BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: ASI eksklusif diberikan selama enam bulan pertama kehidupan bayi tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Namun, masih terdapat ibu yang mengalami terputusnya pemberian ASI eksklusif. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan pengetahuan ibu, dukungan suami, dan pekerjaan ibu. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terputusnya pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarmukti Cikarang Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 84 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan p<0,05. Hasil: Sebanyak 51 responden mengalami terputusnya pemberian ASI eksklusif dan 33 responden memberikan ASI eksklusif. Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu, dukungan suami, dan pekerjaan ibu dengan terputusnya pemberian ASI eksklusif, masing-masing dengan p-value<0,001. Kesimpulan: Pengetahuan ibu, dukungan suami, dan pekerjaan ibu berhubungan dengan terputusnya pemberian ASI eksklusif. Diperlukan peningkatan edukasi ASI eksklusif serta dukungan suami, keluarga, dan lingkungan, khususnya bagi ibu bekerja.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pemberian ASI diberikan selama enam bulan pertama namun masih menjadi permasalahan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui determinan atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Sukarahayu, wilayah kerja Puskesmas Tambelang. Metode Penelitian: jenis penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2026 dengan melibatkan populasi sebanyak 51 ibu menyusui. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling sehingga diperoleh 51 responden. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner dan data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square (α = 0,05). Hasil Penelitian: bahwa sebagian besar responden 33 (64,7%) tidak memberikan ASI eksklusif. Analisis bivariat membuktikan terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan pendidikan ibu (p < 0,001), pengetahuan ibu (p < 0,001), dukungan suami (p < 0,001), dan dukungan keluarga (p < 0,001). Kesimpulan: rendahnya capaian ASI eksklusif di Desa Sukarahayu dipengaruhi secara signifikan oleh faktor pendidikan, kurangnya pengetahuan, serta minimnya dukungan dari suami dan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang komprehensif dengan melibatkan partisipasi suami dan keluarga untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2021, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1–4 tahun. Di Klinik Cahaya Medika, kasus ISPA pada bayi dan balita cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis faktor yang berhubungan.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada bayi dan balita di Klinik Cahaya Medika Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah bayi dan balita yang berkunjung ke Klinik Cahaya Medika periode Januari–Desember 2025 sebanyak 300 orang. Sampel sebanyak 70 responden diambil menggunakan simple random sampling dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara statistik untuk menguji hubungan variabel independen (usia, status gizi, ASI eksklusif, imunisasi, pendidikan orang tua) dengan kejadian ISPA. Hasil: Prevalensi ISPA sebesar 72,9%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah usia anak (<12 bulan), status gizi, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Sementara itu, pendidikan orang tua dan imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan ISPA pada balita adalah usia, status gizi, dan ASI eksklusif. Upaya pencegahan melalui pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan perbaikan pola asuh sangat diperlukan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan merupakan upaya penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi. Namun, angka cakupan ASI eksklusif masih rendah di beberapa wilayah. Perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, sikap, dan dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi. Metode: Jenis penelitian adalah analitik dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 80 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sikap, sumber informasi, dan dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pemberian ASI eksklusif. Hasil: Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan bivariat dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan pemberian ASI eksklusif. Univariat menunjukkan mayoritas responden memberikan ASI eksklusif (75,0%), berpendidikan > SMA (67,5%), tidak bekerja (70,0%), memiliki pengetahuan baik (73,8%), bersikap positif (76,3%), mendapat dukungan keluarga (71,3%), dan terpapar sumber informasi (67,5%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pendidikan (p=0,001), pekerjaan (p=0,010), pengetahuan (p=0,002), sikap (p=0,015), dukungan keluarga (p=0,005), serta sumber informasi (p=0,025) dengan pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan sumber informasi. Upaya peningkatan ASI eksklusif perlu difokuskan pada peningkatan edukasi, penyediaan informasi, serta dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Bekasi tahun 2022 masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 71,2% dari 80%. Berdasarkan data tersebut faktor usia, pekerjaan, pendidikan, paritas, sumber informasi dan dukungan keluarga menjadi faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan ASI eksklusif di kabupaten Bekasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di TPMB Siti Halimah 2024. Metode: Jenis penelitan kuantitatif, menggunakan metode Cross Sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 70 ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan yang dating ke TPMB Siti Halimah. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data di analisa menggunakan Analisa univariat dan Analisa bivariat dengan uji chi-square. Hasil : Menunjukan variabel yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan yaitu usiar p value = 0,000 Nilai OR= 53,182, pekerjaan p value = 0,000 Nilai OR=23,4, pendidikan p value = 0,000 Nilai OR= 32,5, paritas p value = 0,003 Nilai OR= 16,162, sumber informasi p value = 0,000 Nilai OR= 91, dukungan keluarga p value = 0,000 Nilai OR= 27,444. Kesimpulan : Ada hubungan antara usia, pekerjaan, pendidikan, paritas, sumber informasi dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di TPMB Siti Halimah 2024, diharapkan faktor-faktor tersebut tidak menjadi penghambat dalam pemberian ASI eksklusif sehingga cakupan ASI eksklusif bisa tercapai sesuai target yang diharapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Bekasi tahun 2022 masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah sebesar 80% yaitu 71,2%. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan ASI eksklusif yaitu usia, pekerjaan, pendidikan, paritas, sumber informasi dan dukungan keluarga. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi 0-6 bulan tanpa pemberian tambahan cairan lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di TPMB Siti Halimah 2024. Jenis penelitan kuantitatif, menggunakan metode Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 70 responden dengan jumlah sampel 70 ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan. Teknik pengambilan sampel yaitu teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data di analisa menggunakan Analisa univariat dan Analisa bivariat dengan uji chi-square. Hasil dari penelitian yang menunjukan variabel yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan yaitu usiar p value = 0,000 Nilai OR= 53,182, pekerjaan p value = 0,000 Nilai OR=23,4, pendidikan p value = 0,000 Nilai OR= 32,5, paritas p value = 0,003 Nilai OR= 16,162, sumber informasi p value = 0,000 Nilai OR= 91, dukungan keluarga p value = 0,000 Nilai OR= 27,444. Kesimpulan penelitian ini yaitu ada hubungan antara usia, pekerjaan, pendidikan, paritas, sumber informasi dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di TPMB Siti Halimah 2024. Saran : diharapkan faktor-faktor baik eksternal maupun internal tidak menjadi penghambat dalam pemberian ASI eksklusif sehingga cakupan ASI eksklusif bisa tercapai sesuai target yang diharapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Bekasi tahun 2022 masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah sebesar 80% yaitu 71,2%. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan ASI eksklusif yaitu usia, pekerjaan, pendidikan, paritas, sumber informasi dan dukungan keluarga. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi 0-6 bulan tanpa pemberian tambahan cairan lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di TPMB Siti Halimah 2024. Jenis penelitan kuantitatif, menggunakan metode Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 70 responden dengan jumlah sampel 70 ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan. Teknik pengambilan sampel yaitu teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data di analisa menggunakan Analisa univariat dan Analisa bivariat dengan uji chi-square. Hasil dari penelitian yang menunjukan variabel yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan yaitu usiar p value = 0,000 Nilai OR= 53,182, pekerjaan p value = 0,000 Nilai OR=23,4, pendidikan p value = 0,000 Nilai OR= 32,5, paritas p value = 0,003 Nilai OR= 16,162, sumber informasi p value = 0,000 Nilai OR= 91, dukungan keluarga p value = 0,000 Nilai OR= 27,444. Kesimpulan penelitian ini yaitu ada hubungan antara usia, pekerjaan, pendidikan, paritas, sumber informasi dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di TPMB Siti Halimah 2024. Saran : diharapkan faktor-faktor baik eksternal maupun internal tidak menjadi penghambat dalam pemberian ASI eksklusif sehingga cakupan ASI eksklusif bisa tercapai sesuai target yang diharapkan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian hanya air susu ibu saja tanpa pemberian makanan atau minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan tanpa tambahan apapun kecuali obat. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di TPMB Yuliani Kusrahmadani 2023 diharapkan dapat bemanfaat untuk ibu meningkatkan kesadarannya dalam memberikan ASI ekskusif pada bayi secara tepat yaitu usia 0-6 bulan sehingga cakupan ASI eksklusif dapat mencapai target yang didukung oleh semua kalangan.
Jenis penelitan kuantitatif, menggunakan metode Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 50 responden dengan jumlah sampel 50 ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan. Teknik pengambilan sampel yaitu teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data Analisa menggunakan aalisa univariat dan Analisa bivariate dengan uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukan variabel yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada ibu bekerja yaitu pengetahuan p value = 0,007 Nilai OR= 6,878, sikap p value = 0,009 Nilai OR=11,368, fasilitas laktasi p value = 0,000 Nilai OR= 11,667, dukungan keluarga p value = 0,000 Nilai OR= 12,857, dukungan tenaga kesehatan p value = 0,000 Nilai OR= 75,000.
Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti faktor yang berperan penting dalam menentukan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja yaitu pengetahuan, sikap, fasilitas laktasi, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan. Dukungan tenaga kesehatan merupakan faktor resiko yang paling tinggi untuk ibu bekerja yang tidak memberikan ASI yaitu 75,000.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Menurut hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) (2020), sebanyak 27,67% balita di Indonesia mengalami stunting. Salah satu intervensi yang dinilai mampu mengatasi masalah stunting adalah dengan pemberian ASI eksklusif secara optimal. Cakupan ASI ekslusif Indonesia pada 2022 tercatat hanya 67,96%, turun dari 69,7% dari 2021. Penyebab gagalnya pemberian ASI eksklusif ada tiga faktor yaitu faktor psikososial, faktor sosio demografik dan faktor pelayanan kesehatan pre atau post natal. pemberian pengetahuan tentang ASI secara dini akan meningkatkan sikap positif dan keberhasilan ASI eksklusif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tentang hubungan antara teknik menyusui dengan kejadian puting susu lecet pada ibu nifas Di TPMB Ari Kristiyani Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2023.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei cross sectional. pengambilan sampel dengan menggunakan teknik total sampling sebanyak 30 orang responden. Analisa univariate menggunakan distribusi frekuensi dan untuk uji bivariate menggunakan uji Chi Square. Penelitian ini menggunakan data primer dari pengisian kuesioner oleh responden.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 30 responden terdapat 26 orang (86,7%) berusia 20-35 tahun, 19 orang (63,3%) adalah ibu rumah tangga dan tidak bekerja Sebanyak 14 orang adalah seorang multipara, 28 orang (93,3%) lulus SMA atau Perguruan Tinggi dan sebanyak 17 orang (56,7%) adalah pernah melahirkan secara normal. Sebanyak 15 responden (50,0%) yang teknik menyusui yang kurang baik, justru tidak mengalami puting susu lecet. Namun, ibu yang teknik menyusu yang baik justru mengalami puting susu lecet. Nilai P Value terdapat nilai 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa Ha diterima dan Ho ditolak atau dengan arti bahwa ada hubungan antara teknik menyusui dengan kejadian puting susu lecet di TPMB Ari Kristiyani
Penelitian ini diharapkan menjadi referensi untuk bahan penyuluhan di tempat praktek mandiri khususnya teknik pemberian ASI agar proses menyusui nyaman dan tanpa rasa nyeri. Penelitian ini juga diharapkan menjadi pijakan dan referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan peningkatan pengetahuan serta menjadi bahan kajian lebih lanjut.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Dimana penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung
hingga alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Penelitian ini dilakukan di Klinik Adisya Medika Karang Bahagia yang bertujuan untuk
mengetahui fakto-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Klinik
Adisya Medika Karang Bahagia tahun 2023.
Penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan total sampling. Instrumen yang
digunakan adalah kuisioner berupa G-form, analisis data yang digunakan adalah univariat dengan
menghitung distribusi frekuensi variabel dan analisa bivariat berupa uji chi-square dengan nilai
signifikan p<0,005.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa analisis bivariat diperoleh hasil status gizi
(p=0,415), pendidikan ibu (p=1,000) yang artinya status gizi dan pendidikan ibu tidak ada
hubungan dengan kejadian ISPA, sedangkan kebiasaan merokok keluarga (p=0,0001), riwayat
asi eksklusif (p=0,0000) yang artinya kebiasaan merokok keluarga dan riwayat ASI Eksklusif ada
hubungan dengan kejadian ISPA pada balita.
Kesimpulan penelitian ini adalah hasil dari penelitian menunjukkan bahwa status gizi dan
pendidikan ibu tidak mempengaruhi kejadian ISPA pada balita, sedangkan kebiasaan merokok
keluarga dan riwayat ASI Eksklusif mempengaruhi kejadian ISPA pada balita. Hasil penelitian
ini disarankan untuk tenaga kesehatan mampu meningkatkan pemberian informasi kepada ibu
serta masyarakat berupa penyuluhan dan promosi kesehatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Salah satu usaha untuk turunkan masalah gizi buruk adalah dengan Gerakan Restu Ibu (Gerakan
Terpadu Tuntas Gizi Buruk). Penimbangan berat badan anak diPosyandu wajib diprioritaskan
khususnya lokasi Posyandu yang rentang kekurangan gizi. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita. Penelitian ini adalah survey analitik
dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang ada di
Posyandu Desa Sukatenang Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi Tahun 2023. Metode
pengumpulan sampel menggunakan Accidental sampling yaitu responden yang kebetulan ada atau
tersedia ditempat penelitian sebanyak 65 orang. Instrument pengumpulan data dengan data primer,
analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariate dengan uji chi square. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel pendidikan (P = 0,000), pengetahuan (P = 0,000), Riwayat pemberian
ASI Eksklusif (P = 0,000) memiliki hubungan bermakna dengan status gizi balita. Sedangkan
variabel jenis kelamin (P = 1.000) tidak memiliki hubungan bermakna dengan status gizi balita.
Diharapkan bagi ibu yang mempunyai balita perlu meningkatkan pengetahuan orang tua khususnya
ibu dalam penyusunan menu balita agar asupan gizinya tepat dan status gizinya meningkat dengan
cara mengikuti penyuluhan-penyuluhan dan kegiatan kelas balita yang diadakan di posyandu.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian hanya air susu ibu saja tanpa pemberian makanan atau minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan tanpa tambahan apapun kecuali obat. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di TPMB Riska Devi Kurniawan tahun 2023 diharapkan dapat bemanfaat untuk ibu meningkatkan kesadarannya dalam memberikan ASI ekskusif pada bayi secara tepat yaitu usia 0-6 bulan sehingga cakupan ASI eksklusif dapat mencapai target yang didukung oleh semua kalangan. .
Jenis penelitan kuantitatif, menggunakan metode Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 70 responden dengan jumlah sampel 70 ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan. Teknik pengambilan sampel yaitu teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data Analisa menggunakan aalisa univariat dan Analisa bivariate dengan uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukan variabel yang berhubungan dengan ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan yaitu umur p value = 0,004 Nilai OR= 5,857, pekerjaan p value = 0,004 Nilai OR=5,489, pendidikan p value = 0,018 Nilai OR= 4,846, pengetahuan p value = 0,041 Nilai OR= 3,611, dukungan keluarga p value = 0,019 Nilai OR= 4,036, dukungan tenaga kesehatan p value = 0,021 Nilai OR= 3,889 dan yang tidak berhubungan yaitu paritas dengan p value = 0,109.
Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti faktor yang berperan penting dalam menentukan pemberian ASi eksklusif pada bayi 0-6 bulan yaitu umur, pekerjaan, pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga dan dukungan suami sedangkan faktor umur merupakan faktor resiko yang paling tinggi untuk ibu tidak memberikan ASInya pada bayi usia 0-6 bulan yaitu 5,857.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Air Susu Ibu merupakan nutrisi ideal untuk bayi yang mengandung zat gizi paling sesuai dengan kebutuhan bayi dan mengandung zat perlindungan untuk memerangi penyakit. Karena nutrisi yang optimal selama periode ini menurunkan morbiditas dan mortalitas, mengurangi risiko penyakit kronis, dan mendorong perkembangan optimal. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor pengetahuan, usia, Pendidikan, dan pekerjaan dengan rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 100 ibu. Teknik pengambilan sampel secara probabilistic dengan cara pengambilan stratified random sampling dengan total sampling sebanyak 100 ibu. Instrument yang digunakan menggunakan kuesioner, data di Analisa menggunakan Analisa univariat dan bivariat.
Hasil menunjukan variabel yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan. Pengetahuan (0,000), Pendidikan (0.000), pekerjaan (0.009), usia ibu (0.000). dari 4 variabel yang diteliti (pengetahuan, Pendidikan, pekerjaan, usia ibu) dengan hasil semua variabel berhubungan dengan rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di desa Mangunjaya.
Dari semua variabel yang di teliti faktor pengetahuan dan pekerjaan yang paling dominan dalam mempengaruhi rendahnya pemberian asi eksklusif. Saran dengan adanya penelitian ini, diharapkan kesadaran ibu untuk memberikan asi eksklusif pada bayi 0-6 bulan dengan optimal di desa Mangunjaya.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
ASI mengandung nutrisi baik untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan penurunan risiko stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak, stunting terlihat setelah anak 2 Tahun. Di Puskesmas Setu II angka stunting 6,07 %. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian Stunting pada anak usia 24-60 bulan di Puskesmas setu II. Jenis Penelitian menggunakan Analitik desain case-control. Populasi penelitian ini anak usia 24-60 bulan sebanyak 118 anak. Sampel 59 anak, kelompok kontrol 59 anak. Tekhnik pengambilan sample Random Sampling. Analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian dari
59 responden (50%) yang tidak ASI eksklusif sebanyak 52 responden (68%) Mengalami stunting. Kesimpulan hasil penelitian Terdapat hubungan signifikan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada Anak Usia 24-60 bulan. Dengan nilai p value = 0,000. Nilai OR 7,685 artinya ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif berisiko 7,68 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan yang memberikan ASI eksklusif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Universitas Medika Suherman (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN DAN PENDIDIKAN PROFESI BIDAN Skripsi, Februari 2023 Nama : Euis Wagini NIM : 221050008 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN DI DESA MANGUNJAYA – TAMBUN SELATAN TAHUN 2022 xv + 87 Halaman + 8 tabel + 2 Gambar + 8 Lampiran ABSTRAK Air Susu Ibu merupakan nutrisi ideal untuk bayi yang mengandung zat gizi paling sesuai dengan kebutuhan bayi dan mengandung zat perlindungan untuk memerangi penyakit. Karena nutrisi yang optimal selama periode ini menurunkan morbiditas dan mortalitas, mengurangi risiko penyakit kronis, dan mendorong perkembangan optimal. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor pengetahuan, usia, Pendidikan, dan pekerjaan dengan rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 100 ibu. Teknik pengambilan sampel secara probabilistic dengan cara pengambilan stratified random sampling dengan total sampling sebanyak 100 ibu. Instrument yang digunakan menggunakan kuesioner, data di Analisa menggunakan Analisa univariat dan bivariat. Hasil menunjukan variabel yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan. Pengetahuan (0,000), Pendidikan (0.000), pekerjaan (0.009), usia ibu (0.000). dari 4 variabel yang diteliti (pengetahuan, Pendidikan, pekerjaan, usia ibu) dengan hasil semua variabel berhubungan dengan rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di desa Mangunjaya. Dari semua variabel yang di teliti faktor pengetahuan dan pekerjaan yang paling dominan dalam mempengaruhi rendahnya pemberian asi eksklusif. Saran dengan adanya penelitian ini, diharapkan kesadaran ibu untuk memberikan asi eksklusif pada bayi 0-6 bulan dengan optimal di desa Mangunjaya. Kata Kunci : ASI Eksklusif, Susu Formula, Bayi 0-6 Bulan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Universitas Medika Suherman (UMS) Program Studi S1 Kebidanan Skripsi, Lilis Yulianti1 221050024 Hubungan ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak 24-60 Bulan di Desa Taman Rahayu Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi Tahun 2022 xvii+75 halaman +9 tabel+13 lampiran ABSTRAK Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak akibat dari kekurangan gizi saat mereka dalam kandungan hingga dilahirkan kedunia, kondisi stunting terlihat setelah anak berusia 2 Tahun. Menurut WHO (2020) estimasi stunting dunia 22%, di indonesia pada tahun (2021). sebanyak 24,4% Di Jawa Barat (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat 24,5% anak usia di bawah 5 tahun di Jawa Barat mengalami stunting pada 2021. di Kabupaten Bekasi angka kejadian stunting adalah 2,65 %. di Puskesmas Setu II angka kejadian stunting adalah 6,07 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian Stunting pada anak usia 24-60 bulan di Puskesmas setu II. Jenis Penelitian ini menggunakan Analitik dengan desain case-control. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia 24-60 bulan sebanyak 118 anak. Sampel kelompok kasus 59 anak dan kelompok kontrol 59 anak. Tekhnik pengambilan sample menggunakan Random Sampling. Analisis data yang digunakan chi square. Hasil penelitian menunjukan bahwa yang mengalami kejadian stunting sebanyak 59 responden (50%) dengan tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 52 responden (68%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square mengenai hubungan ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada anak usia 24 sampai 60 bulan di Desa Taman Rahayu Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi diperoleh P value 0.000 dengan α (0,05). Nilai OR 7,685 artinya anak yang tidak diberikan ASI eksklusif beresiko 7,6 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang diberikan ASI eksklusif. Kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang hubungan ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada Anak Usia 24-60 bulan di Desa Taman Rahayu Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi Tahun 2022. Terdapat hubungan signifikan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada Anak Usia 24-60 bulan. Dengan nilai p value = 0,000. Nilai OR 7,685 artinya ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif akan berisiko 7,68 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan yang memberikan ASI eksklusif. Bahan bacaan jumlah : (2013-2022) Kata kunci : Stunting, ASI Eksklusif, Anak Usia 24-60 Bulan Jumlah kata : 292
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
ASI Eksklusif adalah Pemberian ASI asi saja tanpa tambahan lain selama 6 bulan. Pemberian ASI Eksklusif merupakan perilaku kesehatan yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti kepada 20 perawat yang memberikan ASI Eksklusif di RS X Kabupaten Bekasi terdapat 5 orang perawat memberikan ASI Eksklusif, 15 perawat tidak memberikan ASI eksklusif dengan alasan berbagai faktor yang melatar belakangi. Tujuan Penelitian ini Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku perawat dalam memberikan ASI Eksklusif pada anak kandung usia 6-24 bulan di RS X Kabupaten Bekasi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang mempunyai anak usia 6- 24 bulan yang bekerja di RS X Kabupaten Bekasi berjumlah 40 orang. Sampel Pada penelitian ini menggunakan tekhnik total sampling, yaitu semua dari populasi perawat yang mempunyai bayi berusia 6-24 bulan, baik yang memberikan maupun yang tidak memberikan ASI Eksklusif di RS x Kabupaten Bekasi berjumlah 40 orang. Analisis data yang digunakan Uji Chi Square. Dari hasil Penelitian Tidak ada hubungan signifikan anara variabel pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan petugas kesehatan, dan ketersediaan fasilitas dengan Perilaku Perawat dalam memberikan ASI Ekslusif pada anak kandung usia 6-24 bulan di RS X Kabupaten Bekasi. Perawat selaku ibu pekerja perlu memahami kembali konsep pentingnya ASI Eksklusif sebagai ilmu dasar dalam berperilaku sehari-hari. Memaksimalkan waktu cuti melahirkan dengan melakukan promosi Kesehatan, sehingga pada waktunya kembali bekerja perawat sudah memiliki persiapan yang mantap untuk tetap memberikan ASI Eksklusif
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa diberikan minuman atau makanan lain selama umur 0-6 bulan. Pemberian ASI eksklusif dapat memberikan dampak positif pada bayi dan apabila tidak diberikan ASI maka akan berdampak negatif kepada kesehatan bayi. Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI eksklusif di Puskesmas telaga murni Kabupaten Bekasi Tahun 2021.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu dengan menggunakan penelitian deskriptif dan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III di Puskesmas telaga murni Kabupaten Bekasi dengan jumlah 1.407 orang dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang, sampel diambil dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat.
Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 16 responden (53,3%) berpengetahuan kurang tentang ASI eksklusif, 15 responden (50,0%) berpendidikan tinggi, 30 responden (100,0%) memiliki usia resiko rendah, dan 26 responden (86,7%) memperoleh sumber informasi tentang ASI eksklusif dari nakes.
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI eksklusif masih dalam kategori kurang.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pihak Puskesmas telaga murni agar terus memberikan penyuluhan terkait ASI eksklusif kepada para ibu hamil,untuk meningkatkan
pengetahuanj ibu.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Jumlah prevalensi stunting di Indonesia meningkat dari tahun sebelumnya. Upaya mengatasi meningkatnya prevalensi stunting di Indonesia Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI mencanangkan beberapa program di antaranya Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Tujuan penelitian: untuk mengetahui distribusi frekuensi dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi tahun 2020.
Metode: metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dengan jumlah sebanyak 30 sampel. Pengumpulan data menggunakan primer dan sekunder. Variabel penelitian terdiri dari variabel independen yang terdiri dari pengetahuan orang tua, pendapatan, asupan makanan Pendidikan orangtua, Riwayat pemberian ASI eksklusif, Riwayat Berat badan lahir rendah sedangkan variabel dependen yaitu Stunting pada balita usia 24 – 60 bulan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square yang bertujuan untuk menghubungkan antara variabel independen dan variabel dependen.
Hasil: responden yang berpendidikan rendah sebanyak 60% (P value 0,021), pada responden dengan pendapatan orang tua rendah sebanyak 84,6% (P value 0,020), pada responden dengan asupan makanan kurang bergizi sebanyak 92,3% (P value 0,002), pada responden dengan pengetahuan orang tua rendah sebanyak 84,6% (P value 0,001), pada responden dengan Riwayat Air Susu Ibu tidak eksklusif sebanyak 69,2% (P value 0,027) dan pada responden dengan Riwayat Berat Badan Lahir Rendah sebanyak 43,3% (P value 0,033) dari hasil penelitian 6 variabel tersebut tidak memiliki kesenjangan dengan teori.
Kesimpulan: terdapat hubungan pendidikan ibu, pengetahuan orang tua, asupan makanan, pendapatan orangtua Riwayat ASI eksklusif, Riwayat Berat Badan Lahir Rendah dengan kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi. Saran: Untuk menurunkan prevalensi stunting Dinas Kesehatan, Puskesmas serta tenaga kesehatan lainnya lebih aktif dalam mengontrol tumbuh kembang balita, memiliki data balita stunting secara lengkap dan valid, serta mengoptimalkan pendekatan dan edukasi kepada masyarakat dalam upaya pencegahan terjadinya stunting pada balita
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Stunting adalah tinggi Badan dibawah persentil-ketiga, yang sesuai dengan nilai 1,9 atau dibulatkan menjadi 2 Standar Deviasi. Stunting dapat dilihat dari tinggi badan menurut umur serta dapat menyebabkan gangguan Intelligence Quotient, perkembangan psikomotor, kemampuan motorik, dan integrasi neurosensori.
Desain dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan case control. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu di Desa Karang Satu yang memiliki balita usia 24-59 bulan sebanyak 36 responden. Jumlah sampel sebanyak 36 responden dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling, menggunakan data primer, data diolah dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.
Hasil penelitian didapatkan variabel pendidikan (P.value=0,041), pendapatan (P.value=0,018), asupan makanan (P.value=0,007), riwayat BBLR (P.value=0,018), riwayat penyakit (P.value=0,037), riayat ASI Eksklusif (P.value=0,000), yang kurang dari nilai alpha (0,05).
Kesimpulannya ada hubungan antara pendidikan, pendapatan, asupan makanan, riwayat BBLR, riwayat penyakit, riwayat ASI Eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Karang Satu tahun 2019. Saran diharapkan ibu menambah wawasan maupun pengetahuan tentang kebutuhan anak dalam proses tumbuh kembang, serta dapat menentukan sikap dan perilaku yang tepat dalam merawat anak sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.