BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang:Hipertensi derajat II merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Keadaan ini dapat menyebabkan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular dan serebral yang berpotensi memengaruhi respons tubuh terhadap obat anestesi. Pada tindakan pembedahan dengan general anestesi, gangguan regulasi hemodinamik pada pasien hipertensi diduga berkontribusi terhadap pemanjangan waktu pulih sadar.Tujuan: Mengetahui hubungan antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Bayu Asih PurwakartaMetode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Sampel berjumlah 50 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis pasien, serta penilaian waktu pulih sadar menggunakan Aldrete Score. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebagian besar memiliki riwayat hipertensi derajat II. Distribusi waktu pulih sadar menunjukkan terdapat responden dengan pemulihan lambat (>15 menit) dan pemulihan cepat (<15 menit). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value > 0,05. Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Meskipun demikian, pengelolaan tekanan darah sebelum tindakan operasi tetap penting untuk meminimalkan risiko komplikasi perioperatif dan meningkatkan keselamatan pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar <30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p<0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan perlakuan yang seragam pada fase emergence anesthesia, seperti penerapan teknik deep-extubation, untuk membandingkan outcome hasil penelitian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar dengan p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan dengan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
General anestesi adalah tindakan pembiusan yang ditandai dengan hilangnya kesadaran, nyeri, memori, dan relaksasi.Komplikasi yang paling sering muncul setelah tindakan anestesi salah satunya adalah hipotermi. Penyebabnya adalah karena saraf simpatis di block oleh obat anestesi sehingga terjadi vasodilatasi dan mengakibatkan terjadinya penurunan suhu tubuh atau hipotermi
Tujuan peneliti: Tujuan Umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara hipotermi dengan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang pemulihan RSUD Kabupaten Bekasi.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif uji Chi square.Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi.Data dianalisis menggunakan uji Chi square.Hasil: Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh responden berjenis kelamin laki-laki (55,6%),berdasarkan usia 17-25 tahun (33,3%) dan berdasarkan berat badan 44 – 55 kg (36,1%) dan 66-80 kg (36,1%). Berdasarkan suhu tubuh 33⁰-35⁰C (63.9%) berdasarkan waktu pulih sadar <15 menit sebanyak 16 orang (44,4) Uji perbedaan waktu pulih sadar dengan kejadian hipotermi didapatkan P-Value 0,001 <0,05.Kesimpulan: Ada hubungan waktu pulih sadar dengan hipotermi pada pasien pasca general anestesi di rumah sakit umum daerah kabupaten bekasi
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : General anestesi normalnya memiliki waktu pulih sadar 15 menit, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pemanjangan waktu pulih sadar, salah satunya adalah IMT dan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tuhuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar pada pasien General anestesi di RS Amanda cikarang.
Metode : Jenis penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Pengambailan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 35 responden di RS Amanda Cikarang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi berisi IMT, status fisik ASA dan
waktu pulih sadar. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian didapatkan responden IMT dengan obesitas sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 9 responden, responden status fisik ASA I sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 16 responden. Hasil uji chisquare
didapatkan bahwa ada hubungan antara IMT terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.018) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.005).
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang : General anestesi normalnya memiliki waktu pulih sadar 15 menit, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pemanjangan waktu pulih sadar, salah satunya adalah IMT dan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tuhuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar pada pasien General anestesi di RS Amanda cikarang. Metode : Jenis penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Pengambailan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 35 responden di RS Amanda Cikarang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi berisi IMT, status fisik ASA dan waktu pulih sadar. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil penelitian didapatkan responden IMT dengan obesitas sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 9 responden, responden status fisik ASA I sebagian besar mengalami keterlambatan waktu pulih sadar sebanyak 16 responden. Hasil uji chi-square didapatkan bahwa ada hubungan antara IMT terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.018) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar dengan p-value (0.005). Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan status fisik ASA terhadap waktu pulih sadar.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Bedah mayor akan memengaruhi waktu proses pemulihan kesadaran pasien pasca menjalani pembedahan. Umumnya pasien akan sadar kurang dari 15 menit. Faktor yang mempengaruhi waktu pulih sadar diantaranya ,indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik. Tujuan : Diketahui faktor – faktor yang berhubungan dengan waktu pulih sadar pasca operasi dengan general anestesi pada pasien bedah mayor. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 34. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan skala ukur interval dan ordinal . Yang berarti bahwa. Hasil: Hasil analisis sperman pada indeks massa tubuh dengan waktu pulih sabar didapatkan nilai (r) 0.498 dan p-value yaitu 0.003. Hasil analisis sperman durasi operasi dengan waktu pulih sadar didapatkan nilai (r) 0.487 dan p-value 0.004. Hasil analisis Mann Whitney didapatkan nilai p-value yaitu 0.011. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik dengan waktu pulih sadar .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang : Bedah mayor akan memengaruhi waktu proses pemulihan kesadaran pasien pasca menjalani pembedahan. Umumnya pasien akan sadar kurang dari 15 menit. Faktor yang mempengaruhi waktu pulih sadar diantaranya ,indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik. Tujuan : Diketahui faktor – faktor yang berhubungan dengan waktu pulih sadar pasca operasi dengan general anestesi pada pasien bedah mayor. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 34. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan skala ukur interval dan ordinal . Yang berarti bahwa. Hasil: Hasil analisis sperman pada indeks massa tubuh dengan waktu pulih sabar didapatkan nilai (r) 0.498 dan p-value yaitu 0.003. Hasil analisis sperman durasi operasi dengan waktu pulih sadar didapatkan nilai (r) 0.487 dan p-value 0.004. Hasil analisis Mann Whitney didapatkan nilai p-value yaitu 0.011. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik dengan waktu pulih sadar .