Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

13 hasil
Subjek: Hemodinamik
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Nyeri Pasca Anestesi Terhadap Stabilitas Hemodinamik pada Pasien Sectio Caesarea dengan Teknik Anestesi Spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Nyeri pasca operasi sectio caesarea merupakan respons fisiologis akibat kerusakan jaringan yang dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis sehingga memengaruhi stabilitas hemodinamik, seperti peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi. Pengendalian nyeri yang tidak optimal berpotensi menyebabkan ketidakstabilan kondisi pasien pada periode pasca anestesi spinal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan teknik anestesi spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel penelitian berjumlah 35 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan stabilitas hemodinamik dinilai berdasarkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden mengalami nyeri sedang (80%). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara tingkat nyeri dengan tekanan darah (r = 0,612; p = 0,000) dengan kekuatan hubungan kuat, serta hubungan positif signifikan antara tingkat nyeri dengan frekuensi nadi (r = 0,492; p = 0,003) dengan kekuatan hubungan sedang. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal. Manajemen nyeri yang adekuat diperlukan untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien pasca anestesi.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Mean Arterial Pressure Intra dan Pasca Anestesi Terhadap Waktu Pulih Sadar pada Pasien dengan Anestesi Umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar <30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p<0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan perlakuan yang seragam pada fase emergence anesthesia, seperti penerapan teknik deep-extubation, untuk membandingkan outcome hasil penelitian.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN MEAN ARTERIAL PRESSURE INTRA DAN PASCA ANESTESI DENGAN WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN DENGAN ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL SENTRA MEDIKA HOSPITAL CIBINONG

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar dengan p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan dengan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN MEAN ARTERIAL PRESSURE INTRA DAN PASCA ANESTESI DENGAN WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN DENGAN ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL SENTRA MEDIKA HOSPITAL CIBINONG

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Gas Inhalasi Sevoflurane Terhadap Status Hemodinamik Pada Pasien General Anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Anestesi inhalasi merupakan obat dalam bentuk gas atau cairan yang mudah menguap, yang diberikan melalui pernapasan pasien. Salah satu jenis obat anestesi inhalasi antara lain sevoflurane. Sevoflurane adalah halogenasi eter yang memiliki proses induksi dan pemeliharaan yang lebih cepat dibandingkan dengan obat anestesi inhalasi lainnya. Sevoflurane tergolong stabil dan tidak menyebabkan aritmia selama prosedur anestesi. Efek pada tahanan vaskuler dan curah jantung relatif kecil, sehingga tekanan darah juga mengalami penurunan yang minimal. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gas agen inhalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik pada pasien general anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one grup pretest-posttest. Besar sampel dalam penelitian ini 21 responden. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi intra anestesi yang mengadopsi dari RSUD Kabupaten Bekasi. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh gas inhalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik paling banyak pada responden yang mengalami perubahan status hemodinamik pada TD sistolik dimenit ke-15, TD diastolik pada menit ke-5, MAP pada menit ke-5 dan Nadi pada menit ke-15. Kesimpulan : ada pengaruh gas inalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik pada TD sistolik menit ke-15, TD diastolik pada menit ke-5, MAP pada menit ke-5 dan Nadi pada menit ke-15.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH GAS INHALASI SEVOFLURANE TERHADAP STATUS HEMODINAMIK PADA PASIEN GENERAL ANESTHESIA DI RSUD KABUPATEN BEKASI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang : Anestesi inhalasi merupakan obat dalam bentuk gas atau cairan yang mudah menguap, yang diberikan melalui pernapasan pasien. Salah satu jenis obat anestesi inhalasi antara lain sevoflurane. Sevoflurane adalah halogenasi eter yang memiliki proses induksi dan pemeliharaan yang lebih cepat dibandingkan dengan obat anestesi inhalasi lainnya. Sevoflurane tergolong stabil dan tidak menyebabkan aritmia selama prosedur anestesi. Efek pada tahanan vaskuler dan curah jantung relatif kecil, sehingga tekanan darah juga mengalami penurunan yang minimal. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gas agen inhalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik pada pasien general anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one grup pretest-posttest. Besar sampel dalam penelitian ini 21 responden. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi intra anestesi yang mengadopsi dari RSUD Kabupaten Bekasi. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh gas inhalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik paling banyak pada responden yang mengalami perubahan status hemodinamik pada TD sistolik dimenit ke-15, TD diastolik pada menit ke-5, MAP pada menit ke-5 dan Nadi pada menit ke-15. Kesimpulan : ada pengaruh gas inalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik pada TD sistolik menit ke-15, TD diastolik pada menit ke-5, MAP pada menit ke-5 dan Nadi pada menit ke-15.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Anestesi Spinal Terhadap Hemodinamik Pre, Intra, Post Pada Pembedahan Sectio Caesarea di Ruang IBS Rumah Sakit Pinna Bekasi

2024•Koleksi Perpustakaan

Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Anestesi spinal yang artinya jenis anestesi regional sebagai pilihan utama yang paling sering dipergunakan dibandingkan dengan anestesi general, sebab pengaruh anestesi general terhadap ibu serta bayi lebih besar dibandingkan menggunakan anestesi spinal. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap hemodinamik Pre, Intra, Post pada pembedahan sectio caesarea. Di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode Penelitian : Pada karakteristik pasien termasuk pada data katagori, sedangkan skor hemodinamik data numerik. Di analisis data pada penelitian ini mengunakan descriptive statistics jika data terdistribusi frekuensi. Pada penelitian ini akan dilakukan uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov dan shapiro-wilk jika hasil data uji normal > 0,05 terditribusi normal dan bila hasil data kurang dari < 0,05 tidak terditribusi normal. sehingga pada penelitian ini apa bila hasil analisis data didapatkan 0,05 pada signifikansi data. Pada selanjutnya penelitian ini akan di uji hipotesis menggunakan uji hipotesis dengan menggunakan uji regresi linier sederhana, dengan nilai P signifikansi <0,05. Sehingga pada penelitian ini pre tidak diberikan anestesi spinal dan intra, post diberikan anestesi spinal. Hasil Penelitian : Usia 25 – 35 tahun berjumlah 18 responden (45,0%). Berat badan 60 - 85 berjumlah 29 responden (72,5%). Tinggi badan 140 - 155 berjumlah 29 responden (72,5%). Hipertensi YA berjumlah 4 responden (10,0%), TIDAK berjumlah 36 responden (90,0%). Hasil analisis normalitas : Pre nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 26 responden, pre sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Pre diastolik tinggi : (> 80 mmHg) berjumlah 32 responden (80,0%). Pre MAP dibagi normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 30 responden (75,0%). Intra nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 35 responden (87,5%). Intra sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 26 responden (65,0%). Intra diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 24 responden. Intra MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 35 responden. Post nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 38 responden (95,0%). Post sistolik normal : (90-120 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Post diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Post MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Hasil analisis hipotesis : Hasil uji regresi linier diperoleh nilai significancy P=<,001 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel hemodinamik dengan kejadian anestesi spinal. Nilai correlation coefficient P=,828 dinyatakan korelasi pengaruh antara variabel hemodinamik dengan variabel anestesi spinal memiliki pengaruh yang kuat. Kesimpulan : Ada pengaruh bahwa dari 40 responden yang mengalami kejadian anestesi spinal pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal mayoritas mengalami penurunan hemodinamik. Rumah Sakit PINNA Bekasi.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Propofol Terhadap Hemodinamik Di Ruang OK RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2023

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Induksi anestesi merupakan proses menidurkan pasien melalui obat anastesi intravena sampai pasien masuk dalam stadium anastesi. Salah satu obat anestesi intravena yang sering dipergunakan dalam general anestesi adalah propofol. Penggunaan propofol setelah induksi dapat mempengaruhi penurunan tekanan darah. penurunan tekanan darah hingga hipotensi dapat menyebabkan iskemik miokard, hipoksia jaringan, syok hingga kematian. Tujuan: Pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam pemberian propofol terhadap hemodinamik pasien. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui pemberian propofol terhadap hemodinamik pasien. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian propofol terhadap hemodinamik pasien. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman responden mengenai pemberian propofol terhadap hemodinamik pasien.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Edukasi Pemberikan Anestesi Inhalasi Terhadap Tekanan Darah Pasien Di Ruang OK RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2022

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Perhatian utama pada anestesi inhalasi adalah keamanan dan keselamatan pasien, salah satu faktornya adalah kestabilan hemodinamik selama tindakan induksi anestesi berlangsung. Parameter hemodinamik meliputi: tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, tekanan arteri rerata, laju jantung, dan saturasi oksigen. Tujuan: Pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam Edukasi Pemberian anestesi inhalasi terhadap tekanan darah pasien di ruang OK RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui Edukasi Pemberian anestesi inhalasi terhadap tekanan darah pasien di ruang OK. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang Edukasi Pemberian anestesi inhalasi terhadap tekanan darah pasien di ruang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai Edukasi Pemberian anestesi inhalasi terhadap tekanan darah pasien di ruang.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Sosialisasi Pemberian Obat Anestesi Inhalasi Sevofluran Terhadap Perubahan Hemodinamik Pada Pasien Intra Anestesi Di Ruang OK RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2023

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Sevofluran merupakan halogenasi eter yang memiliki proses induksi dan pemeliharaan paling cepat daripada obat-obat anestesi inhalasi yang ada. Tahanan vaskuler dan curah jantung sedikit menurun sehingga tekanan darah pun sedikit menurun. Perhatian utama pada anestesi adalah keamanan dan keselamatan pasien, salah satu faktornya adalah kestabilan hemodinamik selama tindakan induksi anestesi berlangsung. Parameter hemodinamik meliputi: tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, tekanan arteri rerata, laju jantung, dan saturasi oksigen. Tujuan: Pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam pemberian obat anestesi inhalasi sevofluran terhadap perubahan hemodinamik pada pasien intra anestesi. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui pemberian pemberian obat anestesi inhalasi sevofluran terhadap perubahan hemodinamik pada pasien intra anestesi. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian obat anestesi inhalasi sevofluran terhadap perubahan hemodinamik pada pasien intra anestesi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai pemberian obat anestesi inhalasi sevofluran terhadap perubahan hemodinamik pada pasien intra anestesi.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Induksi Saat General Anestesi Terhadap Perubahan Hemodinamik dan Respirasi Pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta

2024•Koleksi Perpustakaan

Induksi pada general anestesi merupakan Tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P<0.050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 < 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R 2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P- value : 0,040; R 2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R 2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R 2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R 2 : 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R 2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R 2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH INDUKSI SAAT GENERAL ANESTESI TERHADAP PERUBAHAN HEMODINAMIK DAN RESPIRASI PASIEN DI INSTALASI BEDAH SENTRAL (IBS) RSUD BAYU ASIH KABUPATEN PURWAKARTA

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Induksi pada general anestesi merupakan tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P0,050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P-value : 0,040; R2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R2 : 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH ANESTESI SPINAL TERHADAP HEMODINAMIK PRE, INTRA, POST PADA PEMBEDAHAN SECTIO CAESAREA DI RUANG IBS RUMAH SAKIT PINNA BEKASI

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH ANESTESI SPINAL TERHADAP HEMODINAMIK PRE, INTRA, POST PADA PEMBEDAHAN SECTIO CAESAREA DI RUANG IBS RUMAH SAKIT PINNA BEKASI Achmad Affan Febrian Fakultas Ilmu Kesehatan D4 Keperawatan Anestesi Universitas Medika Suherman Email : [email protected] ABSTRAK Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Anestesi spinal yang artinya jenis anestesi regional sebagai pilihan utama yang paling sering dipergunakan dibandingkan dengan anestesi general, sebab pengaruh anestesi general terhadap ibu serta bayi lebih besar dibandingkan menggunakan anestesi spinal. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap hemodinamik Pre, Intra, Post pada pembedahan sectio caesarea. Di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode Penelitian : Pada karakteristik pasien termasuk pada data katagori, sedangkan skor hemodinamik data numerik. Di analisis data pada penelitian ini mengunakan descriptive statistics jika data terdistribusi frekuensi. Pada penelitian ini akan dilakukan uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov dan shapiro-wilk jika hasil data uji normal > 0,05 terditribusi normal dan bila hasil data kurang dari 0,05 tidak terditribusi normal. sehingga pada penelitian ini apa bila hasil analisis data didapatkan 0,05 pada signifikansi data. Pada selanjutnya penelitian ini akan di uji hipotesis menggunakan uji hipotesis dengan menggunakan uji regresi linier sederhana, dengan nilai P signifikansi 0,05. Sehingga pada penelitian ini pre tidak diberikan anestesi spinal dan intra, post diberikan anestesi spinal. Hasil Penelitian : Usia 25 – 35 tahun berjumlah 18 responden (45,0%). Berat badan 60 - 85 berjumlah 29 responden (72,5%). Tinggi badan 140 - 155 berjumlah 29 responden (72,5%). Hipertensi YA berjumlah 4 responden (10,0%), TIDAK berjumlah 36 responden (90,0%). Hasil analisis normalitas : Pre nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 26 responden, pre sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Pre diastolik tinggi : (> 80 mmHg) berjumlah 32 responden (80,0%). Pre MAP dibagi normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 30 responden (75,0%). Intra nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 35 responden (87,5%). Intra sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 26 responden (65,0%). Intra diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 24 responden. Intra MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 35 responden. Post nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 38 responden (95,0%). Post sistolik normal : (90-120 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Post diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Post MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Hasil analisis hipotesis : Hasil uji regresi linier diperoleh nilai significancy P=,001 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel hemodinamik dengan kejadian anestesi spinal. Nilai correlation coefficient P=,828 dinyatakan korelasi pengaruh antara variabel hemodinamik dengan variabel anestesi spinal memiliki pengaruh yang kuat. Kesimpulan : Ada pengaruh bahwa dari 40 responden yang mengalami kejadian anestesi spinal pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal mayoritas mengalami penurunan hemodinamik. Rumah Sakit PINNA Bekasi. Kata Kunci : Anestesi Spinal, Hemodinamik, Sectio Caesarea. Referensi : Buku : 2000 – 2023 (2) Jurnal : 2017 – 2023 (26) Artikel : 2018 – 2023 (18)

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail