Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

78 hasil
Subjek: anestesi
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Korelasi Ketinggian Level Blok Spinal dengan Frekuensi Mual Muntah Pasca Anestesi Spinal di RSIA Aisyah Qurratuain Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Komplikasi yang dapat terjadi setelah anestesi spinal adalah mual dan muntah. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh ketinggin level blok spinal yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga memicu pusat muntah. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara ketinggian level blok spinal dengan frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendektan cross-sectional pada 44 responden. Variabel independen yaitu ketinggian level blok spinal sedangkan variabel dependen adalah frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal. Data dikumpulkan melalui lembar observasi mengenai ketinggian blok spinal dan kejadian mual muntah. Analisis data dilakukan menggunakan univariat dan bivariat. Hasil: Menunjukkan adanya korelasi antara ketinggian blok spinal dengan frekuensi mual muntah pada pasien pasca anestesi spinal. Dari 44 responden 7 orang dengan ketinggian blok rendah (15.9%) dan 37 orang dengan ketinggian sedang (84.1%). Lalu sebanyak 15 orang mengalami muntah (34.1%), 10 orang mual (22.7%), 19 orang mual muntah ≥2 kali (43.2%). Diperoleh bahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,402 dengan nilai signifikansi 0,007 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat korelasi yang signifikan antara ketinggian level blok spinal dengan frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal pada pasien pasca anestesi spinal.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Antara Hipotensi Akibat Anestesi Spinal dengan Kejadian Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) di Ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p < 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Ketinggian Blok Spinal Anestesi dengan Kejadian Shivering pada Pasien Pasca Operasi Urologi di RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi pada periode intra operatif akibat gangguan termoregulasi setelah pemberian spinal anestesi. Ketinggian blok spinal diduga memengaruhi luas vasodilatasi perifer yang dapat meningkatkan kehilangan panas tubuh sehingga berpotensi memicu terjadinya shivering pada pasien pasca operasi. Tujuan: Mengetahui hubungan ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering intra operatif pada pasien operasi urologi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel 36 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden mengalami ketinggian blok spinal rendah dan sebagian besar tidak mengalami shivering. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi urologi. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi urologi di RSUD Kabupaten Bekasi.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Lama Puasa Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomiting (PONV) pada Pasien Operasi Spinal Anestesi di RSUD RH Satibi Kabupaten Bogot

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan pembedahan dengan anestesi spinal. Kejadian PONV dapat meningkatkan ketidaknyamanan pasien, memperpanjang masa perawatan. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap kejadian PONV adalah lama puasa preoperatif. Tujuan : Mengetahui hubungan lama puasa dengan kejadian PONV pada pasien dengan spinal anestesi di RSUD RH Satibi Kabupaten Bogor. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 63 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden menjalani puasa lebih dari 8 jam dan sebagian mengalami kejadian PONV dalam 15 menit pertama pasca operasi. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian PONV (p < 0,05). Pasien dengan durasi puasa lebih dari 8 jam memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV dibandingkan dengan pasien yang menjalani puasa sesuai rekomendasi. Kesimpulan : Penelitian ini terdapat hubungan antara lama puasa preoperatif dengan kejadian PONV pada pasien spinal anestesi. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk mengoptimalkan manajemen puasa preoperatif sesuai SOP untuk meminimalkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan perioperative.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Riwayat Penyakit Hipertensi Derajat II dengan Pemanjangan Waktu Pulih Sadar Pasca General Anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang:Hipertensi derajat II merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Keadaan ini dapat menyebabkan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular dan serebral yang berpotensi memengaruhi respons tubuh terhadap obat anestesi. Pada tindakan pembedahan dengan general anestesi, gangguan regulasi hemodinamik pada pasien hipertensi diduga berkontribusi terhadap pemanjangan waktu pulih sadar.Tujuan: Mengetahui hubungan antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Bayu Asih PurwakartaMetode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Sampel berjumlah 50 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis pasien, serta penilaian waktu pulih sadar menggunakan Aldrete Score. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebagian besar memiliki riwayat hipertensi derajat II. Distribusi waktu pulih sadar menunjukkan terdapat responden dengan pemulihan lambat (>15 menit) dan pemulihan cepat (<15 menit). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value > 0,05. Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Meskipun demikian, pengelolaan tekanan darah sebelum tindakan operasi tetap penting untuk meminimalkan risiko komplikasi perioperatif dan meningkatkan keselamatan pasien.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Edukasi Pra Anestesi Terhadap Kesiapan Mental Berbasis Self Efficacy dan Kecemasan Pasien RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kecemasan pasien pra anestesi yang dapat memengaruhi stabilitas fisiologis dan kesiapan mental sebelum tindakan operasi. Edukasi berbasis self-efficacy dipandang sebagai intervensi non-farmakologis yang mampu memperkuat keyakinan diri pasien dalam menghadapi prosedur anestesi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi berbasis self-efficacy terhadap kesiapan mental dan tingkat kecemasan pasien pra anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest pada 64 responden yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Praoperative Self-Efficacy Scale (PSES) untuk mengukur kesiapan mental dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk mengukur kecemasan, dengan analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kesiapan mental (Z = -6,971; p < 0,05) dan penurunan signifikan pada tingkat kecemasan (Z = -5,308; p < 0,05) setelah diberikan edukasi. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa edukasi berbasis self-efficacy efektif dalam meningkatkan kesiapan mental dan menurunkan kecemasan pasien sebelum tindakan anestesi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Regional Anestesi Subaraknoid Blok Terhadap Terjadinya Shivering pada Fase Pasca Anestesi di Ruang Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan anestesi spinal dan dapat meningkatkan konsumsi oksigen, beban metabolik, serta risiko gangguan hemodinamik pada pasien di ruang pemulihan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regional anestesi subaraknoid blok terhadap terjadinya shivering pada fase pasca anestesi di ruang recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani anestesi spinal dan diobservasi kejadian shivering dalam 0–30 menit pertama pasca anestesi. Hasil penelitian: menunjukkan adanya pengaruh antara regional anestesi subaraknoid blok dengan kejadian shivering pasca anestesi. Faktor usia, jenis kelamin, serta kondisi fisiologis pasien turut berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Kesimpulan: bahwa anestesi spinal berpengaruh terhadap terjadinya shivering pada fase pemulihan. Saran: diperlukan pemantauan suhu tubuh dan manajemen pencegahan yang optimal guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien di ruang recovery room.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Nyeri Pasca Anestesi Terhadap Stabilitas Hemodinamik pada Pasien Sectio Caesarea dengan Teknik Anestesi Spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Nyeri pasca operasi sectio caesarea merupakan respons fisiologis akibat kerusakan jaringan yang dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis sehingga memengaruhi stabilitas hemodinamik, seperti peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi. Pengendalian nyeri yang tidak optimal berpotensi menyebabkan ketidakstabilan kondisi pasien pada periode pasca anestesi spinal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan teknik anestesi spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel penelitian berjumlah 35 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan stabilitas hemodinamik dinilai berdasarkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden mengalami nyeri sedang (80%). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara tingkat nyeri dengan tekanan darah (r = 0,612; p = 0,000) dengan kekuatan hubungan kuat, serta hubungan positif signifikan antara tingkat nyeri dengan frekuensi nadi (r = 0,492; p = 0,003) dengan kekuatan hubungan sedang. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal. Manajemen nyeri yang adekuat diperlukan untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien pasca anestesi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan dengan Skor Apais pada Pasien Pra Anestesi Teknik Anestesi Umum di RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kecemasan praoperasi merupakan respons psikologis yang sering dialami pasien sebelum tindakan pembedahan dan dapat memengaruhi kondisi fisiologis maupun keberhasilan prosedur anestesi. Tingkat kecemasan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk karakteristik individu dan faktor situasional. Penilaian kecemasan secara objektif dapat dilakukan menggunakan Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) yang banyak digunakan dalam penelitian klinis. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien pra anestesi teknik anestesi umum di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode : Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, riwayat operasi, dan pemberian informasi praoperasi, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kecemasan berdasarkan skor APAIS. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil : Mayoritas responden berusia dewasa, berjenis kelamin laki-laki, tidak memiliki riwayat operasi, dan tidak mendapatkan edukasi praoperasi. Sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang. Analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara usia dan tingkat kecemasan (p = 0,003) serta antara jenis kelamin dan tingkat kecemasan (p = 0,003). Sementara itu, riwayat operasi (p = 0,554) dan informasi pra operasi (p = 0,147) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan. Kesimpulan : Faktor usia dan jenis kelamin berhubungan secara signifikan dengan tingkat kecemasan pasien pra anestesi, sedangkan riwayat operasi dan informasi pra operasi tidak berhubungan secara statistik. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan karakteristik individu pasien dalam penilaian pra anestesi guna mengidentifikasi risiko kecemasan dan meningkatkan kualitas pelayanan perioperatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Anesthesia Pillow dengan Sniffing Position Terhadap Visualisasi Epiglotis Selama Intubasi Intraoperatif pada Pasien Dewasa di RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Keberhasilan intubasi endotrakeal pada anestesi umum sangat dipengaruhi oleh kualitas visualisasi epiglotis. Posisi kepala dan leher, termasuk penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position, diharapkan dapat memperbaiki visualisasi laring yang dinilai menggunakan klasifikasi Cormack–Lehane. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position terhadap visualisasi epiglotis selama intubasi intraoperatif pada pasien dewasa di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuasi-eksperimental dengan desain post-test only control group. Sampel berjumlah 36 pasien dewasa yang dibagi menjadi kelompok perlakuan (anesthesia pillow dengan sniffing position) dan kelompok kontrol (sniffing position). Visualisasi epiglotis dinilai menggunakan klasifikasi Cormack–Lehane. Data dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan antara dua kelompok. Hasil: Hasil menunjukkan menggunakan uji Fisher Exact test menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,691 (> 0,05). Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position terhadap klasifikasi Cormack–Lehane pada pasien intubasi intraoperatif. Dengan kata lain, baik kelompok kontrol maupun intervensi memiliki distribusi pandangan glotis yang relatif serupa.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Oksigen Melalui Nasal Cannula dan Semirecumbent Positioning 30 Terhadap Pencegahan Desaturasi pada Pasien Perokok Pasca General Anesthesia di Pacu RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Desaturasi pasca general anesthesia adalah komplikasi yang umum ditemukan pada pasien perokok, prosedur general anesthesia memiliki risiko yang signifikan terhadap desaturasi atau penurunan saturasi oksigen dari nilai normal. Intervensi yang diperlukan untuk membantu meningkatkan saturasi oksigen salah satunya pemberian oksigen menggunakan nasal cannula dan semirecumbent positioning 30. Tujuan: Untuk mengetahui perubahan saturasi sebelum dan sesudah diberikannya intervensi pasca anestesi umum di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 44 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat saturasi oksigen Instrumen penelitian berupa skoring adaptasi National Early Warning Score (NEWS). dan dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Berdasarkan hasil dari tujuan umum dengan menggunakan Uji Paired T-test diperoleh bahwa sebanyak 44 responden mengalami perubahan, nilai signifikan sebesar p=0,000 (p<0,05). Sehingga ada perbedaan rata-rata antara hasil nilai pretest dengan hasil nilai posttest pada pasien perokok pasca general anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi. Kesimpulan: Pemberian oksigen melalui nasal cannula dan posisi semirecumbent 30° berpengaruh signifikan terhadap pencegahan desaturasi pada pasien perokok pasca general anesthesia ditunjukkan dengan adanya peningkatan saturasi oksigen dengan nilai sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05). Saran: Pemberian oksigen melalui nasal cannula dan posisi semirecumbent 30° terbukti efektif mencegah desaturasi pada pasien perokok pasca general anesthesia dan direkomendasikan untuk praktik klinis serta penelitian selanjutnya.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Edukasi Pre-Anestesi Menggunakan Video Terhadap Tingkat Kecemasan dan Kepuasan Pasien dengan Anestesi Spinal di Ruang Isntalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kecemasan preoperatif merupakan respons emosional yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan anestesi spinal. Kurangnya pemahaman mengenai prosedur anestesi dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepuasan pasien terhadap pelayanan. Edukasi berbasis video menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pemahaman pasien sebelum tindakan anestesi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pre-anestesi menggunakan media video terhadap tingkat kecemasan dan kepuasan pasien dengan anestesi spinal di Ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Purwakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Purwakarta pada periode 2 Desember 2025 sampai 23 Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 70 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner skala kecemasan, sedangkan kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner kepuasan pasien yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian edukasi video. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat kecemasan setelah diberikan edukasi video (p < 0,001) serta peningkatan signifikan tingkat kepuasan pasien (p = 0,001).Kesimpulan: Edukasi preanestesi menggunakan media video berpengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan dan peningkatan kepuasan pasien dengan anestesi spinal.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Status Fisik American Society of Anestesiologist (ASA) dengan Waktu Pencapaian Aldrete Score pada Pasien Pasca General Anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Guided Imagery Terhadap Penurunan Kecemasan pada Pasien Pre Operasi dengan Teknik General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Cemas merupakan respons psikologis yang umum dialami pasien pada fase pre operasi, terutama pada pasien yang akan menjalani pembedahan dengan teknik general anestesi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan teknik relaksasi guided imagery. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experiment melalui pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) sebelum dan sesudah diberikan intervensi guided imagery. Intervensi dilakukan selama 10 menit dengan tiga kali pengulangan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik bivariat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pasien setelah diberikan intervensi guided imagery. Hasil uji statistik n nilai p-value < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi. Kesimpulan: Bahwa ada pengaruh setelah diberikan intervensi guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Post Dural Puncture Headache (PDPH) pada Pasien Post Sectio Caesarea di RSIA Aisyah Qurratu'ain Bekasi Timur, Jawa Barat

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Tindakan Sectio Caesarea terus bertambah dan sebagian besar dilaksanakan dengan anestesi spinal. Salah satu komplikasi tersering adalah Post Dural Puncture Headache (PDPH) dampak kebocoran cairan serebrospinal setelah pungsi duramater. Faktor yang diduga berkaitan dengan PDPH meliputi usia, ukuran jarum spinal, sejarah PDPH, dan usaha pungsi lumbal. Tujuan : Mengetahui unsur-unsur yang berkaitan dengan kejadian PDPH pada pasien post Sectio Caesarea di RSIA Aisyah Qurratu’ain Bekasi Timur. Metode : Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dilaksanakan pada 73 responden menerapkan metode total sampling. Variabel independen meliputi usia, ukuran jarum, sejarah PDPH, dan usaha pungsi lumbal, sedangkan variabel dependen adalah kejadian PDPH yang diukur menerapkan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilaksanakan secara univariat dan bivariat menerapkan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil Penelitian : Hasil riset menandakan sebagian besar responden menempuh nyeri ringan (49,3%). Usia terbanyak adalah 26–35 tahun (61,6%). Penggunaan jarum 25G lebih dominan (74,0%). Responden tanpa sejarah PDPH sebanyak 82,2% dan sebagian besar menempuh satu kali pungsi lumbal (78,1%). Hasil uji Chi-Square menandakan terdapat kaitan signifikan antara usia (p=0,000), ukuran jarum (p<0,05), sejarah PDPH (p<0,05), dan usaha pungsi lumbal (p=0,001) dengan kejadian PDPH. Kesimpulan : Terdapat kaitan signifikan antara usia, ukuran jarum, sejarah Post Dural Puncture Headache (PDPH), dan jumlah pungsi lumbal dengan kejadian PDPH pada pasien post Sectio Caesarea. Saran : Disarankan penggunaan jarum dengan ukuran lebih kecil serta meminimalkan jumlah pungsi lumbal untuk menurunkan bahaya PDPH, serta bertambahkan kewaspadaan pada pasien dengan sejarah PDPH.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kejadian Shivering dengan Pemulihan Bromage Score pada Pasien Anestesi Spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Korelasi Rasio Lingkar Leher, Jarak Thyromental, dan Indeks Massa Tubuh Terhadap Derajat Kesulitasn Intubasi pada Pasien Dewasa dengan General Anestesi RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kesulitan intubasi merupakan tantangan utama anestesi yang meningkatkan risiko morbiditas. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi rasio lingkar leher (NC/TMD), jarak thyromental (TMD), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap derajat kesulitan intubasi (skala Cormack-Lehane) di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Studi analitik observasional cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa yang menjalani anestesi umum elektif periode 1–31 Desember 2025. Data antropometri dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji bivariat, regresi logistik, serta evaluasi kurva ROC/AUC untuk mengukur akurasi prediktor. Hasil: Terdapat korelasi signifikan (P < 0,05) antara rasio NC/TMD, TMD, dan IMT dengan tingkat kesulitan intubasi. Rasio NC/TMD menunjukkan akurasi tertinggi (AUC 0,912) dibandingkan IMT (0,818) dan TMD (0,817). Temuan ini menegaskan bahwa rasio NC/TMD adalah alat skrining non-invasif yang paling komprehensif dalam memprediksi penyulit jalan napas. Kesimpulan: Rasio lingkar leher merupakan prediktor paling akurat untuk menilai risiko kesulitan intubasi pada pasien dewasa. Hasil ini diharapkan dapat memperkuat penilaian praoperatif penata anestesi dan menjadi dasar pengembangan pedoman manajemen jalan napas di Indonesia.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Peran Dasi (Duke Activity Status Index) sebagai Prediktor Risiko Hipotensi Intraoperatif pasa Pasien dengan Anestesi Spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotensi intraoperatif adalah komplikasi yang kerap terjadi pada pasien yang menjalani anestesi spinal, yang disebabkan oleh blokade sistem simpatis sehingga menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri ratarata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran DASI sebagai prediktor risiko hipotensi intraoperatif pada pasien yang menjalani anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditetapkan berdasarkan nilai MAP <70 mmHg. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden termasuk dalam kategori skor DASI rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara skor DASI dengan kejadian hipotensi intraoperatif dengan nilai p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining preoperatif untuk mendukung perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Mean Arterial Pressure Intra dan Pasca Anestesi Terhadap Waktu Pulih Sadar pada Pasien dengan Anestesi Umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar <30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p<0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan perlakuan yang seragam pada fase emergence anesthesia, seperti penerapan teknik deep-extubation, untuk membandingkan outcome hasil penelitian.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Eye Mask Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Anestesi Spinal di Ruang Intra Operasi Menggunakan Skor Visual Analog Scale For Anxiety (VAS-A) di RS Sentra Medika Cikarang 2025

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi psikologis tidak menyenangkan yang sering dialami oleh pasien ketika menghadapi prosedur pembedahan dengan anestesi spinal yang berdampak pada peningkatan tekanan darah serta kebutuhan tambahan obat sedatif. Upaya penanganan non-farmakologis Eye mask terbukti dapat menciptakan kondisi relaksasi dan menurunkan kecemasan. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor visual analog scale for anxeity (VAS-A) di RS Sentra Medika cikarang. Metode : Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif dengan pre experimental design tipe one group pretest–posttest design dan consecutive sampling sebagai teknik pengabilan sampel yang melibatkan 32 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) dan data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil : Analisis data perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menggunakan uji wilcoxon menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (< 0,05). Kesimpulan : terdapat pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail