2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan perhatian terhadap status gizi. Kondisi psikologis, kualitas tidur, dan kebiasaan konsumsi makanan dapat menjadi bagian dari faktor yang berkaitan dengan status gizi remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stress, kualitas tidur, dan frekuensi konsumsi ultra-processed food (UPF) dengan status gizi pada remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 74 remaja putri. Pengambilan sampel dilakukan pada remaja putri di SMA Negeri 1 Cikarang Selatan. Data tingkat stress diperoleh menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale PSS-10, kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), frekuensi konsumsi UPF menggunakan FFQ UPF, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji hubungan menggunakan Chi-Square dengan tingkat signifikasi p-value (p<0,05). Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat stress berat sebesar 66 responden atau (88,2%), responden berada dikategori kualitas tidur buruk, yaitu sebesar 68 responden atau (91,9%), responden berada dikategori konsumsi rendah , yaitu sebesar 40 responden atau (53,6%), responden berada dikategori status gizi normal, yaitu sebesar 59 responden atau (78,7%). Hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan status gizi (p = 0,347), kualitas tidur dengan status gizi dengan uji chi-square (p = 1,000), serta konsumsi UPF dengan status gizi dengan uji chi-square (p = 0,773). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada penelitian ini antara tingkat stress, kualitas tidur, dan frekuensi konsumsi UPF dengan status gizi pada remaja putri dalam penelitian ini.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Prestasi akademik pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb). Sarapan berperan sebagai sumber energi utama bagi otak sehingga mendukung konsentrasi dan kemampuan belajar, sedangkan kadar Hb yang rendah dapat mengurangi suplai oksigen ke otak dan berpotensi mengganggu fungsi kognitif. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb) dengan prestasi akademik pada siswi di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 247 siswi kelas XI SMAN 3 Cikarang Utara, dengan sampel sebanyak 71 responden yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mengenai kebiasaan sarapan, pengukuran kadar Hb menggunakan alat Easy Touch GCHb, pengukuran status gizi berdasarkan IMT/U, serta pengambilan data prestasi akademik berdasarkan peringkat kelas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian: Mayoritas responden berusia 17 tahun (62,0%), memiliki status gizi baik (66,2%), dan orang tua berpendidikan terakhir SMA (73,2%). Sebagian besar responden memiliki kebiasaan sarapan ≥4x/minggu (62,0%), kadar Hb normal (≥12 g/dl) 87,3%, dan yang belum kategori prestasi akademik (54,9%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dengan prestasi akademik (p=0,011; OR=73,4%;95%CI=0,093–0,758). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan prestasi akademik (p=0,140; OR=69,5%;95% CI=0,059–1,585). Kesimpulan: Kebiasaan sarapan berhubungan dengan prestasi akademik pada siswi SMAN 3 Cikarang Utara, sedangkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kadar Hb dan prestasi akademik pada sampel penelitian. Saran: Sekolah diharapkan meningkatkan edukasi mengenai pentingnya sarapan bergizi seimbang serta bekerja sama dengan puskesmas dalam pelaksanaan pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja putri.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status gizi, kondisi menstruasi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi dan protein. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 71 remaja putri. Penilaian status gizi dilakukan berdasarkan IMT/U, sedangkan informasi mengenai riwayat menstruasi diperoleh melalui kuesioner. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dan protein dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan alat Hb digital. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data. Hasil: Dari 71 responden, sebanyak 47 orang (66,2%) mempunyai status gizi normal. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi paling banyak termasuk kategori cukup, yaitu 32 orang (45,1%), sedangkan konsumsi makanan sumber protein kategori cukup berjumlah 34 orang (47,9%). Berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, 62 responden (87,3%) berada pada kategori normal dan 9 responden (12,7%) mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,975), riwayat menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,193), frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000), serta frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Keamanan pangan merupakan upaya mencegah makanan dari
cemaran yang membahayakan kesehatan. Foodborne disease masih menjadi
masalah global, termasuk di Indonesia, seperti kasus keracunan di Kabupaten
Bekasi dan Cikarang. Hal ini menunjukkan jajanan masih berisiko kurang higienis.
Banyak pedagang mengabaikan higiene karena keterbatasan informasi, modal, dan
bimbingan, padahal pengetahuan serta sikap sangat berperan dalam menjaga
personal hygiene. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan
sikap keamanan pangan dengan personal hygiene pedagang jajanan di Desa Pasir
Gombong sebagai dasar edukasi dalam meningkatkan kualitas jajanan yang aman
bagi masyarakat. Subyek dan Metode : Pada penelitian ini menggunakan
rancangan analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di
Desa Pasir Gombong. Sampel sebanyak 50 orang, alat penelitian ini menggunakan
kuesioner. Uji statistik menggunakan Chi - Square untuk melihat hubungan variabel.
Hasil: Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue = 1,000 (˂0.05). Hal tersebut
menunjukkan tidak ada hubungan antara antara pengetahuan keamanan pangan
dengan personal hygiene. Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue = 0, 170 (˂0.05)
Hal tersebut menunjukkan tidak ada hubungan antara antara sikap keamanan
pangan dengan personal hygiene. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan
bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berusia dewasa madya,
berpendidikan tinggi, memiliki pengalaman berdagang yang cukup lama,
berpenghasilan menengah ke atas, serta sebagian besar belum pernah mengikuti
pelatihan keamanan pangan dan personal hygiene. Secara umum, responden
memiliki tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku personal hygiene yang tergolong
baik. Namun demikian, analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara pengetahuan maupun sikap keamanan pangan dengan
perilaku personal hygiene (p > 0,05).
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia pada remaja putri masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak pada perkembangan fisik, kognitif, serta produktivitas generasi muda. Mengingat pentingnya edukasi gizi sebagai strategi preventif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media permainan monopoli terhadap pengetahuan dan sikap pencegahan anemia. Metode: Desain penelitian ini menggunakan quasi-eksperimen dengan desain pretest-posttest control group. Penelitian ini dilakukan di SMAN 3 Cikarang Utara pada bulan Juni 2025. Sampel sebanyak 92 siswi yang dibagi ke dalam kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan edukasi gizi melalui permainan monopoli, sedangkan kelompok kontrol melalui metode ceramah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan (p =0,000) dan sikap (p = 0,000) pencegahan anemia sebelum dan sesudsh edukasi gizi melalui permainan monopoli dan metode ceramah. Kesimpulan: Edukasi gizi yang diberikan melalui media permainan monopoli dan metode ceramah menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan anemia pada remaja putri. Kedua metode tersebut efektif digunakan dalam menyampaikan informasi gizi, namun media permainan monopoli memberikan pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Rumah makan saat ini tidak hanya berhadapan dengan persaingan tetapi berhadapan
juga dengan konsumen yang keinginan dan kebutuhannya terpenuhi. Dalam usaha
rumah makan kebersihan serta kualitas pelayanan termasuk faktor yang berpengaruh
terhadap kepuasan konsumen. Penelitian ini dilakukan di Rumah Makan Lestari
H.Shomad. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang berkunjung
ke Rumah Makan Lestari H. Shomad. Instrumen penelitian ini dilakukan dengan
sampel 100 responden yang diberikan kuesioner berisi 15 pertanyaan dari indikator
kualitas pelayanan dan kepuasan konsumen, sedangkan Hygiene Sanitasi dilakukan
dengan wawancara menggunakan lembar observasi. Penelitian ini merupakan
penelitian analitik dengan desain cross sectional dan cara pengambilan sampel
dengan metode sampling incidental/ Accidental sampling. Berdasarkan hasil
observasi hygiene sanitasi didapatkan jumlah skor 733 yang berarti mutu C (Cukup).
Sedangkan dari hasil dan pembahasan terkait kualitas pelayanan dan kepuasan
konsumen maka dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap
Rumah Makan H. Shomad dengan 100 responden adanya hubungan antara kualitas
pelayanan dan kepuasan konsumen dengan hasil p-value uji chi square 0.000.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Kemasan pangan merupakan salah satu faktor penting dalam industri makanan karena kemasan pangan dapat melindungi makanan dari kontaminasi dan supaya produk tidak rusak atau berubah bantuk. Subyek dan Metode: Kuesioner digunakan bersama dengan teknik analisis data univariat dan bivariat. Desain penelitian adalah cross-sectional, lokasi penelitian di Desa Pasir Gombong, Cikarang Utara, populasi penelitian adalah pedagang makanan hangat, dan metode yang digunakan adalah teknik non-probabilitas dengan teknik propositional sampling. Variabel dependen adalah perilaku pedagang, dan variabel independen adalah pendidikan, pendapatan, dan pengetahuan Hasil: Dengan menggunakan hasil uji statistik, menunjukan bahwa tidak ada korelasi signifikan antara pendapatan dengan perilaku (nilai p 1,572 > 0,05), tidak ada korelasi signifikan antara pendidikan dengan perilaku (nilai p 0,068 > 0,05), dan tidak ada korelasi signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (nilai p 6,947 > 0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pendidikan, pendapatan, pengetahuan dengan perilaku penggunaan plastik pada makanan panas.