BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Thalasemia merupakan kelainan darah genetik yang menyebabkan gangguan pembentukan hemoglobin, anemia kronis, dan membutuhkan transfusi darah secara berkala. Perawatan anak thalasemia juga memerlukan peran ibu di rumah, sehingga pengetahuan ibu penting dalam mendukung perawatan yang tepat
Tujuan : Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu
terhadap perawatan di rumah pada anak thalasemia di Ruang One Day Care
(ODC) Thalasemia Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2026.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 67 responden dari 80 populasi, yaitu ibu yang memiliki anak penderita thalasemia berusia 1–10 tahun dan menjalani transfusi darah secara terjadwal di Ruang One Day Care (ODC) Thalasemia Rumah Sakit Sentra Medika
Cibinong. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank, diperoleh nilai koefisien korelasi 0,353 dengan P-Value = 0,003 (P< 0,05), sehingga Ha diterima yang berarti terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perawatan di rumah pada anak thalasemia.
Kesimpulan : Dari hasil penelitian, analisis data dan pembahasan maka tujuan penelitian telah terjawab, yakni terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perawatan di rumah pada anak thalasemia di Ruang One Day Care (ODC) Thalasemia Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2026. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong dalam upaya memberikan edukasi kepada ibu mengenai pentingnya pengetahuan dalam melaksanakan perawatan anak thalasemia di rumah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Thalassemia merupakan penyakit genetik kronis yang memerlukan
transfusi darah rutin seumur hidup dan dapat berdampak signifikan terhadap kualitas
hidup pasien anak. Dalam pengelolaannya, pengetahuan orang tua dan kepatuhan
terhadap transfusi darah berperan penting dalam mencegah komplikasi serta
meningkatkan kualitas hidup anak penderita thalasemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan orang tua dan kepatuhan transfusi darah
dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia di Sentra Medika Hospital
Cikarang tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel
penelitian adalah seluruh orang tua pasien anak penderita thalasemia yang melakukan
kontrol rutin di Unit Thalasemia sebanyak 51 responden, dengan teknik total sampling.
Data dikumpulkan menggunakan PedsQL versi 4.0 untuk mengukur kualitas hidup anak.
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat kuesioner pengetahuan orang tua,
kuesioner kepatuhan transfusi darah, dan instrumen menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan
orang tua dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia (p = 0,000), serta
terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas
hidup pasien anak penderita thalasemia (p = 0,000). Kesimpulan: Anak dengan orang tua
yang memiliki pengetahuan baik dan tingkat kepatuhan transfusi yang tinggi cenderung
memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Thalasemia Mayor merupakan penyakit kronis yang umum di negara Mediterania dan Asia Tenggara, dengan prevalensinya yang semakin meningkat. Kepatuhan merupakan penanganan utama dalam menjalani rutinitas transfusi pada penderita Thalasemia. Penderita Thalasemia dianjurkan rutin menjalankan transfusi darah, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh sehingga penderita tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan transfusi darah dan kualitas hidup pada pasien Thalasemia Mayor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini mengunakan non probability sampling dengan cara pendekatan purposive sampling. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner untuk kepatuhan Transfusi darah dan kualitas hidup dengan kuesioner PedsQL. Populasi dalam penelitian ini yaitu 50 populasi pasien yang berkunjung di unit Thalasemia RS Sentra Medika Cibinong. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Data diolah dan dianalisa secara bertahap sesuai dengan tujuan penelitian menggunakan komputerisasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hasil uji Gamma, didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,570 hasil p value = 0,006 atau < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan korelasi positif sedang dan signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien, sehingga jika pasien memiliki tingkat kepatuhan transfusi darah yang tinggi maka akan mempunyai kualitas hidup yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Thalasemia Mayor merupakan penyakit kronis yang umum di negara Mediterania dan Asia Tenggara, dengan prevalensinya yang semakin meningkat. Kepatuhan merupakan penanganan utama dalam menjalani rutinitas transfusi pada penderita Thalasemia. Penderita Thalasemia dianjurkan rutin menjalankan transfusi darah, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh sehingga penderita tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan transfusi darah dan kualitas hidup pada pasien Thalasemia Mayor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini mengunakan non probability sampling dengan cara pendekatan purposive sampling. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner untuk kepatuhan Transfusi darah dan kualitas hidup dengan kuesioner PedsQL. Populasi dalam penelitian ini yaitu 50 populasi pasien yang berkunjung di unit Thalasemia RS Sentra Medika Cibinong. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Data diolah dan dianalisa secara bertahap sesuai dengan tujuan penelitian menggunakan komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hasil uji Gamma, didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,570 hasil p value = 0,006 atau 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan korelasi positif sedang dan signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien, sehingga jika pasien memiliki tingkat kepatuhan transfusi darah yang tinggi maka akan mempunyai kualitas hidup yang baik. Thalassemia Major is a chronic disease common in Mediterranean and Southeast Asian countries, with increasing prevalence. Compliance is the main treatment in undergoing routine transfusions in Thalassemia patients. Thalassemia patients are advised to undergo routine blood transfusions, maintain health and endurance so that patients can continue their activities as usual. This study aims to determine blood transfusion compliance and quality of life in Thalassemia Major patients. This type of research is quantitative research with a correlational design and cross-sectional approach. The sampling technique in this study used non-probability sampling with a purposive sampling approach. Data were obtained by distributing questionnaires for blood transfusion compliance and quality of life with the PedsQL questionnaire. The population in this study was 50 patient populations who visited the Thalassemia unit of Sentra Medika Cibinong Hospital. The sample in this study amounted to 45 people. The data were processed and analyzed in stages according to the research objectives using computerization. The results of the study showed that, the results of the Gamma test, obtained a correlation coefficient value of 0.570 p value = 0.006 or 0.05. So it can be concluded that there is a moderate and significant positive correlation between blood transfusion compliance and patient quality of life, so that if patients have a high level of blood transfusion compliance, they will have a good quality of life.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Thalasemia Mayor merupakan penyakit kronis yang umum di negara Mediterania dan Asia Tenggara, dengan prevalensinya yang semakin meningkat. Kepatuhan merupakan penanganan utama dalam menjalani rutinitas transfusi pada penderita Thalasemia. Penderita Thalasemia dianjurkan rutin menjalankan transfusi darah, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh sehingga penderita tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan transfusi darah dan kualitas hidup pada pasien Thalasemia Mayor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini mengunakan non probability sampling dengan cara pendekatan purposive sampling. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner untuk kepatuhan Transfusi darah dan kualitas hidup dengan kuesioner PedsQL. Populasi dalam penelitian ini yaitu 50 populasi pasien yang berkunjung di unit Thalasemia RS Sentra Medika Cibinong. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Data diolah dan dianalisa secara bertahap sesuai dengan tujuan penelitian menggunakan komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hasil uji Gamma, didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,570 hasil p value = 0,006 atau 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan korelasi positif sedang dan signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien, sehingga jika pasien memiliki tingkat kepatuhan transfusi darah yang tinggi maka akan mempunyai kualitas hidup yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Thalasemia merupakan suatu fenomena gunung es. Menurut WHO, menyatakan thalasemia
sebesar 7% dan 40% diantaranya terdapat di negara Asia. Prevelansi Thalasemia di Indonesia mencapai
9.121 orang. Dari total tersebut penyandang Thalasemia secara nasional, sebanyak 40% atau 3.264 ada di Jawa Barat, Angka kejadian di Kabupaten Bekasi RS. Sentra Medika Cikarang merupakan rumah sakit rujukan pasien thalasemia tahun 2022 terjadi 432 kasus. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus lemeshow yaitu dari seluruh populasi 178 didapatkan sebanyak 64 orang pasien thalasemia di RS. Sentra Medika Cikarang Tahun 2022. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik menggunakan Chi-square. Hasil analisis bivariat ada hubungan antara lama program terapi tranfusi dengan kualitas hidup pasien thalasemia dengan nilai P-Value 0,020. Kesimpulan ada hubungan antara lama program terapi tranfusi dengan kualitas hidup pasien thalasemia. Saran penelitian ini bagi penderita lebih kooperatif lagi dalam menjalani terapi tranfusi yang rutin dan bagi tenaga kesehatan lebih edukatif dan bisa menjadi motivator bagi pasien dalam menjalani terapi transfusi.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Thalasemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan dan masuk
kedalam kelompok hemoglobinopati. Thalasemia merupakan penyakit yang banyak
ditemukan pada anak-anak dan penderitanya tersebar diseluruh dunia. Sampai saat ni
thalasemia belum dapat disembuhkan. Transfusi darah masih merupakan terapi satusatunya
bagi pasien thalasemia
guna
mempertahankan
hemoglobin
darah.
Memenuhi
kebutuhan
dasar
anak
adalah
kewajiban
yang
harus dipenuhi
oleh
orang
dewasa
atau
orangtua,
dalam
mmenuhi
kebutuhan
asih
pada
anak
peran
orangtua
sangat penting
dalam
pemberian
terapi
transfusi
pada
anak
dengan
thalasemia
karena
anak
belum
bisa
secara
mandiri
dalam
memenuhi
kebutuhannya.
Tujuan
:
Mengetahui
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan motivasi
orangtua
dalam
pemberian
terapi
transfusi
pada
anak
dengan
thalasemia
di
Rumah
Sakit
Sentra
Medika Cikarang
Tahun
2018
Metode
: Desain
dalam
penelitian
ini
adalah
Analitik
Kuantitatif
dengan
rancangan
atau penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah orangtua dari anak
penderita thalasemia di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang dengan populasi
berjumlah 252 orang. Dengan menggunakan Rumus Lameshow didapatkan sampel
pada penelitian ini berjumlah 70 orang, dan teknik pengambilan sampel
menggunakan Accidental Sampling. Analisis data di lakukan secara univariat dan
bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikan alpha 5% (α = 0,05)
dengan uji continuity correction sebagai alternatif nya.
Hasil : Ada hubungan antara usia, pengetahuan, akses fasilitas kesehatan, sosial
ekonomi, konsep diri dengan motivasi orangtua dalam pemberian terapi transfusi
pada anak dengan thalasemia di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, didapatkan
Odds Ratio (OR) dari variabel usia adalah 5,400, variabel pengetahuan adalah 3,652,
variabel akses fasilitas kesehatan adalah 4,686, variabel sosial ekonomi adalah 3,167,
variabel konsep diri adalah 3,167.
Kesimpulan : Orangtua yang berusia dewasa awal (<35 tahun) lebih memeiliki
resiko 5,400 kali mempunyai motivasi yang kurang dalam pemberian terapi transfusi
pada anak dengan thalasemia dibandingkan dengan orangtua yang berusia desawa
akhir (≥35 tahun). Orangtua dengan pengetahuan kurang memiliki resiko 3,652 kali
memiliki motivasi kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia dibandingkan dengan orangtua dengan pengetahuan baik. Orangtua yang
menyatakan akses fasilitas kesehatan kurang memiliki resiko 4,686 lebih besar
memiliki motivasi yang kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia dibandingkan dengan orangtua yang menyatakan akses fasilitas kesehatan
baik. Orangtua dengan penghasilan rendah memiliki resiko 3,167 lebih besar
memiliki motivasi yang kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia dibandingkan dengan orangtua dengan penghasilan tinggi. Orangtua
dengan konsep diri rendah memiliki resiko 3,167 lebih besar memiliki motivasi yang
kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan thalasemia dibandingkan
dengan orangtua dengan konsep diri baik.
Saran : Diharapkan melalui penelitian ini orangtua diharapkan dapat meningkatkan
atau mempertahankan motivasi dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Thalasemia ß termasuk penyakit yang memerlukan pengobatan dan perawatan yang berkelanjutan atau defek genetik yang mengakibatkan berkurang atau tidak adanya sintesis satu atau lebih rantai globin pada darah yang ditandai anemia mikrositik hipokrom dengan berbagai derajat keparahan, hal tersebut berdampak terhadap kualitas hidup anak jika transfusi darah tidak dilakukan dengan rutin maka kualitas hidup buruk. Transfusi darah bertujuan untuk mempertahankan kadar Hb sebagai dampak adanya anemia berat. Hb pasien dipertahankan antara 8g/dl sampai 9,58g/dl dimana keadaan ini akan memberikan supresi sumsum tulang yang adekuat. Jumlah pasien penyakit Thalasemia Beta Mayor dari bulan maret 2018 ada 120 pasien dan bulan juli 2018 terjadi peningkatan menjadi 158 pasien terjadi peningkatan 38 pasien selama 5 bulan terakhir , dan kecenderungannya meningkat dengan cepat yang dapat menyebabkan angka morbiditas Thalasemia Beta Mayor dengan memberikan kewaspadaan bagi keluarga dan pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kualitas hidup anak usia sekolah dengan Thalasemia beta mayor dengan menggunakan Pediatric Quality of Life Inventory (Peds QL). Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi dan menjelaskan pengaruh transfusi darah terhadap kualitas hidup anak thalasemia beta mayor. Penelitian ini menggunakan rancangan one group pretest-postest, dengan jumlah sampel sebanyak 25 responden yang berasal dari Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2018.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh transfusi darah dengan kualitas hidup anak usia sekolah dengan thalasemia beta mayor. Dengan pre transfusi darah mean 62,44, SD 6,659, dan SE 1,332, kemudian nilai berubah berdistribusi normal dengan nilai post transfusi darah mean 71,60, SD 4,311, SE ,862 dengan hasil akhir p = (sig-2 tailed 0,000 artinya ada pengaruh dan penelitian berdistribusi normal).
Dari penelitian ini diharapkan perawat thalasemia dapat memberikan pelayanan dengan memberikan perhatian lebih agar kualitas hidup anak semakin baik dan perawat memberikan edukasi tentang thalasemia, bagaimana pencegahannya dan bisa dijelaskan tentang tes skrining. Agar kualitas hidup pasien tetap baik, pasien dapat melakukan transfusi darah secara rutin yaitu 2 minggu sekali atau mengikuti jadwal yang sudah dijadwalkan dari Rumah Sakit. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah waktu yang lebih lama dan mengembangkan variabel-variabel lain yang belum diteliti.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Thalasemia adalah penyakit kelainan darah genetik yang menyebabkan masalah kesehatan yang
kompleks pada anak dan keluarga. Orang tua beresiko mengalami kecemasan karena merasa bersalah
atas kondisi anak, orang tua merupakan perawat utama bagi anak dengan thalasemia dengan perasaan
sedih, terpukul, hidup tidak tenang dan beban berat dirasakan oleh orang tua ketika mendengar anaknya
terdiagnosa thalasemia, tidak ada kepastian kesembuhan dan proses pengobatan penyakit yang
berlangsung sepanjang hidup anak, salah satu proses untuk mencegah keparahan bisa di cegah dengan
cara tranfusi darah. Tujuan penelitian diketahui gambaran tingkat kecemasan pada orang tua terhadap
anak yang mengalami thalasemia di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2018. Metode
penelitian yang digunakan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 120 orang dan sampel
penelitian 102 responden dengan menggunakan sampling assidental. Karena teknik pengambilan
sampel yang dilakukan dengan kebetulan bertemu. Analisis yang digunakan adalah univariat.
Hasil penelitian : gambaran tingkat kecemasan pada orang tua terhadap anak yang mengalami
thalasemia di Rmah Sakit Sentra Medika Cikarang dengan tingkat kecemasan orang tua yang berat
sebanyak 43 responden (42,1%)sedangkan yang terendah dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak
12 responden (11,8%) berdasarkan usia orang tua yang terbanyak usia ≥35 tahun sebanyak 55 responden
(53,9%), berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak perempuan sebanyak 71 responden (69,5%),
berdasarkan tingkat pendidikan yang terbanyak SMA/SMK sebanyak 39 responden (38,2%)
berdasarkan pengalaman orang tua yang terbanyak yaitu belum pernah merawat sebanyak 33 responden
(32,3%).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian didapatkan Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Orang Tua
Terhadap Anak Yang Mengalami Thalasemia Di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang memiliki
tingkat kecemasan berat. Saran: agar rumah sakit mensosialisasikan kebijakan pembiayaan pengobatan
atau perawat thalasemia dan melaksanakan kegiatan promosi kesehatan : pendidikan kesehatan tentang
perawatan anak thalasemia. Perawat menerapkan komunikasi terapeutik dan manajemen stress untuk
mengurangi tingkat kecemasan orang tua anak thalasemia