ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemberian ASI Ekslusif merupakan salah satu upaya untuk membantu tumbuh kembang anak terutama kesehatannya karena ASI memiliki zat gizi yang diperlukan bayi maupun antibody untuk kekebalan tubuhnya. Penelitian ini menggunakan penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain Cross Sectional dan menggunakan total sampling dengan jumlah 42 responden. Berdasarkan Hasil uji statistic chi Square diperoleh nilai pengetahuan (P= 0, 004), pekerjaan (P=0, 041), paritas (P=0,016), dukungan keluarga (P=0,016), karena nilai P Value 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan, pekerjaan, paritas, dan dukungan keluarga pada pemberian ASI Ekslusif Pada Ibu Menyusui 0-6 bulan. Dan bersasarkan Hasil uji statistic chi Square diperoleh nilai pendidikan (P=0, 377), karena nilai P Value 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara Pendidikan terhadap Pemberian ASI Ekslusif Pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan. Kesimpulan penelitian ini adalah dengan nilai P Value 0,05 maka ada hubungan pengetahuan, pekerjaan, paritas, dan dukungan keluarga dengan Pemberian ASI Ekslusif pada ibu menyusui 0-6 bulan di Dusun 2 Desa. Cibatu, Kec. Cikarang Selatan, Kab. Bekasi Tahun 2023.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang, sehingga kepatuhan penggunaan obat menjadi faktor penting dalam keberhasilan terapi. Pemberian informasi obat oleh tenaga kefarmasian berperan dalam meningkatkan pemahaman pasien terhadap pengobatan yang dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemberian informasi obat dengan tingkat pemahaman dan tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Sukatani. Penelitian menggunakan metode kuantitatif observasional dengan desain cross-sectional pada 52 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Guttman untuk pemberian informasi obat dan pemahaman, serta MMAS-8 untuk kepatuhan, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher's Exact Test (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan 71,2% responden menerima pemberian informasi obat dalam kategori baik, 84,6% memiliki tingkat pemahaman yang baik, sedangkan 55,8% memiliki tingkat kepatuhan yang rendah. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian informasi obat dengan tingkat pemahaman (p = 0,011), tetapi tidak dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat (p = 0,682). Pemberian informasi obat efektif meningkatkan pemahaman pasien, namun belum mampu meningkatkan kepatuhan secara signifikan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan merupakan upaya penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi. Namun, angka cakupan ASI eksklusif masih rendah di beberapa wilayah. Perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, sikap, dan dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi. Metode: Jenis penelitian adalah analitik dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 80 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sikap, sumber informasi, dan dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pemberian ASI eksklusif. Hasil: Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan bivariat dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan pemberian ASI eksklusif. Univariat menunjukkan mayoritas responden memberikan ASI eksklusif (75,0%), berpendidikan > SMA (67,5%), tidak bekerja (70,0%), memiliki pengetahuan baik (73,8%), bersikap positif (76,3%), mendapat dukungan keluarga (71,3%), dan terpapar sumber informasi (67,5%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pendidikan (p=0,001), pekerjaan (p=0,010), pengetahuan (p=0,002), sikap (p=0,015), dukungan keluarga (p=0,005), serta sumber informasi (p=0,025) dengan pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan sumber informasi. Upaya peningkatan ASI eksklusif perlu difokuskan pada peningkatan edukasi, penyediaan informasi, serta dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita hamil adalah isu kesehatan yang sangat penting di Indonesia. Angka prevalensinya mencapai 16,9% pada tahun 2023, dengan sebagian besar kejadian terjadi di Kabupaten Bekasi. KEK dapat menambah kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, termasuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Salah satu solusi untuk menangani KEK adalah melalui program gizi seperti pemberian makanan tambahan (PMT). Telur ayam yang direbus adalah sumber protein hewani yang kaya akan nutrisi dan dapat membantu meningkatkan berat badan ibu hamil yang mengalami KEK. Tujuan : Menganalisa pengaruh konsumsi telur ayam rebus terhadap peningkatan berat badan pada ibu hamil dengan KEK yang tinggal di Puskesmas Cipayung. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan studi quasi eksperimen One grup pre-post test Sampel terdiri dari 30 wanita hamil yang mengalami KEK, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan memberikan tiga butir telur ayam rebus setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji-t berpasangan. Hasil : Sebelum dilakukan intervensi, rata-rata berat badan wanita hamil tercatat 46,28 kg. Setelah mengonsumsi telur ayam rebus selama 14 hari, berat badan rata-rata meningkat menjadi 47,33 kg. Uji tersebut menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan konsumsi telur ayam rebus terhadap pertambahan berat badan pada ibu hamil dengan KEK. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengaruh positif protein hewani dari telur terhadap status gizi ibu hamil. Kesimpulan : Konsumsi telur ayam rebus dapat meningkatkan berat badan secara signifikan pada perempuan hamil dengan kekurangan energi kronik di Puskesmas Cipayung. Tindakan ini menjadi pilihan yang efisien dan hemat biaya untuk memperbaiki status gizi ibu, mendukung perkembangan janin, dan mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kolostrum adalah ASI stadium I yang keluar sejak hari pertama sampai dengan hari keempat setelah
persalinan. Berdasarkan data menurut Kemenkes RI, 2019 Kecenderungan pemberian kolostrum yang dibuang semua sebesar 5,9% pada tahun 2013. Dari hasil tersebut, diketahui 14,8% bayi tidak mendapatkan manfaat kolostrum dengan maksimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan paritas, pengetahuan, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di klinik pratama amanah bunda medika
bekasi. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi, menambah wawasan dan menerapkan pemberian kolostrum yang tepat. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di klinik pratama amanah bunda medika bekasi yaitu sebanyak 57 ibu bersalin. Sampel sebanyak 57 ibu bersalin dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner. Data di analisa menggunakan analisa univariat dan
bivariat dengan uji chi-square.
Hasil penelitian bivariat menunjukan adanya hubungan semua variabel dengan
pemberian pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di klinik pratama amanah bunda medika bekasi. Pada variabel paritas nilai (P=0.001) (OR=8.458), variabel pengetahuan nilai (P= 0.035) (OR= 3.818), variabel dukungan keluarga nilai (P= 0.009) (OR= 6.706), variabel dukungan tenaga kesehatan nilai (P= 0.003) (OR= 10.588). Kesimpulan hasil penelitian variabel yang diteliti memiliki hubungan antara paritas, pengetahuan, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di klinik pratama amanah bunda medika
bekasi. Saran dengan adanya penelitian ini, diharapkan kesadaran ibu untuk memberikan kolostrum pada bayi baru lahir yang baik dan benar dengan cara mencari informasi dari sumber terpercaya agar selalu tercipta sikap yang baik dalam hal pemberian kolostrum.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
MPASI diberikan pada bayi usia 6-24 bulan. Di Indonesia prevalensi ibu yang memberikan MPASI dini sebanyak 12,6%. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MPASI dini pada bayi usia 0-6 bulan di Dusun Waluya Desa Waluya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang tahun 2023. Metode penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi 167 ibu dan sampel 130 ibu dengan teknik purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan lembar kuesioner. Analisis yang digunakan
analisis univariat dan bivariat.Uji statistik menggunakan uji chi-square. Hasil Analisis bivariat pada variabel pengetahuan (p= 0,042), pendidikan (p= 0,016), pekerjaan (p= 0,002), budaya (p= 0,000) dan peran petugas kesehatan (p= 0,030). Kesimpulan penelitian ini ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, budaya dan peran petugas kesehatan dengan pemberian MPASI dini pada bayi usia 0-6 bulan. Diharapkan ibu menyususi dapat memberikan MPASI tepat waktu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Proses penuaan adalah hal yang normal, namun bisa saja diiringi dengan masalah medis seperti terkenanya stroke salah satu masalah stroke yaitu terganggunya aktifitas fungsional pada lansia stroke. Faktor-faktor utama stroke pada lansia adalah usia semakin menua akan semakin rentan terkena hipertensi, penyakit jantung, obesitas, diabetes mellitus, stress emosional, merokok, peminum alcohol dan kurangnya berolahraga. Gangguan aktifitas fungsional pada lansia disebabkan oleh lamanya menderita stroke transisi dari ketergantungan aktivitas hidup sehari-hari menjadi independen terjadi terutama pada tahun pertama pacsa stroke sampai 5 tahun pasca stroke dan gangguan kognisi menunjukkan gangguan kognisi termasuk gangguan memori kerja memiliki korelasi yang signifikan dengan kemandirian aktivitas hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerobic exercise terhadap kemampuan aktifitas fungsioanal pada lansia stroke. Metode penelitian quasi experiment menggunakan desain penelitian one group pre-test and post-test. Jumlah responden 20 orang lansia yang berusia 60 tahun keatas yang di kunjungi ke rumah – rumah di pasien nya di bawah Yayasan Senyum Sehat Home Care yang dipilih dengan satu kelompok perlakuan dengan di berikan aerobic exercise selama 4 minggu, Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengukuran menggunakan indexs barther pre-test dan post-test. Hasil: satu kelompok pengujian menggunakan unpaired t-test didapatkan hasil p value = 0,0314* pada pasca lansia stroke.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Pelayanan informasi obat merupakan peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dan memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien. Kejelasan mengenai informasi obat yang harus digunakan pasien akan sangat mempengaruhi ketaatan pasien dalam keberhasilan suatu pengobatan.
Tujuan : Mengevaluasi pelayanan informasi yang diberikan Apoteker pada pasien di instalasi farmasi UPTD Puskesmas Ciasem Kabupaten Subang dengan standar pelayanan kefarmasian berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan No. 74 tahun 2016.
Metode : Observasi secara langsung dengan menggunakan lembar checklist
Hasil : Persentase pelayanan informasi obat berdasarkan : nama obat 100%, sediaan obat 93,61%, dosis obat 100%, cara pakai obat 100%, dan efek samping obat 91,48%. Sedangkan pelayanan informasi obat dengan kategori cukup baik adalah penyimpanan obat 46,80%. Pelayanan informasi obat yang masih terjadi kesenjangan negatif yaitu pada parameter sediaan obat sebesar 6%, penyimpanan obat sebesar 53%, dan efek samping obat sebesar 8%.
Kesimpulan : Pelayanan informasi obat yang diberikan oleh Apoteker kepada pasien sudah terlaksana sesuai dengan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas yaitu dengan skor total keseluruh parameter pelayanan informasi obat yang diberikan yaitu 49,6% dengan kategori cukup baik
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa pertumbuhan bayi berusia 7-12 bulan membutuhkan
asupan gizi tidak hanya cukup dengan ASI saja, karena produksi ASI pada saat itu
semakin berkurang sedangkan kebutuhan bayi semakin meningkat seiring
bertambahnya umur dan berat badan, oleh karena itu bayi harus mendapat makanan
pendamping selain ASI (MP-ASI) untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang
terkandung dalam ASI. Menurut WHO pemberian MP-ASI harus sesuai dengan
waktu pemberian yang tepat, memadai, aman untuk dikonsumsi. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pemberian MP-ASI adalah usia pemberian MP-ASI, jenis
MP-ASI, dan frekuensi dalam pemberian MP-ASI.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendekatan deskriptif noneksperimen
dengan desain penelitian ini adalah cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan cara purposive sampling. Besar sampel 64 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen penelitian adalah karakteristik ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga) dan pola pemberian MP-ASI (jenis pemberian dan frekuensi pemberian), sedangkan variabel dependen adalah status gizi. Jenis data yang digunakana kuantitatif. Pengumpulan
data primer dilakukan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisis data
menggunakan uji statistic chi-square.
Hasil: Terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan
status gizi bayi (P < 0,05). Tidak terdapat hubungan antara pola pemberian MP-ASI
dan Jenis MP-ASI dengan Status gizi bayi (P > 0,05). Tidak terdapat hubungan
antara karakteristik ibu dengan status gizi bayi (P > 0,05).
Kesinpulan dan Saran : Terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MPASI
dengan status gizi bayi. Diharapkan dapat terus memberikan penyuluhan
kesehatan dan memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya pola
pemberian MP-ASI yang tepat dan sesuai dengan usia bayi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pemberian ASI Ekslusif merupakan salah satu upaya untuk membantu tumbuh kembang anak terutama kesehatannya karena ASI memiliki zat gizi yang diperlukan bayi maupun antibody untuk kekebalan tubuhnya. Penelitian ini menggunakan penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain Cross Sectional dan menggunakan total sampling dengan jumlah 42 responden. Berdasarkan Hasil uji statistic chi Square diperoleh nilai pengetahuan (P= 0, 004), pekerjaan (P=0, 041), paritas (P=0,016), dukungan keluarga (P=0,016), karena nilai P Value 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan, pekerjaan, paritas, dan dukungan keluarga pada pemberian ASI Ekslusif Pada Ibu Menyusui 0-6 bulan. Dan bersasarkan Hasil uji statistic chi Square diperoleh nilai pendidikan (P=0, 377), karena nilai P Value 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara Pendidikan terhadap Pemberian ASI Ekslusif Pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan. Kesimpulan penelitian ini adalah dengan nilai P Value 0,05 maka ada hubungan pengetahuan, pekerjaan, paritas, dan dukungan keluarga dengan Pemberian ASI Ekslusif pada ibu menyusui 0-6 bulan di Dusun 2 Desa. Cibatu, Kec. Cikarang Selatan, Kab. Bekasi Tahun 2023.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Persalinan normal merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir dengan spontan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam tanpa komplikasi terhadap janin maupun ibu. Nyeri persalinan yang berat dapat meningkatkan emosional pada ibu bersalin, dan dapat menyebabkan kelelahan dan dapat berdampak pada abnormal fungsi otot uterus selama persalinan yang berujung pada komplikasi persalinan. World Health Organization (WHO) tahun 2012 dalam penelitian (Yunarsih dan Rahayu, 2018) di Amerika Serikat sekitar 70%-80% wanita melahirkan mengharapkan persalinan normal yang berlangsung tanpa rasa nyeri, sehingga di Rumah Sakit banyak yang melakukan persalinan secara seksio sesarea sebanyak 20%-50%, dikarenakan kebanyakan ibu bersalin tidak mau merasakan nyeri saat persalinan pervaginam. Nyeri persalinan dapat ditangani dengan aromaterapi karena dipercaya sebagai terapi komplementer untuk menurunkan intensitas nyeri, yaitu dengan minyak esensial yang berasal dari bau harum tumbuhan untuk mengurangi masalah kesehatan. bau yang berpengaruh terhadap otak dan pikiran yang menangkan pada saat persalinan pervaginam. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nyeri kala I fase aktif setelah diberikan romaterapi lavender di TPMB Rosliana S.Keb Kec. Tambun Selatan Kab. Bekasi Tahun 2023. desain yang digunakan adalah dengan (non equivalent control group pretest-posttes). Pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dipilih secara random. Dalam desain ini kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan. Adanya 2 kelompok dimana satu kelompok diberikan perlakuan aroma terapi lavender. Dua kelompok yang ada diberi pretest, kemudian diberikan perlakuan dan terakhir posttest. Hasil uji statistik yang dilakukan menggunakan uji Mann Whitney Test menggunakan SPSS di peroleh nilai Z= -4.802 dan nilai P = 0,000 < 0,005. kesimpulan Pada kelompok intervensi (diberikan aromaterapi lavender), sebagian besar responden mengalami sangat bahagia (tidak ada rasa sakit) yaitu sebanyak 9 orang (60%). Sedangkan pada kelompok kontrol (tidak diberikan aromaterapi lavender) sebagian besar responden merasakan benar-benar sakit yaitu sebanyak 5 orang (33%). Terdapat pengaruh pemberian aroma terapi lavender terhadap tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif di TPMB Rosliana S.Keb Kec. Tambun Selatan Kab. Bekasi Tahun 2023 dengan p value 0,000 (a <0,05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Persalinan normal merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir dengan spontan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam tanpa komplikasi terhadap janin maupun ibu. Nyeri persalinan normal bisa menimbulkan stres dan bisa menyebabkan pelepasan hormon yang berlebihan seperti katekolamin dan steroid. hormon ini dapat menimbulkan otot polos dan vasokonstriksi pembuluh darah, dan dapat mengakibatkan penurunan kontraksi, serta timbul iskemia uterus yang membuat impuls uteri nyeri bertambah banyak saat persalinan. Nyeri persalinan dapat ditangani dengan aromaterapi karena dipercaya sebagai terapi komplementer untuk menurunkan intensitas nyeri, yaitu dengan minyak esensial yang berasal dari bau harum tumbuhan untuk mengurangi masalah kesehatan. bau yang berpengaruh terhadap otak dan pikiran yang menangkan pada saat persalinan pervaginam. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nyeri kala I fase aktif setelah diberikan romaterapi lavender di TPMB Rosliana S.Keb Kec. Tambun Selatan Kab. Bekasi Tahun 2023. desain yang digunakan adalah dengan (non equivalent control group pretest-posttes). Pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dipilih secara random. Dalam desain ini kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan. Adanya 2 kelompok dimana satu kelompok diberikan perlakuan aroma terapi lavender. Dua kelompok yang ada diberi pretest, kemudian diberikan perlakuan dan terakhir posttest. Hasil uji statistik yang dilakukan menggunakan uji Mann Whitney Test menggunakan SPSS di peroleh nilai Z= -4.802 dan nilai P = 0,000 0,005. kesimpulan Pada kelompok intervensi (diberikan aromaterapi lavender), sebagian besar responden mengalami sangat bahagia (tidak ada rasa sakit) yaitu sebanyak 9 orang (60%). Sedangkan pada kelompok kontrol (tidak diberikan aromaterapi lavender) sebagian besar responden merasakan benar-benar sakit yaitu sebanyak 5 orang (33%). Terdapat pengaruh pemberian aroma terapi lavender terhadap tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif di TPMB Rosliana S.Keb Kec. Tambun Selatan Kab. Bekasi Tahun 2023 dengan p value 0,000 (a 0,05). Bahan Bacaan : 3 Buku, 22 Jurnal Kata Kunci : Nyeri Persalinan, Pemberian Aromaterapi Lavender.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Menyusui adalah suatu proses yang terjadi secara alami namun menyusui perlu dipelajari terutama oleh ibu yg pertama kali mempunyai bayi agar tahu cara menyusui yang benar dan dapat mengatasi masalah pemberian ASI. Masalah pemberian ASI dapat terjadi pada tiga hari pertama post-partum, seperti bayi gelisah saat disusukan, belum munculnya ASI, perlengketan ibu serta bayi yang belum benar dan bayi tak mau menyusu, sebagai akibatnya banyak ibu post-partum yg tidak berhasil menyampaikan ASI pada tiga hari pertama dan ini menentukan keberhasilan pemberian ASI ekslusif. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accicental sampling, berjumlah 31 responden. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan bermakna antara Usia, Pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, dukungan keluarga (P value =0.002, 0.007, 0.049,0.043, 0.006, 0.032, 0.022) dengan pemberian ASI di tiga pertama postpartum. Kesimpulan menunjukan bahwa hampir seluruh ibu mendapatkan dukungan suami, dukungan keluarga dan peran bidan. Terdapat pula hubungan pula antara pemberian ASI di tiga hari pertama Postpartum antara Usia, Pendidikan, Pekerjaan dan penghasilan.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Stroke gangguan neurologis terjadi secara mendadak dengan tanda klinis fokal atau global yang berlangsung lama lebih 24 jam dikarenakan oleh gangguan peredaran darah di otak. Stroke iskemik dapat menyebabkan timbulnya kelemahan pada bagian wajah, tangan atau kaki yang menyebabkan timbulnya masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik. Tujuan penelitian untuk mempelajari proses pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan pada pasien dengan stroke iskemik. Metode klien dewasa yang berjenis laki-laki berumur 65 tahun dengan masalah gangguan mobilitas fisik. Hasil studi kasus penelitian ini ditemukannya gejala klinis pada pasien stroke iskemik diantaranya mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, kekuatan otot menurun, sendi kaku, gerakan terbatas, fisik lemas, sehingga timbul diagnosa keperawatan utama gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan neuromuskuler. Tindakan keperawatan yang efektif pada kasus penelitian ini adalah Tindakan monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi, libatkan keluarga untuk membantu meningkatkan pergerakan, anjurkan melakukan Range Of Motion (ROM), nganjurkan lakukan mobilisasi sederhana. Kesimpulan penelitian ini adalah Tindakan yang dilakukan pada implementasi sangat efektif dalam mengatasi keperawatan utama pada penelitian ini dengan evaluasi terakhir masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik belum teratasi ditandai dengan saat di lakukan mobilisasi Range Of Motion (ROM) pada bagian tangan masih mampu untuk di bantu pergerakan, namun untuk kaki belum ada Gerakan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
ASI Eksklusif adalah Pemberian ASI asi saja tanpa tambahan lain selama 6 bulan. Pemberian ASI Eksklusif merupakan perilaku kesehatan yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti kepada 20 perawat yang memberikan ASI Eksklusif di RS X Kabupaten Bekasi terdapat 5 orang perawat memberikan ASI Eksklusif, 15 perawat tidak memberikan ASI eksklusif dengan alasan berbagai faktor yang melatar belakangi. Tujuan Penelitian ini Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku perawat dalam memberikan ASI Eksklusif pada anak kandung usia 6-24 bulan di RS X Kabupaten Bekasi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang mempunyai anak usia 6- 24 bulan yang bekerja di RS X Kabupaten Bekasi berjumlah 40 orang. Sampel Pada penelitian ini menggunakan tekhnik total sampling, yaitu semua dari populasi perawat yang mempunyai bayi berusia 6-24 bulan, baik yang memberikan maupun yang tidak memberikan ASI Eksklusif di RS x Kabupaten Bekasi berjumlah 40 orang. Analisis data yang digunakan Uji Chi Square. Dari hasil Penelitian Tidak ada hubungan signifikan anara variabel pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan petugas kesehatan, dan ketersediaan fasilitas dengan Perilaku Perawat dalam memberikan ASI Ekslusif pada anak kandung usia 6-24 bulan di RS X Kabupaten Bekasi. Perawat selaku ibu pekerja perlu memahami kembali konsep pentingnya ASI Eksklusif sebagai ilmu dasar dalam berperilaku sehari-hari. Memaksimalkan waktu cuti melahirkan dengan melakukan promosi Kesehatan, sehingga pada waktunya kembali bekerja perawat sudah memiliki persiapan yang mantap untuk tetap memberikan ASI Eksklusif
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Nyeri kepala adalah nyeri alih ke permukaan kepala yang disebabkan oleh stimulus dari dalam maupun luar cranium. Rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman pada penderita, sehingga menurunkan kualitas hidup penderita. Prevalensi sakit kepala di Indonesia sangatlah tinggi. Menurut riskesdas 2018, persentase dari angka kajadian cephalgia di jawabarat sebesar 3,52 % dari 2.396 jiwa penduduk . Tujuan karya tulis ilmiah ini untuk melaksanakan asuhan keperawan pada klien chepalgia dengan masalah penurunan kapasitas adaptif intrakranial. Metode penelitian menggunakan studi kasus. Partisipan pada kasus ini satu klien yang mengalami gangguan cephalgia dengan keluhan utama sakit bagian kepala, mengalami muntah, gelisah. Masalah keperawatan yang utama adalah penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan septikemia. Implementasi yang dilakukan diantaranya memonitor tekanan darah, mengidentifikasi peningkatan intracranial, dan kolaborasi pemberian obat. Hasil evaluasi setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tiga hari masalah penurunan kapasitas adaptif intrakranial dapat teratasi. Kesimpulan berdasarkan evaluasi studi kasus dengan masalah penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan septikemia dapat teratasi. Saran untuk tenaga kesehatan di Rumah sakit agar dapat berkolaborasi untuk pemeriksaan penunjang kepada pasien yang mengalami masalah cephalgia.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Pemberian MPASI terlalu dini tidak dianjurkan karena akan menjadi sumber berbagai jenis penyakit, seperti terjadinya diare, sembelit, batuk, pilek, panas dan kolik usus. Data yang diambil pada tahun 2019 di desa bantarjaya terdapat bayi yang sudah diberikan MPASI yaitu sebanyak 66,6% dari 30 bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-fakor yang berhubungan dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan Di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Tahun 2020.
Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross sectional, populasi seluruh ibu yang mempunyai bayi usia kurang dari 6 bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran sebanyak 167 responden. Sampel yang diteliti sebagian ibu yang mempunyai bayi usia kurang dari 6 bulan sebanyak 30 responden. Intrument penelitian menggunakan kuesioner dan data primer.
Hasil penelitian bivariat menunjukan ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P= 0,020, hasil OR 8,750. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,030, hasil OR 8,500. Ada hubungan pekerjaan ibu dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,014, hasil OR 16,000. Ada hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nila P=0,042, hasil OR 10,667. Ada hubungan dukungan keluarga dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,020, hasil OR= 8,750. Ada hubungan tradisi dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,030, hasil OR 8,500
Kesimpulan hasil penelitian dari 6 variabel yang diteliti memiliki hubungan antara pengetahuan ibu, pendidikan, pekerjaan, dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, tradisi dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INSTITUT MEDIKA DRG. SUHERMAN (IMDS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS SKRIPSI, APRIL 2021 Nama : SASTRIANA NIM : 020319686 EFEKTIFITAS PEMBERIAN TERAPI CAIRAN HANGAT MELALUI INTRAVENA (IV) TERHADAP SUHU TUBUH PADA PASIEN DENGAN SHIVERING PASCA OPERASI DENGAN SPINAL ANESTESI DI RUANG PEMULIHAN RS X KABUPATEN BEKASI xv + 95 Halaman+ 11 Tabel + 9 Lampiran ABSTRAK Anestesi regional/spinal ialah anestesi pada sebagian tubuh saja, yang menyebabkan keadaan bebas nyeri pada pasien tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran. Anestesi regional memberikan efek mati rasa terhadap saraf yang menginervasi beberapa bagian tubuh, melalui injeksi anestesi pada spinal/epidural, pleksus, atau secara bier block.Salah satu efek samping pada teknik anestesi yang sering di jumpai baik anestesi umum maupun anastesi regional adalah shivering ( menggigil ).Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Efektivitas pemberian terapi cairan hangat melalui intravena ( IV ) terhadap suhu tubuh pada pasien dengan shivering pasca operasi dengan spinal anastesi di ruang pemulihan RS X Kabupaten Bekasi.Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian Pre-Post test (One group pre-post test design). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 44 orang pasien dengan shivering di ruang pemulihan RS X Kabupaten Bekasi pada tanggal 5 Maret 2021 sampai dengan tanggal 31 Maret 2021. Pengambilan sample (sampling) penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian yang didapat terdapat pengaruh yang signifikan pemberian cairan hangat melalui intravena (IV) efektif terhadap peningkatan suhu tubuh pada pasien dengan shivering pasca spinal anestesi.Pengaruh ini di uji dengan uji wilcoxon menghasilkan nilai p=0,000, dimana nilai p α (0,05), maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan dalam pemberian cairan hangat melalui intravena terhadap peningkatan suhu tubuh pada pasien dengan shering pasa operasi dengan spinal anestesi. Hasil penelitian ini dapat dapat menjadi masukan untuk bidang keperawatan agar dapat menerapkan intervensi dalam pemberian cairan infus hangat melalui intravena dengan menggunakan alat fluid warmer yang sudah tersedia di Rs X Kabupaten Bekasi. Kata Kunci : Pemberian infus hangat, spinal anestesi, suhu tubuh Daftar Pustaka : 32 (2010-2019)
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagimana tertuang pada dokumen rencana pembangunan jangka menengah nasional dan rencana stategis kementrian kesehatan 2015 adalah perbaikan status gizi masyarakat. Di Indonesia Departemen Kesehatan RI (Depkes) telah menargetkan cakupan ASI Eklusif sebesar 80% sebagai salah satu indikator kegiatan pembangunan gizi kesehatan masyarakat. Pemberian susu formula atau makanan tambahan PASI yang terlalu dini dapat menganggu pemberian ASI eklusif serta meningkatkan angka kesakitan morbiditas. (Kemenkes, RI, 2015.
Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan di BPM inna nur mulyani tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini semua ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan dan sampel yang digunakan berjumlah 100 responden dengan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square.
Hasil penelitian ada hubungan bermakna antara variabel pengetahuan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula dengan p value : 0,016, ada hubungan bermakna antara variabel pekerjaan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula dengan p value : 0,004, ada hubungan bermakna antara variabel kondisi fisik dan kesehatan ibu dalam pemberian susu formula dengan p value : 0,043, ada hubungan bermakna antara variabel peran bidan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula degan p value : 0,009.
Kesimpulan ada hubungan yang bermakna antara variabel pengetahuan, pekerjaan, kondisi fisik dan kesehatan ibu, serta peran bidan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula. Saran peneliti ini diharapkan bidan lebih meningkatkan penyuluhan-penyuluhan serta memberikan informasi kepada masyarakat khususnya pada ibu-ibu tentang pentingnya pemberian ASI serta manfaat ASI bagi ibu dan bayi.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, dengan konsisten feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah. Hal ini karena secara fisiologis sistem pencernaan pada balita belum cukup matur (organ-organnya belum matang), sehingga rentan sekali terkena penyakit saluran pencernaan. Penyakit saluran pencernaan ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan amoeba atau parasit melalui makanan yang masuk ke dalam tubuh dan juga mal absorpsi serta alergi zat makanan tertentu. Gejala penyerta lain dari diare pada anak balita biasanya ditandai dengan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan menurun sampai tidak ada nafsu makan. Muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare karena lambung turut meradang akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak khususnya terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2013 menyebutkan angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Selama tahun 2010, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mencatat angka penderita diare 168.072 orang. Jumlah kematian akibat penyakit diare enam orang. Penderita diare di Kabupaten Bekasi dengan jumlah 38.012 orang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik desain Cross Sectional. Penelitian dilaksanankan di Puskesmas Tambelang, sedangkan proses pengumpulan data dilaksanakan selama bulan Januari – oktober 2017, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang datang ke Puskesmas Tambelang dan sampelnya dihitung dengan cara mengambil seluruh populasi. Sumber data yang diambil dari hasil kuesioner, dimana data tersebut didapat dengan menemui seluruh balita yang datang ke Puskesmas Tambelang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan pendekatan Accidental Sampling
Hasil penelitian ini menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: ada hubungan antara variabel umur dengan PV: 0,001 dan OR 6,417, status gizi dengan PV: 0,015 dan OR 4,047,cara pemberian makan dengan PV: 0,001 dan OR 6,182 kebiasaan orang tua mencuci tangan dengan PV: 0,008 dan OR 4,971, penghasilan dengan PV: 0,031 dan OR 3,537, sumber air dengan PV: 0,018 dan OR 4,333
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah semua variabel independen yang meliputi umur, status gizi, penghasilan, kebiasaan orang tua mencuci tangan, sumber air ada hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Saran dalam penelitian ini adalah agar menambah pengetahuan dengan cara mencari informasi yang tidak didapatkan dari sekolah melalui internet maupun buku referensi. Meningkatkan pola hidup sehat dan menjaga kesehatan dengan cara lebih membiasakan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.