BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p < 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi intraoperatif adalah komplikasi yang kerap terjadi pada
pasien yang menjalani anestesi spinal, yang disebabkan oleh blokade sistem
simpatis sehingga menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri ratarata
(MAP).
Identifikasi
risiko
sejak
fase
preoperatif
penting
untuk
mencegah
gangguan
perfusi
organ.
DASI
merupakan
instrumen
sederhana
yang
menilai
kapasitas
fungsional
kardiopulmoner
dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran DASI sebagai
prediktor risiko hipotensi intraoperatif pada pasien yang menjalani anestesi spinal
di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional.
Jumlah sampel sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Skor DASI diklasifikasikan ke dalam kategori rendah,
sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditetapkan berdasarkan nilai MAP <70
mmHg. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat
signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden termasuk dalam
kategori skor DASI rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada
22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara skor DASI dengan kejadian hipotensi intraoperatif dengan nilai
p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan
kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan
skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI
dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining preoperatif untuk mendukung
perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: HIPOTENSI INTRAOPERATIF merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan anestesi spinal akibat blokade simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri rata-rata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran DASI sebagai prediktor risiko HIPOTENSI INTRAOPERATIF pada pasien dengan anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 36 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditentukan berdasarkan MAP 70 mmHg. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki skor DASI kategori rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor DASI dan kejadian HIPOTENSI INTRAOPERATIF dengan nilai signifikansi p = 0,03 (p 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat digunakan sebagai alat skrining preoperatif untuk membantu perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal
Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation
Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p < 0,003
Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation. Hasil penelitian mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p 0,003. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p 0,003 Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi. Kata Kunci: Levobupivacaine, Hipotensi, Pasien Anestesi Spinal ABSTRACT Background : Surgery is a medical procedure that begins with an incision to open an area of the body and ends with suturing to close the wound. Spinal anesthesia involves injecting a local anesthetic drug into the subarachnoid space. Levobupivacaine isobaric 10 mg is considered effective for spinal anesthesia with fewer side effects than bupivacaine, including lower toxicity. The use of levobupivacaine may also cause side effects such as hypotension. Hypotension that is not treated quickly and appropriately can lead to decreased consciousness, pulmonary aspiration, respiratory depression and cardiac arrest. Therefore, it is important to understand the factors that influence hypotension after spinal anesthesia to improve patient safety during surgical procedures. Objective: To determine the relationship between levobupivacaine spinal anesthesia administration and the incidence of hypotension in patients undergoing spinal anesthesia. Methods: This is a quantitative study with a correlational type of research with a cross-sectional study design. The sampling technique used was consecutive sampling and obtained 33 respondents. The measuring instrument used in this study used an observation sheet for signs and symptoms of hypotension in pre-spinal patients and an anesthesia observation sheet.Data analysis using the Sperman Rank correlation test Results: The majority of respondents experienced hypotension as many as 21 respondents (63.6%) and the majority experienced a decrease in BP ≤ 20%, namely 21 people (63.6%). The results of the spearman rank analysis obtained a value (r) of 0.045 and p 0.003. Conclusion: There is a significant association between the administration of levobupivacaine spinal anesthesia and the incidence of hypotension. Keywords: Levobupivacaine, Hypotension, Spinal Anesthesia Patients
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid.
Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor.
Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi.
Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan
obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah
vertebra L2-L3 atau L3-L4 dengan tujuan untuk mendapatkan anelgesi setinggi dermatom
tertentu dan relaksasi otot rangka. Hipotensi merupakan salah satu efek samping anestesia
spinal yang dilakukan pada wanita hamil dengan angka kejadian sekitar 80%. Efek
kardiovaskular akibat tindakan anestesia spinal berhubungan erat dengan level blockade
simpatis yang mencapai persarafan setinggi torakal 1 sampai lumbal 2 (T1–L2). Blokade
simpati akibat anestesia spinal menyebabkan dilatasi pembuluh darah sehingga menurunkan
resistensi pembuluh darah sistemik yang akan menyebabkan hipotensi. Tujuan Penelitian:
Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi intra operasi pada pembedahan sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Metode
Penelitian: Penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross
sectional dan desain penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment Design) dengan
rancangan Separate Sample Pretest-Posttest atau One Group Pretest Posttest. Jumlah
sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan
teknik accidental sampling (convenience sampling). Uji statistik menggunakan uji Chi
Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan tekanan darah pasien sebelum tindakan anestesi
spinal didapatkan hasil bahwa 21 responden dengan tekanan darah normal (70,0%), 9
responden mengalami hipertensi (30,0%), berdasarkan kategori usia didapatkan hasil bahwa
pasien kategori remaja akhir sebanyak 8 (26,7%), usia dewasa awal sebanyak 18 (60,0%),
dan usia dewasa akhir sebanyak 4 (13,3%), berdasarkan klasifikasi ASA didapatkan hasil
bahwa pasien kategori ASA II sebanyak 23 (76,7%) dan ASA III sebanyak 7 (23,3%).
Berdasarkan hasil uji Chi Square, diperoleh nilai probabilitas (p-value) tekanan darah
sebelum tindakan anestesi spinal (0,035), usia (0,061), ASA (0,176). Artinya pada alpha 5%
terdapat pengaruh yang bermakna antara tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal
dengan tekanan darah setelah tindakan anestesi spinal di ruang maternal RSUD Kabupaten
Bekasi. Kesimpulan: Ada pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi pada pasien
intra operasi sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH PEMBERIAN COLOADING CAIRAN KRISTALOID TERHADAP KEJADIAN HIPOTENSI PADA PASIEN DENGAN TINDAKAN SPINAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT KASIH INSANI SUKATANI Wahdatul Apriani Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi D-IV Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Email : [email protected] ABSTRAK Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid. Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor. Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi. Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vertebra L2-L3 atau L3-L4 dengan tujuan untuk mendapatkan anelgesi setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka. Hipotensi merupakan salah satu efek samping anestesia spinal yang dilakukan pada wanita hamil dengan angka kejadian sekitar 80%. Efek kardiovaskular akibat tindakan anestesia spinal berhubungan erat dengan level blockade simpatis yang mencapai persarafan setinggi torakal 1 sampai lumbal 2 (T1–L2). Blokade simpati akibat anestesia spinal menyebabkan dilatasi pembuluh darah sehingga menurunkan resistensi pembuluh darah sistemik yang akan menyebabkan hipotensi. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi intra operasi pada pembedahan sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional dan desain penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment Design) dengan rancangan Separate Sample Pretest-Posttest atau One Group Pretest Posttest. Jumlah sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan teknik accidental sampling (convenience sampling). Uji statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan tekanan darah pasien sebelum tindakan anestesi spinal didapatkan hasil bahwa 21 responden dengan tekanan darah normal (70,0%), 9 responden mengalami hipertensi (30,0%), berdasarkan kategori usia didapatkan hasil bahwa pasien kategori remaja akhir sebanyak 8 (26,7%), usia dewasa awal sebanyak 18 (60,0%), dan usia dewasa akhir sebanyak 4 (13,3%), berdasarkan klasifikasi ASA didapatkan hasil bahwa pasien kategori ASA II sebanyak 23 (76,7%) dan ASA III sebanyak 7 (23,3%). Berdasarkan hasil uji Chi Square, diperoleh nilai probabilitas (p-value) tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal (0,035), usia (0,061), ASA (0,176). Artinya pada alpha 5% terdapat pengaruh yang bermakna antara tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal dengan tekanan darah setelah tindakan anestesi spinal di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Kesimpulan: Ada pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi pada pasien intra operasi sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Tindakan hemodialisa saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, namun
masih banyak penderita mengalami masalah medis saat menjalani hemodialisa. Komplikasi
yang sering terjadi pada penderita yang menjalani hemodialisa adalah tekanan darah umumnya
menurun saat hemodialisa. Sehingga sangat menarik untuk diteliti dengan tujuan untuk
mengetahui hubungan ultrafiltrasi terhadap kejadian hipotensi intradialis pada pasien yang
menjalani hemodialisa di Unit Hemodialisa Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2017.
Jenis penelitian ini adalah survai analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel
penelitian yaitu pasien yang sesuai kritesia inklusi yang menjalani hemodialisa di unit
hemodialisa Runah Sakit Sentra Medika Cibinong pada bulan Desember 2017. Teknik
pengambilan sampel adalah Purposive Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 106
responden. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan lembar observasi dan
instrumen lain yaitu sphygmomanometer untuk mengukur tekanan darah dan monitor mesin
hemodialisa untuk melihat laju ultrafiltrasi. Analisa data secara univariat dan bivariat dengan
uji chi square.
Hasil analisis menunjukkan dua variabel terdapat hubungan dengan hipotensi
intradialisis ( p value 0,001<0,005) dan variabel ultrafiltrasi rate ada hubungan dengan
hipotensi intradialisis ( p value 0,000 < 0,05).
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan adanya hipotensi intadialisis pada pasien
yang menjalani hemodialisa. Disaran untuk penelitian yang akan datang untuk penambahan
faktor resiko lain mengenai hipotensi intradialisis.