Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: anestesi umum
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan dengan Skor Apais pada Pasien Pra Anestesi Teknik Anestesi Umum di RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Kecemasan praoperasi merupakan respons psikologis yang sering dialami pasien sebelum tindakan pembedahan dan dapat memengaruhi kondisi fisiologis maupun keberhasilan prosedur anestesi. Tingkat kecemasan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk karakteristik individu dan faktor situasional. Penilaian kecemasan secara objektif dapat dilakukan menggunakan Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) yang banyak digunakan dalam penelitian klinis. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien pra anestesi teknik anestesi umum di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode : Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, riwayat operasi, dan pemberian informasi praoperasi, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kecemasan berdasarkan skor APAIS. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil : Mayoritas responden berusia dewasa, berjenis kelamin laki-laki, tidak memiliki riwayat operasi, dan tidak mendapatkan edukasi praoperasi. Sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang. Analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara usia dan tingkat kecemasan (p = 0,003) serta antara jenis kelamin dan tingkat kecemasan (p = 0,003). Sementara itu, riwayat operasi (p = 0,554) dan informasi pra operasi (p = 0,147) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan. Kesimpulan : Faktor usia dan jenis kelamin berhubungan secara signifikan dengan tingkat kecemasan pasien pra anestesi, sedangkan riwayat operasi dan informasi pra operasi tidak berhubungan secara statistik. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan karakteristik individu pasien dalam penilaian pra anestesi guna mengidentifikasi risiko kecemasan dan meningkatkan kualitas pelayanan perioperatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Anesthesia Pillow dengan Sniffing Position Terhadap Visualisasi Epiglotis Selama Intubasi Intraoperatif pada Pasien Dewasa di RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Keberhasilan intubasi endotrakeal pada anestesi umum sangat dipengaruhi oleh kualitas visualisasi epiglotis. Posisi kepala dan leher, termasuk penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position, diharapkan dapat memperbaiki visualisasi laring yang dinilai menggunakan klasifikasi Cormack–Lehane. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position terhadap visualisasi epiglotis selama intubasi intraoperatif pada pasien dewasa di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuasi-eksperimental dengan desain post-test only control group. Sampel berjumlah 36 pasien dewasa yang dibagi menjadi kelompok perlakuan (anesthesia pillow dengan sniffing position) dan kelompok kontrol (sniffing position). Visualisasi epiglotis dinilai menggunakan klasifikasi Cormack–Lehane. Data dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan antara dua kelompok. Hasil: Hasil menunjukkan menggunakan uji Fisher Exact test menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,691 (> 0,05). Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan anesthesia pillow dengan sniffing position terhadap klasifikasi Cormack–Lehane pada pasien intubasi intraoperatif. Dengan kata lain, baik kelompok kontrol maupun intervensi memiliki distribusi pandangan glotis yang relatif serupa.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Oksigen Melalui Nasal Cannula dan Semirecumbent Positioning 30 Terhadap Pencegahan Desaturasi pada Pasien Perokok Pasca General Anesthesia di Pacu RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Desaturasi pasca general anesthesia adalah komplikasi yang umum ditemukan pada pasien perokok, prosedur general anesthesia memiliki risiko yang signifikan terhadap desaturasi atau penurunan saturasi oksigen dari nilai normal. Intervensi yang diperlukan untuk membantu meningkatkan saturasi oksigen salah satunya pemberian oksigen menggunakan nasal cannula dan semirecumbent positioning 30. Tujuan: Untuk mengetahui perubahan saturasi sebelum dan sesudah diberikannya intervensi pasca anestesi umum di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 44 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat saturasi oksigen Instrumen penelitian berupa skoring adaptasi National Early Warning Score (NEWS). dan dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Berdasarkan hasil dari tujuan umum dengan menggunakan Uji Paired T-test diperoleh bahwa sebanyak 44 responden mengalami perubahan, nilai signifikan sebesar p=0,000 (p<0,05). Sehingga ada perbedaan rata-rata antara hasil nilai pretest dengan hasil nilai posttest pada pasien perokok pasca general anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi. Kesimpulan: Pemberian oksigen melalui nasal cannula dan posisi semirecumbent 30° berpengaruh signifikan terhadap pencegahan desaturasi pada pasien perokok pasca general anesthesia ditunjukkan dengan adanya peningkatan saturasi oksigen dengan nilai sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05). Saran: Pemberian oksigen melalui nasal cannula dan posisi semirecumbent 30° terbukti efektif mencegah desaturasi pada pasien perokok pasca general anesthesia dan direkomendasikan untuk praktik klinis serta penelitian selanjutnya.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Korelasi Rasio Lingkar Leher, Jarak Thyromental, dan Indeks Massa Tubuh Terhadap Derajat Kesulitasn Intubasi pada Pasien Dewasa dengan General Anestesi RSUD Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kesulitan intubasi merupakan tantangan utama anestesi yang meningkatkan risiko morbiditas. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi rasio lingkar leher (NC/TMD), jarak thyromental (TMD), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap derajat kesulitan intubasi (skala Cormack-Lehane) di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Studi analitik observasional cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa yang menjalani anestesi umum elektif periode 1–31 Desember 2025. Data antropometri dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji bivariat, regresi logistik, serta evaluasi kurva ROC/AUC untuk mengukur akurasi prediktor. Hasil: Terdapat korelasi signifikan (P < 0,05) antara rasio NC/TMD, TMD, dan IMT dengan tingkat kesulitan intubasi. Rasio NC/TMD menunjukkan akurasi tertinggi (AUC 0,912) dibandingkan IMT (0,818) dan TMD (0,817). Temuan ini menegaskan bahwa rasio NC/TMD adalah alat skrining non-invasif yang paling komprehensif dalam memprediksi penyulit jalan napas. Kesimpulan: Rasio lingkar leher merupakan prediktor paling akurat untuk menilai risiko kesulitan intubasi pada pasien dewasa. Hasil ini diharapkan dapat memperkuat penilaian praoperatif penata anestesi dan menjadi dasar pengembangan pedoman manajemen jalan napas di Indonesia.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Mean Arterial Pressure Intra dan Pasca Anestesi Terhadap Waktu Pulih Sadar pada Pasien dengan Anestesi Umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar <30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p<0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan perlakuan yang seragam pada fase emergence anesthesia, seperti penerapan teknik deep-extubation, untuk membandingkan outcome hasil penelitian.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN MEAN ARTERIAL PRESSURE INTRA DAN PASCA ANESTESI DENGAN WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN DENGAN ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL SENTRA MEDIKA HOSPITAL CIBINONG

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar dengan p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan dengan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN MEAN ARTERIAL PRESSURE INTRA DAN PASCA ANESTESI DENGAN WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN DENGAN ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL SENTRA MEDIKA HOSPITAL CIBINONG

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN FAKTOR LANJUT USIA DENGAN KEJADIAN HIPOTERMI PASCAANESTESI UMUM MENGGUNAKAN ALAT TERMOMETER INFRARED DI RUANG PEMULIHAN RSUD BAYU ASIH KABUPATEN PURWAKARTA

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Hipotermi merupakan salah satu efek yang sering terjadi setelah pembedahan di ruang pemulihan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hipotermi setelah operasi yaitu usia. Tujuan Penelitian : Diketahui hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca anestesi umum dengan teknik termometer infrared di ruang pemulihan RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode Penelitian : Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Jumlah sampel 36 responden dengan teknik pengambilan sampel Non Probability sampling (Purposive Sampling). Uji statistik menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil Penelitian : Lansia awal 46 - 55 tahun berjumlah 20 responden (55,6%), lansia akhir 56 - 65 tahun berjumlah 12 responden (33,3%), sedangkan di manula >65 tahun berjumlah 4 responden (11,1%). diketahui yang mengalami hipotermi sedang sebanyak 18 responden (50.0%), dan hipotermi ringan sebanyak 11 responden (30.6%), sedangkan hipotermi berat sebanyak 7 responden (19.4%). Hasil korelasi Spearman Rank (rho) dengan hasil P = 0,001, berarti P 0,05 hal tersebut menunjukkan ada hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Nilai Correlation coefficient 0,719 menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara variabel usia lanjut dengan variabel hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Kesimpulan : Ada hubungan bermakna antara hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pada pasien pasca anestesi umum dengan alat termometer infrared diruang pemulihan RSUD Bayu Asih Purwakarta.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail