terdapat tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,255. Dan terdapat adanya hubungan antara tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,026.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan tingkat kejadian yang tinggi terutama di wilayah Jawa Barat. Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan terhadap keberhasilan pengobatan pasien Tuberkulosis di Puskesmas Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 80 pasien Tuberkulosis Paru yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner kepatuhan MMAS-8, dan data rekam medis mengenai status keberhasilan pengobatan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (90%) dan tingkat kepatuhan rendah (85%). Keberhasilan pengobatan tercapai pada (12,5%) pasien. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,827) dan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,365).
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Rumah sakit hendaknya harus dilengkapi dengan alat untuk mengelola kualitas
mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien sehingga pelayanan kesehatan di mana diberi atas
tenaga kesehatan bisa terpadu dan mengurangi resiko dalam proses layanan klinis. Salah satu alat
untuk mengelola kualitas layanan adalah clinical pathway. clinical pathway ataupun juga alur
klinis yaitu proses multidisiplin yang dirancang untuk menyediakan perawatan kepada penderita
dengan tepat waktu melalui sebuah pendekatan kolaboratif dan juga interdisipliner. Tujuan: Dalam
dilaksanakannya penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengkaji implementasi yang dimiliki
clinical pathway tuberkulosis paru pasien rawat inap pada RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:
Adanya sebuah penelitian ini yaitu berupa penelitian kuantitatif melalui penarikan data dengan
retrospektif menggunakan sebuah data yang berupa rekam medis menderita dari tuberkulosis paru
rawat inap di RSUD Kabupaten Bekasi selama periode Januari-Desember 2023. Populasi penelitian
adalah 88 responden, dengan sampel sebanyak 72 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan batas kesalahan 0,5%. Instrumen pengumpulan data menggunakan formulir clinical pathway yang berpedoman pada KARS 2012. Hasil: Didapatkan jika penderita TB paru
mayoritasnya dialami oleh laki-laki (63,9%), dengan mayoritas usia >50 tahun (41,7%), pendidikan
SMA (59,7%), dan pekerjaan wiraswasta (56,9%). Tatalaksana pengobatan pada tahap intensif dilakukan pada 91,7% pasien, dan tahap lanjut pada 8,3% pasien, dengan tingkat kesesuaian pengobatan mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian, outcome klinis kategori sembuh tercatat sebanyak 36,1%, sedangkan pasien yang melanjutkan pengobatan jalan sebanyak 63,9%. Kesimpulan: Implementasi clinical pathway tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi belum terimplemplementasi dengan baik dikarenakan ada beberapa aktivitas yang belum terlaksanakan. Penerapan clinical pathway sangat penting dalam meningkatkan outcome klinis pasiennya. Disebabkan but, bisa direkomendasikan kepada sebuah instansi yang melayani
kesehatan terutama pada manajemen rumah sakit untuk menerapkan clinical pathway dalam
meningkatkan outcome klinis pasien
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Tingkat pengetahuan dan kepatuhan adalah salah satu indikator penting
untuk menilai keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru. Faktor tesebut
menjadi salah satu penentu dalam terjadinya kenaikan atau penurunan angka morbiditas
tetrhadap penyakit tuberkulosis paru. Tujuan: Mengukur tingkat pengetahuan dan tingkat
kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis paru di RSUD Kab. Bekasi. Metode: Desain
penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik observasional secara crosssectional dilakukan di RSUD Kab. Bekasi dengan sampel sebanyak 146 responden.
Pengambilan data menggunakan kuisioner tingkat pengetahuan yang sudah tervalidasi
dengan nilai r Tabel 0,361 dan kepatuhan pasien pada pengobatan menggunakan kuisioner
Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Hasil: Berdasarkan hasil penelitian
didapat responden sebanyak 29,5% dengan usia terbanyak 26-35 tahun, 61% jenis kelamin
laki-laki, 63,7% pendidikan SMA, 75,3% bekerja, 87% memiliki pendampingan peran
PMO, 67,8% fase pengobatan lanjutan, 83,6% pasien kategori I dan uji statistik dengan
menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai signifikansi p=0,000 dengan derajat
signifikansi a<0,05, yang menunjukan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten
Bekasi. Kesimpulan: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat
kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Tingginya kasus tuberkulosis paru berdampak pada morbiditas dan
mortalitas pasien, dalam penatalaksanaan tuberkulosis paru di fasilitas kesehatan sudah
diimplementasikan berdasarkan pedoman nasional dengan tujuan kesesuaian pengobatan.
Oleh karena itu, diperlukan pedoman klinis terkait tuberkulosis paru melalui clinical
pathway untuk meningkatkan layanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui
keefektivitasan implementasi clinical pathway dan outcome klinis pasien tuberkulosis paru
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dengan metode
pengambilan data secara retrospektif, diambil dari data rekam medis pasien sebanyak 34
data pasien rawat inap di RS Kartika Husada Setu periode Januari-Desember tahun 2023
data dikumpul menggunakan form clinical pathway. Hasil: Terdapat 34 pasien dengan jenis
kelamin laki-laki 18 pasien (52,9%), berusia >55 tahun 12 pasien (35,3%) yang pendidikan
terakhir SD dan SMA 12 pasien (35,3%) dan memiliki pekerjaan sebanyak 17 pasien (50%)
serta pasien dengan penyakit penyerta diabetes melitus (DM) sebanyak 7 pasien (20,6%).
Implementasi clinical pathway di RS Kartika Husada Setu, dari 38 indikator ada sebanyak
22 indikator (57,9%) sudah efektif dan 16 indikator (42,1%) lainnya belum efektif. Outcome
klinis pasien tuberkulosis paru menunjukkan dari 34 pasien (100%) dinyatakan belum
sembuh dengan kategori dipindah ke Fasyankes 1 sebanyak 23 pasien dan lanjut terapi
sebanyak 11 pasien. Terdapat hubungan implementasi clinical pathway terhadap
keefektivitasan clinical pathway dan outcome klinis pasien dengan uji Chi-Square
menunjukkan nilai p value sebesar 0,002 <0,05 dan 0,000 <0,05. Kesimpulan: Penelitian
ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara implementasi clinical
pathway dengan efektivitas clinical pathway dan outcome klinis pasien.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan