Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Nur Fauzia Asmi

7 karya publik ditemukan.

2026: 12025: 12024: 5

Hubungan Body Image dengan Frekuensi Konsumsi Minuman Manis, Sayur dan Buah pada Remaja Putri SMAN 1 Cikarang Selatan

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Remaja Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi remaja putri usia 16–18 tahun di Jawa Barat yang sangat kurus 1,9%, kurus 6,3%, gemuk 8,9%, dan obesitas 4,2%. Di Kabupaten Bekasi, data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi sangat kurus 3,80%, kurus 10,45%, gemuk 9,06%, dan obesitas 4,11%. Selain itu, 47,5% penduduk masih rutin mengonsumsi minuman manis dan 96,7% kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran. Faktor psikologis seperti body image turut meningkatkan risiko masalah gizi ganda pada remaja putri. Tujuan Penelitian : mengetahui hubungan antara body image dengan frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah pada remaja putri di SMAN 1 Cikarang Selatan. Metode Penelitian : penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan teknik quota sampling pada 81 siswi kelas XI. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Responden memiliki body image positif (80,2%) dan negatif (19,8%). Frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah sebagian besar tergolong jarang. Terdapat hubungan signifikan antara body image dengan konsumsi minuman manis (p<0,001) dan sayur (p=0,027), namun tidak dengan konsumsi buah (p=0,869). Kesimpulan dan Saran : Body image berhubungan dengan pola konsumsi minuman manis dan sayur pada remaja putri. Disarankan pihak sekolah dapat mendorong ketersediaan pilihan minuman rendah gula dan menu sayur serta buah yang lebih beragam dan menarik di kantin sekolah

Hubungan Konsumsi Protein, Aktivitas Fisik dan Ketahanan Pangan Keluarga Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Hemoglobin berperan penting dalam transportasi oksigen ke seluruh tubuh. Penurunan kadar hemoglobin dapat mengakibatkan defisiensi oksigen pada jaringan, yang berpotensi menyebabkan anemia. Anemia ditandai dengan gejala seperti kelelahan, pusing, dan penurunan konsentrasi, dan merupakan masalah kesehatan yang harus diselesaikan, terutama di kalangan remaja putri. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi protein, tingkat aktivitas fisik, dan ketahanan pangan keluarga dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 516 siswi berusia 15–18 tahun di SMAN 3 Cikarang Utara, dengan 92 siswi terpilih sebagai sampel melalui teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 siswi (35,9%) mengalami anemia dari total 92 siswi yang menjadi sampel penelitian. Selain itu, ditemukan 45 siswi (48,9%) memiliki asupan protein yang kurang, 39 siswi (42,4%) melakukan aktivitas fisik berat, dan 37 siswi (40,2%) berada dalam kategori rawan pangan. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi protein (p = 0,000), aktivitas fisik (p = 0,000), dan ketahanan pangan keluarga (p = 0,047) dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Saran : Disarankan agar instansi kesehatan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin secara rutin dan memberikan penyuluhan gizi secara berkala di sekolah-sekolah. Langkah ini penting untuk mendeteksi anemia secara dini serta meningkatkan pemahaman mengenai pola makan dan gaya hidup sehat.

Hubungan Kebiasaan Membawa Bekal dan Asupan Makanan Dengan Status Gizi Pada Remaja Putri di SMAN 1 Cikarang Selatan

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Usia sekolah adalah tahap kritis dimana kebutuhan energi dan zat gizi harus terpenuhi, karena mereka sedang dalam tahap tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan makanan berkualitas agar memenuhi kebutuhan gizi mereka selama di sekolah. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan membawa bekal dan asupan makanan dengan status gizi remaja putri. Subyek dan Metode Desain penelitian ini menggunakan kuantitatif pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Cikarang Selatan. Sampel sebanyak 50 orang diambil secara purposive sampling, alat penelitian ini menggunakan kuesioner, timbangan berat badan, microtoise, dan alat pengukur LiLA. Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menguji normalitas, dan uji Pearson untuk melihat hubungan variabel. Hasil: Berdasarkan uji statistik diperoleh bahwa adanya hubungan antara kebiasaan membawa bekal dengan status gizi yang signifikan berdasarkan IMT/U (pvalue=0,002), terdapat hubungan kebiasaan membawa bekal dengan status gizi berdasarkan %LiLA (0,000) dan tidak adanya hubungan antara asupan makanan dengan status gizi berdasarkan IMT/U (0,442), tidak di dapatkan hubungan antara asupan makanan dengan status gizi berdasarkan %LiLA (p-value=0,570). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan membawa bekal menurut IMT/U dan % Lila, perlu dilakukan edukasi terkait pentingnya membawa bekal ke sekolah dengan prinsip gizi seimbang atau sesuai konsep isi piringku.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Penggunaan Garam Beryodium Dalam Masakan Pada Rumah Tangga Desa Telaga Murni

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Secara nasional, konsumsi garam beryodium cukup adalah 62,3% dan di Provinsi Jawa Barat adalah 58,3%, Dibuktikan dengan prevalensi GAKY berdasarkan Riskesdas dan di Provinsi Jawa Barat saat ini adalah 58,3%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap penggunaan garam beryodium dalam menu makanan sehari hari pada ibu di wilayah Desa Telaga Murni. Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional yaitu jenis penelitian kuantitatif. Jumlah sampel sebanyak 88 responden. Tempat penelitian yaitu di Wilayah Desa telaga Murni. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menggambarkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan penggunaan garam beryodium nilai P-Value= 0,924. Hasil penelitian antara sikap dengan penggunaan garam beryodium terdapat hubungan yang signifikan dengan nilai P-Value = 0,020. Kesimpulan adanya hubungan sikap ibu dengan penggunaan garam beryodium. Saran yang diberikan kepada Ibu Rumah Tangga yaitu diharapkan memiliki pengetahuan yang cukup dalam memilih garam yang beryodium dan menghindari proses pengolahan makanan yang dapat mengurangi penurunan yodium pada garam.

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian Mpasi Pada Baduta Usia 6-24 Bulan di Wilayah Puskesmas Cikarang Kab. Bekasi

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Derajat kesehatan anak adalah masalah yang serius untuk setiap negara karena anak adalah generasi penerus bangsa di masa depan. Untuk meningkatkan derajat kesehatan anak maka perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan status gizi anak. Masalah gizi pada anak terjadi akibat ketidakseimbangan kebutuhan makanan atau gizi yang dikonsumsi dengan proses pencernaan, absorbsi, transportasi, penyimpanan dan metabolisme sehingga mempengaruhi energi yang dihasilkan. Oleh karena hal itu, ibu harus mengetahui dengan benar tentang MPASI dan bagaimana cara pemberian yang baik dan tepat untuk anak. Metode : Penelitian yang akan dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan purposive sampling. Sampel yang digunakan sebesar 64 responden yang memenuhi kriteria. Variabel independen terdiri dari pengetahuan dan sikap ibu serta variabel dependennya adalah perilaku ibu dalam pemberian MPASI. Analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil : Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu dalam pemberian MPASI pada baduta usia 6-24 bulan (p >0,05) Kesimpulan dan saran : Tidak terdapat hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu dalam pemberian MPASI pada baduta usia 6-24 bulan. Diharapkan dapat terus memberikan penyuluhan terkait cara pemberian MPASI yang baik dan benar untuk baduta usia 6-24 bulan.

Faktor-faktor yang Berhubungan Tentang Tingkat Pengetahuan Dengan Hygiene Sanitasi Penjamah Makanan Pada Warung Makan di Cikarang Baru

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Makanan merupakan kebutuhan hidup yang paling utama dan berpotentsi terkontaminasi bakteri pantogen. Faktor yang mempengaruhi kualitas makanan adalah penjamah makanan yang masih belum sadar tentang pengetahuan, dan tidak semua rumah makan memenuhi syarat hygiene sanitasi makanan yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan antara tingkat pengetahuan dengan hygiene sanitasi penjamah makanan pada warung makan di wilayah Cikarang Baru. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan bulan Maret-Juni 2023 di Cikarang Baru. Jumlah sampel penelian ini sebanyak 66 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Analisis sampel data terdiri dari analisis univariat dan bivariat menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hygiene sanitasi penjamah makanan dalam kategori bersih (93,9%), dan memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik (51,5%). Karakteristik pada penjamah makanan sebagian besar di usia >35 tahun (53,0%), berjenis kelamin perempuan (62,1%), sebagian besar berpendidikan tinggi (71,2%), dan sebagian besar lama kerja <5 tahun (43%). Hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan hygiene sanitasi penjamah makanan dengan nilai p-value (1,000). Kesimpulan pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan hygiene sanitasi penjamahan makanan pada warung makan. Saran pada penelitian ini adalah perlu dilakukannya kegiatan pelatihan mengenai hygiene sanitasi bagi penjamah makanan sehingga dapat menambah pengetahuannya tentang syarat kesehatan makanan khususnya bagi penjamah makanan.