ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS Skripsi, Oktober 2023 Nama: Hanisah Oktavianie Nim: 020319617 HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN KECEMASAN ANAK YANG MENGALAMI MENARCHE DI SDN CIKARANG KOTA 02 ABSTRAK Latar Belakang: Berbagai macam gangguan dan gangguan baik secara langsung maupun tidak langsung, yang terjadi kepada anak saat mengalami menarche yang dapat mempengaruhi kondisi fisik atau psikologis anak. Orang tua melalui peran aktifnya dalam hal memberi akan pemahaman terkait menarche bahwa hal yang terbilang pertama kali untuk seorang anak remaja. sebagai seorang ibu sekaligus orang tua secara lebih dini harus memberikan penjelasan tentang menarche pada anak perempuannya, supaya anak lebih mengerti dan akan siap dalam menghadapi menarche. Tujuan: Mengidentifikasi hubungan dukungan orang tua dengan kecemasan anak yang mengalami menarche pada siswi di SDN Cikarang Kota 02. Metodologi: Penelitia analisis kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 41siswi SD Negeri Cikarang Kota 02. Variabel pada penelitian ini adalah dukungan orang tua dan kecemasan anak. Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Hasil: responden yang mendapat dukungan orang tua dengan kecemasan ringan 50,0%. Responden yang mendapat dukunga orang tua dengan kecemasan sedang 10,0%. Responden yang mendapat dukungan orang tua dengan kecemasan berat 40,0%. Responden yang tidak mendapat dukungan orang tua dengan kecemasan ringan 47,6%. Responden yang tidak mendapat dukungan orang tua dengan kecemasan sedang 52,4%. Hasil statistik antara dukungan orang tua dengan kecemasan anak (P=0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan orang tua dengan kecemasan anak yang mengalami menarche di SDN Cikarang Kota 02. Saran: bagi responden diharapkan agar lebih meningkatkan komunikasi dengan orang tua terkait dengan perubahan-perubahan yang dapat terjadi pada wanita salah satunya menarche. Kata Kunci: Dukungan orang tua, kecemasan anak dan menarche.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kekerasan sering terjadi saat ini, khususnya kekerasan seksual, dimana disepanjang 3 tahun ini tidak adanya penurunan. Pada bulan januari-oktober 2021 komnas perempuan menerima aduan sebanyak 4.500 kekerasan seksual, angka ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2020. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui Peran P2TP2A terhadap kasus kekerasan seksual di Kabupaten Karawang. Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling, teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan data primer yaitu terdiri atas informan kunci, informan inti dan informan tambahan dan data sekunder dengan subjek penelitian berjummlah 6 orang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik deskriptif analitif. terdiri dari pengumpulan data, penyederhanaan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi data. Hasil penelitian peran P2TP2A Kabupaten Karawang dalam menangani kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak yaitu melakukan pelaporan, penanganan, pendampingan, memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dari klien serta membantu pemerintah dalam perlindungan perempuan dan anak.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis yang membutuhkan pengobatan antiepilepsi dalam jangka panjang. Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh kepatuhan, pengetahuan dan motivasi anak dalam mengonsumsi obat sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan motivasi anak usia 9–15 tahun dengan kepatuhan minum obat antiepilepsi di Poli Neurologi Anak RS Sentra Medika Cibinong. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 54 responden anak usia 9–15 tahun yang menjalani terapi obat antiepilepsi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis bivariat dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan 24 responden (44,4%) memiliki pengetahuan baik, 26 responden (48,1%) memiliki motivasi sedang, dan 23 responden (42,6%) berada dalam kategori patuh. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat dengan nilai p=0,007 dan rho=0,365, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan lemah. Terdapat hubungan signifikan antara motivasi dengan kepatuhan dengan nilai p<0,001 dan rho=0,476, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang. Kesimpulannya, pengetahuan dan motivasi berhubungan dengan kepatuhan minum obat antiepilepsi pada anak usia 9–15 tahun.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Thalasemia merupakan kelainan darah genetik yang menyebabkan gangguan pembentukan hemoglobin, anemia kronis, dan membutuhkan transfusi darah secara berkala. Perawatan anak thalasemia juga memerlukan peran ibu di rumah, sehingga pengetahuan ibu penting dalam mendukung perawatan yang tepat
Tujuan : Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu
terhadap perawatan di rumah pada anak thalasemia di Ruang One Day Care
(ODC) Thalasemia Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2026.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 67 responden dari 80 populasi, yaitu ibu yang memiliki anak penderita thalasemia berusia 1–10 tahun dan menjalani transfusi darah secara terjadwal di Ruang One Day Care (ODC) Thalasemia Rumah Sakit Sentra Medika
Cibinong. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank, diperoleh nilai koefisien korelasi 0,353 dengan P-Value = 0,003 (P< 0,05), sehingga Ha diterima yang berarti terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perawatan di rumah pada anak thalasemia.
Kesimpulan : Dari hasil penelitian, analisis data dan pembahasan maka tujuan penelitian telah terjawab, yakni terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perawatan di rumah pada anak thalasemia di Ruang One Day Care (ODC) Thalasemia Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2026. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong dalam upaya memberikan edukasi kepada ibu mengenai pentingnya pengetahuan dalam melaksanakan perawatan anak thalasemia di rumah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di RS Permata Bekasi periode 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan data rekam medis pasien anak rawat inap dengan diare. Evaluasi kualitatif dilakukan menggunakan metode Gyssens, sedangkan evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), sedangkan kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Gyssens, jumlah antibiotik, maupun ATC/DDD dengan lama rawat inap maupun outcome klinis (p>0,05). Disimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap maupun outcome klinis.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang :Masalah kurang nafsu makan pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan yang sering dihadapi, terutama pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Menurut teori Pengobatan Tradisional China (TCM), limpa berperan vital dalam proses pencernaan dan transportasi sari makanan. Defisiensi Qi Limpa menyebabkan gangguan fungsi transportasi dan transformasi limpa, yang bermanifestasi sebagai penurunan nafsu makan, rasa cepat kenyang, perut kembung, dan gangguan pertumbuhan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada status gizi, daya tahan tubuh, dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Tujuan : Berbagai upaya non-farmakologis telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah terapi pijat Tuina pediatrik. Tuina merupakan teknik pemijatan yang menstimulasi titik-titik meridian untuk melancarkan peredaran darah dan memperbaiki fungsi pencernaan pada limpa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Tuina pediatrik dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental One Group Pretest-Posttest, yaitu mengukur nafsu makan anak sebelum dan sesudah pemberian intervensi Tuina. Sampel penelitian adalah anak-anak yang didiagnosis mengalami sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
Intervensi Tuina pediatrik diberikan selama beberapa sesi dengan durasi 10–15 menit setiap kali perawatan, dengan menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, seperti titik limpa), titik lambung, dan titik-titik lainnya yang berfungsi memperkuat limpa dan meningkatkan nafsu makan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner penilaian nafsu makan yang telah tervalidasi, diisi sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak terdistribusi normal.
Hasil :Penelitian menunjukkan adanya peningkatan nafsu makan yang signifikan pada anak setelah diberikan intervensi Tuina pediatrik. Rata-rata skor nafsu makan meningkat dari kategori cukup pada pretest menjadi kategori baik pada posttest. Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan nilai *p* = 0,003 (*p* < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan dari pijat Tuina terhadap peningkatan nafsu makan anak. Secara fisiologis, stimulasi titik meridian pada terapi Tuina meningkatkan gerakan peristaltik usus, mempercepat proses pengosongan lambung, serta mengoptimalkan sirkulasi darah dan fungsi organ pencernaan untuk penyerapan nutrisi yang lebih baik.
Kesimpulan: Pijat Tuina pediatrik terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Terapi ini mampu menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, sehingga memperbaiki fungsi transportasi dan transformasi limpa yang terganggu.
Implikasi: Tuina pediatrik dapat direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis yang aman, efektif, dan tanpa efek samping untuk mengatasi masalah kurang nafsu makan pada anak dengan defisiensi Qi Limpa. Griya Sehat Rauhiyyah dan fasilitas kesehatan lainnya dapat mengadopsi terapi ini sebagai bagian dari pelayanan komprehensif untuk anak-anak dengan gangguan nafsu makan. Penelitian lebih lanjut dengan desain randomized controlled trial (RCT) dan jumlah sampel yang lebih besar disarankan untuk memperkuat bukti ilmiah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Demam merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi kombinasi Tuina pada titik LI 11 (Quchi), LI 4 (Hegu), dan GV 14 (Dazhui) dalam menurunkan suhu tubuh anak usia 10–16 tahun dengan hipertermia. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre–post test tanpa kelompok kontrol. Sampel penelitian berjumlah 30 anak yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi dilakukan selama ±10 menit (2 menit per titik dengan kecepatan 100–120 rotasi per menit), kemudian suhu tubuh diukur pada menit ke 15, ke 30, dan ke 60 pasca-intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, rata-rata suhu tubuh partisipan adalah 38,5°C dengan mayoritas berada pada rentang 38,0–38,4°C. Setelah intervensi, terjadi penurunan suhu tubuh yang signifikan dan progresif: 0,25°C pada menit ke 15, 0,60°C pada menit ke 30, dan 0,85°C pada menit ke 60. Mayoritas subjek mencapai suhu akhir 37,0–37,4°C yang mendekati normal. Uji Paired T-Test menghasilkan nilai p = 0,000 (< 0,05) pada seluruh perbandingan, menandakan adanya perbedaan signifikan antara suhu tubuh sebelum dan sesudah intervensi. Secara fisiologis, stimulasi titik Tuina ini bekerja melalui mekanisme neuroimunologis dengan menurunkan sitokin pro inflamasi, meningkatkan vasodilatasi, dan menginduksi diaforesis. Kesimpulannya, kombinasi Tuina pada titik LI 11, LI 4, dan GV 14 terbukti efektif, aman, dan dapat dijadikan terapi komplementer non farmakologis dalam pengelolaan hipertermia pada anak usia sekolah dan remaja. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan protokol terapi komplementer berbasis bukti di bidang Traditional Chinese Medicine (TCM) dan pelayanan kesehatan pediatri.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anak usia sekolah merupakan kelompok yang berada pada tahap
perkembangan penting, baik secara kognitif, sosial maupun emosional.
Perkembangan teknologi yang pesat telah mendorong meningkatnya penggunaan
smartphone pada anak usia sekolah. Smartphone tidak hanya digunakan sebagai
sarana komunikasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan hiburan. Namun,
penggunaan smartphone yang tidak terkontrol dikhawatirkan dapat menimbulkan
risiko kecanduan yang berpotensi berdampak pada kesehatan mental anak,
khususnya pada aspek psikososial seperti emosi, perilaku, dan interaksi sosial.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik
responden, tingkat kecanduan penggunaan smartphone, kondisi kesehatan mental,
serta menganalisis hubungan antara kecanduan penggunaan smartphone dengan
kesehatan mental pada anak usia sekolah di SDIT Al-Kamiliyyah. Metode
Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan
cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa/i kelas VI di SDIT AlKamiliyyah
dengan jumlah sampel 71 responden yang diambil menggunakan
teknik Total Sampling. Instrumen penelitian menggunakan Smartphone Addiction
Scale-Short Version (SAS-SV) untuk mengukur kecanduan penggunaan
smartphone dan Strenghts and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk menilai
kesehatan mental anak. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis
hubungan menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Hasil penelitian
menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 10 tahun (83,1%) dan berjenis
kelamin perempuan (50,7%). Tingkat kecanduan penggunaan smartphone sebagian
besar berada pada kategori rendah (59,2%). Kondisi kesehatan mental responden
yang paling banyak berada pada kategori borderline (56,3%) yang menunjukkan
adanya gejala emosional yang ringan hingga sedang. Uji Chi-Square menunjukkan
nilai p-value = 0,031 (p > 0,05) , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara
kecanduan penggunaan smartphone dengan kesehatan mental anak. Kesimpulan:
kecanduan pengunaan smartphone memiliki hubungan yang signifikan dengan
kesehatan mental pada anak usia sekolah di SDIT Al-Kamiliyyah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Thalassemia merupakan penyakit genetik kronis yang memerlukan
transfusi darah rutin seumur hidup dan dapat berdampak signifikan terhadap kualitas
hidup pasien anak. Dalam pengelolaannya, pengetahuan orang tua dan kepatuhan
terhadap transfusi darah berperan penting dalam mencegah komplikasi serta
meningkatkan kualitas hidup anak penderita thalasemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan orang tua dan kepatuhan transfusi darah
dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia di Sentra Medika Hospital
Cikarang tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel
penelitian adalah seluruh orang tua pasien anak penderita thalasemia yang melakukan
kontrol rutin di Unit Thalasemia sebanyak 51 responden, dengan teknik total sampling.
Data dikumpulkan menggunakan PedsQL versi 4.0 untuk mengukur kualitas hidup anak.
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat kuesioner pengetahuan orang tua,
kuesioner kepatuhan transfusi darah, dan instrumen menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan
orang tua dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia (p = 0,000), serta
terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas
hidup pasien anak penderita thalasemia (p = 0,000). Kesimpulan: Anak dengan orang tua
yang memiliki pengetahuan baik dan tingkat kepatuhan transfusi yang tinggi cenderung
memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Keterlambatan bicara (speech delay) adalah masalah
perkembangan yang umum pada anak prasekolah dan dapat berdampak pada
kemampuan komunikasi, sosial, dan akademik anak di masa depan. Pengetahuan
orang tua yang terbatas mengenai deteksi dini dan stimulasi bicara menjadi salah
satu faktor penghambat perkembangan bahasa anak. Tujuan: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media audio
visual terhadap pengetahuan orang tua tentang keterlambatan bicara (speech delay)
pada anak prasekolah di Posyandu Melati, Desa Sukadanau, Kabupaten
Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan
pendekatan one group pretest-posttest. Populasi penelitian adalah seluruh orang tua
yang memiliki anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Posyandu Melati 1 dan 2,
sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Intervensi yang diberikan adalah pendidikan kesehatan menggunakan video
animasi selama 10 menit. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan
yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan
uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan orang
tua setelah diberikan intervensi. Sebelum intervensi, sebagian besar responden
memiliki pengetahuan dalam kategori baik (46,7%) dan cukup (40,0%). Setelah
intervensi, seluruh responden (100%) mengalami peningkatan pengetahuan
menjadi kategori baik. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai Asymp. Sig. (2tailed)
sebesar 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan antara
pendidikan kesehatan dengan media audio visual terhadap peningkatan
pengetahuan orang tua tentang keterlambatan bicara (speech delay) pada anak
prasekolah. Media audiovisual efektif digunakan sebagai alat edukasi kesehatan di Posyandu.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penggunaan gadget pada anak sekolah dasar terus meningkat dan berpotensi memengaruhi perkembangan interaksi sosial serta kualitas tidur. Paparan gadget yang tidak terkontrol dapat menurunkan intensitas aktivitas sosial langsung dan mengganggu pola tidur, sehingga berdampak pada proses belajar, konsentrasi, dan perkembangan psikososial anak.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan gadget dengan interaksi sosial dan kualitas tidur pada anak sekolah di SD IT Insan Taqwa.
Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner durasi penggunaan gadget, kuesioner interaksi sosial anak sekolah, serta instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Responden adalah siswa sekolah dasar di SD IT Insan Taqwa yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji korelasi Spearman.
Kesimpulan: Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai keterkaitan antara durasi penggunaan gadget dengan interaksi sosial serta kualitas tidur anak sekolah, sehingga dapat dijadikan landasan dalam perencanaan upaya peningkatan kesadaran dan pencegahan, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anak dengan tunagrahita memiliki keterbatasan fungsi intelektual dan kemampuan menyesuaikan diri sehingga berdampak pada aktivitas hariannya termasuk dalam kemandirian makan. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut, anak memerlukan pendekatan dukungan keluarga dalam pendampingan pelatihan secara bertahap dan konsisten. Kurangnya dukungan keluarga menyebabkan anak akan ketergantungan pada orang lain dan kesulitan mencapai kemandirian dalam aktivitas makan. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian makan (eating activities) pada anak tunagrahita. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan Sampel ini menggunakan total sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas sehingga valid dan layak digunakan, kemudian dianalisis menggunakan Uji Chi-Square. Hasil: uji chi-square test diperoleh nilai p-value = 0.023 (p < 0.05), maka H0 ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Dukungan Keluarga Dengan Kemandirian Makan (Eating Activities) Pada Anak Tunagrahita. Kesimpulan: Semakin baik dukungan keluarga, maka semakin tinggi tingkat kemandirian makan pada anak tunagrahita. Oleh karena itu, perlunya keterlibatan langsung dari keluarga dalam membimbing pelatihan kemandirian anak untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kemandirian merupakan salah satu aspek penting dalam
perkembangan anak usia prasekolah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah
satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh yang tepat dapat membantu anak
mengembangkan kemampuan melakukan aktivitas secara mandiri sesuai tahap
perkembangannya. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang
tua dengan kemandirian anak prasekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan
desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 70 responden yang merupakan anak usia prasekolah
beserta orang tuanya. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Instrumen penelitian berupa kuesioner pola asuh orang tua yang dikategorikan
menjadi pola asuh otoriter dan demokratis serta kuesioner kemandirian anak yang
diklasifikasikan menjadi ketergantungan sedang, kemandirian sebagian, dan
kemandirian penuh. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat
menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis
sebanyak 54 responden (77,1%). Mayoritas anak memiliki tingkat kemandirian
penuh yaitu 39 anak (55,7%). Pada pola asuh otoriter, sebagian besar anak berada
pada kategori kemandirian sebagian (62,5%), sedangkan pada pola asuh demokratis
sebagian besar anak berada pada kategori kemandirian penuh (64,8%). Hasil uji
Chi-Square diperoleh nilai p-value sebesar 0,015 (p < 0,05), sehingga terdapat
hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak
prasekolah. Kesimpulan: penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh demokratis
cenderung meningkatkan tingkat kemandirian anak prasekolah dibandingkan pola
asuh otoriter. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat menerapkan pola asuh
yang mendukung perkembangan kemandirian anak sejak usia dini.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Sakit gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang
sering dialami anak usia sekolah dan dapat memengaruhi aktivitas belajar, konsentrasi, serta
kesejahteraan fisik dan emosional anak. Pemahaman mengenai pengalaman anak terhadap
sakit gigi penting untuk mengetahui bagaimana anak memaknai penyebab, dampak, serta cara
mereka mengatasi kondisi tersebut. Tujuan Penelitian: Menggali pengalaman siswa/i kelas V
dan VI terhadap penyebab sakit gigi di SD Negeri Sukarapih 01. Metode Penelitian: Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitian
adalah siswa/i kelas V dan VI yang pernah mengalami sakit gigi dan dipilih menggunakan
teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam
menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur. Analisis data dilakukan menggunakan
analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari pengalaman partisipan.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan enam tema utama, yaitu pengalaman sakit gigi
pada anak, pemahaman anak tentang penyebab sakit gigi, dampak sakit gigi terhadap aktivitas
sehari-hari, respon anak terhadap sakit gigi, upaya penanganan terhadap sakit gigi, dukungan
sosial terhadap harapan anak terkait kesehatan gigi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa
sakit gigi tidak hanya menimbulkan rasa nyeri secara fisik, tetapi juga berdampak pada
aktivitas belajar, kondisi emosional, serta kehidupan sehari-hari anak. Kesimpulan:
Pengalaman sakit gigi pada anak tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga memengaruhi
kondisi emosional, sosial, dan aktivitas belajar. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan
preventif melalui pendidikan kesehatan gigi di sekolah serta dukungan keluarga dalam
membentuk kebiasaan menjaga kesehatan gigi sejak dini
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Sindrom angin dingin merupakan gangguan kesehatan umum pada anak yang ditandai dengan batuk, hidung tersumbat, dan produksi dahak encer. Kencur (Shā Jiāng) sebagai herbal tradisional Tiongkok diketahui memiliki sifat hangat dan pedas yang berpotensi meredakan gejala tersebut.
Tujuan: Mengetahui efektivitas kencur dalam mengurangi frekuensi dan intensitas batuk pada anak dengan sindrom angin dingin berdasarkan parameter Traditional Tiongkok dan penilaian klinis. Metode: Penelitian menggunakan kuesioner observasional dengan skala penilaian frekuensi batuk (0-5) dan intensitas batuk (0-10). Partisipan terdiri dari 30 anak usia 2-12 tahun yang diberikan terapi kencur selama 7 hari. Data dianalisis secara deskriptif dan uji statistik parametrik. Hasil:Terdapat penurunan signifikan pada frekuensi batuk (rerata dari skala 4 menjadi 2) dan intensitas batuk (rerata dari skala 7 menjadi 3). Gejala penyerta seperti hidung tersumbat dan produksi dahak juga menunjukkan perbaikan. Tidak dilaporkan efek samping serius. Kesimpulan: Kencur efektif meredakan gejala batuk pada anak dengan sindrom angin dingin berdasarkan kriteria tradisional chinese medice. Penelitian lanjutan dengan desain lebih ketat dan sampel lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak-anak di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dengan keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai. Kondisi ini berdampak negatif tidak hanya pada kualitas hidup anak tetapi juga pada beban ekonomi dan sosial keluarga serta masyarakat. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Jayabakti, Kecamatan Cabangbungin pada tahun 2025. Metode penelitian : analitik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 57 responden ibu dengan anak balita. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada ibu kemudian dilakukan analisis menggunakan uji chi-square dan Odds Ratio (OR) untuk mengetahui hubungan dan kekuatan pengaruh antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 (47,4%) anak balita mengalami diare, hampir seluruh responden 38 (66,7%) memiliki pengetahuan kurang tentnag diare, hampir sebagian dari responden 28 (49,1%) memiliki lingkungan tidak bersih dan hampir sebagian responden 21 (36,8%) mengkonsumsi makanan tidak layak. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak (p = 0,000; OR = 1,11), kondisi lingkungan yang kurang sehat (p = 0,002; OR = 2,25), serta kelayakan makanan yang dikonsumsi anak (p = 0,000; OR = 3,79). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan, kondisi lingkungan, dan makanan dengan kejadian diare.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak,
khususnya di negara berkembang, yang memerlukan penanganan tepat dan efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan gambaran pengobatan pasien
diare anak rawat inap di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2024. Desain penelitian
menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengambilan data sekunder
dari rekam medis dan billing pasien. Sampel penelitian mencakup seluruh pasien
anak yang didiagnosis diare dan menjalani perawatan inap pada periode Januari–
Desember 2024, dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara univariat
untuk distribusi karakteristik pasien, jenis terapi, dan komponen biaya, serta
bivariat untuk melihat hubungan antara jenis terapi dengan total biaya pengobatan.
Hasil penelitian menunjukkan variasi jenis terapi meliputi terapi farmakologis
(antibiotik, probiotik, suplemen) dan non-farmakologis (rehidrasi oral/intravena).
Komponen biaya terbesar berasal dari biaya obat dan rawat inap. Analisis bivariat
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis terapi tertentu dengan total
biaya pengobatan (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemilihan
terapi yang tepat tidak hanya berpengaruh terhadap efektivitas klinis, tetapi juga
dapat mempengaruhi efisiensi biaya, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam
kebijakan pengobatan rasional di rumah sakit.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Obesitas pada anak menjadi masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat, termasuk di Indonesia. Ketidakseimbangan pola makan dan rendahnya aktivitas fisik berkontribusi terhadap penumpukan lemak tubuh. Kondisi ini berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial anak sehingga perlu dicegah melalui pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik sejak usia sekolah. Tujuan penelitian: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak SD Cikarang Kota Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Data didapatkan dengan pengukuran antropometri, pengisian kuesioner food frequency questionnaire (FFQ) dan kuesioner aktivitas fisik yang dipandu oleh peneliti. Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis dilakukan dengan uji Chi-Square menggunakan SPSS, penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Cikarang Kota Kabupaten Bekasi pada bulan Juni 2025. Hasil: Hasil penelitian dari total 43 anak menjadi sampel penelitian terdapat 30 anak (69,8%) mengalami obesitas. Selain itu, ditemukan 24 anak (55,8) dengan pola makan yang kurang, dan 26 anak (60,5%) memiliki aktivitas fisik yang baik. Hasil analisis statistik hubungan pola makan dengan obesitas (p-value 0,001) dan hubungan aktivitas fisik dengan obesitas (p-value 0,002). Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak SD Cikarang Kota Kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kenaikan Indeks Massa Tubuh (IMT) disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk melalui makanan dan energi yang dikeluarkan, yang akhirnya menyebabkan penumpukan energi dalam bentuk lemak. Kondisi ini dapat berujung pada obesitas atau peningkatan IMT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara IMT dan aktivitas fisik pada siswa di Sekolah Dasar Negeri Suka Asih 02, Ceger, Kabupaten Bekasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 40 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner aktivitas fisik (PAQ-C), dan dianalisis dengan Uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% responden masuk dalam kategori underweight, sementara 82,5% memiliki tingkat aktivitas fisik yang baik. Uji Spearman menghasilkan nilai p = 0,001, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan IMT dan memiliki hubungan korelasi rho yang cukup dengan nilai -0,496. Kesimpulan penelitian ini bahwa sebagian besar anak di SDN Suka Asih 02 tergolong underweight, meskipun aktivitas fisik mereka baik. Oleh karena itu, disarankan orang tua untuk memperhatikan pola makan dan mendorong aktivitas fisik anak, pendidik untuk mengedukasi siswa tentang kesehatan dan peneliti melakukan studi lebih lanjut dengan variabel dan responden yang lebih bervariasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak terhambat sehingga menyebabkan tinggi badan lebih rendah disandingkan dengan umurnya. WHO (2022) menyatakan 148,1 juta (22,3%) balita mengalami stunting. Prevalensi stunting tahun 2022 pada balita di Indonesia 21,6%, di Jawa Barat 20,2%, dan tahun 2024 di Posyandu Wilayah Puskemas Cikarang 3,6%. Pengetahuan seorang ibu mengenai stunting memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku yang mendukung pencegahan stunting dan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan perilaku pencegahannya di anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 99 ibu dengan anak usia 0-5 tahun, yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner guna mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan. Analisis data dilaksanakan menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dan upaya pencegahannya, bernilai p = 0,018 (p≤0,05) dan Odds Ratio 2,935. Temuan ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang.