Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Suanda Saputra

48 karya publik ditemukan.

2026: 52025: 32024: 102023: 72022: 32021: 42019: 16

Hubungan Ketinggian Blok Spinal Anestesi dengan Kejadian Shivering pada Pasien Pasca Operasi Urologi di RSUD Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi pada periode intra operatif akibat gangguan termoregulasi setelah pemberian spinal anestesi. Ketinggian blok spinal diduga memengaruhi luas vasodilatasi perifer yang dapat meningkatkan kehilangan panas tubuh sehingga berpotensi memicu terjadinya shivering pada pasien pasca operasi. Tujuan: Mengetahui hubungan ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering intra operatif pada pasien operasi urologi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel 36 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden mengalami ketinggian blok spinal rendah dan sebagian besar tidak mengalami shivering. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi urologi. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi urologi di RSUD Kabupaten Bekasi.

Hubungan Riwayat Penyakit Hipertensi Derajat II dengan Pemanjangan Waktu Pulih Sadar Pasca General Anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang:Hipertensi derajat II merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Keadaan ini dapat menyebabkan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular dan serebral yang berpotensi memengaruhi respons tubuh terhadap obat anestesi. Pada tindakan pembedahan dengan general anestesi, gangguan regulasi hemodinamik pada pasien hipertensi diduga berkontribusi terhadap pemanjangan waktu pulih sadar.Tujuan: Mengetahui hubungan antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Bayu Asih PurwakartaMetode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Sampel berjumlah 50 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis pasien, serta penilaian waktu pulih sadar menggunakan Aldrete Score. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebagian besar memiliki riwayat hipertensi derajat II. Distribusi waktu pulih sadar menunjukkan terdapat responden dengan pemulihan lambat (>15 menit) dan pemulihan cepat (<15 menit). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value > 0,05. Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Meskipun demikian, pengelolaan tekanan darah sebelum tindakan operasi tetap penting untuk meminimalkan risiko komplikasi perioperatif dan meningkatkan keselamatan pasien.

Pengaruh Anesthesia Pillow dengan Sniffing Position Terhadap Visualisasi Epiglotis Selama Intubasi Intraoperatif pada Pasien Dewasa di RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Keberhasilan intubasi endotrakeal pada anestesi umum sangat dipengaruhi oleh kualitas visualisasi epiglotis. Posisi kepala dan leher, termasuk penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position, diharapkan dapat memperbaiki visualisasi laring yang dinilai menggunakan klasifikasi Cormack–Lehane. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position terhadap visualisasi epiglotis selama intubasi intraoperatif pada pasien dewasa di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuasi-eksperimental dengan desain post-test only control group. Sampel berjumlah 36 pasien dewasa yang dibagi menjadi kelompok perlakuan (anesthesia pillow dengan sniffing position) dan kelompok kontrol (sniffing position). Visualisasi epiglotis dinilai menggunakan klasifikasi Cormack–Lehane. Data dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan antara dua kelompok. Hasil: Hasil menunjukkan menggunakan uji Fisher Exact test menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,691 (> 0,05). Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position terhadap klasifikasi Cormack–Lehane pada pasien intubasi intraoperatif. Dengan kata lain, baik kelompok kontrol maupun intervensi memiliki distribusi pandangan glotis yang relatif serupa.

Pengaruh Kombinasi Finger Hold dan Relaksasi Napas dalam Terhadap Kecemasan Pasien Preoperatif General Anestesia di RSUD Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Kecemasan praoperatif merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum tindakan pembedahan dengan general anesthesia dan dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien. Intervensi nonfarmakologis diperlukan untuk membantu menurunkan kecemasan sebelum operas salah satunya kombinasi teknik finger hold dan relaksasi napas dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi finger hold dan relaksasi napas dalam terhadap penurunan kecemasan pada pasien praoperatif general Anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 40 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). dan dianalisis menggunakan uji marginal homogienity dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden mengalami cemas berat (70,0%), sedangkan setelah intervensi mayoritas mengalami cemas ringan (92,5%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (<0,05). Kesimpulan: terdapat pengaruh signifikan kombinasi teknik finger hold dan relaksasi napas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan. Kombinasi teknik ini efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk menurunkan kecemasan pasien properatif dengan general anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi.

Pengaruh Eye Mask Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Anestesi Spinal di Ruang Intra Operasi Menggunakan Skor Visual Analog Scale For Anxiety (VAS-A) di RS Sentra Medika Cikarang 2025

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi psikologis tidak menyenangkan yang sering dialami oleh pasien ketika menghadapi prosedur pembedahan dengan anestesi spinal yang berdampak pada peningkatan tekanan darah serta kebutuhan tambahan obat sedatif. Upaya penanganan non-farmakologis Eye mask terbukti dapat menciptakan kondisi relaksasi dan menurunkan kecemasan. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor visual analog scale for anxeity (VAS-A) di RS Sentra Medika cikarang. Metode : Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif dengan pre experimental design tipe one group pretest–posttest design dan consecutive sampling sebagai teknik pengabilan sampel yang melibatkan 32 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) dan data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil : Analisis data perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menggunakan uji wilcoxon menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (< 0,05). Kesimpulan : terdapat pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).

Hubungan Lama Operasi Dengan Hipotermi Pada Pasien Pasca Spinal Anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 <0.05 dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi.

Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Peningkatan Tekanan Darah Pada Pasien Pre Operasi yang Akan Menjalani General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kecemasan adalah reaksi psikologis yang umum terjadi pada pasien pre operasi, terutama sebelum menjalani general anestesi. Kecemasan yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang akan menjalani general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 36 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan tekanan darah sistolik (P- Value 0,002) dan diastolik (P-Value 0,003). Sebagian besar responden mengalami peningkatan tekanan darah sistolik (69,4%) dan diastolik (58,3%). Kesimpulan: bahwa adanya korelasi¹ atau hubungan tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang menjalani general anestesi. Penatalaksanaan kecemasan pre operasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan kondisi hemodinamik pasien demi keberhasilan tindakan operasi.

Hubungan Kejadian Hipotermi Dengan Waktu Pulih Sadar Pasca General Anestesi di Ruang Pemulihan RSUD Kabupaten Bekasi

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

General anestesi adalah tindakan pembiusan yang ditandai dengan hilangnya kesadaran, nyeri, memori, dan relaksasi.Komplikasi yang paling sering muncul setelah tindakan anestesi salah satunya adalah hipotermi. Penyebabnya adalah karena saraf simpatis di block oleh obat anestesi sehingga terjadi vasodilatasi dan mengakibatkan terjadinya penurunan suhu tubuh atau hipotermi Tujuan peneliti: Tujuan Umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara hipotermi dengan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang pemulihan RSUD Kabupaten Bekasi.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif uji Chi square.Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi.Data dianalisis menggunakan uji Chi square.Hasil: Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh responden berjenis kelamin laki-laki (55,6%),berdasarkan usia 17-25 tahun (33,3%) dan berdasarkan berat badan 44 – 55 kg (36,1%) dan 66-80 kg (36,1%). Berdasarkan suhu tubuh 33⁰-35⁰C (63.9%) berdasarkan waktu pulih sadar <15 menit sebanyak 16 orang (44,4) Uji perbedaan waktu pulih sadar dengan kejadian hipotermi didapatkan P-Value 0,001 <0,05.Kesimpulan: Ada hubungan waktu pulih sadar dengan hipotermi pada pasien pasca general anestesi di rumah sakit umum daerah kabupaten bekasi

Pengaruh Pemberian Coloading Cairan Kristaloid Terhadap Kejadian Hipotensi Pada Pasien Dengan Tindakan Spinal Anestesi di Rumah Sakit Kasih Insani Sukatani

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid. Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor. Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi. Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .

Pengaruh Anestesi Spinal Terhadap Hemodinamik Pre, Intra, Post Pada Pembedahan Sectio Caesarea di Ruang IBS Rumah Sakit Pinna Bekasi

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Anestesi spinal yang artinya jenis anestesi regional sebagai pilihan utama yang paling sering dipergunakan dibandingkan dengan anestesi general, sebab pengaruh anestesi general terhadap ibu serta bayi lebih besar dibandingkan menggunakan anestesi spinal. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap hemodinamik Pre, Intra, Post pada pembedahan sectio caesarea. Di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode Penelitian : Pada karakteristik pasien termasuk pada data katagori, sedangkan skor hemodinamik data numerik. Di analisis data pada penelitian ini mengunakan descriptive statistics jika data terdistribusi frekuensi. Pada penelitian ini akan dilakukan uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov dan shapiro-wilk jika hasil data uji normal > 0,05 terditribusi normal dan bila hasil data kurang dari < 0,05 tidak terditribusi normal. sehingga pada penelitian ini apa bila hasil analisis data didapatkan 0,05 pada signifikansi data. Pada selanjutnya penelitian ini akan di uji hipotesis menggunakan uji hipotesis dengan menggunakan uji regresi linier sederhana, dengan nilai P signifikansi <0,05. Sehingga pada penelitian ini pre tidak diberikan anestesi spinal dan intra, post diberikan anestesi spinal. Hasil Penelitian : Usia 25 – 35 tahun berjumlah 18 responden (45,0%). Berat badan 60 - 85 berjumlah 29 responden (72,5%). Tinggi badan 140 - 155 berjumlah 29 responden (72,5%). Hipertensi YA berjumlah 4 responden (10,0%), TIDAK berjumlah 36 responden (90,0%). Hasil analisis normalitas : Pre nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 26 responden, pre sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Pre diastolik tinggi : (> 80 mmHg) berjumlah 32 responden (80,0%). Pre MAP dibagi normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 30 responden (75,0%). Intra nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 35 responden (87,5%). Intra sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 26 responden (65,0%). Intra diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 24 responden. Intra MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 35 responden. Post nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 38 responden (95,0%). Post sistolik normal : (90-120 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Post diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Post MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Hasil analisis hipotesis : Hasil uji regresi linier diperoleh nilai significancy P=<,001 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel hemodinamik dengan kejadian anestesi spinal. Nilai correlation coefficient P=,828 dinyatakan korelasi pengaruh antara variabel hemodinamik dengan variabel anestesi spinal memiliki pengaruh yang kuat. Kesimpulan : Ada pengaruh bahwa dari 40 responden yang mengalami kejadian anestesi spinal pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal mayoritas mengalami penurunan hemodinamik. Rumah Sakit PINNA Bekasi.

Hubungan Faktor Lanjut Usia Dengan Kejadian Hipotermi Pasca Anestesi Umum Menggunakan Alat Termometer Infrared di Ruang Pemulihan RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Hipotermi merupakan salah satu efek yang sering terjadi setelah pembedahan di ruang pemulihan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hipotermi setelah operasi yaitu usia. Tujuan Penelitian : Diketahui hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca anestesi umum dengan teknik termometer infrared di ruang pemulihan RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode Penelitian : Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Jumlah sampel 36 responden dengan teknik pengambilan sampel Non Probability sampling (Purposive Sampling). Uji statistik menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil Penelitian : Lansia awal 46 - 55 tahun berjumlah 20 responden (55,6%), lansia akhir 56 - 65 tahun berjumlah 12 responden (33,3%), sedangkan di manula >65 tahun berjumlah 4 responden (11,1%). diketahui yang mengalami hipotermi sedang sebanyak 18 responden (50.0%), dan hipotermi ringan sebanyak 11 responden (30.6%), sedangkan hipotermi berat sebanyak 7 responden (19.4%). Hasil korelasi Spearman Rank (rho) dengan hasil P = 0,001, berarti P < 0,05 hal tersebut menunjukkan ada hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Nilai Correlation coefficient 0,719 menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara variabel usia lanjut dengan variabel hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Kesimpulan : Ada hubungan bermakna antara hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pada pasien pasca anestesi umum dengan alat termometer infrared diruang pemulihan RSUD Bayu Asih Purwakarta.

Hubungan Lama Operasi Dengan Kejadian Shivering Pada Pembedahan Herniotomy Menggunakan Spinal Anestesi di RS Medirossa Cikarang

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Shivering pasca anestesi dapat terjadi pada pasien dengan anestesi umum sebesar 5-65% dan sedangkan pada anestesi spinal mencapai 33-57%. Shivering pasca anestesi adalah mekanism kompensasi dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, termasuk ketidaknyamanan pasien, nyeri akibat perluasan bekas luka operasi, dan peningkatan kebutuhan oksigen akibat meningkatnya aktivitas otot. TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi diruang operasi RS.Medirossa Cikarang. HASIL: Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dijelaskan bahwa pasien yang telah menjalani tindakan pembedahan herniatomi dengan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25 responden (80,6%). Dan perempuan 6 responden (19,4%). Berdasarkan hasil penelitian umu mayoritas yang mengalami pembedahan herniotomi dengan spinal anestesi dalam penelitian in adalah rentang umur 43-55 tahun sebanyak 15 responden (48,4%). Dari uji statistik pearson chi square diperoleh nilai (p-value) 0,012 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi dan shivering pada pembedahan herniotomi menggunakan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang. KESIMPULAN: Ada hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi di RS. Medirossa Cikarang

Hubungan Usia Dengan Waktu Pencapaian Bromage Score 2 Pasca Spinal Anestesi di Ruang Recovery Room (RR) RS Medirossa Cikarang

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode anestesi dengan cara menyuntikkan obat analgetik lokal kedalam ruang subarachnoid di daerah lumbal. Kekuatan motorik individu dapat diukur dengan menunjukkan derajat pergerakan melawan hambatan. Setiap ekstremitas harus diukur kekuatannya. Salah satu indikator respons motorik pasca anestesi spinal adalah Bromage score, yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan otot kaki. TUJUAN :Untuk Mengetahui Status Fisik Pasien Regional Anastesi Subarachnoid Spinal Block Regional Berkorelasi Dengan Bromage Score di RS Medirosa Cikarang. HASIL: Berdasarkan distribusi frekuensi variabel usia pasien bahwa mayoritas pasien memiliki usia 19-25 sebanyak 13 responden (43,3%) dan 26-35 sebanyak 11 responden (36,7%) dan 36-45 sebayak 6 responden (20.0%) memiliki frekuensi yang paling rendah. Dari uji Chi Square Faktor usia sangat berpengaruh dalam pencapaian Bromage Score 2 di karnakan cairan serebrospinal di ruang subarachoud melambat. KESIMPULAN: ada hubungan antara usia dengan waktu pencapaian Bromage Score 2 dikarenakan pada usia tua ada penurunan fungsi organ seperti ginjal dan hepar, sehingga semakin bertambahnya usia maka akan semakin lama waktu pencapain Bromage Score 2.

Pengaruh Pemberian Edukasi Pre Operatif Tentang Prosedur Anestesi Terhadap Kecemasan Pada Pasien General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Pembedahan merupakan penanganan medis secara invasif yang menyebabkan kecemasan pada pasien. Penurunan rasa cemas sangat penting karena dapat mengurangi risiko komplikasi selama prosedur anestesi. Salah satu penanganannya dengan pemberian edukasi atau informasi yang koprehensif. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian edukasi pre operatif tentang prosedur anestesi terhadap kecemasan pada pasien general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis pre eksperimen dengan desain pretest and posttest one group design. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah perempuan yaitu sebanyak 22 orang (61,1%). Menurut pengalaman pembedahan sebagian besar responden yaitu dengan belum pernah operasi 22 orang (61,1 %). Berkaitan dengan pendidikan terakhir sebagian besar yaitu dengan berpendidikan SMA sebesar 10 orang (27,8 %). tingkat kecemasan sebelum diberikan edukasi mengalami kecemasan sedang dengan 21 orang (58,3 %). Uji perbedaan Tingkat Kecemasan sebelum dan sesudah intervensi didapatkan p-value 0.000. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi pre operatif tentang prosedur anestesi terhadap kecemasan pada pasien general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi.

Penerapan Metode Relaksasi Autogenic pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarmukti

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Posbindu Seroja wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupeten Bekasi. Kegiatan pengbdian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang hipertensi dan penatalaksanaannya secara non farmakaologis dengan memberikan metode latihan relaksasi autogenic dengan tehnik yang baik/benar dan terarah. Kegiatan edukasi dan latihan disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi oleh mitra. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian dimulai dari observasi dan identifikasi permasalahan di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemberian edukasi terkait dengan hipertensi dan penatalaksanaannya secara non farmakologis, tahapan selanjutnya dengan memberikan pelatihan relaksasi autogenic secara terstruktur kepada responden, kemudian diakhiri dengan mengevaluasi kemampuan responden dalam mempraktikkan/memperagakan terapi relaksasi autogenic dengan tehnik yang baik/benar dan terarah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan Oktober - November 2022. Hasil kegiatan pengabdian peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir dengan antusisas, responden memiliki pengetahuan dan memahami tentang hipertensi dan penatalakasanaannya secara non farmakologis, dan peserta dapat mempraktikkan/ memperagakan tehnik relaksasi autogenic dengan benar sesuai dengan yang dicontohkan oleh pengabdi.

Pelatihan Dan Pendampingan Relaksasi Autogenic Pada Keluarga Pasien Dengan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarmukti

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Pos Binaan Terpadu (POSBINDU) Seroja wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupeten Bekasi. Kegiatan pengbdian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang hipertensi dan penatalaksanaannya secara non farmakaologis, memberdayakan keluarga penderita hipertensi untuk dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi. Kegiatan pendampingan disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi oleh mitra. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian dimulai dari observasi dan identifikasi permasalahan di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemberian edukasi terkait dengan hipertensi dan penatalaksanaannya secara non farmakologis, tahapan selanjutnya dengan memberikan pendampingan pada keluarga dalam memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic. Dukungan keluarga sendiri memiliki dasar sebagai penghambat progresivitas penyakit hipertensi dan dapat menunjang keberhasilan terapi hipertensi. Keluarga memiliki peran dalam manajemen penyakit pasien, dimulai dari makanan harian, aktivitas fisik dan dukungan emosional yang membantu pasien untuk menangani stres akibat penyakitnya. Tujuan pengabdian ini adalah memberdayakan keluarga penderita hipertensi untuk dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic. Metode yang digunakan dengan memberikan demonstrasi dan latihan pada keluarga pasien penderita hipertensi mengenai relaksasi autogenic. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2022. Hasil kegiatan pengabdian keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir dengan antusisas, keluarga memiliki pengetahuan dan memahami tentang hipertensi dan penatalakasanaannya secara non farmakologis, dan dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic.

Pengaruh Induksi Saat General Anestesi Terhadap Perubahan Hemodinamik dan Respirasi Pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Induksi pada general anestesi merupakan Tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P<0.050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 < 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R 2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P- value : 0,040; R 2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R 2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R 2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R 2 : 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R 2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R 2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.

Asuhan Keperawatan Gerontik Nyeri Akut Pada Ny. N Dengan Diagnosa Hipertensi di Desa Karang Asih Bekasi 2022

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Lanjut usia dengan hipertensi merupakan penderita dengan sakit kepala bagian belakang, mudah lelah, bingung, masalah penglihatan, kering berlebihan, kulit pucat atau merah, cemas atau gelisah. Tujuan untuk mengidentifikasi skala nyeri dan mengurangi nyeri. Metode yang digunakan pada studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 02 Juni 2022 dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, data fokus terkait masalah keperawatan, dan observasi. Studi kasus dilakukan di Desa Karang asih Cikarang Utara pada Ny. N (67 tahun). Adapun tindakan keperawatan yang diberikan pada sampel Ny. N adalah manajemen nyeri. Setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan kriteria hasil selama 3x60 menit didapatkan, nyeri akut dapat teratasi, yaitu nyeri berkurang dengan skala 1-4(1-10) dengan TTV dalam batas normal (TTV : Tekanan Darah : 160/100 mmHg, Nadi : 79x/menit, RR : 20x/menit, Suhu : 36,4C). Intervensi berikan kompres air hangat, teknik relaksasi dan teknik distraksi dapat mengatasi masalah keperawatan nyeri akut dari skala 6 menjadi skala 4. Dapat disimpulkan pada lansia dengan hipertensi sehingga dapat dijadikan acuan pemberian intervensi keperawatan. Masalah ini telah teratasi, dan intervensi dihentikan.

Asuhan Keperawatan Gerontik Gangguan Mobilitas Fisik Pada Ny. R Dengan Diagnosa Diabetes Mellitus di Desa Karang Asih Tahun 2022

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Masalah keperawatan yang muncul pada individu lanjut usia (lansia) dengan diabetes mellitus salah satunya adalah gangguan mobilitas fisik,gangguan mobilitas fisik merupakan Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri, Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolik yang dikarakteristikan dengan adanya peningkatan gkukosa dalam darah melebihi batas normal (hiperglikemia) yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin. Penyakit DM sering terjadi pada lansia karena organ tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif serta komplikasi lebih cepat muncul pada lansia dibandingkan dengan kelompok usia lainnya karena disebabkan oleh berbagai faktor resiko komplikasi, metode yang digunakan adalah studi kasus melalui wawancara, dan observasi yang dianalisa secara deskriptif.penelitian ini dilakukan ini di Desa Karang Asih Cikarang Utara pada tanggal 31 Mei 2022. Hasil penelitian ini didapatkan setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Ny. R degan diagnosa Diabetes Mellitus selama 3x 24 jam dengan kriteria hasil melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam bergerak. subyek studi ini yakni satu orang klien (Ny.R) yang mengalami diabetes mellitus. Intervensi keperawatan yang diberikan berupa Indetifikasi adanya kekakuan otot atau keluhan fisik lainnya, libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan, ajurkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (sisi tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi). Dapat disimpulkan bahwa indetifikasi adanya kekuatan otot dapat berpengaruh terhadap kekuatan otot lansia (Ny.R).