Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Vidya Urbaningrum

5 karya publik ditemukan.

2026: 5

Pengaruh Pemberian Body Warmer Pads Terhadap Kenaikan Suhu Tubuh pada Pasien Shivering Pasca General Anesthesia di Ruang PACU (Post Anesthesia Care Unit) RSUD Bayu Asih

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penurunan suhu tubuh merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien pasca anestesi umum di ruang pemulihan serta dapat meningkatkan ketidaknyamanan dan risiko komplikasi pasca operasi. Intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk meningkatkan suhu tubuh pasien adalah body warmer pads. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian body warmer pads terhadap kenaikan suhu tubuh pada pasien shivering pasca general anesthesia di ruang Post Anesthesia Care Unit RSUD Bayu Asih. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experimental one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 29 responden. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah pemberian body warmer pads selama 15 menit menggunakan termometer digital. Uji normalitas menunjukkan sebagian data tidak berdistribusi normal sehingga analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z = -4,710 dengan p value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian body warmer pads. Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan pemberian body warmer pads terhadap kenaikan suhu tubuh pada pasien shivering pasca general anesthesia. Saran: Pemberian body warmer pads ini terbukti efektif sebagai tindakan keperawatan nonfarmakologis untuk mencegah dan mengatasi penurunan suhu tubuh pada pasien pasca general anesthesia.

Hubungan Lama Puasa Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomiting (PONV) pada Pasien Operasi Spinal Anestesi di RSUD RH Satibi Kabupaten Bogot

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan pembedahan dengan anestesi spinal. Kejadian PONV dapat meningkatkan ketidaknyamanan pasien, memperpanjang masa perawatan. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap kejadian PONV adalah lama puasa preoperatif. Tujuan : Mengetahui hubungan lama puasa dengan kejadian PONV pada pasien dengan spinal anestesi di RSUD RH Satibi Kabupaten Bogor. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 63 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden menjalani puasa lebih dari 8 jam dan sebagian mengalami kejadian PONV dalam 15 menit pertama pasca operasi. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian PONV (p < 0,05). Pasien dengan durasi puasa lebih dari 8 jam memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV dibandingkan dengan pasien yang menjalani puasa sesuai rekomendasi. Kesimpulan : Penelitian ini terdapat hubungan antara lama puasa preoperatif dengan kejadian PONV pada pasien spinal anestesi. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk mengoptimalkan manajemen puasa preoperatif sesuai SOP untuk meminimalkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan perioperative.

Hubungan Status Fisik American Society of Anestesiologist (ASA) dengan Waktu Pencapaian Aldrete Score pada Pasien Pasca General Anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas.

Pengaruh Guided Imagery Terhadap Penurunan Kecemasan pada Pasien Pre Operasi dengan Teknik General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Cemas merupakan respons psikologis yang umum dialami pasien pada fase pre operasi, terutama pada pasien yang akan menjalani pembedahan dengan teknik general anestesi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan teknik relaksasi guided imagery. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experiment melalui pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) sebelum dan sesudah diberikan intervensi guided imagery. Intervensi dilakukan selama 10 menit dengan tiga kali pengulangan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik bivariat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pasien setelah diberikan intervensi guided imagery. Hasil uji statistik n nilai p-value < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi. Kesimpulan: Bahwa ada pengaruh setelah diberikan intervensi guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi.

Hubungan Kejadian Shivering dengan Pemulihan Bromage Score pada Pasien Anestesi Spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.