Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Widya Lestari Nurpratama

10 karya publik ditemukan.

2026: 22025: 12024: 7

Analisis Hubungan Karakteristik Responden, Screen Time, dan Kebiasaan Jajan dengan Status Gizi Remaja

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Masa remaja merupakan periode pertumbuhan pesat yang meningkatkan kebutuhan gizi, sehingga rentan mengalami masalah status gizi seperti gizi lebih maupun gizi kurang. Perubahan gaya hidup di era digital, khususnya peningkatan screen time dan kebiasaan jajan yang tidak terkendali, diduga berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden, screen time, dan kebiasaan jajan dengan status gizi remaja di MAN 1 Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 siswa kelas XI yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik responden, kuesioner screen time, kuesioner kebiasaan jajan (FFQ), serta pengukuran antropometri (berat dan tinggi badan) untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (61,6%), memiliki uang saku kategori sedang (51,2%), dan jarang sarapan (45,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara screen time dengan status gizi remaja (p = 0,752), sedangkan kebiasaan jajan menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi remaja (p = 0,009; OR = 6,487), di mana remaja dengan kebiasaan jajan sering memiliki peluang sekitar 6,5 kali lebih besar mengalami status gizi tidak normal dibandingkan remaja dengan kebiasaan jajan jarang. Kesimpulan : Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan jajan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan status gizi remaja, sedangkan screen time tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.

Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Pola Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) pada Remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan pada remaja merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular di masa mendatang. Pengetahuan dan sikap diduga berperan dalam membentuk pola konsumsi remaja, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang beragam. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 responden yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data pengetahuan dan sikap diperoleh melalui kuesioner, sedangkan pola konsumsi gula, garam, dan lemak diukur menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis penelitian, sebagian besar responden berusia 17 tahun, yaitu sebanyak 80 responden (93,0%), sedangkan responden yang berusia 16 tahun sebanyak 6 responden (7,0%). Mayoritas berjenis kelamin perempuan (72,1%) dan memiliki uang saku kategori sedang (91,9%). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik (70,9%), sikap kategori baik (73,3%), serta pola konsumsi gula (75,6%), garam (73,3%), dan lemak (72,1%) pada kategori cukup. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pola konsumsi gula (p=0,621), garam (p=0,866), maupun lemak (p=0,588). Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan pola konsumsi gula (p=0,433), garam (p=0,640), maupun lemak (p=0,390). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap tidak berhubungan secara signifikan dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Perilaku konsumsi GGL kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan makan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, ketersediaan pangan, dan pengaruh teman sebaya. Oleh karena itu, upaya perbaikan pola konsumsi GGL pada remaja perlu dilakukan secara komprehensif melalui edukasi gizi yang didukung oleh lingkungan pangan yang sehat.

Pengaruh Media Edukasi Food Model Dua Dimensi Terhadap Pengetahuan Penggunaan dan Konsumsi Gula Pada Remaja

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Remaja cenderung mengonsumsi gula dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa yaitu usia remaja rerata mengonsumsi gula lebih dari 50 gram, dan usia dewasa sebesar 39,1 gram per hari. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi diabetes mellitus pada usia remaja mengalami peningkatan dari 10,9% tahun 2018 menjadi 11,7% tahun 2023, dan prevalensi obesitas tahun 2018 sebesar 16,2%, sedangkan tahun 2023 sebesar 16%. Penelitian ini mengembangkan sebuah inovasi berupa food model dua dimensi yaitu gambar-gambar berbagai bahan makanan, minuman, dan produk pangan kemasan yang disajikan dalam bentuk datar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media edukasi food model dua dimensi terhadap pengetahuan penggunaan dan konsumsi gula pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain one group pre-test and post-test. Sampel dalam penelitian ini sebesar 94 responden. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik purposive sampling. Data pengetahuan responden dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan pre-test dan post-test yang terdiri atas 15 butir pertanyaan. Analisis data menggunakan uji statistik non-parametrik, yaitu Uji Wilcoxon Rank Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari intervensi edukasi menggunakan food model dua dimensi terhadap pengetahuan penggunaan dan konsumsi gula pada remaja dengan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh media edukasi food model dua dimensi terhadap pengetahuan penggunaan dan konsumsi gula pada remaja.

Pengaruh Edukasi Gizi Melalui Video Animasi Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pencegahan Anemia Pada Siswi di SMAN 1 Kedung Waringin

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Media video animasi merupakan alat yang sangat cocok untuk menyampaikan edukasi gizi karena kemampuannya dalam memudahkan penyampaian informasi terkait gizi secara visual dan menarik tujuan untuk Mengetahui pengaruh edukasi gizi melalui video animasi terhadap pengetahuan,sikap serta perilaku konsumsi makan anemia pada siswi di SMAN 1 Kedung Waringin. Subyek dan Metode: Preeksperimental dengan rancangan one grup pretest - posttest, SMAN 1 Kedung Waringin, populasi 30, teknik purposive sampling, variabel independent : Media video animasi dan variabel Dependent : Pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi makan, instrumen pengukuran variabel menggunakan uji shapirowilk, serta metode analisis data uji paired t-test dan uji wilcoxon. Hasil: terdapat pengaruh edukasi gizi melalui media video animasi terhadap pengetahuan (0,000),sikap (0,008) dan perilaku konsumsi makan (0,000) sisiwi di SMAN 1 Kedungwaringin Kesimpulan: Adanya pengaruh edukasi gizi pencegahan anemia terhadap pengetahuan siswi di SMAN 1 Kedung Waringin. Dengan nilai P-Value 0,000 maka terdapat pengaruh edukasi gizi pencegahan anemia terhadap pengetahuan pada siswi.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Terjadinya Body Image Para Remaja Putri di SMAN 2 Cikarang Pusat

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penelitian dengan pendekatan cross sectional telah dilaksanakan untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap persepsi remaja putri mengenai body image di SMAN 2 Cikarang Pusat. Telah diketahui bahwa para remaja putri cenderung membatasi asupan makanan mereka dan seringkali menetapkan makanan tertentu sebagai pantangan, hal ini dilakukan karena perhatian mereka yang besar terhadap bentuk tubuh. Subyek dan Metode: Teknik sampling yaitu random sampling, alat pengumpulan data yaitu kuesioner dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Populasinya seluruh siswi di SMAN 2 Cikarang Pusat sebanyak 488 siswi dengan sampel sebagian dari populasi faktor yang mempengaruhi terjadinya body image pada siswi tersebut. Variabel independen: karakteristik, status gizi, ketersediaan pangan di rumah, pola makan, kebiasaan sarapan, dan pengetahuan. Variabel dependen: Body Image. Penelitian ini dijalankan antara tanggal 1 hingga 19 Juli 2024, berlokasi di SMAN 2 Cikarang Pusat. Dalam rangka menilai normalitas data, digunakan metode uji Shapiro Wilk sebagai instrumen yang paling fundamental dalam penelitian ini. Proses ini melibatkan pembuatan grafik distribusi frekuensi berdasarkan skor yang diperoleh. Proses pengolahan data meliputi tahapan editing, coding, tabulating, entry, serta cleaning. Analisis yang dilakukan mencakup teknik analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 85 responden siswi di SMAN 2 Cikarang Pusat, 52,9% pada kelompok usia 16-18 tahun. Status gizi responden menunjukkan 72,9% normal. Analisis hubungan pendidikan orang tua menunjukkan hubungan signifikan dengan body image remaja (p-value = 0,033). Kesimpulan: Tidak ada hubungan signifikan antara uang saku dan body image namun pendidikan orangtua dan pengetahuan gizi menunjukkan hubungan signifikan dengan body image.

Hubungan Karakteristik dan Higiene Sanitasi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Ibu dengan Kejadian Diare Anak 6-24 Bulan di Puskesmas Cikarang

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kurangnya higiene sanitasi pada ibu dapat menyebabkan munculnya risiko diare pada anak, sehingga diperlukan perhatian khusus terkait higiene sanitasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik dan higiene sanitasi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) ibu dengan kejadian diare anak 6-24 bulan di Puskesmas Cikarang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendekatan deskriptif non-eksperimen dengan desain penelitian ini adalah cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan cara purposive sampling. Besar sampel 64 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen penelitian adalah karaktersitik ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga) dan higiene sanitasi, sedangkan variabel dependen adalah kejadian diare. Jenis data yang digunakan kuantitatif. Pengumpulan data primer dilakukan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil: Terdapat hubungan antara pendidikan ibu dan pendapatan keluarga dengan kejadian diare (p <0,05 ). Tidak terdapat hubungan antara usia ibu dan pekerjaan ibu dengan kejadian diare (p >0,05). Tidak terdapat hubungan antara higiene sanitasi MP-ASI dengan kejadian diare (p >0,05) Kesimpulan dan Saran: Pendidikan ibu dan pendapatan keluarga secara signifikan berhubungan dengan kejadian diare pada anak. Diharapkan kepada petugas kesehatan memberikan penyuluhaan terkait higiene sanitasi pembuatan MP-ASI. Penyuluhan ini bermanfaat agar ibu tetap menjaga menjaga kebersihan dalam upacya mencegah diare pada anak.

Hubungan Karakteristik Ibu dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Dengan Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan di Puskesmas Cikarang

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Masa pertumbuhan bayi berusia 7-12 bulan membutuhkan asupan gizi tidak hanya cukup dengan ASI saja, karena produksi ASI pada saat itu semakin berkurang sedangkan kebutuhan bayi semakin meningkat seiring bertambahnya umur dan berat badan, oleh karena itu bayi harus mendapat makanan pendamping selain ASI (MP-ASI) untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung dalam ASI. Menurut WHO pemberian MP-ASI harus sesuai dengan waktu pemberian yang tepat, memadai, aman untuk dikonsumsi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian MP-ASI adalah usia pemberian MP-ASI, jenis MP-ASI, dan frekuensi dalam pemberian MP-ASI. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendekatan deskriptif noneksperimen dengan desain penelitian ini adalah cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan cara purposive sampling. Besar sampel 64 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen penelitian adalah karakteristik ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga) dan pola pemberian MP-ASI (jenis pemberian dan frekuensi pemberian), sedangkan variabel dependen adalah status gizi. Jenis data yang digunakana kuantitatif. Pengumpulan data primer dilakukan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji statistic chi-square. Hasil: Terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi (P < 0,05). Tidak terdapat hubungan antara pola pemberian MP-ASI dan Jenis MP-ASI dengan Status gizi bayi (P > 0,05). Tidak terdapat hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi bayi (P > 0,05). Kesinpulan dan Saran : Terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MPASI dengan status gizi bayi. Diharapkan dapat terus memberikan penyuluhan kesehatan dan memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya pola pemberian MP-ASI yang tepat dan sesuai dengan usia bayi.

Faktor-faktor yang Berhubungan Tentang Pemberian MP-ASI Dengan Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan di Puskesmas Cikarang

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan berdasarkan BB/U, gizi kurang bayi di Indonesia sebesar 13,8%. Salah satu penyebab gizi kurang pada anak adalah praktik pemberian makanan pada anak yang tidak tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu tentang MPASI dengan status gizi bayi usia 6 – 12 bulan di Puskesmas Cikarang. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan cross-sectional study. Dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling dan total sampel sebanyak 57 responden. Dalam penelitian ini teknik analisa yang digunakan adalah univariat berupa uji analisis deskriptif dan bivariat berupa uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang pemberian MPASI pada bayi usia 6 – 12 bulan mayoritas pengetahuan baik 40 responden (70,2%) dengan sikap ibu tentang pemberian MPASI pada bayi 6 – 12 bulan mayoritas cukup baik sebanyak 35 responden (61,4%) dan menunjukkan status gizi bayi mayoritas yaitu normal 40 bayi (70,2%). Kemudian terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi (p value 0,006), serta terdapat hubungan yang siginifikan antara sikap ibu dengan status gizi (p value 0,006). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan baik dan sikap ibu yang cukup baik tentang pemberian MPASI dapat berhubungan dengan status gizi bayi usia 6 – 12 bulan. Saran tenaga kesehatan diharapkan untuk memberikan edukasi tentang pemberian MP-ASI.