Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

32 hasil
Subjek: Anestesi spinal
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Korelasi Ketinggian Level Blok Spinal dengan Frekuensi Mual Muntah Pasca Anestesi Spinal di RSIA Aisyah Qurratuain Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Komplikasi yang dapat terjadi setelah anestesi spinal adalah mual dan muntah. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh ketinggin level blok spinal yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga memicu pusat muntah. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara ketinggian level blok spinal dengan frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendektan cross-sectional pada 44 responden. Variabel independen yaitu ketinggian level blok spinal sedangkan variabel dependen adalah frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal. Data dikumpulkan melalui lembar observasi mengenai ketinggian blok spinal dan kejadian mual muntah. Analisis data dilakukan menggunakan univariat dan bivariat. Hasil: Menunjukkan adanya korelasi antara ketinggian blok spinal dengan frekuensi mual muntah pada pasien pasca anestesi spinal. Dari 44 responden 7 orang dengan ketinggian blok rendah (15.9%) dan 37 orang dengan ketinggian sedang (84.1%). Lalu sebanyak 15 orang mengalami muntah (34.1%), 10 orang mual (22.7%), 19 orang mual muntah ≥2 kali (43.2%). Diperoleh bahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,402 dengan nilai signifikansi 0,007 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat korelasi yang signifikan antara ketinggian level blok spinal dengan frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal pada pasien pasca anestesi spinal.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Antara Hipotensi Akibat Anestesi Spinal dengan Kejadian Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) di Ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p < 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Nyeri Pasca Anestesi Terhadap Stabilitas Hemodinamik pada Pasien Sectio Caesarea dengan Teknik Anestesi Spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Nyeri pasca operasi sectio caesarea merupakan respons fisiologis akibat kerusakan jaringan yang dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis sehingga memengaruhi stabilitas hemodinamik, seperti peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi. Pengendalian nyeri yang tidak optimal berpotensi menyebabkan ketidakstabilan kondisi pasien pada periode pasca anestesi spinal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan teknik anestesi spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel penelitian berjumlah 35 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan stabilitas hemodinamik dinilai berdasarkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden mengalami nyeri sedang (80%). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara tingkat nyeri dengan tekanan darah (r = 0,612; p = 0,000) dengan kekuatan hubungan kuat, serta hubungan positif signifikan antara tingkat nyeri dengan frekuensi nadi (r = 0,492; p = 0,003) dengan kekuatan hubungan sedang. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal. Manajemen nyeri yang adekuat diperlukan untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien pasca anestesi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Edukasi Pre-Anestesi Menggunakan Video Terhadap Tingkat Kecemasan dan Kepuasan Pasien dengan Anestesi Spinal di Ruang Isntalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kecemasan preoperatif merupakan respons emosional yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan anestesi spinal. Kurangnya pemahaman mengenai prosedur anestesi dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepuasan pasien terhadap pelayanan. Edukasi berbasis video menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pemahaman pasien sebelum tindakan anestesi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pre-anestesi menggunakan media video terhadap tingkat kecemasan dan kepuasan pasien dengan anestesi spinal di Ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Purwakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Purwakarta pada periode 2 Desember 2025 sampai 23 Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 70 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner skala kecemasan, sedangkan kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner kepuasan pasien yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian edukasi video. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat kecemasan setelah diberikan edukasi video (p < 0,001) serta peningkatan signifikan tingkat kepuasan pasien (p = 0,001).Kesimpulan: Edukasi preanestesi menggunakan media video berpengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan dan peningkatan kepuasan pasien dengan anestesi spinal.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Post Dural Puncture Headache (PDPH) pada Pasien Post Sectio Caesarea di RSIA Aisyah Qurratu'ain Bekasi Timur, Jawa Barat

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Tindakan Sectio Caesarea terus bertambah dan sebagian besar dilaksanakan dengan anestesi spinal. Salah satu komplikasi tersering adalah Post Dural Puncture Headache (PDPH) dampak kebocoran cairan serebrospinal setelah pungsi duramater. Faktor yang diduga berkaitan dengan PDPH meliputi usia, ukuran jarum spinal, sejarah PDPH, dan usaha pungsi lumbal. Tujuan : Mengetahui unsur-unsur yang berkaitan dengan kejadian PDPH pada pasien post Sectio Caesarea di RSIA Aisyah Qurratu’ain Bekasi Timur. Metode : Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dilaksanakan pada 73 responden menerapkan metode total sampling. Variabel independen meliputi usia, ukuran jarum, sejarah PDPH, dan usaha pungsi lumbal, sedangkan variabel dependen adalah kejadian PDPH yang diukur menerapkan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilaksanakan secara univariat dan bivariat menerapkan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil Penelitian : Hasil riset menandakan sebagian besar responden menempuh nyeri ringan (49,3%). Usia terbanyak adalah 26–35 tahun (61,6%). Penggunaan jarum 25G lebih dominan (74,0%). Responden tanpa sejarah PDPH sebanyak 82,2% dan sebagian besar menempuh satu kali pungsi lumbal (78,1%). Hasil uji Chi-Square menandakan terdapat kaitan signifikan antara usia (p=0,000), ukuran jarum (p<0,05), sejarah PDPH (p<0,05), dan usaha pungsi lumbal (p=0,001) dengan kejadian PDPH. Kesimpulan : Terdapat kaitan signifikan antara usia, ukuran jarum, sejarah Post Dural Puncture Headache (PDPH), dan jumlah pungsi lumbal dengan kejadian PDPH pada pasien post Sectio Caesarea. Saran : Disarankan penggunaan jarum dengan ukuran lebih kecil serta meminimalkan jumlah pungsi lumbal untuk menurunkan bahaya PDPH, serta bertambahkan kewaspadaan pada pasien dengan sejarah PDPH.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kejadian Shivering dengan Pemulihan Bromage Score pada Pasien Anestesi Spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Peran Dasi (Duke Activity Status Index) sebagai Prediktor Risiko Hipotensi Intraoperatif pasa Pasien dengan Anestesi Spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotensi intraoperatif adalah komplikasi yang kerap terjadi pada pasien yang menjalani anestesi spinal, yang disebabkan oleh blokade sistem simpatis sehingga menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri ratarata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran DASI sebagai prediktor risiko hipotensi intraoperatif pada pasien yang menjalani anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditetapkan berdasarkan nilai MAP <70 mmHg. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden termasuk dalam kategori skor DASI rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara skor DASI dengan kejadian hipotensi intraoperatif dengan nilai p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining preoperatif untuk mendukung perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Eye Mask Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Anestesi Spinal di Ruang Intra Operasi Menggunakan Skor Visual Analog Scale For Anxiety (VAS-A) di RS Sentra Medika Cikarang 2025

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi psikologis tidak menyenangkan yang sering dialami oleh pasien ketika menghadapi prosedur pembedahan dengan anestesi spinal yang berdampak pada peningkatan tekanan darah serta kebutuhan tambahan obat sedatif. Upaya penanganan non-farmakologis Eye mask terbukti dapat menciptakan kondisi relaksasi dan menurunkan kecemasan. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor visual analog scale for anxeity (VAS-A) di RS Sentra Medika cikarang. Metode : Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif dengan pre experimental design tipe one group pretest–posttest design dan consecutive sampling sebagai teknik pengabilan sampel yang melibatkan 32 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) dan data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil : Analisis data perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menggunakan uji wilcoxon menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (< 0,05). Kesimpulan : terdapat pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kejadian Shivering Dengan Pemulihan Bromage Score Pada Pasien Anestesi Spinal Di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Eye Mask terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Anestesi Spinal di Ruang Intraoperasi Menggunakan Skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi psikologis tidak menyenangkan yang sering dialami oleh pasien ketika menghadapi prosedur pembedahan dengan anestesi spinal yang berdampak pada peningkatan tekanan darah serta kebutuhan tambahan obat sedatif. Upaya penanganan non-farmakologis Eye mask terbukti dapat menciptakan kondisi relaksasi dan menurunkan kecemasan. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor visual analog scale for anxeity (VAS-A) di RS Sentra Medika cikarang. Metode : Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif dengan pre experimental design tipe one group pretest–posttest design dan consecutive sampling sebagai teknik pengabilan sampel yang melibatkan 32 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) dan data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil : Analisis data perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menggunakan uji wilcoxon menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 ( 0,05). Kesimpulan : terdapat pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN DASI (DUKE ACTIVITY STATUS INDEX) SEBAGAI PREDIKTOR RISIKO HIPOTENSI INTRAOPERATIF PADA PASIEN DENGAN ANESTESI SPINAL DI RSUD BAYU ASIH KABUPATEN PURWAKARTA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: HIPOTENSI INTRAOPERATIF merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan anestesi spinal akibat blokade simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri rata-rata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran DASI sebagai prediktor risiko HIPOTENSI INTRAOPERATIF pada pasien dengan anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 36 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditentukan berdasarkan MAP 70 mmHg. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki skor DASI kategori rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor DASI dan kejadian HIPOTENSI INTRAOPERATIF dengan nilai signifikansi p = 0,03 (p 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat digunakan sebagai alat skrining preoperatif untuk membantu perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan, termasuk pada prosedur dengan teknik anestesi spinal. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, serta mempengaruhi jalannya tindakan anestesi dan proses pemulihan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan kecemasan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal di RSUD Sekarwangi Sukabumi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dengan skala Likert dan kuesioner tingkat kecemasan APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga dalam kategori baik (79,2%) dan mengalami tingkat kecemasan ringan(87,3%( hingga sedang. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal. Dukungan keluarga yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan, termasuk pada prosedur dengan teknik anestesi spinal. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, serta mempengaruhi jalannya tindakan anestesi dan proses pemulihan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan kecemasan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal di RSUD Sekarwangi Sukabumi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dengan skala Likert dan kuesioner tingkat kecemasan APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga dalam kategori baik (79,2%) dan mengalami tingkat kecemasan ringan(87,3%( hingga sedang. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal. Dukungan keluarga yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan.

22 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN ANTARA HIPOTENSI AKIBAT ANESTESI SPINAL DENGAN KEJADIAN POST OPERATIVE NAUSEA AND VOMITING (PONV) DI RUANG RECOVERY ROOM RUMAH SAKIT PINNA BEKASI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.

28 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Lama Operasi dan Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian Shivering Pasca Spinal Anestesi di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2025•Koleksi Perpustakaan

Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Lama Operasi Dengan Hipotermi Pada Pasien Pasca Spinal Anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 <0.05 dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pemberian Anestesi Spinal Levobupivacaine dengan Kejadian Hipotensi Pada Pasien Anestesi Spinal di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p < 0,003 Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN LAMA OPERASI DENGAN HIPOTERMI PADA PASIEN PASCA SPINAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BEKASI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 0.05 dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pemberian Anestesi Spinal Levobupivacaine Dengan Kejadian Hipotensi Pada Pasien Anestesi Spinal Di RS. Sentra Medika Cikarang

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation. Hasil penelitian mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p 0,003. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PEMBERIAN ANESTESI SPINAL LEVOBUPIVACAINE DENGAN KEJADIAN HIPOTENSI PADA PASIEN ANESTESI SPINAL DI RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CIKARANG

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p 0,003 Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi. Kata Kunci: Levobupivacaine, Hipotensi, Pasien Anestesi Spinal ABSTRACT Background : Surgery is a medical procedure that begins with an incision to open an area of the body and ends with suturing to close the wound. Spinal anesthesia involves injecting a local anesthetic drug into the subarachnoid space. Levobupivacaine isobaric 10 mg is considered effective for spinal anesthesia with fewer side effects than bupivacaine, including lower toxicity. The use of levobupivacaine may also cause side effects such as hypotension. Hypotension that is not treated quickly and appropriately can lead to decreased consciousness, pulmonary aspiration, respiratory depression and cardiac arrest. Therefore, it is important to understand the factors that influence hypotension after spinal anesthesia to improve patient safety during surgical procedures. Objective: To determine the relationship between levobupivacaine spinal anesthesia administration and the incidence of hypotension in patients undergoing spinal anesthesia. Methods: This is a quantitative study with a correlational type of research with a cross-sectional study design. The sampling technique used was consecutive sampling and obtained 33 respondents. The measuring instrument used in this study used an observation sheet for signs and symptoms of hypotension in pre-spinal patients and an anesthesia observation sheet.Data analysis using the Sperman Rank correlation test Results: The majority of respondents experienced hypotension as many as 21 respondents (63.6%) and the majority experienced a decrease in BP ≤ 20%, namely 21 people (63.6%). The results of the spearman rank analysis obtained a value (r) of 0.045 and p 0.003. Conclusion: There is a significant association between the administration of levobupivacaine spinal anesthesia and the incidence of hypotension. Keywords: Levobupivacaine, Hypotension, Spinal Anesthesia Patients

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail