BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi intraoperatif adalah komplikasi yang kerap terjadi pada
pasien yang menjalani anestesi spinal, yang disebabkan oleh blokade sistem
simpatis sehingga menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri ratarata
(MAP).
Identifikasi
risiko
sejak
fase
preoperatif
penting
untuk
mencegah
gangguan
perfusi
organ.
DASI
merupakan
instrumen
sederhana
yang
menilai
kapasitas
fungsional
kardiopulmoner
dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran DASI sebagai
prediktor risiko hipotensi intraoperatif pada pasien yang menjalani anestesi spinal
di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional.
Jumlah sampel sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Skor DASI diklasifikasikan ke dalam kategori rendah,
sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditetapkan berdasarkan nilai MAP <70
mmHg. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat
signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden termasuk dalam
kategori skor DASI rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada
22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara skor DASI dengan kejadian hipotensi intraoperatif dengan nilai
p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan
kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan
skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI
dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining preoperatif untuk mendukung
perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: HIPOTENSI INTRAOPERATIF merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan anestesi spinal akibat blokade simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri rata-rata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran DASI sebagai prediktor risiko HIPOTENSI INTRAOPERATIF pada pasien dengan anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 36 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditentukan berdasarkan MAP 70 mmHg. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki skor DASI kategori rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor DASI dan kejadian HIPOTENSI INTRAOPERATIF dengan nilai signifikansi p = 0,03 (p 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat digunakan sebagai alat skrining preoperatif untuk membantu perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Retardasi mental adalah kondisi di mana individu memiliki tingkat intelegensi di bawah ratarata, yang berdampak pada berbagai aspek perkembangan, termasuk kemampuan motorik halus. Penelitian ini penting karena gangguan perkembangan motorik sering disebabkan oleh hambatan dalam proses belajar, yang dapat membuat anak malas menulis, kurang minat belajar, dan mengalami dampak negatif pada kepribadian mereka. Untuk merangsang perkembangan motorik halus, terapi bermain dengan paper toys dipilih sebagai intervensi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest, melibatkan 37 anak dengan retardasi mental dari SDLB Ananda Mandiri Tambun, Kabupaten Bekasi. Perkembangan motorik halus diukur sebelum dan sesudah intervensi. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor meningkat dari 20,16 menjadi 26,43, dengan uji Wilcoxon Signed-Rank menghasilkan nilai p < 0,001. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi bermain dengan paper toys terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak-anak dengan retardasi mental.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Retardasi mental adalah kondisi di mana individu memiliki tingkat intelegensi di bawah rata-rata, yang berdampak pada berbagai aspek perkembangan, termasuk kemampuan motorik halus. Penelitian ini penting karena gangguan perkembangan motorik sering disebabkan oleh hambatan dalam proses belajar, yang dapat membuat anak malas menulis, kurang minat belajar, dan mengalami dampak negatif pada kepribadian mereka. Untuk merangsang perkembangan motorik halus, terapi bermain dengan paper toys dipilih sebagai intervensi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest, melibatkan 37 anak dengan retardasi mental dari SDLB Ananda Mandiri Tambun, Kabupaten Bekasi. Perkembangan motorik halus diukur sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor meningkat dari 20,16 menjadi 26,43, dengan uji Wilcoxon Signed-Rank menghasilkan nilai p 0,001. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi bermain dengan paper toys terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak-anak dengan retardasi mental.