Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

17 hasil
Subjek: Makanan
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Status Gizi, Riwayat Menstruasi, Konsumsi Makanan Sumber Zat Besi dan Protein dengan Kadar Hemoglobin Remaja Putri SMAN 3 Cikarang Utara

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status gizi, kondisi menstruasi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi dan protein. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 71 remaja putri. Penilaian status gizi dilakukan berdasarkan IMT/U, sedangkan informasi mengenai riwayat menstruasi diperoleh melalui kuesioner. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dan protein dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan alat Hb digital. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data. Hasil: Dari 71 responden, sebanyak 47 orang (66,2%) mempunyai status gizi normal. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi paling banyak termasuk kategori cukup, yaitu 32 orang (45,1%), sedangkan konsumsi makanan sumber protein kategori cukup berjumlah 34 orang (47,9%). Berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, 62 responden (87,3%) berada pada kategori normal dan 9 responden (12,7%) mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,975), riwayat menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,193), frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000), serta frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Gambaran Penerapan Prinsip-Prinsip Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Dalam Penyelenggaraan Makanan Lauk Hewani di Instalasi Gizi RS Sentra Medika Cibinong

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Penyelenggaraan makanan lauk hewani di rumah sakit berisiko tinggi kontaminasi, sehingga memerlukan sistem preventif seperti Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan meninjau kelayakan penerapan prinsip HACCP pada alur penyelenggaraan makanan lauk hewani di Instalasi Gizi RS Sentra Medika Cibinong. Metode : Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, populasi meliputi proses dan personel instalasi gizi, dengan sampel purposive informan kunci seperti kepala instalasi dan petugas pengolahan. Instrumen mencakup pedoman observasi, wawancara semi-terstruktur, dan checklist dokumen; analisis data tematik dengan triangulasi dan NVivo. Hasil : Hasil menunjukkan kelayakan tinggi HACCP di setiap tahap (penerimaan, penyimpanan, pengolahan, penyajian, distribusi) didukung SOP, fasilitas pendingin, dan pengawasan higiene, meski ada kendala pelatihan personel. Kesimpulan : Kesimpulan menyatakan RS Sentra Medika siap implementasi HACCP untuk tingkatkan keamanan pangan pasien rentan.

17 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Desa Jayabakti Kecamatan Cabangbungin Tahun 2025

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak-anak di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dengan keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai. Kondisi ini berdampak negatif tidak hanya pada kualitas hidup anak tetapi juga pada beban ekonomi dan sosial keluarga serta masyarakat. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Jayabakti, Kecamatan Cabangbungin pada tahun 2025. Metode penelitian : analitik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 57 responden ibu dengan anak balita. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada ibu kemudian dilakukan analisis menggunakan uji chi-square dan Odds Ratio (OR) untuk mengetahui hubungan dan kekuatan pengaruh antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 (47,4%) anak balita mengalami diare, hampir seluruh responden 38 (66,7%) memiliki pengetahuan kurang tentnag diare, hampir sebagian dari responden 28 (49,1%) memiliki lingkungan tidak bersih dan hampir sebagian responden 21 (36,8%) mengkonsumsi makanan tidak layak. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak (p = 0,000; OR = 1,11), kondisi lingkungan yang kurang sehat (p = 0,002; OR = 2,25), serta kelayakan makanan yang dikonsumsi anak (p = 0,000; OR = 3,79). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan, kondisi lingkungan, dan makanan dengan kejadian diare.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Berat Badan Balita Penderita Malnutrisi (Gan Zheng) Sindrom Defisiensi Limpa Dengan Stagnasi Makanan

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Malnutrisi pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Masalah ini berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan daya tahan tubuh anak. Malnutrisi merupakan kondisi ketidakseimbangan asupan zat gizi, yang secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu undernutrition (gizi kurang) dan overnutrition (gizi lebih). Undernutrition mencakup kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight, sedangkan overnutrition berkaitan dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Salah satu penyebab malnutrisi, terutama undernutrition, adalah gangguan fungsi sistem pencernaan. Dalam pandangan pengobatan tradisional Tiongkok, kondisi ini sering dikaitkan dengan sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan. Terapi Tui Na dapat digunakan untuk memperbaiki fungsi limpa dan meningkatkan berat badan balita pada penderita malnutrisi. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan berat badan pada balita penderita malnutrisi (Gan Zheng) sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, yaitu one group pre-post test design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan 20 partisipan berusia 1-5 tahun, yang diambil dari Panti Sehat NPJ, Kota Bekasi, Jawa Barat, selama periode Maret hingga Juli 2025. Terapi Tui Na dilakukan sebanyak 6 kali dalam waktu 2 minggu, dengan melakukan pengukuran berat badan sebelum dan setelah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil: Rata-rata berat badan partisipan sebelum intervensi adalah 11,285 kg (SD 1,859), meningkat menjadi 11,600 kg (SD 1,959) setelah intervensi, dengan selisih rata-rata sebesar 0,315 kg. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p-value = 0.000, yang berarti ada perbedaan signifikan antara berat badan sebelum dan setelah terapi Tui Na. Dengan demikian, H₀ ditolak dan H₁ diterima, hal ini menunjukkan bahwa terapi Tui Na memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan berat badan. Kesimpulan: Terapi Tui Na memberikan pengaruh terhadap peningkatan berat badan balita penderita malnutrisi (Gan Zheng) sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Konsumsi Telur Ayam Ras Rebus Terhadap Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil Dengan KEK di Wilayah Kerja Puskesmas Cipayung Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi Tahun 2025

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita hamil adalah isu kesehatan yang sangat penting di Indonesia. Angka prevalensinya mencapai 16,9% pada tahun 2023, dengan sebagian besar kejadian terjadi di Kabupaten Bekasi. KEK dapat menambah kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, termasuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Salah satu solusi untuk menangani KEK adalah melalui program gizi seperti pemberian makanan tambahan (PMT). Telur ayam yang direbus adalah sumber protein hewani yang kaya akan nutrisi dan dapat membantu meningkatkan berat badan ibu hamil yang mengalami KEK. Tujuan : Menganalisa pengaruh konsumsi telur ayam rebus terhadap peningkatan berat badan pada ibu hamil dengan KEK yang tinggal di Puskesmas Cipayung. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan studi quasi eksperimen One grup pre-post test Sampel terdiri dari 30 wanita hamil yang mengalami KEK, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan memberikan tiga butir telur ayam rebus setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji-t berpasangan. Hasil : Sebelum dilakukan intervensi, rata-rata berat badan wanita hamil tercatat 46,28 kg. Setelah mengonsumsi telur ayam rebus selama 14 hari, berat badan rata-rata meningkat menjadi 47,33 kg. Uji tersebut menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan konsumsi telur ayam rebus terhadap pertambahan berat badan pada ibu hamil dengan KEK. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengaruh positif protein hewani dari telur terhadap status gizi ibu hamil. Kesimpulan : Konsumsi telur ayam rebus dapat meningkatkan berat badan secara signifikan pada perempuan hamil dengan kekurangan energi kronik di Puskesmas Cipayung. Tindakan ini menjadi pilihan yang efisien dan hemat biaya untuk memperbaiki status gizi ibu, mendukung perkembangan janin, dan mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan.

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Keamanan Makanan Ditinjau Dari Aspek Penggunaan Pengawet Berbahaya, Pewarna Sintetik dan Praktik

2024•Koleksi Perpustakaan

Hasil uji laboratorium yang telah dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 9.262 sampel yang diuji dari 3.749 pedagang makanan dan minuman di 1.057 titik pengawasan menunjukkan bahwa 102 sampel, atau 1,1% dari total sampel, mengandung bahan tambahan pangan berbahaya seperti borkas (0,28%), formalin (0,53%), rhodamin B (0,30%), dan methanyl yellow (0,01%). Formalin merupakan zat berbahaya bagi tubuh manusia. Dampak dari pemaparan ini formalin terakumulasi pada lapisan lendir saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Rhodamin B adalah pewarna sintetis dari kelompok pewarna xanthenes yang digunakan dalam industri tekstil dan kertas. Zat warna rhodamin B dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan karena efek berbahaya yang ditimbulkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya kandungan formalin dan rhodamin B yang beredar di kantin sekolah Kabupaten Bekasi. Desain penelitian ini yaitu ekperimental. Untuk mengetahui persentase kandungan formalin dan rhodamin B, pengolahan data yang dilakukan yaitu analisis deskriptif dan univariat. Sampel dalam penelitian dengan teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Hasil penelitian yang dilakukan menggunakan test kit formalin dan rhodamin B terhadap kandungan formalin dan rhodamin B menujukkan bahwa diperoleh sebanyak 7 sampel makanan yang mengandung zat formalin dan diperoleh sebanyak 5 sampel makanan yang mengandung zat rhodamin B.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Penggunaan Plastik Kresek Pada Makanan Panas di Wilayah Cikarang Utara

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kemasan pangan merupakan salah satu faktor penting dalam industri makanan karena kemasan pangan dapat melindungi makanan dari kontaminasi dan supaya produk tidak rusak atau berubah bantuk. Subyek dan Metode: Kuesioner digunakan bersama dengan teknik analisis data univariat dan bivariat. Desain penelitian adalah cross-sectional, lokasi penelitian di Desa Pasir Gombong, Cikarang Utara, populasi penelitian adalah pedagang makanan hangat, dan metode yang digunakan adalah teknik non-probabilitas dengan teknik propositional sampling. Variabel dependen adalah perilaku pedagang, dan variabel independen adalah pendidikan, pendapatan, dan pengetahuan Hasil: Dengan menggunakan hasil uji statistik, menunjukan bahwa tidak ada korelasi signifikan antara pendapatan dengan perilaku (nilai p 1,572 > 0,05), tidak ada korelasi signifikan antara pendidikan dengan perilaku (nilai p 0,068 > 0,05), dan tidak ada korelasi signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (nilai p 6,947 > 0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pendidikan, pendapatan, pengetahuan dengan perilaku penggunaan plastik pada makanan panas.

17 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kebiasaan Membawa Bekal dan Asupan Makanan Dengan Status Gizi Pada Remaja Putri di SMAN 1 Cikarang Selatan

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Usia sekolah adalah tahap kritis dimana kebutuhan energi dan zat gizi harus terpenuhi, karena mereka sedang dalam tahap tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan makanan berkualitas agar memenuhi kebutuhan gizi mereka selama di sekolah. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan membawa bekal dan asupan makanan dengan status gizi remaja putri. Subyek dan Metode Desain penelitian ini menggunakan kuantitatif pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Cikarang Selatan. Sampel sebanyak 50 orang diambil secara purposive sampling, alat penelitian ini menggunakan kuesioner, timbangan berat badan, microtoise, dan alat pengukur LiLA. Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menguji normalitas, dan uji Pearson untuk melihat hubungan variabel. Hasil: Berdasarkan uji statistik diperoleh bahwa adanya hubungan antara kebiasaan membawa bekal dengan status gizi yang signifikan berdasarkan IMT/U (pvalue=0,002), terdapat hubungan kebiasaan membawa bekal dengan status gizi berdasarkan %LiLA (0,000) dan tidak adanya hubungan antara asupan makanan dengan status gizi berdasarkan IMT/U (0,442), tidak di dapatkan hubungan antara asupan makanan dengan status gizi berdasarkan %LiLA (p-value=0,570). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan membawa bekal menurut IMT/U dan % Lila, perlu dilakukan edukasi terkait pentingnya membawa bekal ke sekolah dengan prinsip gizi seimbang atau sesuai konsep isi piringku.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengembangan Cookies dari Tepung Ubi Jalar Ungu dan Tepung Ikan Teri untuk Makanan Tambahan Ibu Hamil

2024•Koleksi Perpustakaan

Stunting menurut WHO pada tahun 2025 jumlah balita stunting harus turun 40% di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formula cookies tepung ubi jalar ungu dan ikan teri yang diterima secara organoleptik sebagai makanan tambahan ibu hamil. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 faktor dengan 3 taraf perlakuan, yaitu 95%, 92,5% dan 90%. Jumlah sampel sebanyak 32 responden. Tempat penelitian yaitu di Laboratorium Gizi Universitas Medika Suherman. Uji organoleptik diolah menggunakan Microsoft Excel 2013 kemudian dianalisis secara statistik menggunakan SPSS Versi 16. Hasil data hedonik atau rating test dianalisis menggunakan uji lanjutan dengan Duncan. Sedangkan untuk analisis zat gizi diolah menggunakan TKPI 2020. Hasil penelitian ini adalah formula cookies yang disukai oleh responden adalah formula F1. Formula cookies yang terpilih yakni cookies F1. Nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap warna : 2,88-4,06 (kurang suka sampai suka), aroma : 2,97-3,72 (kurang suka sampai cukup suka), rasa : 2,81-4,09 (kurang suka-suka), tekstur : 3,38-4,06 (cukup suka-suka), dan aftertaste : 2,75-3,69 (kurang suka-cukup suka). Cookies dalam sekali penyajian adalah sebanyak 4 keping (40 g) sebagai cemilan pada sekali waktu selingan dalam sehari. Besar energi cookies per takaran saji yaitu sebanyak 356 kkal. Formula terpilih telah memenuhi 10-15% AKG yakni energi sebesar 14%. Cookies dari tepung ubi jalar ungu dan tepung ikan teri ini diharapkan bisa digunakan sebagai alternatif makanan tambahan ibu hamil.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Penggunaan Garam Beryodium Dalam Masakan Pada Rumah Tangga Desa Telaga Murni

2024•Koleksi Perpustakaan

Secara nasional, konsumsi garam beryodium cukup adalah 62,3% dan di Provinsi Jawa Barat adalah 58,3%, Dibuktikan dengan prevalensi GAKY berdasarkan Riskesdas dan di Provinsi Jawa Barat saat ini adalah 58,3%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap penggunaan garam beryodium dalam menu makanan sehari hari pada ibu di wilayah Desa Telaga Murni. Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional yaitu jenis penelitian kuantitatif. Jumlah sampel sebanyak 88 responden. Tempat penelitian yaitu di Wilayah Desa telaga Murni. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menggambarkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan penggunaan garam beryodium nilai P-Value= 0,924. Hasil penelitian antara sikap dengan penggunaan garam beryodium terdapat hubungan yang signifikan dengan nilai P-Value = 0,020. Kesimpulan adanya hubungan sikap ibu dengan penggunaan garam beryodium. Saran yang diberikan kepada Ibu Rumah Tangga yaitu diharapkan memiliki pengetahuan yang cukup dalam memilih garam yang beryodium dan menghindari proses pengolahan makanan yang dapat mengurangi penurunan yodium pada garam.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepuasan Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2023

2024•Koleksi Perpustakaan

Kepuasan dan presepsi pasien terhadap pelayanan gizi rumah sakit memiliki pengaruh yang penting. Kekurangan gizi bisa menyebabkan fungsi organ terganggu dan akan menjadi lebih buruk. Hal ini dapat membahayakan kondisi pasien dan memperburuk keadaan pasien. Makanan yang bermutu ini dapat mendorong pasien untuk menghabiskan makanan yang diberikan dan mempercepat proses pemulihan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pelayanan makanan dengan tingkat kepuasan pada pasien rawat inap Di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang. Penelitian menggunakan Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah pasien rawat inap di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan wawancara dan kuesioner, lalu dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Rank Spearman. Hasil penelitian didapat tidak ada hubungan antara penampilan makanan p value >0.05 dan rasa makanan p value >0.05 dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di rumah sakit, dan ada hubungan antara pelayanan makanan p value <0.05 dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di rumah sakit. Kesimpulan dari penelitian ini tidak ada hubungan antara penampilan dan rasa makanan dengan tingkat kepuasan pada pasien rawat inap di rumah sakit dan terdapat hubungan antara pelayanan makanan dengan tingkat kepuasan pada pasien rawat inap di rumah sakit.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Tentang Tingkat Pengetahuan Dengan Hygiene Sanitasi Penjamah Makanan Pada Warung Makan di Cikarang Baru

2024•Koleksi Perpustakaan

Makanan merupakan kebutuhan hidup yang paling utama dan berpotentsi terkontaminasi bakteri pantogen. Faktor yang mempengaruhi kualitas makanan adalah penjamah makanan yang masih belum sadar tentang pengetahuan, dan tidak semua rumah makan memenuhi syarat hygiene sanitasi makanan yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan antara tingkat pengetahuan dengan hygiene sanitasi penjamah makanan pada warung makan di wilayah Cikarang Baru. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan bulan Maret-Juni 2023 di Cikarang Baru. Jumlah sampel penelian ini sebanyak 66 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Analisis sampel data terdiri dari analisis univariat dan bivariat menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hygiene sanitasi penjamah makanan dalam kategori bersih (93,9%), dan memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik (51,5%). Karakteristik pada penjamah makanan sebagian besar di usia >35 tahun (53,0%), berjenis kelamin perempuan (62,1%), sebagian besar berpendidikan tinggi (71,2%), dan sebagian besar lama kerja <5 tahun (43%). Hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan hygiene sanitasi penjamah makanan dengan nilai p-value (1,000). Kesimpulan pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan hygiene sanitasi penjamahan makanan pada warung makan. Saran pada penelitian ini adalah perlu dilakukannya kegiatan pelatihan mengenai hygiene sanitasi bagi penjamah makanan sehingga dapat menambah pengetahuannya tentang syarat kesehatan makanan khususnya bagi penjamah makanan.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Dusun 1 Desa Serang Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2022

2023•Koleksi Perpustakaan

Masalah malnutrisi di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang belum bisa diatasi sepenuhnya oleh pemerintah. Stunting merupakan suatu kondisi dimana kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang yang ditunjukkan dengan hasil pengukuran tinggi badan menurut usia kurang dari -2 SD. Penelitian ini bertujuan untuk Mengindentifikasikan Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Balita Stunting di Dusun 1 Desa Serang Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2022. Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang ada di Dusun 1 Desa Serang sebanyak 256 balita. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin didapat 172 sampel dengan teknik non Probability sampling yaitu Accidental sampling. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Dusun 1 Desa Serang Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2022 adalah Pendidikan (p=0,000), Asupan Makanan (p=0,000), Status Ekonomi (p=0.000), Riwayat ASI Eksklusif (p=0.000), dan variabel yang tidak berhubungan Kejadian Balita Stunting di Dusun 1 Desa Serang Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2022 adalah Pengetahuan (p=0,226). hasilnya terdapat 5 variabel yang berhubungan dan 1 variabel yang tidak berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting di Dusun 1 Desa Serang Kecamatan Cikarang Selatan Bekasi. Saran dengan adanya penelitian ini diharapkan Puskesmas Sukadami dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan stunting khususnya pada ibu yang memiliki balita di Dusun 1 Desa Serang

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-60 Bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi Tahun 2020

2021•Koleksi Perpustakaan

Jumlah prevalensi stunting di Indonesia meningkat dari tahun sebelumnya. Upaya mengatasi meningkatnya prevalensi stunting di Indonesia Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI mencanangkan beberapa program di antaranya Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Tujuan penelitian: untuk mengetahui distribusi frekuensi dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi tahun 2020. Metode: metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dengan jumlah sebanyak 30 sampel. Pengumpulan data menggunakan primer dan sekunder. Variabel penelitian terdiri dari variabel independen yang terdiri dari pengetahuan orang tua, pendapatan, asupan makanan Pendidikan orangtua, Riwayat pemberian ASI eksklusif, Riwayat Berat badan lahir rendah sedangkan variabel dependen yaitu Stunting pada balita usia 24 – 60 bulan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square yang bertujuan untuk menghubungkan antara variabel independen dan variabel dependen. Hasil: responden yang berpendidikan rendah sebanyak 60% (P value 0,021), pada responden dengan pendapatan orang tua rendah sebanyak 84,6% (P value 0,020), pada responden dengan asupan makanan kurang bergizi sebanyak 92,3% (P value 0,002), pada responden dengan pengetahuan orang tua rendah sebanyak 84,6% (P value 0,001), pada responden dengan Riwayat Air Susu Ibu tidak eksklusif sebanyak 69,2% (P value 0,027) dan pada responden dengan Riwayat Berat Badan Lahir Rendah sebanyak 43,3% (P value 0,033) dari hasil penelitian 6 variabel tersebut tidak memiliki kesenjangan dengan teori. Kesimpulan: terdapat hubungan pendidikan ibu, pengetahuan orang tua, asupan makanan, pendapatan orangtua Riwayat ASI eksklusif, Riwayat Berat Badan Lahir Rendah dengan kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi. Saran: Untuk menurunkan prevalensi stunting Dinas Kesehatan, Puskesmas serta tenaga kesehatan lainnya lebih aktif dalam mengontrol tumbuh kembang balita, memiliki data balita stunting secara lengkap dan valid, serta mengoptimalkan pendekatan dan edukasi kepada masyarakat dalam upaya pencegahan terjadinya stunting pada balita

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Gambaran Perilaku Kesehatan Lansia Saat Pandemi Covid-19 di Cibuntu RT 03 RW 05 Kecamatan Cibitung Kabupaten Bekasi Tahun 2020

2021•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Covid-19 yaitu penyakit yang disebabkan oleh coronavirus yang menyerang saluran pernafasan sehingga dapat menyebabkan demam tinggi, flu, batuk, sesak nafas serta nyeri tenggorokan. Menurut data dari CNN Indonesia pada tanggal 29 April tahun 2020 di ketahui lansia adalah penyumbang angka kedua terbanyak akibat COVID-19 dari 784 kasus yang meninggal 311 di antaranya adalah lansia. Hal ini di sebabkan karena rendahnya daya tahan tubuh lansia. Salah satu cara untuk menjaga daya tahan tubuh lansia agar tetap kuat yaitu dengan menjaga perilaku kesehatannya. Tujuan : Untuk Mengidentifikasi Apa saja Gambaran Perilaku Kesehatan Pada Lansia Saat Pandemi Covid-19 Di Cibuntu Rt 03 Rw 05 tahun 2020. Metode : Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif kuantitatif yaitu untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang di teliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang yang sudah memasuki usia Lansia di Desa Cibuntu Rt 03 Rw 05, Kabupaten Bekasi. Jumlah populasinya sebanyak 41 Lansia dan menggunakan teknik Purpossive Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 32 lansia. Instrumen yang di gunakan pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang diisi oleh lansia itu sendiri. Dan analisis data menggunakan Analisa Univariat. Hasil : Hasil penelitian didapatkan Asupan Makanan Bergizi tidak terpenuhi sebesar (59,4%), Pola Hidup Tidak Sehat sebesar (53,1%), Kebiasaan Olaharaga Tidak Terbiasa sebesar (68,8%), Istirahat Tidak Tercukupi sebesar (65,6%). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa lansia di desa Cibuntu Rt 03 Rw 05 pada tahun 2020 masih banyak yang kurang memperhatikan perilaku kesehatan nya berdasarkan data hasil penelitian yang telah didapatkan. Saran : Diharapkan para lansia bisa lebih memperhatikan perilaku dan menjaga kondisi kesehatannya agar tidak mudah terkena penyakit terutama pada saat pandemi covid-19 seperti sekarang ini.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Lamanya Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Pada Ibu Nifas di BPS Hj. Wiwin Wulandari, SST., M.Si Tahun 2018

2020•Koleksi Perpustakaan

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Kematian saat melahirkan menjadi faktor utama mortalitas usia muda pada masa puncak produktivitas. Di Indonesia masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) masih menjadi suatu masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia. Beberapa faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia masih di dominasi oleh perdarahan (42%), eklamsia/preeklamsia (13%), abortus (11%), infeksi (10%), partus lama/persalinan macet (9%), dan penyebab lain (15%). Dalam persalinan akan terjadi perlukaan pada perineum baik itu karena robekan spontan maupun episiotomi. Di Indonesia luka perineum di alami oleh 75% ibu melahirkan pervaginam. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum antara lain adalah ibu tidak mengalami kelainan misalnya anemia dan diabetes melitus, kebutuhan gizi ibu tercukupi dilihat dari IMT ibu, pengetahuan ibu mengenai perawatan luka perineum ibu baik, vulva hygiene ibu baik selama masa nifas, ibu melakukan mobilisasi dini 2 jam setelah persalinan pada ibu tidak ada komplikasi (Wiknjosastro, 2007). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Cross sectional. Penelitian dilaksanakan di BPS Hj. Wiwin Wulandari Cikarang Utara Kabupaten Bekasi selama bulan Mei sampai dengan Juni 2018, populasi dalam penelitian ini seluruh ibu nifas yang memiliki luka jahitan perineum di BPS Hj. Wiwin Wulandari Cikarang Utara Kabupaten Bekasi dan jumlah sampel sebanyak 77 responden. Hasil analisa bivariat didapatkan hasil hubungan lama luka perineum dengan pengetahuan ibu nifas statistik diperoleh nilai p = 0,000 P < a 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara pengetahuan, mobilisasi, vulva hygien dan pantang makanan dengan lamanya waktu penyembuhan luka perineum. Saran dalam penelitian ini perlunya peningkatan pengetahuan tentang luka jahitan perineum, pentingnya mobilisasi pada saat masa nifas, pentingnya vulva hygien yang baik dan asupan nutrisi yang baik.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Gambaran Perilaku Ibu Dengan Anak Usia 6-24 Bulan Dalam Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu di RW 02 dan 03 Desa Sukahurip Kabupaten Bekasi Tahun 2019

2019•Koleksi Perpustakaan

Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 anak usia 6 – 24 bulan yang mengkonsumsi makanan beragam di Indonsia sebesar 46,6%, di Jawa Barat sebesar 58%. Pengukuran Status Gizi balita 0 – 23 bulan dengan indeks TB/BB mendapatkan persentase yang sangat kurus 3,7%, kurus sebesar 8,9% dan gemuk sebesar 4,3. Tujuan penelitian ini yaitu dapat diketahuinya gambaran perilaku ibu dengan anak usia 6-24 bulan dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu di RW 02 dan RW 03 Desa Sukahurip Kabupaten Bekasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 73 ibu dan sampel penelitian 42 responden dengan cara random sampling, analisis yang digunakan adalah univariat. Hasil penelitian gambaran perilaku ibu dengan anak usia 6 – 24 bulan dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu di Desa Sukahurip Kabupaten Bekasi. Yang berperilaku tidak memberikan makanan pendamping air susu ibu pada bayi usia mulai dai 6 bulan sebanyak 19 responden (45.2%) sedangkan yang melakukan pemberian makanan pendamping air susu ibu pada bayi usia mulai dai 6 bulan sebanyak 23 responden (54.8%), responden yang pengetahuannya cukup yaitu sebanyak 16 responden (35,7%), responden yang pendidikannya tinggi sebanyak 30 responden (71.4%), responden yang ekonomi terbanyak yaitu ekonomi kurang sebanyak 25 responden (59.9%), responden yang tidak ada pengalaman dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu sebanyak 22 responden (52.4%), responden yang tidak ada dukungan orang lain yaitu 36 responden (85.7%). Kesimpulan: Dari hasil penelitian didapatkan gambaran perilaku ibu dengan anak usia 6 – 24 bulan dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu didesa sukahurip kabupaten bekasi memiliki perilaku baik dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu. Saran untuk ibu sebaiknya perilakunya ditingkatkan lagi supaya tidak ada lagi bayi yang mengalami masalah gizi kurang atau gizi berlebih

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail