2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi.
Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank.
Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48).
Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : General anestesi normalnya memiliki waktu pulih sadar 15 menit, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pemanjangan waktu pulih sadar, salah satunya adalah IMT dan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tuhuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar pada pasien General anestesi di RS Amanda cikarang.
Metode : Jenis penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Pengambailan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 35 responden di RS Amanda Cikarang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi berisi IMT, status fisik ASA dan
waktu pulih sadar. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian didapatkan responden IMT dengan obesitas sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 9 responden, responden status fisik ASA I sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 16 responden. Hasil uji chisquare
didapatkan bahwa ada hubungan antara IMT terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.018) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.005).
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tindakan Operasi yang dilakukan secara elektif maupun kedaruratan merupakan suatu peristiwa yang mencemaskan bagi pasien. Salah satu cara untuk mengatasi kecemasan pada pasien yaitu dengan adanya dukungan keluarga. Tujuan : Mengidentifikasi apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: penelitian ini menggunakan kuantitatif non eksperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 44 responden. Data dianalisis menggunakan spearman Rank. Instrument penelitian berupa kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Blue Print Quetiont. Hasil : Responden yang mendapatkan dukungan keluarga dengan kategori sedang sebanyak 4 orang (9,1%), 3 diantaranya mengalami kecemasan sedang dan 1 orang lainnya mengalami kecemasan berat. Sedangkan responden yang mendapatkan dukungan keluarga tinggi berjumlah 40 orang (90,9%). 32 orang (72,8%) diantaranya mengalami kecemasan rendah. Dan 8 orang (18,2%) lainnya mengalami kecemasan sedang. Berdasarkan hasil uji statistic spearman rank didapatkan hasil P value 0,001 dan terlihat nilai r = 0,498 artinya korelasi sempurna. pada nilai korelasi menjelaskan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin rendah tingkat kecemasan pasien. Kesimpulan : ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi di RSUD kabupaten Bekasi.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Teknik relaksasi nafas dalam adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan nyeri dengan cara menarik nafas melalui
hidung, dan menghembuskan nafas secara perlahan melalui mulut. Hasil studi yang dilakukan oleh Basri, (2019)
menunjukkan 90% pasien pre operasi mengalami kecemasan. Kecemasan mengakibatkan peningkatan denyut jantung,
peningkatan frekuensi nafas, peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi nafas dalam
terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode
penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one group pretest- posttest.
Pengambilan sample adalah purposive sampling melibatkan 37 responden. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon,
instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil:
Karakteristik responden pre operasi yang mengalami kecemasan lebih tinggi pada usia lansia (24,3%), sebagian besar jenis
kelamin perempuan (59,5%), menurut tingkat pengetahuan pasien kecemasan lebih tinggi pada pasien yang belum pernah
operasi (67,6%) dan mayoritas responden lulusan SMA (29,8%). Uji perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah
intervensi didapatkan P-Value 0,001. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap
penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi, dengan nilai p-value 0,001 dan mean 0,8108.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tindakan anestesi adalah hilangnya seluruh modalitas dari sensasi yang meliputi sensasi/nyeri, rabaan, suhu, posisi. Anestesi dibagi menjadi dua teknik, yaitu general anestesi atau regional anestesi. Anestesi umum membuat pasien tidak sadar sedangkan anestesi regional pasien masih sadar, tetapi tidak merasakan nyeri. Pemberian anestesi pada pasien diberikan
sebagai upaya untuk menghilangkan nyeri dengan sadar (regional anestesi) atau tanpa sadar (general anestesi) guna menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan operasi. Tujuan Penelitian: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi musik yang diberikan untuk mengurangi stres pada pasien pre operatif general anestesi. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah Pre Eksperimental dengan
perancangan yang digunakan adalah One Group pre-post test yaitu melakukan satu kali pengukuran di depan (Pre- Test) sebelum adanya perlakuan dan setelah itu dilakukan pengukuran kembali (Post-Test). Populasi dalam penelitian ini yaitu semua pasien yang akan melakukan pembedahan mayor dengan general anestesi di ruang pre operatif Rumah Sakit Medirossa
Cikarang dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 37 responden. Hasil Penelitian: Karakteristik responden pre operatif yang mengalami stres lebih tinggi pada 46-55 tahun (43,2%) sebagian besar jenis kelamin perempuan 20 (54,1), menurut tingkat pengetahuan pasien stres lebih tinggi pada pasien yang belum pernah operasi 31 responden (83,8%) dan mayoritas responden lulusan SMA 36 responden (83,8%). Tingkat skor stres sebelum diberikan intervensi sebagian besar mendapatkan
skor 19 - 25 stres sedang (54,1%). Tingkat skor stres setelah diberikan intervensi sebagian besar menurun menjadi 15 - 18 stres ringan (64,9%). Ada pengaruh pemberian terapi musik terhadap peningkatan stres pada pasien general anestesi pre operatif. Dengan p-value 0,8108 tidak signfikan. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian terapi musik terhadap penurunan stres pada pasien general anestesi pre operatif di ruang operasi Rumah Sakit Medirossa Cikarang.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tindakan operasi ialah terapi yang dilakukan secara invasive pada pasien. Rasa cemas sangat
berpengaruh pada tindakan anestesi yang akan dilakukan. Ada beberapa cara untuk mengatasi
kecemasan salah satu nya yaitu dengan pemenuhan kecerdasan spiritual. Tujuan :
Mengidentifikasi apakah ada hubungan kecerdasan spirual dengan tingkat kecemasan pre
operasi general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : penelitian ini menggunakan
kuantitatif non eksperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik
pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 44 responden. Data dianalisis
menggunakan spearman Rank. Instrument penelitian berupa kuesioner Zung self-rating anxiety
scale (SAS) dan Spiritual Quetiont. Hasil : mayoritas responden adalah yang berusia 36 – 45
tahun yaitu 13 orang (29,5%), yang berjenis kelamin Perempuan (54,5%), yang beragama islam
yaitu 42 orang (95,5%), yang berpendidikan SMP 17 orang (38,6%), yang berpenghasilan <1jt
– 2 jt sebanyak 17 orang (38,6%), dan responden yang menjalani jenis operasi bedah umum
sebanyak 15 orang (34,1%). Tingkat spiritual sedang sebanyak 30 orang (68,2%). Tingkat
kecemasan yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 25 orang (56,8%) dan 16 orang
mengalami Tingkat kecemsan ringan sebanyak 16 orang (36,4%). pada ujian statistic Spearman
Rank diperoleh nilai Signifikansi 0,038. Kesimpulan : ada hubungan antara kecerdasan spiritual
dengan tingkat kecemasan pre operasi general anestesi di IBS RSUD kabupaten Bekasi.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pasien dengan tindakan operasi menggunakan general anestesi sering mengalami perubuhan status hemodinamik. Status hemodinamik sangat penting untuk di perhatikan dan diberikan intervensi sehingga tidak mengganggu jalannya operasi dan mengancam jiwa pasien. Intervensi yang dapat dilakukan untuk menstabilkan hemodinamik pada pasien general anastesi salah satunya dengan mendengarkan murottal Al-Qur’an. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam sosialisasi penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui pemberian penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai pemberian penerapan terapi spiritual dengan audio murotal terhadap penurunan tekanan darah pada pasien pra general anestesi.