ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRACT Background: Diabetes is a disease of increased metabolic rate and sedentary blood sugar levels higher than normal. Type2 millitus diabetes is the 8th highest list of 1029 diseases hospitalized at Sentra Medika Cisalak Hospital in 2022 from January to October, with a prevalence of 1.9%. The outpatient prevalence in September was 1.2% increased in Octobero1.8% of patients. The purpose of this study was to determine the relationship between nutritional status and blood glucose levels in type 2 diabetes mellitus patients at Sentra Medika Hospital Cisalak. Method: This type of study uses an analytical observational research design with a cross sectional approach to measure variables of nutritional status and blood glucose levels. The sampling technique uses total sampling with a population of 65 respondents. The instruments used are using observation sheets and using GEA ZT-120 weight scales, height gauges and 2 ACCU-CHECK Guide blood sugar measuring instruments that have been calibrated before being used for researchn . The data analysis used in this study was the chi-square test. Result: The results of the statistical test using Chi-square obtained P value = 0.04 (P0.05). Based on the P value, it can be concluded that there is a relationship between nutritional status and blood glucose levels in type 2 Diabetes Mellitus patients at Sentra Medika Cisalak Hospital. Conclusion: From the number of respondents 65 people, 37 people obtained more nutritional status consisting of 23 people (62.2%) normal sugar levels, 1 2 people (3 2.4%) moderate blood sugar levels and 2 people (5.4%) high blood sugar levels. While 28 people with Good Nutrition status consisted of 25 people (89.3%) normal blood sugar levels, 2 people (7.1%) moderate blood sugar levels and 1 person (3.6%) high blood sugar levels. Keywords : Diabetes, Nutritional Status, Blood Glucose Levels
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perubahan siklus menstruasi harus lebih diperhatikan oleh setiap wanita karena dapat mempengaruhi kualitas hidup wanita kedepannya. Ketidakteraturan siklus menstruasi ini juga merupakan suatu indikator penting dalam menunjukkan adanya gangguan sistem reproduksi yang nantinya dapat dikaitkan dengan peningkatan resiko berbagai penyakit dalam sistem reproduksi, salah satunya kanker rahim dan infertilitas.
Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswi Sarjana Kebidanan Reguler di Universitas Medika Suherman dengan jumlah populasi sebesar 120 responden dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 120 responden. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square.
Hasil penelitian dengan variabel dependen didapatkan responden yang siklus menstruasinya tidak teratur sebanyak 63 responden (52,5%), sedangkan siklus menstruasi teratur yaitu sebanyak 57 responden (47,5%) dan hasil penelitian dengan variabel independen didapatkan responden yang mengalami stress 88 responden (73,3%) dan tidak mengalami stress sebanyak 32 responden (26,7%), responden yang mengalami aktifitas fisik tidak baik sebanyak 67 responden (55,8%), dan aktivitas fisik baik sebanyak 53 responden (44,2%), responden yang mengalami status gizi tidak normal sebanyak 56 responden (46,7%) dan status gizinya normal sebanyak 64 responden (53,3%) serta responden yang mengalami pola tidur kurang sebanyak 69 responden (57,5%) dan pola tidur cukup sebanyak 51 responden (42,5%). Hasil analisa menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara ketidakteraturan siklus menstruasi dengan stress dengan nilai p value = 0,003 dan nilai OR = 4,059, aktivitas fisik dengan nilai p value = 0,020 dan nilai OR = 2,560, status gizi dengan nilai p value = 0,003 dan nilai OR = 3,293 serta pola tidur dengan nilai p value = 0,001 dan nilai OR = 4,000.
Dapat disimpulkan dari keempat variabel yang diteliti terdapat hubungan yang signifikan antara stress, aktivitas fisik, status gizi dan pola tidur terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi. Saran yang disampaikan semoga hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan atau materi pembelajaran agar dapat melakukan pencegahan terjadinya ketidakteraturan siklus menstruasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Siklus menstruasi merupakan indikator penting kesehatan reproduksi remaja putri, di mana ketidakteraturannya dapat memicu kecemasan dan menjadi tanda awal gangguan kesehatan. Di Indonesia, 63% remaja putri mengalami gangguan kesehatan reproduksi termasuk masalah menstruasi (BKKBN, 2023), namun hanya 35,3% remaja usia 15–19 tahun yang memiliki pengetahuan benar terkait kesehatan tersebut (SDKI, 2022). Kestabilan siklus pada usia remaja ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal yang saling berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan siklus menstruasi pada remaja putri kelas VII di SMP Plus Al-Burhaniyah tahun 2026. Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VII di SMP Plus Al-Burhaniyah tahun 2026 dengan jumlah sampel responden yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri untuk status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,001), status gizi (p = 0,001), dan pola hidup (kualitas tidur) (p = 0,013) dengan siklus menstruasi pada remaja putri. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sumber informasi (p = 0,564) dengan siklus menstruasi. Pengetahuan, status gizi, dan pola hidup (kualitas tidur) merupakan faktor spesifik yang berhubungan langsung dengan siklus menstruasi siswi di SMP Plus Al-Burhaniyah. Pihak sekolah dan pelayanan kesehatan disarankan meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi, pemantauan gizi seimbang, serta manajemen waktu tidur remaja
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Diare masih menjadi salah satu penyebab kesakitan pada balita dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengetahuan ibu, personal hygiene, sanitasi ling-kungan, dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Klinik Salsabila Husada Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sec-tional. Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih dari populasi 130 balita menggunakan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan data sekunder melalui buku KIA. Analisis dilakukan secara univariat dan bi-variat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p<0,001), personal hygiene (p<0,001), dan sanitasi lingkungan (p<0,001) dengan kejadian diare pada balita. Sementara itu, status gizi tidak berhubungan secara sig-nifikan dengan kejadian diare (p=0,873; OR=0,841; 95% CI=0,348–2,034). Kes-impulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu, personal hygiene, dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Upaya pencegahan perlu diarahkan pada peningkatan edukasi ibu, penerapan PHBS, serta perbaikan sanitasi lingkungan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan perhatian terhadap status gizi. Kondisi psikologis, kualitas tidur, dan kebiasaan konsumsi makanan dapat menjadi bagian dari faktor yang berkaitan dengan status gizi remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stress, kualitas tidur, dan frekuensi konsumsi ultra-processed food (UPF) dengan status gizi pada remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 74 remaja putri. Pengambilan sampel dilakukan pada remaja putri di SMA Negeri 1 Cikarang Selatan. Data tingkat stress diperoleh menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale PSS-10, kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), frekuensi konsumsi UPF menggunakan FFQ UPF, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji hubungan menggunakan Chi-Square dengan tingkat signifikasi p-value (p<0,05). Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat stress berat sebesar 66 responden atau (88,2%), responden berada dikategori kualitas tidur buruk, yaitu sebesar 68 responden atau (91,9%), responden berada dikategori konsumsi rendah , yaitu sebesar 40 responden atau (53,6%), responden berada dikategori status gizi normal, yaitu sebesar 59 responden atau (78,7%). Hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan status gizi (p = 0,347), kualitas tidur dengan status gizi dengan uji chi-square (p = 1,000), serta konsumsi UPF dengan status gizi dengan uji chi-square (p = 0,773). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada penelitian ini antara tingkat stress, kualitas tidur, dan frekuensi konsumsi UPF dengan status gizi pada remaja putri dalam penelitian ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Masa remaja merupakan periode pertumbuhan pesat yang meningkatkan kebutuhan gizi, sehingga rentan mengalami masalah status gizi seperti gizi lebih maupun gizi kurang. Perubahan gaya hidup di era digital, khususnya peningkatan screen time dan kebiasaan jajan yang tidak terkendali, diduga berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden, screen time, dan kebiasaan jajan dengan status gizi remaja di MAN 1 Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 siswa kelas XI yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik responden, kuesioner screen time, kuesioner kebiasaan jajan (FFQ), serta pengukuran antropometri (berat dan tinggi badan) untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (61,6%), memiliki uang saku kategori sedang (51,2%), dan jarang sarapan (45,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara screen time dengan status gizi remaja (p = 0,752), sedangkan kebiasaan jajan menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi remaja (p = 0,009; OR = 6,487), di mana remaja dengan kebiasaan jajan sering memiliki peluang sekitar 6,5 kali lebih besar mengalami status gizi tidak normal dibandingkan remaja dengan kebiasaan jajan jarang. Kesimpulan : Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan jajan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan status gizi remaja, sedangkan screen time tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penggunaan media sosial yang semakin meningkat dan pola konsumsi yang kurang sesuai dapat menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa dan berpotensi berkaitan dengan status gizi. Mahasiswa memiliki berbagai aktivitas akademik dan sosial yang dapat memengaruhi kebiasaan penggunaan media sosial serta pola makan sehari-hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan media sosial dan kualitas diet dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 33 mahasiswa dan seluruh populasi dijadikan responden menggunakan teknik total sampling. Intensitas penggunaan media sosial diukur menggunakan Social Networking Time Use Scale (SONTUS), kualitas diet diperoleh melalui Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan dinilai menggunakan Diet Quality Index-International (DQI-I), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebanyak 18 mahasiswa (54,5%) memiliki intensitas penggunaan media sosial kategori rendah dan 15 mahasiswa (45,5%) kategori tinggi. Sebanyak 27 mahasiswa (81,8%) memiliki kualitas diet rendah dan 6 mahasiswa (18,2%) memiliki kualitas diet tinggi. Berdasarkan status gizi, 21 mahasiswa (63,6%) tergolong kurus, 5 mahasiswa (15,2%) normal, dan 7 mahasiswa (21,2%) gemuk. Hasil uji Fisher Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan status gizi (p = 0,540) dan antara kualitas diet dengan status gizi (p = 0,556).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial maupun kualitas diet dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman. Status gizi kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti aktivitas fisik, pola makan, pola tidur, lingkungan, dan faktor gaya hidup lainnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status gizi, kondisi menstruasi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi dan protein. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 71 remaja putri. Penilaian status gizi dilakukan berdasarkan IMT/U, sedangkan informasi mengenai riwayat menstruasi diperoleh melalui kuesioner. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dan protein dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan alat Hb digital. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data. Hasil: Dari 71 responden, sebanyak 47 orang (66,2%) mempunyai status gizi normal. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi paling banyak termasuk kategori cukup, yaitu 32 orang (45,1%), sedangkan konsumsi makanan sumber protein kategori cukup berjumlah 34 orang (47,9%). Berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, 62 responden (87,3%) berada pada kategori normal dan 9 responden (12,7%) mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,975), riwayat menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,193), frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000), serta frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika tubuh mengalami penurunan
jumlah sel darah merah hingga berada di bawah batas normal. Anemia termasuk
salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh remaja. Kondisi ini dapat
dipicu oleh berbagai faktor, seperti kekurangan asupan zat gizi dan kehilangan
darah akibat menstruasi. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara status
gizi dan kekurangan energi kronik (KEK) dengan kejadian anemia pada remaja
putri kelas X di SMA Negeri 2 Sukatani. Metode Penelitian: Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan
teknik Purposive Sampling dan melibatkan 81 responden. Populasi dalam
penelitian ini yaitu remaja putri kelas X yang berada di SMA Negeri 2 Sukatani.
Instrumen penelitian ini menggunakan Stature Meter, timbangan, dan juga
menggunakan Medline. Hasil Penelitian: Hasil penelitian dari uji Rank Spearman
didapatkan adanya hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia, dengan pvalue
0,000 < 0,05 dengan kekuatan hubungan sedang dan arah negatif.
Selain itu, juga terdapat hubungan antara kekurangan energi kronik (KEK) dengan kejadian anemia,
dengan p-value 0,000 < 0,05 dengan kekuatan hubungan sedang dan arah negatif.
Kesimpulan: Hasil penelitian ini yaitu ada hubungan antara status gizi dan kekurangan energi
kronik (KEK) dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas X di SMA Negeri 2 Sukatani.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2021, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1–4 tahun. Di Klinik Cahaya Medika, kasus ISPA pada bayi dan balita cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis faktor yang berhubungan.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada bayi dan balita di Klinik Cahaya Medika Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah bayi dan balita yang berkunjung ke Klinik Cahaya Medika periode Januari–Desember 2025 sebanyak 300 orang. Sampel sebanyak 70 responden diambil menggunakan simple random sampling dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara statistik untuk menguji hubungan variabel independen (usia, status gizi, ASI eksklusif, imunisasi, pendidikan orang tua) dengan kejadian ISPA. Hasil: Prevalensi ISPA sebesar 72,9%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah usia anak (<12 bulan), status gizi, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Sementara itu, pendidikan orang tua dan imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan ISPA pada balita adalah usia, status gizi, dan ASI eksklusif. Upaya pencegahan melalui pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan perbaikan pola asuh sangat diperlukan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Status gizi dan perkembangan anak usia dini merupakan indikator penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Balita dengan status gizi kurang memiliki risiko tinggi mengalami keterlambatan perkembangan, baik secara fisik maupun kognitif. Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar berperan penting dalam memantau kedua aspek tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan perkembangan fisik dan kognitif pada balita di Posyandu Mawar 9 Perum Indo Alam Desa Tegal Sawah Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah balita usia 1–3 tahun di Posyandu Mawar 9 Perum Indo Alam Desa Tegal Sawah. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 50 balita. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square karena data berdistribusi tidak normal. Sebagian besar balita memiliki status gizi baik (86%) dan perkembangan yang normal (90%). Balita dengan gizi kurang cenderung mengalami perkembangan meragukan atau menyimpang (71,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan perkembangan balita. Terdapat hubungan antara status gizi dengan perkembangan fisik dan kognitif pada balita di Posyandu Mawar 9 Perum Indo Alam Desa Tegal Sawah tahun 2025. Pemantauan gizi dan perkembangan secara berkala di posyandu sangat penting untuk deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak. Orang tua diharapkan lebih memperhatikan asupan gizi anak, dan kader posyandu dapat meningkatkan edukasi tentang gizi dan stimulasi perkembangan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita hamil adalah isu kesehatan yang sangat penting di Indonesia. Angka prevalensinya mencapai 16,9% pada tahun 2023, dengan sebagian besar kejadian terjadi di Kabupaten Bekasi. KEK dapat menambah kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, termasuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Salah satu solusi untuk menangani KEK adalah melalui program gizi seperti pemberian makanan tambahan (PMT). Telur ayam yang direbus adalah sumber protein hewani yang kaya akan nutrisi dan dapat membantu meningkatkan berat badan ibu hamil yang mengalami KEK. Tujuan : Menganalisa pengaruh konsumsi telur ayam rebus terhadap peningkatan berat badan pada ibu hamil dengan KEK yang tinggal di Puskesmas Cipayung. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan studi quasi eksperimen One grup pre-post test Sampel terdiri dari 30 wanita hamil yang mengalami KEK, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan memberikan tiga butir telur ayam rebus setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji-t berpasangan. Hasil : Sebelum dilakukan intervensi, rata-rata berat badan wanita hamil tercatat 46,28 kg. Setelah mengonsumsi telur ayam rebus selama 14 hari, berat badan rata-rata meningkat menjadi 47,33 kg. Uji tersebut menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan konsumsi telur ayam rebus terhadap pertambahan berat badan pada ibu hamil dengan KEK. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengaruh positif protein hewani dari telur terhadap status gizi ibu hamil. Kesimpulan : Konsumsi telur ayam rebus dapat meningkatkan berat badan secara signifikan pada perempuan hamil dengan kekurangan energi kronik di Puskesmas Cipayung. Tindakan ini menjadi pilihan yang efisien dan hemat biaya untuk memperbaiki status gizi ibu, mendukung perkembangan janin, dan mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Usia sekolah adalah tahap kritis dimana kebutuhan energi dan zat gizi harus
terpenuhi, karena mereka sedang dalam tahap tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, penting
untuk menyediakan makanan berkualitas agar memenuhi kebutuhan gizi mereka selama di
sekolah. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan membawa bekal dan
asupan makanan dengan status gizi remaja putri. Subyek dan Metode Desain penelitian ini
menggunakan kuantitatif pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1
Cikarang Selatan. Sampel sebanyak 50 orang diambil secara purposive sampling, alat penelitian
ini menggunakan kuesioner, timbangan berat badan, microtoise, dan alat pengukur LiLA.
Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menguji normalitas, dan uji Pearson untuk melihat
hubungan variabel. Hasil: Berdasarkan uji statistik diperoleh bahwa adanya hubungan antara
kebiasaan membawa bekal dengan status gizi yang signifikan berdasarkan IMT/U (pvalue=0,002),
terdapat hubungan kebiasaan membawa bekal dengan status gizi berdasarkan
%LiLA (0,000) dan tidak adanya hubungan antara asupan makanan dengan status gizi berdasarkan
IMT/U (0,442), tidak di dapatkan hubungan antara asupan makanan dengan status gizi berdasarkan
%LiLA (p-value=0,570). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan membawa
bekal menurut IMT/U dan % Lila, perlu dilakukan edukasi terkait pentingnya membawa bekal ke
sekolah dengan prinsip gizi seimbang atau sesuai konsep isi piringku.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penelitian dengan pendekatan cross sectional telah dilaksanakan
untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap persepsi
remaja putri mengenai body image di SMAN 2 Cikarang Pusat. Telah diketahui
bahwa para remaja putri cenderung membatasi asupan makanan mereka dan
seringkali menetapkan makanan tertentu sebagai pantangan, hal ini dilakukan karena
perhatian mereka yang besar terhadap bentuk tubuh. Subyek dan Metode: Teknik
sampling yaitu random sampling, alat pengumpulan data yaitu kuesioner dengan
kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Populasinya seluruh siswi di SMAN 2 Cikarang
Pusat sebanyak 488 siswi dengan sampel sebagian dari populasi faktor yang mempengaruhi terjadinya body image pada siswi tersebut. Variabel independen:
karakteristik, status gizi, ketersediaan pangan di rumah, pola makan, kebiasaan
sarapan, dan pengetahuan. Variabel dependen: Body Image. Penelitian ini dijalankan
antara tanggal 1 hingga 19 Juli 2024, berlokasi di SMAN 2 Cikarang Pusat. Dalam
rangka menilai normalitas data, digunakan metode uji Shapiro Wilk sebagai
instrumen yang paling fundamental dalam penelitian ini. Proses ini melibatkan
pembuatan grafik distribusi frekuensi berdasarkan skor yang diperoleh. Proses
pengolahan data meliputi tahapan editing, coding, tabulating, entry, serta cleaning.
Analisis yang dilakukan mencakup teknik analisis univariat dan bivariat. Hasil:
Hasil penelitian menunjukkan 85 responden siswi di SMAN 2 Cikarang Pusat,
52,9% pada kelompok usia 16-18 tahun. Status gizi responden menunjukkan 72,9%
normal. Analisis hubungan pendidikan orang tua menunjukkan hubungan signifikan
dengan body image remaja (p-value = 0,033). Kesimpulan: Tidak ada hubungan
signifikan antara uang saku dan body image namun pendidikan orangtua dan
pengetahuan gizi menunjukkan hubungan signifikan dengan body image.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa batita dalam masa emas, atau “golden age” mengalami masalah perkembangan dalam hal emosi, sosial, mental, intelektual, dan moral. Di masa depan, gangguan ini dapat memengaruhi sikap dan perilakunya. Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting untuk perkembangan kecerdasan, dimulai sejak usia 0 hingga 5 tahun. selain itu, kondisi keuangan keluarga dan cara orang tua membesarkan anak sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Batita membutuhkan pengawasan penuh selama masa usianya, terutama dalam hal memenuhi kebutuhan gizinya untuk pertumbuhan dan perkembangan yang ideal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang batita usia 1-3 tahun di wilayah puskesmas tambelang. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik observasional, desain penelitian yang digunakan cross sectional, Menggunakan metode consecutive sampling, Populasi dalam penelitian ini yaitu batita yang berusia 1-3 tahun berjumlah 823. Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 265 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa Chi-Square dengan nilai signifikan a < 0,05. Hasil: Mayoritas dari mereka berusia 3 tahun 96 orang (36,2%), status gizi kurang 109 orang (41,1%), pola asuh negatif 134 orang (50,6%), imunisasi Mr/campak pada batita usia 3 tahun 96 orang (36,2%). Kesimpulan: dari penelitian ini hanya faktor pola asuh dengan kpsp yang memiliki hubungan dengan nilai chi square P = 0,001 < a 0,05. Sedangkan, umur, status gizi,imunisasi tidak terdapat hubungan dengan tumbuh kembang pada batita usia 1-3 tahun di wilayah puskesmas tambelang.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Masa remaja adalah komponen penting dari siklus perkembangan seseorang.
Remaja yang sedang mencari jati dirinya mulai menyadari adanya kekhawatiran yang besar terhadap gaya penampilan, karena remaja merasa tidak puas dengan penampilannya. Saat ini banyak remaja yang mengonsumsi makanan yang tidak sehat yang akan berdampak terhadap status gizi seseorang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara citra tubuh dan kebiasaan makan terhadap status gizi pada remaja di SMPN 1 Sukatani. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik observasional, desain penelitian menggunakan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu sampel random sampling. Populasi dalam penelitian remaja berusia 12-15 tahun berjumlah 756 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah 262 siswa SMPN 1 Sukatani. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu citra tubuh dan kebiasaan makan, sedangkan variabel dependen yaitu status gizi remaja di SMPN 1 Sukatani. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Body Shape Questionnaire (BSQ-34), Adolescence Food Habits Checklist (AFHC), dan pengukuran tinggi badan serta berat badan. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa Chi-Square dengan nilai signifikan a < 0,05.Hasil : Penelitian ini menunjukkan remaja dengan usia 13 tahun 140 orang (53,4%), berjenis kelamin perempuan 154 orang (58,8%), memiliki citra tubuh tidak puas 133 orang (50,8%), mempunyai kebiasaan makan yang kurang sehat 132 orang (50,4%), dan mempunyai status gizi (IMT/U) buruk 17 orang (12,9%). Kesimpulan : Dari penelitian ini terdapat hubungan antara citra tubuh (P = 0,008) dan kebiasaan makan (P = 0,000) terhadap status gizi pada remaja di SMPN 1 Sukatani.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Dimana penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung
hingga alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Penelitian ini dilakukan di Klinik Adisya Medika Karang Bahagia yang bertujuan untuk
mengetahui fakto-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Klinik
Adisya Medika Karang Bahagia tahun 2023.
Penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan total sampling. Instrumen yang
digunakan adalah kuisioner berupa G-form, analisis data yang digunakan adalah univariat dengan
menghitung distribusi frekuensi variabel dan analisa bivariat berupa uji chi-square dengan nilai
signifikan p<0,005.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa analisis bivariat diperoleh hasil status gizi
(p=0,415), pendidikan ibu (p=1,000) yang artinya status gizi dan pendidikan ibu tidak ada
hubungan dengan kejadian ISPA, sedangkan kebiasaan merokok keluarga (p=0,0001), riwayat
asi eksklusif (p=0,0000) yang artinya kebiasaan merokok keluarga dan riwayat ASI Eksklusif ada
hubungan dengan kejadian ISPA pada balita.
Kesimpulan penelitian ini adalah hasil dari penelitian menunjukkan bahwa status gizi dan
pendidikan ibu tidak mempengaruhi kejadian ISPA pada balita, sedangkan kebiasaan merokok
keluarga dan riwayat ASI Eksklusif mempengaruhi kejadian ISPA pada balita. Hasil penelitian
ini disarankan untuk tenaga kesehatan mampu meningkatkan pemberian informasi kepada ibu
serta masyarakat berupa penyuluhan dan promosi kesehatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Dismenore adalah nyeri perut bagian bawah yang dialami ketika sedang menstruasi. Dismenore tidak berbahaya tetapi dapat mengganggu dan menghambat remaja dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan dapat menurunkan produktvitas remaja. Penelitian ini dilakukan di SMKN 3 Cikarang Barat yang bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian dismenore pada siswi di SMKN 3 Cikarang Barat tahun 2023.
Penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner berupa G-form, analisis data yang digunakan adalah univariat dengan menghitung distribusi frekuensi variabel dan analisa bivariat berupa uji chi-square dengan nilai signifikan p<0,005.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa analisis univariat diperoleh 49 (46,7%) siswi yang mengalami dismenore, Sebanyak 61 (58,1%) siswi yang usia mensarche <12 tahun, Berdasarkan lama menstruasi sebanyak 84 (80,0%) siswi yang lama menstruasinya <7, 15 (14,3%) siswi yang mempunyai riwayat menstruasi, 84 (80,0%) siswi yang status gizi normal, hasil analisis bivariat diperoleh usia menarche (p=0,00), lama menstruasi (p=0,005), riwayat mesntruasi (p=0,005), status gizi (p=0,005) yang artinya ada hubungan antara variabel independent dan variabel dependent.
Kesimpulan penelitian ini adalah dari keempat variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian dismenore pada siswi di SMKN 3 Cikarang Barat. Dengan adanya hubungan dari keempat variabel ini maka pihak sekolah dan tenaga kesehatan mampu melakukan penyediaan informasi serta memberikan edukasi mengenai apa saja yang berhubungan dengan kejadian dismenore pada para siswi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa pertumbuhan bayi berusia 7-12 bulan membutuhkan
asupan gizi tidak hanya cukup dengan ASI saja, karena produksi ASI pada saat itu
semakin berkurang sedangkan kebutuhan bayi semakin meningkat seiring
bertambahnya umur dan berat badan, oleh karena itu bayi harus mendapat makanan
pendamping selain ASI (MP-ASI) untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang
terkandung dalam ASI. Menurut WHO pemberian MP-ASI harus sesuai dengan
waktu pemberian yang tepat, memadai, aman untuk dikonsumsi. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pemberian MP-ASI adalah usia pemberian MP-ASI, jenis
MP-ASI, dan frekuensi dalam pemberian MP-ASI.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendekatan deskriptif noneksperimen
dengan desain penelitian ini adalah cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan cara purposive sampling. Besar sampel 64 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen penelitian adalah karakteristik ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga) dan pola pemberian MP-ASI (jenis pemberian dan frekuensi pemberian), sedangkan variabel dependen adalah status gizi. Jenis data yang digunakana kuantitatif. Pengumpulan
data primer dilakukan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisis data
menggunakan uji statistic chi-square.
Hasil: Terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan
status gizi bayi (P < 0,05). Tidak terdapat hubungan antara pola pemberian MP-ASI
dan Jenis MP-ASI dengan Status gizi bayi (P > 0,05). Tidak terdapat hubungan
antara karakteristik ibu dengan status gizi bayi (P > 0,05).
Kesinpulan dan Saran : Terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MPASI
dengan status gizi bayi. Diharapkan dapat terus memberikan penyuluhan
kesehatan dan memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya pola
pemberian MP-ASI yang tepat dan sesuai dengan usia bayi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan berdasarkan BB/U, gizi kurang bayi di Indonesia sebesar 13,8%. Salah satu penyebab gizi kurang pada anak adalah praktik pemberian makanan pada anak yang tidak tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu tentang MPASI dengan status gizi bayi usia 6 – 12 bulan di Puskesmas Cikarang. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan cross-sectional study. Dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling dan total sampel sebanyak 57 responden. Dalam penelitian ini teknik analisa yang digunakan adalah univariat berupa uji analisis deskriptif dan bivariat berupa uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang pemberian MPASI pada bayi usia 6 – 12 bulan mayoritas pengetahuan baik 40 responden (70,2%) dengan sikap ibu tentang pemberian MPASI pada bayi 6 – 12 bulan mayoritas cukup baik sebanyak 35 responden (61,4%) dan menunjukkan status gizi bayi mayoritas yaitu normal 40 bayi (70,2%). Kemudian terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi (p value 0,006), serta terdapat hubungan yang siginifikan antara sikap ibu dengan status gizi (p value 0,006). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan baik dan sikap ibu yang cukup baik tentang pemberian MPASI dapat berhubungan dengan status gizi bayi usia 6 – 12 bulan. Saran tenaga kesehatan diharapkan untuk memberikan edukasi tentang pemberian MP-ASI.