ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pendahuluan : Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh orang tua. Dampak kurang gizi terhadap balita dapat berakibat terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025. Metode : Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui factor yang memiliki hubungan dengan status gizi balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian terdiri dari dua yaitu: variabel bebas meliputi usia balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, asupan makan, penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Variabel terikat yaitu status gizi balita. Total sampling digunakan untuk mengetahui jumlah sampel sebanyak 110 responden. Teknik analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan hasil bahwa Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025 adalah usia balita (p-value 0,024), pendidikan ibu (p-value 0,000), pekerjaan ibu (p-value 0,007), status ekonomi (p-value 0,000), asupan makan balita (p-value 0,000), riwayat penyakit infeksi balita 3 bulan terakhir (p-value 0,000), pengetahuan ibu (p-value 0,000). Kesimpulan : Ada hubungan antara status gizi dengan usia balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, asupan makan balita, penyakit infaksi balita, dan pengetahuan ibu. Disarankan bagi masyarakat untuk lebih mengetahui factor yang berhubungan dengan status gizi balita, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pencegahan terjadinya gizi kurang pada balita, dengan mengikuti penyuluhan gizi yang dilakukan kader posyandu agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada balita.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Demam merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dan memerlukan penanganan yang tepat. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah kompres bawang merah yang secara empiris digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bawang merah terhadap penurunan suhu pada balita demam di Klinik Handayani Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pengukuran suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian kompres bawang merah. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan suhu tubuh balita setelah diberikan kompres bawang merah. Nilai p-value hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian kompres bawang merah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompres bawang merah berpengaruh terhadap penurunan suhu pada balita demam di Klinik Handayani Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala serta pencegahan stunting sangat bertumpu pada keaktifan kunjungan balita ke Posyandu. Namun, Posyandu Mekar Tanjung 1 di Desa Karang Satu menghadapi kendala serius dengan tingkat kehadiran sasaran yang masih tergolong terendah di wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor predisposisi, yang meliputi pengetahuan dan sikap ibu, serta faktor penguat berupa dukungan keluarga dengan rendahnya kunjungan bayi dan balita di Posyandu Mekar Tanjung 1 Desa Karang Satu Tahun 2026. Penelitian kuantitatif analitik ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi dan balita terdaftar di Posyandu Mekar Tanjung 1 sebanyak 100 orang, yang seluruhnya diambil sebagai sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (Fisher’s Exact Test dan Continuity Correction) serta perhitungan Odds Ratio (OR) pada tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,002; OR=0,586), sikap ibu (p=0,009; OR=0,600), dan dukungan keluarga (p=0,000; OR=0,463) dengan keteraturan kunjungan. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu, sikap ibu, dan dukungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan keteraturan kunjungan bayi dan balita ke Posyandu. Pengelola Posyandu disarankan mengoptimalkan kegiatan sweeping door-to-door, pembuatan buku kendali ketidakhadiran, penyediaan variasi menu makanan tambahan lokal, serta pelibatan aktif suami dan keluarga dalam edukasi tumbuh kembang anak
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Diare masih menjadi salah satu penyebab kesakitan pada balita dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengetahuan ibu, personal hygiene, sanitasi ling-kungan, dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Klinik Salsabila Husada Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sec-tional. Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih dari populasi 130 balita menggunakan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan data sekunder melalui buku KIA. Analisis dilakukan secara univariat dan bi-variat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p<0,001), personal hygiene (p<0,001), dan sanitasi lingkungan (p<0,001) dengan kejadian diare pada balita. Sementara itu, status gizi tidak berhubungan secara sig-nifikan dengan kejadian diare (p=0,873; OR=0,841; 95% CI=0,348–2,034). Kes-impulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu, personal hygiene, dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Upaya pencegahan perlu diarahkan pada peningkatan edukasi ibu, penerapan PHBS, serta perbaikan sanitasi lingkungan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2021, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1–4 tahun. Di Klinik Cahaya Medika, kasus ISPA pada bayi dan balita cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis faktor yang berhubungan.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada bayi dan balita di Klinik Cahaya Medika Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah bayi dan balita yang berkunjung ke Klinik Cahaya Medika periode Januari–Desember 2025 sebanyak 300 orang. Sampel sebanyak 70 responden diambil menggunakan simple random sampling dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara statistik untuk menguji hubungan variabel independen (usia, status gizi, ASI eksklusif, imunisasi, pendidikan orang tua) dengan kejadian ISPA. Hasil: Prevalensi ISPA sebesar 72,9%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah usia anak (<12 bulan), status gizi, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Sementara itu, pendidikan orang tua dan imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan ISPA pada balita adalah usia, status gizi, dan ASI eksklusif. Upaya pencegahan melalui pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan perbaikan pola asuh sangat diperlukan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Status gizi dan perkembangan anak usia dini merupakan indikator penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Balita dengan status gizi kurang memiliki risiko tinggi mengalami keterlambatan perkembangan, baik secara fisik maupun kognitif. Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar berperan penting dalam memantau kedua aspek tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan perkembangan fisik dan kognitif pada balita di Posyandu Mawar 9 Perum Indo Alam Desa Tegal Sawah Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah balita usia 1–3 tahun di Posyandu Mawar 9 Perum Indo Alam Desa Tegal Sawah. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 50 balita. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square karena data berdistribusi tidak normal. Sebagian besar balita memiliki status gizi baik (86%) dan perkembangan yang normal (90%). Balita dengan gizi kurang cenderung mengalami perkembangan meragukan atau menyimpang (71,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan perkembangan balita. Terdapat hubungan antara status gizi dengan perkembangan fisik dan kognitif pada balita di Posyandu Mawar 9 Perum Indo Alam Desa Tegal Sawah tahun 2025. Pemantauan gizi dan perkembangan secara berkala di posyandu sangat penting untuk deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak. Orang tua diharapkan lebih memperhatikan asupan gizi anak, dan kader posyandu dapat meningkatkan edukasi tentang gizi dan stimulasi perkembangan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh orang tua. Dampak kurang gizi terhadap balita dapat berakibat terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025.
Metode : Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui factor yang memiliki hubungan dengan status gizi balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian terdiri dari dua yaitu: variabel bebas meliputi usia balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, asupan makan, penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Variabel terikat yaitu status gizi balita. Total sampling digunakan untuk mengetahui jumlah sampel sebanyak 110 responden. Teknik analisa data menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan hasil bahwa Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita di TPMB Iim Desa Wangunharja Bekasi Tahun 2025 adalah usia balita (p-value 0,024), pendidikan ibu (p-value 0,000), pekerjaan ibu (p-value 0,007), status ekonomi (p-value 0,000), asupan makan balita (p-value 0,000), riwayat penyakit infeksi balita 3 bulan terakhir (p-value 0,000), pengetahuan ibu (p-value 0,000).
Kesimpulan : Ada hubungan antara status gizi dengan usia balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, asupan makan balita, penyakit infaksi balita, dan pengetahuan ibu. Disarankan bagi masyarakat untuk lebih mengetahui factor yang berhubungan dengan status gizi balita, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pencegahan terjadinya gizi kurang pada balita, dengan mengikuti penyuluhan gizi yang dilakukan kader posyandu agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada balita.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada balita karena dapat menyebabkan dehidrasi hingga kematian apabila tidak ditangani dengan tepat. Penggunaan obat herbal sebagai terapi komplementer menjadi alternatif yang aman dan murah, salah satunya adalah sari daun jambu biji yang diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan saponin dengan efek antidiare. Tujuan Mengetahui pengaruh pemberian sari daun jambu biji terhadap penurunan frekuensi diare pada balita. Metode Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 30 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui observasi frekuensi diare sebelum dan sesudah pemberian sari daun jambu biji. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil Sebelum intervensi, mayoritas balita mengalami diare dengan frekuensi 4–5 kali/hari (73,3%). Setelah pemberian sari daun jambu biji selama 3 hari, terjadi penurunan frekuensi, di mana sebagian besar balita hanya mengalami diare 1–2 kali/hari (46,7%). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,878 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara frekuensi diare sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan Pemberian sari daun jambu biji efektif menurunkan frekuensi diare pada balita. Sari daun jambu biji dapat dijadikan sebagai terapi komplementer yang aman, murah, dan mudah diaplikasikan untuk membantu penanganan diare.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Malnutrisi pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Masalah ini berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan daya tahan tubuh anak. Malnutrisi merupakan kondisi ketidakseimbangan asupan zat gizi, yang secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu undernutrition (gizi kurang) dan overnutrition (gizi lebih). Undernutrition mencakup kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight, sedangkan overnutrition berkaitan dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Salah satu penyebab malnutrisi, terutama undernutrition, adalah gangguan fungsi sistem pencernaan. Dalam pandangan pengobatan tradisional Tiongkok, kondisi ini sering dikaitkan dengan sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan. Terapi Tui Na dapat digunakan untuk memperbaiki fungsi limpa dan meningkatkan berat badan balita pada penderita malnutrisi. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan berat badan pada balita penderita malnutrisi (Gan Zheng) sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, yaitu one group pre-post test design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan 20 partisipan berusia 1-5 tahun, yang diambil dari Panti Sehat NPJ, Kota Bekasi, Jawa Barat, selama periode Maret hingga Juli 2025. Terapi Tui Na dilakukan sebanyak 6 kali dalam waktu 2 minggu, dengan melakukan pengukuran berat badan sebelum dan setelah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test.
Hasil: Rata-rata berat badan partisipan sebelum intervensi adalah 11,285 kg (SD 1,859), meningkat menjadi 11,600 kg (SD 1,959) setelah intervensi, dengan selisih rata-rata sebesar 0,315 kg. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p-value = 0.000, yang berarti ada perbedaan signifikan antara berat badan sebelum dan setelah terapi Tui Na. Dengan demikian, H₀ ditolak dan H₁ diterima, hal ini menunjukkan bahwa terapi Tui Na memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan berat badan.
Kesimpulan: Terapi Tui Na memberikan pengaruh terhadap peningkatan berat badan balita penderita malnutrisi (Gan Zheng) sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Balita dengan berat badan kurang (underweight) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data Puskesmas Wanasari tahun 2024 terdapat 321 balita (6,1%) mengalami berat badan kurang, angka ini termasuk tertinggi ke-3 di Kabupaten Bekasi. Kader posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat berperan penting dalam upaya deteksi dini, edukasi gizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak. Optimalisasi peran kader dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi optimalisasi peran kader posyandu dalam penanganan balita dengan berat badan kurang di wilayah kerja Puskesmas Wanasari Cibitung tahun 2025.Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 206 kader posyandu, dengan sampel 127 responden yang dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel independen meliputi pendidikan, pengetahuan, motivasi, sikap, dan dukungan petugas kesehatan, sedangkan variabel dependen adalah peran kader. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sikap (p = 0,023; OR = 2,789) dan dukungan petugas kesehatan (p = 0,027; OR = 0,371) berhubungan signifikan dengan peran kader. Sedangkan variabel pendidikan (p = 0,530), pengetahuan (p = 0,633), dan motivasi (p = 0,041; OR = 0,479) menunjukkan hasil yang tidak sejalan dengan teori namun tetap signifikan secara statistik pada motivasi. Kesimpulan: Optimalisasi peran kader dalam penanganan balita berat badan kurang dipengaruhi oleh faktor sikap dan dukungan petugas kesehatan, sementara pendidikan, pengetahuan, dan motivasi tidak berhubungan secara signifikan atau menunjukkan arah yang berlawanan dengan teori. Upaya peningkatan peran kader perlu difokuskan pada pembentukan sikap positif, pemberian dukungan yang tepat, serta pelatihan berkelanjutan agar kader lebih mandiri dan percaya diri dalam menjalankan tugasnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Pengukuran antropometri balita yang tidak akurat oleh rangkaian posisi merupakan masalah signifikan yang dapat menghambat deteksi dini stunting dan masalah gizi lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan lama kerja dan pengetahuan dengan keterampilan pada pengukuran antropometri balita di Cikarang Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan desain yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian ini berfokus pada 41 kader yang memenuhi kriteria inklusi di wilayah kerja Kecamatan Cikarang Selatan, khususnya di Desa Pasirsari, Kabupaten Bekasi. Analisis uji yang digunakan adalah uji Chi square. Hasil: Berdasarkan hasil perhitungan pada variabel lama kerja dengan keterampilan pengukuran tinggi badan ditemukan hubungan yang signifikan (p-value = 0,000) dengan (OR = 0,417) dan variabel lama kerja dengan keterampilan pengukuran berat badan (p-value = 0,003) dengan (OR = 0,095). Pengetahuan kader juga berhubungan secara signifikan dengan keterampilan pengukuran tinggi badan (p-value = 0,000) dengan (OR = 45,500). Lalu hubungan antara pengetahuan dengan keterampilan pengukuran berat badan tidak signifikan secara statistik (p-value = 0,120) dengan (OR = 2,963). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa lama kerja secara signifikan berhubungan dengan keterampilan antropometri dan pengetahuan kader dengan keterampilan pengukuran tinggi badan secara signifikan berhubungan. Sedangkan pengetahuan dengan keterampilan pengukuran berat badan tidak ada hubungan secara signifikan. Kader yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan lebih terampil dalam pengukuran antropometri.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Stunting merupakan masalah yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan kesehatan anak (WHO, 2020). Stunting bisa disebabkan oleh, pendidikan ibu, sosial ekonomi, serta pola pemberian makan (UNICEF, 2020). Berdasarkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%, dengan angka di Kabupaten Bekasi sebesar 21,5% pada tahun 2021 dan menurun menjadi 13,8% pada tahun 2023 (Kemenkes RI, 2023).Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik ibu dan budaya pola pemberian makan balita dengan kejadian stunting di RS Sentra Medika Cikarang Kabupaten Bekasi.Penelitian ini menggunakan desain crosssectional
dengan sampel sebanyak 40 ibu yang memiliki balita stunting di RS Sentra Medika Cikarang. Data
dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan diolah menggunakan uji chi-square untuk menganalisis hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik ibu, seperti tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, dengan kejadian stunting (p = 0,013. Selain itu, budaya pola pemberian makan juga berhubungan dengan kejadian stunting (p = 0,024). Temuan ini sejalan dengan penelitian Auliani et al. (2021) yang menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih berisiko memiliki anak
stunting (p = 0,001). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian stunting dengan nilai P value 0,002 (p<0,05) dan ada hubungan antara budaya pola pemberian makan dengan kejadian stunting dengan nilai p value 0,028 (p<0,05). Karakteristik ibu dan budaya pola pemberian makan berperan dalam kejadian stunting. Oleh karena itu, edukasi mengenai pola pemberian makan perlu ditingkatkan untuk mencegah stunting.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Bagi negara miskin seperti Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
menempati peringkat tinggi di antara penyebab utama penyakit dan kematian pada anak-anak.
Variabel lingkungan kritis yang memengaruhi kejadian ISPA meliputi ventilasi rumah, kepadatan
hunian, dan paparan asap rokok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji variabel-variabel
ini karena berkaitan dengan ISPA pada anak-anak yang datang ke Puskesmas Pilar Cikarang untuk
balita. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosssectional,
melibatkan 30 balita yang berobat di Puskesmas Pilar Cikarang. Data dikumpulkan
melalui wawancara terstruktur dan kuesioner yang telah divalidasi. Analisis statistik deskriptif
dan uji Chi-Square digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hasil: Mayoritas
balita yang diteliti berada dalam kelompok usia 0-12 bulan (63,3%) yang menunjukkan
kerentanan lebih tinggi terhadap ISPA. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kejadian
ISPA berdasarkan jenis kelamin (p > 0,05). Namun, terdapat hubungan signifikan antara
kepadatan hunian (p < 0,05) dan paparan asap rokok (p < 0,05) dengan kejadian ISPA. Ventilasi
rumah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan ISPA (p > 0,05). Kesimpulan:
Penelitian ini menemukan bahwa kepadatan hunian dan paparan asap rokok merupakan faktor
risiko signifikan untuk kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Pilar Cikarang. Intervensi
kesehatan masyarakat yang fokus pada perbaikan kondisi lingkungan rumah disarankan untuk
menurunkan kejadian ISPA pada populasi ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilakukan karena banyaknya balita memiliki masalah pada nafsu makan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian temulawak madu terhadap peningkatan nafsu makan pada balita dengan gizi kurang. Penelitian ini berjenis kausalitas dengan metode penelitian kuantitatif quasi eksperiment. Alat pengumpul yang digunakan adalah kuisioner CEBQ. Populasi sasaran adalah balita dengan gizi kurang di Desa Solokan wilayah kerja Puskesmas Pakisjaya Kabupaten Karawang. Subjek penelitian terdiri dari 42 balita gizi kurang, diperoleh menggunakan total sampling. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah pemberian temulawak madu sebagai variable independent dan peningkatan nafsu makan balita dengan gizi kurang sebagai dependent variable. Pengukuran variable menggunakan one grup pretest-post test. Analisa data menggunakan analisis bivariat dan analisis unvariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nafsu makan balita sebelum diberikan temulawak madu dan sesudah diberikan temulawak madu. Hal ini dibuktikan dari jumlah balita dengan nafsu makan baik meningkat yaitu sebelum pemberian temulawak madu sebesar 9.5%, sedangkan sesudah diberikan temulawak madu jumlah balita dengan nafsu makan baik sebesar 83.3%. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa temulawak madu dapat digunakan sebagai alternatif untuk memperbaiki nafsu makan balita, sehingga pemberian makan pada balita dapat optimal.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Penelitian ini dilakukan karena banyaknya balita memiliki masalah gizi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian serbuk taburia terhadap peningkatan berat badan pada balita gizi kurang. Penelitian ini menggunakan metodeeksperimen pre-post test only one group. Alat pengumpul yang digunakan adalah kuisioner. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi. Populasinya adalah balita dengan gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Sukatani. Sampel penelitian terdiri dari 67 balita gizi kurang. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah pemberian serbuk taburia sebagai variable independent dan peningkatan berat badan balita gizi kurang sebagai variable dependen. Analisa data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Berdasarkan tabel output hasil uji t, diperoleh nilai sig = 0.000 yang berarti lebih kecil dari a 0.05, dapat disimpulkan bahwa Ho Ditolak dan Ha diterima. Artinya, Ada Pengaruh Pemberian Serbuk Taburia Terhadap Peningkatan Berat Badan Balita Gizi Kurang Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukatani Tahun 2024. Dengan demikian, serbuk taburia dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan berat badan balita, sehingga pemberian makan pada balita dapat optimal.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pada masa balita terjadi proses perkembangan bersamaan dengan golden age (masa peka atau masa keemasan) sehingga berpengaruh pada kehidupan mereka dimasa mendatang. pada penelitian pada tanggal 20 Oktober 2023 di Posyandu Melati Dan Kenangan Desa Simpur Cikarang Selatan, di mana terdapat 95 anak berusia 1-3 tahun, menunjukkan bahwa sekitar 34 balita Normal, 43 balita dikatakan meragukan dan 18 balita dikatakan menyimpang.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dnegan tumbuh kembang balita usia 1-3 tahun di posyandu Melati dan kenangan desa simpur bekasi.
Jenis Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional Pengambilan sampel dengan total sampling sebanyak 95 balita. Analisa data menggunakan Univariat dan bivariat. Penelitian ini menggunakan data kuesioner dan KPSP oleh peneliti.
Hasil penelitian bivariat menunjukan bahwa tumbuh kembang balita usia 1 – 3 tahun dengan hubungan status gizi dengan hasil chi square sebasar 0,000 (P- value < 0.05) ada nya hubungan. Hubungan dengan Riwayat BBLR dengan hasil Chi square 0.928 (P- Value >0,05) tidak ada hubungan, Hubungan dengan Pendidikan Ibu dengan hasil Chi square 0,849 (P- value >0,05) tidak ada hubungan dan hubungan dengan jumlah saudara diperoleh hasil chi square 0,381 (P-value >0,05) tidak ada hubungan. Maka kesimpulan Ha diterima atau h0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan Status Gizi dengan tumbuh kembang balita dan tidak ada nya hubungan Riwayat BBLR, Pendidikan Ibu dan Jumlah Saudara dengan tumbuh kembang Di Posyandu Melati dan Kenangan desa simpur
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pijat Tui Na merupakan teknik pijat yang lebih spesifik untuk mengatasi kesulitan makan pada balita dengan cara memperlancar peredaran darah pada limpa dan pencernaan. Pijat Tui Na ini merupakan tehnik pijat yang lebih spesifik untuk mengatasi kesulitan makan pada balita dengan cara memperlancar peredaran darah pada limpa dan pencernaan, melalui modifikasi dari akupunktur tanpa jarum, teknik ini menggunakan penekanan pada titik meridian tubuh atau garis
aliran energi sehingga relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan akupuntur tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pijat Tui Na terhadap peningkatan berat badan pada balita di TPMB Intan Pratiwi Kecamatan Cikampek Karawang Tahun 2023.
Desain ini adalah peineilitian quiasi eikspeirimeintal deingan rancangan thei onei grouip preiteist-postteist deisign. Popuilasi peineilitian ini berjuimlah 45 balita, tempat penelitian dilakukan di TPMB Intan Pratiwi Kecamatan Cikampek Kabuipatein Karawang Tahuin 2023 Pada tanggal 15Oktober –15November. Sampel penelitian berjumlah 31 responden, dengan pengumpulan sampel melalui purposive sampling. Variabel dependen yaitu berat badan. Variabel independen yaitu pijat
Tui Na.
Hasil analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dalam bentuk persentasi, nilai rata-rata, analisis bivariat menggunakan Paired Sampel T-Test di dapatkan nilai Sig (2-tailed) 0,001<0.005 yang artinya ada pengaruh pijat Tui Na teradap peningkatan berat badan pada balita di TPMB Intan Pratiwi Kecamatan Cikampek Karawang Tahun 2023
Kesimpulan dari penelitian ini ada pengaruh pijat Tui Na terhadap kenaikan berat badan balita
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Usia balita merupakan usia yang sangat rawan terjadinya berbagai permasalahan gizi yang akut serta terkena penyakit. Stunting merupakan suatu kondisi yang menggambarkan status gizi kurang pada balita yang bersifat kronik dimasa awal kehidupannya terhadap masa pertumbuhan dan pada masa perkembangannya. Pada tahun 2021 di Kabupaten Bekasi masih memiliki balita yang berstatus gizi kurang sebesar 3,4%. Menurut WHO (2011), dianggap serius jika suatu daerah memiliki persentase masalah kesehatan pada masyarakat >5,0%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suatu hubungan Pendidikan, pendapatan keluarga, tinggi badan ibu, status gizi pada balita, pemberian ASI Eksklusif, Riwayat BBLR, serta pengetahuan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Wanajaya Tahun 2023. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kunatitatif dan bersifat observational, dengan rancangan penelitian Case Control Design. Populasi dalam penelitian ini yaitu data stunting pada balita di desa Wanajaya Tahun 2022-2023 dan balita usia 24-59 bulan di desa Wanajaya Tahun 2023. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 balita usia 24-59 bulan yang terdiri dari 37 balita stunting dan 37 balita normal. Teknik pemilihan sampel memakai Simple Random Sampling. Dengan Analisa data menggunakan uji Chi-Square dilanjutkan dengan Odd Ratio (OR).
Hasil Penelitian: menunjukan bahwa ada hubungan pendidikan dengan kejadian stunting dengan nilai P=0,009, OR 13,333, ada hubungan pendapatan keluarga dengan kejadian stunting P=0,000, OR 79,12, ada hubungan status gizi ibu dengan kejadian stunting P=0,006, OR 4,895, ada hubungan ASI eksklusif dengan kejadian stunting P=0,039, OR 3,523, ada hubungan pengetahuan dengan kejadian stunting P=0,001 OR 7,529. Tidak ada hubungan Tinggi badan ibu dengan kejadian stunting P=0,132 dan tidak ada hubungan Riwayat BBLR dengan kejadian stunting P=0,308. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pendidikan, pendapatan keluarga, status gizi, ASI eksklusif dan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita di desa Wanajaya sedangkan tinggi badan ibu tidak terdapat hubungan dengan kejadian stunting pada baliuta di desa Wanajaya Tahun 2023. Saran: tenaga kesehatan memberikan informasi dan edukasi secara rutin dan sosialisasi pada kader, ibu hamil, ibu yang memiliki balita dan Wanita usia subur tentang pemenuhan nutrisi yang bergizi dan seimbang. Serta pemantauan monitoring serta evaluasi terhadap pemberian PMT di posyandu untuk balita.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kunjungan balita ke Posyandu yang paling baik adalah rutin setiap bulan atau 12 kali per tahun. Balita (12-59 bulan) yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya yaitu balita yang ditimbang sedikitnya 8 kali dalam satu tahun, diukur panjang badan atau tinggi badannya sedikitnya 2 kali dalam satu tahun. Penimbangan berat badan anak setiap bulan untuk mengetahui status gizi anak merupakan salah satu kegiatan rutin di Posyandu. Desain penelitian ini adalah jenis penelitan
kuantitatif, menggunakan metode Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 85 responden dengan jumlah sampel 85 ibu yang memiliki balita. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling.
Instrumen dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner.Hasil dari penelitian yang menunjukan variabel yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu yaitu Pengetahuan p value = 0,006 Nilai OR=5,235, Pekerjaan p value = 0,011 Nilai OR=3,677, Tenaga Kesehatan p value = 0,006 Nilai OR=3,957 dan yang tidak berhubungan yaitu Pendidikan dengan p value = 0,517. Disarankan bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita agar lebih teratur lagi dalam membawa balitanya ke posyandu.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Gizi kurang adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) < 2 SD yang
merupakan padanan istilah severely underweight. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti
diPosyandu Waelo, bahwa pada tahun 2022 didapatkan dari 299 sampel balita terdapat 97 balita yang memiliki status
gizi kurang di Desa Waelo. Dari data kejadian Gizi kurang yang cukup tinggi di Desa Waelo. Tujuan Penelitian ini
adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gizi kurang pada balita di Posyandu Waelo
Provinsi Maluku tahun 2022.
Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah 60 ibu daribalita yang anaknya mengalami gizi kurang di Posyandu Desa Waelo periode
bulan Juli - Desember 2022. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Total sampling yaitu seluruh populasi
dijadikan sampel sebanyak 60 balita. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Data dianalisis
dengan analisis univariat dan Bivariat menggunakan uji chi-square.
Hasil menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian Gizi Kurang pada balita
di Posyandu Waelo Provinsi Maluku Tahun 2022 adalah Pendapatan (P=0,213), Pekerjaan (P = 0,007), Pendidikan
(P = 0,020), Pola Asuh(P = 0,013) dan Pengetahuan (P =0 ,007). Dari 5 Variabel yang di teliti
(Pola Asuh, Pendapatan, Pekerjaan, Pengetahuan, dan Pendidikan) hasilnya semua variabel ada pengaruh gizi
kurang pada balita di Posyandu Waelo Kecamatan Waelata ProvinsiMaluku Tahun 2022.
Saran dengan adanya penelitian ini diharapkan ibu yang memiliki balita mendapatkan informasi agar
dapat memantaudan mencegah nalita mengalami gizi kurang. Untuk tempat penelitian dengan adanya penelitian ini
diharapkan dapat menurunkan angka kejadian Gizi Kurang.