BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang:Hipertensi derajat II merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Keadaan ini dapat menyebabkan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular dan serebral yang berpotensi memengaruhi respons tubuh terhadap obat anestesi. Pada tindakan pembedahan dengan general anestesi, gangguan regulasi hemodinamik pada pasien hipertensi diduga berkontribusi terhadap pemanjangan waktu pulih sadar.Tujuan: Mengetahui hubungan antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Bayu Asih PurwakartaMetode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Sampel berjumlah 50 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis pasien, serta penilaian waktu pulih sadar menggunakan Aldrete Score. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebagian besar memiliki riwayat hipertensi derajat II. Distribusi waktu pulih sadar menunjukkan terdapat responden dengan pemulihan lambat (>15 menit) dan pemulihan cepat (<15 menit). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value > 0,05. Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Meskipun demikian, pengelolaan tekanan darah sebelum tindakan operasi tetap penting untuk meminimalkan risiko komplikasi perioperatif dan meningkatkan keselamatan pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Cemas merupakan respons psikologis yang umum dialami pasien pada fase pre operasi, terutama pada pasien yang akan menjalani pembedahan dengan teknik general anestesi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan teknik relaksasi guided imagery. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experiment melalui pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) sebelum dan sesudah diberikan intervensi guided imagery. Intervensi dilakukan selama 10 menit dengan tiga kali pengulangan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik bivariat.
Hasil: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pasien setelah diberikan intervensi guided imagery. Hasil uji statistik n nilai p-value < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi.
Kesimpulan: Bahwa ada pengaruh setelah diberikan intervensi guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kecemasan adalah reaksi psikologis yang umum terjadi pada pasien pre operasi, terutama sebelum menjalani general anestesi. Kecemasan yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang akan menjalani general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 36 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan tekanan darah sistolik (P- Value 0,002) dan diastolik (P-Value 0,003). Sebagian besar responden mengalami peningkatan tekanan darah sistolik (69,4%) dan diastolik (58,3%). Kesimpulan: bahwa adanya korelasi¹ atau hubungan tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang menjalani general anestesi. Penatalaksanaan kecemasan pre operasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan kondisi hemodinamik pasien demi keberhasilan tindakan operasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
General anestesi adalah tindakan pembiusan yang ditandai dengan hilangnya kesadaran, nyeri, memori, dan relaksasi.Komplikasi yang paling sering muncul setelah tindakan anestesi salah satunya adalah hipotermi. Penyebabnya adalah karena saraf simpatis di block oleh obat anestesi sehingga terjadi vasodilatasi dan mengakibatkan terjadinya penurunan suhu tubuh atau hipotermi
Tujuan peneliti: Tujuan Umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara hipotermi dengan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang pemulihan RSUD Kabupaten Bekasi.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif uji Chi square.Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi.Data dianalisis menggunakan uji Chi square.Hasil: Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh responden berjenis kelamin laki-laki (55,6%),berdasarkan usia 17-25 tahun (33,3%) dan berdasarkan berat badan 44 – 55 kg (36,1%) dan 66-80 kg (36,1%). Berdasarkan suhu tubuh 33⁰-35⁰C (63.9%) berdasarkan waktu pulih sadar <15 menit sebanyak 16 orang (44,4) Uji perbedaan waktu pulih sadar dengan kejadian hipotermi didapatkan P-Value 0,001 <0,05.Kesimpulan: Ada hubungan waktu pulih sadar dengan hipotermi pada pasien pasca general anestesi di rumah sakit umum daerah kabupaten bekasi
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : General anestesi normalnya memiliki waktu pulih sadar 15 menit, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pemanjangan waktu pulih sadar, salah satunya adalah IMT dan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tuhuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar pada pasien General anestesi di RS Amanda cikarang.
Metode : Jenis penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Pengambailan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 35 responden di RS Amanda Cikarang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi berisi IMT, status fisik ASA dan
waktu pulih sadar. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian didapatkan responden IMT dengan obesitas sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 9 responden, responden status fisik ASA I sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 16 responden. Hasil uji chisquare
didapatkan bahwa ada hubungan antara IMT terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.018) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.005).
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Tindakan Operasi yang dilakukan secara elektif maupun kedaruratan merupakan suatu peristiwa yang mencemaskan bagi pasien. Salah satu cara untuk mengatasi kecemasan pada pasien yaitu dengan adanya dukungan keluarga. Tujuan : Mengidentifikasi apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: penelitian ini menggunakan kuantitatif non eksperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 44 responden. Data dianalisis menggunakan spearman Rank. Instrument penelitian berupa kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Blue Print Quetiont. Hasil : Responden yang mendapatkan dukungan keluarga dengan kategori sedang sebanyak 4 orang (9,1%), 3 diantaranya mengalami kecemasan sedang dan 1 orang lainnya mengalami kecemasan berat. Sedangkan responden yang mendapatkan dukungan keluarga tinggi berjumlah 40 orang (90,9%). 32 orang (72,8%) diantaranya mengalami kecemasan rendah. Dan 8 orang (18,2%) lainnya mengalami kecemasan sedang. Berdasarkan hasil uji statistic spearman rank didapatkan hasil P value 0,001 dan terlihat nilai r = 0,498 artinya korelasi sempurna. pada nilai korelasi menjelaskan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin rendah tingkat kecemasan pasien. Kesimpulan : ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi di RSUD kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Salah satu prosedur anestesi umum adalah intubasi trakea melalui pemasangan tabung endotrakeal (ETT). Kesulitan dalam intubasi sering dikaitkan dengan komplikasi serius, terutama jika petugas gagal melakukan intubasi selama anestesi. Untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam tindakan intubasi perlu dilakukan penilaian jalan nafas salah satunya dengan menggunakan penilaian EGRI Score. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan EGRI Score dengan tingkat keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan jenis penelitian korelasional menggunakan rancangan cross sectional study. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 35 responden dengan teknik sampling non-probability sampling (consecutive sampling). Dengan menggunakan instrumen EGRI Score yang dikutip dari penelitian Norlailiyah (2022). Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian ini adalah responden yang memiliki prediksi mudah intubasi sebanyak 30 responden (85,7%) dan berhasil dilakukan intubasi sebanyak 30 responden (85,7). Dari hasil analisis chi square didapatkan nilai p-value 0,001 (p-value <0,05) dengan nilai OR 5,33. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara EGRI Score dengan tingkat keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
General anestesi merupakan salah satu teknik prosedur pembedahan yang banyak digunakan untuk pasien bedah mayor. Pasien yang menjalani operasi lebih dari 60 menit dengan teknik general anestesi memiliki resiko terjadinya shivering. Kejadian Post Anesthesia Shivering (PAS) dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan komplikasi pada luka bedah. Tujuan : Mengetahui adanya hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik general anestesi berjumlah 33 menggunakan teknik stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi shivering scale Crossley dan Maharjan. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian : Lama operasi yang dijalani pasien adalah > 2 jam sebanyak 21 responden (63,3%) dan pasien pasca operasi dengan general anestesi mayoritas mengalami shivering sebanyak 19 orang (57,6%). Hasil analisis statistik Chi-Square menunjukan ada hubungan antara lama operasi dengan shivering p-value < 0,004. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara lama operasi terhadap kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Bedah mayor akan memengaruhi waktu proses pemulihan kesadaran pasien pasca menjalani pembedahan. Umumnya pasien akan sadar kurang dari 15 menit. Faktor yang mempengaruhi waktu pulih sadar diantaranya ,indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik. Tujuan : Diketahui faktor – faktor yang berhubungan dengan waktu pulih sadar pasca operasi dengan general anestesi pada pasien bedah mayor. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 34. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan skala ukur interval dan ordinal . Yang berarti bahwa. Hasil: Hasil analisis sperman pada indeks massa tubuh dengan waktu pulih sabar didapatkan nilai (r) 0.498 dan p-value yaitu 0.003. Hasil analisis sperman durasi operasi dengan waktu pulih sadar didapatkan nilai (r) 0.487 dan p-value 0.004. Hasil analisis Mann Whitney didapatkan nilai p-value yaitu 0.011. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik dengan waktu pulih sadar .
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Salah satu komplikasi dari general anestesi adalah Post Operative Nausea and Vomiting (PONV). Insiden PONV mencapai 30% dari 100 juta lebih pasien bedah dunia mengalami kejadian mual muntah. Penanganan PONV dapat menggunakan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmalkologi yaitu pemberian aromaterapi peppermint secara inhalasi. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan skor Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) pasca pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi di ruang PACU RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: menggunakan analisis kuantitatif. Desain penelitian adalah Pra-eksperimen dengan pendekatan one grup pretest postest design. Sampel dalam peneltian ini adalah 36 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test < 0,05. Hasil penelitian: didapatkan nilai p-value 0,001 < 0,05 yang artinya ada perbedaan skor PONV sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi. Kesimpulan: terdapat perbedaan skor PONV pasca pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi di ruang PACU RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pasien dengan tindakan operasi menggunakan general anestesi sering mengalami perubuhan status hemodinamik. Status hemodinamik sangat penting untuk di perhatikan dan diberikan intervensi sehingga tidak mengganggu jalannya operasi dan mengancam jiwa pasien. Intervensi yang dapat dilakukan untuk menstabilkan hemodinamik pada pasien general anastesi salah satunya dengan mendengarkan murottal Al-Qur’an. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam sosialisasi penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui pemberian penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai pemberian penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Induksi pada general anestesi merupakan Tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P<0.050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 < 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R 2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P- value : 0,040; R
2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R 2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R 2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R 2
: 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R 2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R 2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Induksi pada general anestesi merupakan tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P0,050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P-value : 0,040; R2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R2 : 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Salah satu prosedur anestesi umum adalah intubasi trakea melalui pemasangan tabung endotrakeal (ETT).Kesulitan dalam intubasi sering dikaitkan dengan komplikasi serius, terutama jika petugas gagal melakukan intubasi selama anestesi. Untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam tindakan intubasi perlu dilakukan penilaian jalan nafas salah satunya dengan menggunakan penilaian EGRI Score. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan EGRI Score dengan tingkat keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan jenis penelitian korelasional menggunakan rancangan cross sectional study. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 35 responden dengan teknik sampling non-probability sampling (consecutive sampling). Dengan menggunakan instrumen EGRI Score yang dikutip dari penelitian Norlailiyah (2022). Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian ini adalah responden yang memiliki prediksi mudah intubasi sebanyak 30 responden (85,7%) dan berhasil dilakukan intubasi sebanyak 30 responden (85,7). Dari hasil analisis chi square didapatkan nilai p-value 0,001 (p-value 0,05) dengan nilai OR 5,33. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara EGRI Score dengan tingkat keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang : Bedah mayor akan memengaruhi waktu proses pemulihan kesadaran pasien pasca menjalani pembedahan. Umumnya pasien akan sadar kurang dari 15 menit. Faktor yang mempengaruhi waktu pulih sadar diantaranya ,indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik. Tujuan : Diketahui faktor – faktor yang berhubungan dengan waktu pulih sadar pasca operasi dengan general anestesi pada pasien bedah mayor. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 34. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan skala ukur interval dan ordinal . Yang berarti bahwa. Hasil: Hasil analisis sperman pada indeks massa tubuh dengan waktu pulih sabar didapatkan nilai (r) 0.498 dan p-value yaitu 0.003. Hasil analisis sperman durasi operasi dengan waktu pulih sadar didapatkan nilai (r) 0.487 dan p-value 0.004. Hasil analisis Mann Whitney didapatkan nilai p-value yaitu 0.011. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik dengan waktu pulih sadar .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : General anestesi merupakan salah satu teknik prosedur pembedahan yang banyak digunakan untuk pasien bedah mayor. Pasien yang menjalani operasi lebih dari 60 menit dengan teknik general anestesi memiliki resiko terjadinya shivering. Kejadian Post Anesthesia Shivering (PAS) dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan komplikasi pada luka bedah. Tujuan : Mengetahui adanya hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik general anestesi berjumlah 33 menggunakan teknik stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi shivering scale Crossley dan Maharjan. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian : Lama operasi yang dijalani pasien adalah > 2 jam sebanyak 21 responden (63,3%) dan pasien pasca operasi dengan general anestesi mayoritas mengalami shivering sebanyak 19 orang (57,6%). Hasil analisis statistik Chi-Square menunjukan ada hubungan antara lama operasi dengan shivering p-value 0,004. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara lama operasi terhadap kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu komplikasi dari general anestesi adalah Post Operative Nausea and Vomiting (PONV). Insiden PONV mencapai 30% dari 100 juta lebih pasien bedah dunia mengalami kejadian mual muntah. Penanganan PONV dapat menggunakan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmalkologi yaitu pemberian aromaterapi peppermint secara inhalasi. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan skor Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) pasca pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi di ruang PACU RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis kuantitatif. Desain penelitian adalah Pra-eksperimen dengan pendekatan one grup pretest postest design. Sampel dalam peneltian ini adalah 36 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test 0,05. Hasil penelitian didapatkan nilai p-value 0,001 0,05 yang artinya ada perbedaan skor PONV sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan skor PONV pasca pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi di ruang PACU RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta.