BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Diare masih menjadi salah satu penyebab kesakitan pada balita dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengetahuan ibu, personal hygiene, sanitasi ling-kungan, dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Klinik Salsabila Husada Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sec-tional. Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih dari populasi 130 balita menggunakan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan data sekunder melalui buku KIA. Analisis dilakukan secara univariat dan bi-variat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p<0,001), personal hygiene (p<0,001), dan sanitasi lingkungan (p<0,001) dengan kejadian diare pada balita. Sementara itu, status gizi tidak berhubungan secara sig-nifikan dengan kejadian diare (p=0,873; OR=0,841; 95% CI=0,348–2,034). Kes-impulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu, personal hygiene, dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Upaya pencegahan perlu diarahkan pada peningkatan edukasi ibu, penerapan PHBS, serta perbaikan sanitasi lingkungan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di RS Permata Bekasi periode 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan data rekam medis pasien anak rawat inap dengan diare. Evaluasi kualitatif dilakukan menggunakan metode Gyssens, sedangkan evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), sedangkan kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Gyssens, jumlah antibiotik, maupun ATC/DDD dengan lama rawat inap maupun outcome klinis (p>0,05). Disimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap maupun outcome klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak-anak di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dengan keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai. Kondisi ini berdampak negatif tidak hanya pada kualitas hidup anak tetapi juga pada beban ekonomi dan sosial keluarga serta masyarakat. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Jayabakti, Kecamatan Cabangbungin pada tahun 2025. Metode penelitian : analitik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 57 responden ibu dengan anak balita. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada ibu kemudian dilakukan analisis menggunakan uji chi-square dan Odds Ratio (OR) untuk mengetahui hubungan dan kekuatan pengaruh antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 (47,4%) anak balita mengalami diare, hampir seluruh responden 38 (66,7%) memiliki pengetahuan kurang tentnag diare, hampir sebagian dari responden 28 (49,1%) memiliki lingkungan tidak bersih dan hampir sebagian responden 21 (36,8%) mengkonsumsi makanan tidak layak. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak (p = 0,000; OR = 1,11), kondisi lingkungan yang kurang sehat (p = 0,002; OR = 2,25), serta kelayakan makanan yang dikonsumsi anak (p = 0,000; OR = 3,79). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan, kondisi lingkungan, dan makanan dengan kejadian diare.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada balita karena dapat menyebabkan dehidrasi hingga kematian apabila tidak ditangani dengan tepat. Penggunaan obat herbal sebagai terapi komplementer menjadi alternatif yang aman dan murah, salah satunya adalah sari daun jambu biji yang diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan saponin dengan efek antidiare. Tujuan Mengetahui pengaruh pemberian sari daun jambu biji terhadap penurunan frekuensi diare pada balita. Metode Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 30 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui observasi frekuensi diare sebelum dan sesudah pemberian sari daun jambu biji. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil Sebelum intervensi, mayoritas balita mengalami diare dengan frekuensi 4–5 kali/hari (73,3%). Setelah pemberian sari daun jambu biji selama 3 hari, terjadi penurunan frekuensi, di mana sebagian besar balita hanya mengalami diare 1–2 kali/hari (46,7%). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,878 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara frekuensi diare sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan Pemberian sari daun jambu biji efektif menurunkan frekuensi diare pada balita. Sari daun jambu biji dapat dijadikan sebagai terapi komplementer yang aman, murah, dan mudah diaplikasikan untuk membantu penanganan diare.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak,
khususnya di negara berkembang, yang memerlukan penanganan tepat dan efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan gambaran pengobatan pasien
diare anak rawat inap di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2024. Desain penelitian
menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengambilan data sekunder
dari rekam medis dan billing pasien. Sampel penelitian mencakup seluruh pasien
anak yang didiagnosis diare dan menjalani perawatan inap pada periode Januari–
Desember 2024, dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara univariat
untuk distribusi karakteristik pasien, jenis terapi, dan komponen biaya, serta
bivariat untuk melihat hubungan antara jenis terapi dengan total biaya pengobatan.
Hasil penelitian menunjukkan variasi jenis terapi meliputi terapi farmakologis
(antibiotik, probiotik, suplemen) dan non-farmakologis (rehidrasi oral/intravena).
Komponen biaya terbesar berasal dari biaya obat dan rawat inap. Analisis bivariat
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis terapi tertentu dengan total
biaya pengobatan (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemilihan
terapi yang tepat tidak hanya berpengaruh terhadap efektivitas klinis, tetapi juga
dapat mempengaruhi efisiensi biaya, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam
kebijakan pengobatan rasional di rumah sakit.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diare pada anak usia 6-24 bulan sering disebabkan oleh kurangnya higienitas dalam perawatan botol susu. Diare menjadi masalah kesehatan global dengan angka kematian balita 11% per tahun, terutama usia 6–24 bulan. Di Indonesia, diare penyebab kematian kedua pada balita (5,8%) setelah pneumonia (12,5%) dengan prevalensi tertinggi pada usia 6–11 bulan (21,65%). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh perawatan botol susu terhadap peningkatan pengetauan orang tua terhadap pencegahan diare berulang pada anak 6–24 bulan. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain quasi-experiment dengan metode pendekatan pre-test dan post-test untuk mengukur pengaruh edukasi perawatan botol susu terhadap pencegahan diare berulang pada anak usia 6–24 bulan. Uji wilcoxon digunakan untuk analisis data, dengan populasi sebanyak 68 responden. Sampel dipilih menggunakan teknik non probaliti : purposive sampling berdasarkan kriteria yang ditetapkan peneliti sebanyak 58 sampel. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah edukasi (p = 0.000), yang berarti edukasi perawatan botol susu efektif meningkatkan pengetahuan orang tua. Saran: Pentingnya perawatan botol susu untuk mencegah diare pada anak toddler, dengan menjaga kesehatan yang optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang : Diare pada anak usia 6-24 bulan sering disebabkan oleh kurangnya higienitas dalam perawatan botol susu. Diare menjadi masalah kesehatan global dengan angka kematian balita 11% per tahun, terutama usia 6–24 bulan. Di Indonesia, diare penyebab kematian kedua pada balita (5,8%) setelah pneumonia (12,5%) dengan prevalensi tertinggi pada usia 6–11 bulan (21,65%). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh perawatan botol susu terhadap peningkatan pengetauan orang tua terhadap pencegahan diare berulang pada anak 6–24 bulan. Penelitian ini kuantitatif menggunakan desain quasi-experiment dengan metode pendekatan pre-test dan post-test untuk mengukur pengaruh edukasi perawatan botol susu terhadap pencegahan diare berulang pada anak usia 6–24 bulan. Wilcoxon test digunakan untuk analisis data, dengan populasi sebanyak 68 responden. Sampel dipilih menggunakan teknik non probaliti : purposive sampling berdasarkan kriteria yang ditetapkan peneliti sebanyak 58 sampel. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah edukasi (p = 0.000), yang berarti edukasi efektif meningkatkan pengetahuan orang tua. Saran: Pentingnya perawatan botol susu untuk mencegah diare pada anak toddler, dengan menjaga kesehatan yang optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang : Diare pada anak usia 6-24 bulan sering disebabkan oleh kurangnya higienitas dalam perawatan botol susu. Diare menjadi masalah kesehatan global dengan angka kematian balita 11% per tahun, terutama usia 6–24 bulan. Di Indonesia, diare penyebab kematian kedua pada balita (5,8%) setelah pneumonia (12,5%) dengan prevalensi tertinggi pada usia 6–11 bulan (21,65%). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh perawatan botol susu terhadap peningkatan pengetauan orang tua terhadap pencegahan diare berulang pada anak 6–24 bulan. Penelitian ini kuantitatif menggunakan desain quasi-experiment dengan metode pendekatan pre-test dan post-test untuk mengukur pengaruh edukasi perawatan botol susu terhadap pencegahan diare berulang pada anak usia 6–24 bulan. Wilcoxon test digunakan untuk analisis data, dengan populasi sebanyak 68 responden. Sampel dipilih menggunakan teknik non probaliti : purposive sampling berdasarkan kriteria yang ditetapkan peneliti sebanyak 58 sampel. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah edukasi (p = 0.000), yang berarti edukasi efektif meningkatkan pengetahuan orang tua. Saran: Pentingnya perawatan botol susu untuk mencegah diare pada anak toddler, dengan menjaga kesehatan yang optimal.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Di seluruh dunia, antibiotik adalah obat yang paling sering digunakan,
dengan 20-26% di antaranya disalahgunakan. Sangat penting untuk memilih antibiotik secara
hati-hati untuk pengobatan diare pada anak-anak, dengan mempertimbangkan faktor-faktor
seperti dosis, cara pemberian, dan lama pengobatan. Dengan menggunakan pendekatan
Gyssens dan metode DDD (Definied Daily Dose), penelitian ini bermaksud untuk menilai
penggunaan antibiotik pada gangguan diare pada anak di instalasi rawat inap rumah sakit X
pada tahun 2023. Metode Penelitian: Penelitian observasional dengan rancangan crosssectional
bersifat retrospektif dengan menggunakan metode non-eksperimental digunakan
dalam penelitian ini. Pengambilan sampel secara purposif digunakan untuk memilih 155
pasien anak dengan diare yang dirawat di rumah sakit X pada tahun 2023. Rekam medis pasien
menyediakan data, yang kemudian diperiksa menggunakan uji Chi-square non-parametrik. Hasil: Berdasarkan demografi pasien anak yang didiagnosis diare di rumah sakit X pada tahun
2023, terdapat lebih banyak pasien laki-laki dibandingkan pasien perempuan - 82 (52,9%) dan
111 (71,6%) pasien berada pada rentang usia tertinggi, yaitu antara usia 1-4 tahun. Sefotaksim
adalah jenis antibiotik yang paling sering digunakan untuk pasien diare anak (61 pasien,
39,4%), dan 155 pasien (100%) memiliki hasil klinis dipulangkan atau sembuh dari diare
anak. Ketika pasien diare remaja diberikan antibiotik dengan menggunakan pendekatan
Gyssens, sebanyak 68 obat (41,3%) dikategorikan sebagai kategori 0, dan ketika antibiotik
diberikan dengan menggunakan metode ATC/DDD, seftriakson adalah antibiotik yang paling
sering digunakan. Kesimpulan: Uji statistik dengan nilai p-value 0,000 <0,05 didapatkan
hubungan antara kualitas penggunaan antibiotik yang ditentukan oleh metode Gyssens dan
metode ATC/DDD dalam kaitannya dengan hasil klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kurangnya higiene sanitasi pada ibu dapat menyebabkan munculnya risiko diare pada anak, sehingga diperlukan perhatian khusus terkait higiene sanitasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik dan higiene sanitasi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) ibu dengan kejadian diare anak 6-24 bulan di Puskesmas Cikarang.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendekatan deskriptif non-eksperimen dengan desain penelitian ini adalah cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan cara purposive sampling. Besar sampel 64 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen penelitian adalah karaktersitik ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga) dan higiene sanitasi, sedangkan variabel dependen adalah kejadian diare. Jenis data yang digunakan kuantitatif. Pengumpulan data primer dilakukan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji statistik Chi-square.
Hasil: Terdapat hubungan antara pendidikan ibu dan pendapatan keluarga dengan kejadian diare (p <0,05 ). Tidak terdapat hubungan antara usia ibu dan pekerjaan ibu dengan kejadian diare (p >0,05). Tidak terdapat hubungan antara higiene sanitasi MP-ASI dengan kejadian diare (p >0,05)
Kesimpulan dan Saran: Pendidikan ibu dan pendapatan keluarga secara signifikan berhubungan dengan kejadian diare pada anak. Diharapkan kepada petugas kesehatan memberikan penyuluhaan terkait higiene sanitasi pembuatan MP-ASI. Penyuluhan ini bermanfaat agar ibu tetap menjaga menjaga kebersihan dalam upacya mencegah diare pada anak.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan buang air besar dengan konsistensi dalam bentuk cair atau mencret
sebanyak 3 kali dan bisa lebih dalam satu hari. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran
kejadian diare pada balita di Puskesmas Mekarmukti Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten
Bekasi, tahun 2020. Tujuan pengambilan judul tersebut dikarenakan kasus diare pada balita masih
sangat tinggi oleh karena itu penulis ingin meneliti kasus tersebut.
Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah deskritif. Populasi dalam
penelitian ini adalah bayi yang terkena diare, yang berada di Puskesmas Mekarmukti Cikarang,
Kabupaten Bekasi tahun 2020 sebanyak 102 pasien balita teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik Random Sampling dengan jumlah 81 sampel. Pengumpulan data
menggunakan sekunder. Variabel penelitian terdiri dari independen yang terdiri dari sosial
ekonomi, umur balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu sedangkan variabel dependen yaitu kejadian
diare pada balita. Analisa data yang digunakan adalah univariat dan tabel crosstab yang bertujuan
untuk mengetahui distribusi frekuensi di setiap variabel.
Hasil penelitian ini menunjukkan pada balita dengan pendapatan rendah sebanyak 81,5%
pada balita dengan umur beresiko sebanyak 90,1% pada ibu balita dengan pendidikan rendah
sebanyak 61,7% pada ibu yang bekerja sebanyak 42% dari hasil penelitian 4 variabel independen
tidak ada kesenjangan dengan teori.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini dapat mengetahui distribusi frekuensi gambaran
kejadian diare pada balita yang mengalami diare sebanyak 49 balita dan balita yang tidak diare
sebanyak 32 balita di Puskesmas Mekarmukti Cikarang, Kabupaten Bekasi, tahun 2020. Saran
dapat meningkatkan pola hidup sehat pada balita dengan cara menjaga kesehatan tubuh dengan
mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan,
olahraga teratur, istirahat yang cukup, diharapkan juga mencari informasi untuk menambah
pengetahuan tentang kesehatan selain di sekolah dapat juga melalui internet atau membaca buku
referensi tentang menjaga pola hidup sehat
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, dengan konsisten feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah. Hal ini karena secara fisiologis sistem pencernaan pada balita belum cukup matur (organ-organnya belum matang), sehingga rentan sekali terkena penyakit saluran pencernaan. Penyakit saluran pencernaan ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan amoeba atau parasit melalui makanan yang masuk ke dalam tubuh dan juga mal absorpsi serta alergi zat makanan tertentu. Gejala penyerta lain dari diare pada anak balita biasanya ditandai dengan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan menurun sampai tidak ada nafsu makan. Muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare karena lambung turut meradang akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak khususnya terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2013 menyebutkan angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Selama tahun 2010, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mencatat angka penderita diare 168.072 orang. Jumlah kematian akibat penyakit diare enam orang. Penderita diare di Kabupaten Bekasi dengan jumlah 38.012 orang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik desain Cross Sectional. Penelitian dilaksanankan di Puskesmas Tambelang, sedangkan proses pengumpulan data dilaksanakan selama bulan Januari – oktober 2017, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang datang ke Puskesmas Tambelang dan sampelnya dihitung dengan cara mengambil seluruh populasi. Sumber data yang diambil dari hasil kuesioner, dimana data tersebut didapat dengan menemui seluruh balita yang datang ke Puskesmas Tambelang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan pendekatan Accidental Sampling
Hasil penelitian ini menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: ada hubungan antara variabel umur dengan PV: 0,001 dan OR 6,417, status gizi dengan PV: 0,015 dan OR 4,047,cara pemberian makan dengan PV: 0,001 dan OR 6,182 kebiasaan orang tua mencuci tangan dengan PV: 0,008 dan OR 4,971, penghasilan dengan PV: 0,031 dan OR 3,537, sumber air dengan PV: 0,018 dan OR 4,333
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah semua variabel independen yang meliputi umur, status gizi, penghasilan, kebiasaan orang tua mencuci tangan, sumber air ada hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Saran dalam penelitian ini adalah agar menambah pengetahuan dengan cara mencari informasi yang tidak didapatkan dari sekolah melalui internet maupun buku referensi. Meningkatkan pola hidup sehat dan menjaga kesehatan dengan cara lebih membiasakan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Diare, yaitu frekuensi yang abnormal dan konsistensi tinja yang lebih cair.
Diare merupakan penyebab utama morbiditas dan merupakan penyakit yang umum terjadi pada
anak diberbagai negara.
Tujuan Penelitian : untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat
pengetahuan ibu dalam merawat anak usia toddler dengan diare di ruang anak Carnation
Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2018.
Metode : menggunakan quasi eksperimen Pre dan Post Test Penkes. Populasi pada penelitian ini
adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia toddler dengan diare yang sedang menjalani
perawatan di Ruang Anak Carnation RS Sentra Medika Cikarang sebanyak 20 orang. Sempel
dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Cara pengambilan sempel dengan
cara menetapkan ciri-ciri khususyang sesuai dengan tujuan penelitian. Pengambilan data
dilakukan dengan memberikan menggunakan kuesioner kepada responden yang sesuai dengan
ketentuan.Analisa data yang digunakan adalah analisa bivariate berupauji paired t test dengan
nilai α < 0,05.
Hasil Penelitian : menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan
sebelum dengan sesudah tindakan pendidikan kesehatan tentang merawat anak usia toddler
dengan diare. Dapat dilihat dari hasil uji data paired t test dengan nilai p value = 0,000.
Kesimpulan : ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam
merawat anak usia toddler dengan diare di ruang anak carnation RS Sentra Medika
Cikarang tahun 2018.