BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Demam Berdarah Dengue (DBD) memerlukan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahannya. Kader kesehatan berperan dalam mendorong masyarakat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku kader dalam pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti tahun 2026. Penelitian menggunakan metode mixed methods dengan desain Sequential Explanatory. Tahap kuantitatif melibatkan 82 kader aktif dan dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dengan α = 0,05, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan 64,6% kader memiliki pengetahuan baik, 57,3% memiliki sikap positif, 78,0% memperoleh dukungan petugas kesehatan yang baik, dan 56,1% memiliki perilaku pencegahan yang baik. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (r = 0,307; p = 0,005), sikap dengan perilaku (r = 0,460; p = 0,001), serta dukungan petugas kesehatan dengan perilaku (r = 0,453; p = 0,001). Hasil kualitatif menunjukkan kader melakukan edukasi 3M Plus, mengingatkan masyarakat, dan mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan. Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, dan dukungan petugas kesehatan berhubungan dengan perilaku kader dalam pencegahan DBD.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Balita dengan berat badan kurang (underweight) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data Puskesmas Wanasari tahun 2024 terdapat 321 balita (6,1%) mengalami berat badan kurang, angka ini termasuk tertinggi ke-3 di Kabupaten Bekasi. Kader posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat berperan penting dalam upaya deteksi dini, edukasi gizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak. Optimalisasi peran kader dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi optimalisasi peran kader posyandu dalam penanganan balita dengan berat badan kurang di wilayah kerja Puskesmas Wanasari Cibitung tahun 2025.Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 206 kader posyandu, dengan sampel 127 responden yang dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel independen meliputi pendidikan, pengetahuan, motivasi, sikap, dan dukungan petugas kesehatan, sedangkan variabel dependen adalah peran kader. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sikap (p = 0,023; OR = 2,789) dan dukungan petugas kesehatan (p = 0,027; OR = 0,371) berhubungan signifikan dengan peran kader. Sedangkan variabel pendidikan (p = 0,530), pengetahuan (p = 0,633), dan motivasi (p = 0,041; OR = 0,479) menunjukkan hasil yang tidak sejalan dengan teori namun tetap signifikan secara statistik pada motivasi. Kesimpulan: Optimalisasi peran kader dalam penanganan balita berat badan kurang dipengaruhi oleh faktor sikap dan dukungan petugas kesehatan, sementara pendidikan, pengetahuan, dan motivasi tidak berhubungan secara signifikan atau menunjukkan arah yang berlawanan dengan teori. Upaya peningkatan peran kader perlu difokuskan pada pembentukan sikap positif, pemberian dukungan yang tepat, serta pelatihan berkelanjutan agar kader lebih mandiri dan percaya diri dalam menjalankan tugasnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Jika gizi buruk terjadi pada masa pertumbuhan yang kritis, otak anak yang sehat bisa tidak berkembang dengan baik, dan kondisi ini bisa sulit disembuhkan atau bahkan tidak dapat pulih. Kader posyandu bertanggung jawab untuk mendorong masyarakat untuk mencegah gizi buruk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana perilaku kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, berkontribusi pada pencegahan gizi buruk. Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif yang menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di posyandu di Desa Mekarmukti, Cikarang Utara, yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti. Jumlah sampel yang diambil sesuai dengan populasi, yang terdiri dari 113 posyandu yang bekerja di wilayah Puskesmas Mekarmukti, berdasarkan metode sampel total. Variabel dependen yaitu perilaku kader posyandu, sedangkan variabel independen yakni faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku pencegahan gizi buruk. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan kemudian dianalisis menggunakan teknik univariat dan bivariat. Hasil: berdasarkan perhitungan analisis chi-square pada variable pendidikan dengan perilaku kader posyandu membuktikan nilai p = 0,040 (p < 0,05) mengindikasikan bahwa ada hubungan antara pendidikan dan perilaku kader posyandu dalam pencegahan gizi buruk. Pada variable pengetahuan dengan perilaku kader posyandu menunjukkan nilai p = 0,031 (p < 0,05) mengindikasikan terdapatnya hubungan antara pengetahuan dan perilaku kader posyandu dalam pencegahan gizi buruk. Lalu variable keaktifan dengan perilaku kader posyandu juga menunjukkan nilai p = 0,031 (p < 0,05) menandakan terdapatnya hubungan antara keaktifan dan perilaku kader posyandu. Kemudian variable pelatihan dengan perilaku kader posyandu menunjukkan nilai p = 0,037 (p < 0,05) mengindikasikan terdapatnya hubungan antara pelatihan dan perilaku kader posyandu dalam pencegahan gizi buruk. Kesimpulan: Sebagian besar kader posyandu di Desa Mekarmukti mempunyai perilaku baik, didukung oleh pengetahuan yang tinggi dan latar belakang pendidikan yang memadai. Kader yang aktif saat pelaksanaan posyandu dan kader yang pernah mengikuti pelatihan cenderung menunjukkan kinerja optimal dalam peran kader.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Kepuasan kerja merupakan salah satu kunci bagi pegawai untuk menyelesaikan tugasnya. Karyawan yang puas dengan pekerjaannya menampilkan sikap dan emosi yang positif sehingga mereka dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Tujuan dari penelitan ini yaitu untuk mengetahui beban kerja dan motivasi kerja terharap kepuasan kerja pegawai di Puskesmas Mekarmukti Kabupaten Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu pegawai Puskesmas Mekarmukti. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 57 responden. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa untuk kepuasan pegawai di Puskesmas Mekarmukti kabupaten bekasi di dapatkan 36 responden (63,8%) Kepuasan kerja pegawai rendah, sedangkan 21 responden (36,8%) kepuasan kerja pegawai tinggi. Didapatkan ada hubungan antara beban kerja (p=0,001), motivasi kerja (p=0,000) dan jenis kelamin (p=0,049). Kemudian yang tidak ada hubungan antara pendidikan (p=0,806), status pernikahan (p=1,000), umur (p=1,000), status kepegawaian (p=0,522) dan lama kerja perhari (p=0,938) dengan kepuasan pegawai di Puskesmas Mekarmukti kabupaten bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Peran aktif ibu dalam penyelenggaraan kegiatan posyandu balita sangat berpengaruh penting pada kesehatan balita. Partisipasi tersebut apabila tidak teratur dilakukan dapat mengakibatkan masalah gizi pada balita yang akan membawa dampak kematian balita. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perilaku partisipasi ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Mekarsari. Desain Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional dengan desain penelitian cross sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 95 responden dari total keseluruhan populasi 2089 ibu yang memiliki balita (usia 12-58 bulan). Hasil penelitian menunjukan ibu balita berperilaku kurang < 5 kali kunjungan ke posyandu (48,4%), ibu balita berperilaku baik ≥ 5 kali kunjungan ke posyandu (51,6%). Ada hubungan antara pendidikan, umur, tingkat ekonomi, pengetahuan, sikap, motivasi, dukungan keluarga, jarak dan Tidak ada hubungan antara status pekerjaaan dan kepemilikan KMS dengan partisipasi ibu ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Mekarsari.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Minimnya penggunaan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan utilitasi pelayanan persalinan yang masih jauh dari kata optimal.Hal ini di sebabkan karena menurunnya penggunaan utilisasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan desain pendekatan waktu potong lintang. Populasi penelitian adalah seluruh peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan kasus persalinan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit “X“ yang memanfaatkan pelayanan rawat inap pada bulan Juni, Total Sampling sehingga jumlah sampel yang sebanyak 68 pasien. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah `adanya hubungan antara variabel pendidikan, pekerjaan,pendapatan, sikap dan pengetahuan dengan utilisasi pelayanan persalinan rawat inap di RS “X”.Saran Bagi Rumah Sakit penelitian ini diharapkan bergerak aktif dalam menjaring dan mendorong utilisasi pelayanan persalinan rawat inap di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit , bagi peneliti selanjutnya agar lebih memperbanyak variabel dan analisis data hingga ke jenjang multivariat analisis.