Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut AND / OR / NOT
Penerapan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Ansietas pada Pasien Newly Initiaded Dialysis di Sentra Medika Hospital Cikarang
Analisis Praktik Keperawatan Berbasis Bukti Penerapan Terapi William Flexion Exercise untuk Mengurangi Nyeri pada Pasien Low Back Pain di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong
Analisis Berbasis Bukti Penerapan Teknik Pernapasan Buteyko untuk Mengurangi Sesak Napas pada Pasien Asma Bronkhial di Sentra Medika Hospital Cikarang
Penerapan Efektivitas Tehnik Relaksasi Benson untuk Mengurangi Tingkat Stres Perawat Ruang ICU Sentra Medika Hospital Cisalak Depok
Analisis Berbasis Bukti Penerapan Terapi Pijat Kaki Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Lansia dengan Hipertensi di Desa Karangasih
Hubungan Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Swasta di Daerah Cikarang Selatan Bekasi Tahun 2026
Latar Belakang: Stres kerja merupakan permasalahan yang dapat dialami perawat pelaksana akibat tuntutan dan tanggung jawab pekerjaan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kepuasan kerja perawat, yang berperan penting dalam mendukung kualitas pelayanan keperawatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan kepuasan kerja perawat pelaksana di ruang rawat inap rumah sakit swasta di daerah Cikarang Selatan, Bekasi Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 75 perawat pelaksana yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Expanded Nursing Stress Scale (ENSS) dan Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50 responden (66,7%) mengalami stres kerja ringan dan 41 responden (54,7%) memiliki kepuasan kerja tinggi. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan kepuasan kerja (p < 0,001), dengan nilai koefisien korelasi −0,625 yang menunjukkan hubungan negatif kuat. Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara stres kerja dengan kepuasan kerja perawat pelaksana di ruang rawat inap rumah sakit swasta di daerah Cikarang Selatan, Bekasi Tahun 2026. Semakin tinggi stres kerja, semakin rendah kepuasan kerja perawat.
Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepuasan Pasien Homecare di RS Siloam Lippo Cikarang Tahun 2026
Latar Belakang: Pelayanan homecare memberikan perawatan kesehatan yang berkesinambungan di rumah pasien, di mana kepuasan pasien menjadi salah satu indikator utama mutu pelayanan. Salah satu faktor kunci yang memengaruhi kepuasan tersebut adalah komunikasi terapeutik perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien homecare di RS Siloam Lippo Cikarang Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 133 pasien homecare, dengan sampel 63 responden yang dipilih melalui rumus Slovin dan probability sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur, yaitu PCCS-12 untuk menilai komunikasi terapeutik dan HCCSI-R untuk menilai kepuasan pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman's Rank (α = 0,05). Hasil: Mayoritas responden menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik (73,0%) dan menyatakan puas terhadap pelayanan homecare (65,1%). Hasil uji bivariat Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kedua variabel dengan nilai p-value < 0,001 dan koefisien korelasi (r_s) sebesar 0,698. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien homecare di RS Siloam Lippo Cikarang. Semakin baik kualitas komunikasi terapeutik yang diterapkannya, semakin tinggi pula tingkat kepuasan yang dirasakan oleh pasien. Disarankan bagi institusi untuk terus mempertahankan dan meningkatkan keterampilan komunikasi perawat guna menjaga mutu pelayanan.
Analisis Berbasis Bukti Abdominal Strching Exercise Dalam Menurunkan Nyeri Haid Pada Mahasiswi yang Mengalami Dismenorea di Universitas Medika Suherman
Pengaruh Kombinasi Green Colour Therapy dan Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi di Desa Sukarapih Kabupaten Bekasi Tahun 2025
Latar Belakang : Hipertensi adalah salah satu masalah Kesehatan yang kerap terjadi pada lansia, yang bisa meningkatkan masalah tekanan darah tinggi kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung. Selain farmakologis, upaya penanganan secara non farmakologis direkomendasikan untuk menurunkan tekanan darah, karena hemat biaya dan dapat dilakukan di rumah. Tujuan : tujuan dari kajian ini yakni untuk mengetahui pengaruh kombinasi green colour therapy dan slow deep breathing terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Desa Sukarapih tahun 2025. Metode : metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental, one group pretest-posttest dan pendekatan crossectional. Sampel terdiri dari 22 lansia hipertensi yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi dilaksanakan melalui objek pemandangan yang berwarna hijau serta menarik napas dalam secara lambat sebanyak 5 kali selama 10 sampai dengan 15 menit dan dilakukan 2 siklus setiap hari selama 7 hari. Pengukuran tekanan darah dilaksanakan sebelum serta setelah intervensi dengan tensimeter digital. Hasil Penelitian : hasilnya yakni terdapat adanya penurunan signifikan pada tekanan darah setelah intervensi. Uji Wilcoxon Signed Rank Test memperlihatkan skor p = 0,000 dimana p < 0,05 artinya terdapat pengaruh signifikan dari kombinasi green colour therapy dan slow deep breathing terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Kesimpulan: Pada kajian ini yakni menunjukan gabungan green colour therapy dan slow deep breathing efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Disarankan untuk penelitian berikutnya yakni bida dijadikan referensi serta bisa dikombinasikan dengan terapi yang lain sebagai upaya menunjukkan perubahan dalam manajemen untuk hasil yang lebih efektif.
Penerang: Pemberdayaan Remaja Putri Melalui Edukasi Kesehatan dan Pemberian Hemoping (Hemoglobin Doping) Sebagai Upaya Mewujudkan Zero New Stunting Generasi Mendatang
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang berperan adalah anemia pada remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non farmakologis untuk mencegah anemia sejak remaja. Intervensi yang dapat dilakukan adalah edukasi kesehatan mengenai stunting, anemia, gizi seimbang, dan kesehatan reproduksi sebagai upaya mempersiapkan remaja putri memasuki masa kehamilan dan peran sebagai ibu, sehingga risiko stunting dapat dicegah. Selain edukasi, intervensi nonfarmakologis lainnya adalah pemberian makanan tambahan berupa HEMOPING yang kaya zat besi, dari buah naga dan daun kelor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media audiovisual dan buku saku terhadap peningkatan pengetahuan, serta pengaruh pemberian HEMOPING terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Babelan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 34 responden yang mendapatkan intervensi edukasi kesehatan dan 24 responden yang mendapatkan intervensi HEMOPING, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan edukasi kesehatan dengan hasil signifikan (0,003 < 0,05). Intervensi HEMOPING juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin (0,000 < 0,05). Kesimpulan: Edukasi kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, dan pemberian HEMOPING berpengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia. Program PENERANG yang mengkombinasikan edukasi kesehatan dan pangan lokal berkontribusi dalam upaya mewujudkan Zero New Stunting pada generasi mendatang.
Hubungan Kepatuhan Transfusi Darah Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Anak Thalasemia Mayor di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong
Thalasemia Mayor merupakan penyakit kronis yang umum di negara Mediterania dan Asia Tenggara, dengan prevalensinya yang semakin meningkat. Kepatuhan merupakan penanganan utama dalam menjalani rutinitas transfusi pada penderita Thalasemia. Penderita Thalasemia dianjurkan rutin menjalankan transfusi darah, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh sehingga penderita tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan transfusi darah dan kualitas hidup pada pasien Thalasemia Mayor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini mengunakan non probability sampling dengan cara pendekatan purposive sampling. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner untuk kepatuhan Transfusi darah dan kualitas hidup dengan kuesioner PedsQL. Populasi dalam penelitian ini yaitu 50 populasi pasien yang berkunjung di unit Thalasemia RS Sentra Medika Cibinong. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Data diolah dan dianalisa secara bertahap sesuai dengan tujuan penelitian menggunakan komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hasil uji Gamma, didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,570 hasil p value = 0,006 atau < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan korelasi positif sedang dan signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien, sehingga jika pasien memiliki tingkat kepatuhan transfusi darah yang tinggi maka akan mempunyai kualitas hidup yang baik.
Hubungan Tingkat Depresi dan Self Care Management Dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong
Latar Belakang: Salah satu faktor utama yang mengakibatkan kematian dan penderitaan di abad ke-21 yakni gagal ginjal kronis, sekitar dua pertiga pasien GGK yang menjalani hemodialisa tidak bisa menjalani aktivitas normal seperti bekerja yang berdampak buruk pada aspek psikologis, fisik, sosial, hingga ekonomi mereka. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat depresi dan self care management dengan kualitas hidup pasien hemodialisa di RSSM Cibinong. Metode: Desain penelitian ini menggunakan analisis korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi pasien yang menjalani hemodialisa di RSSM Cibinong, sampel sebanyak 73 pasien dengan teknik non probability sampling dan cara pendekatan purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner BDI II, Self Care Management, KDQOL SFᵗᵐ-36 yang sudah valid - reliabel dan data dianalisis menggunakan uji gamma. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 73 responden didapatkan hasil tingkat depresi p value = 0,000 dengan nilai korelasi -0,972, self care management p value = 0,000 dengan nilai korelasi 0,958 maka ada hubungan tingkat depresi dan self care management dengan kualitas hidup pasien hemodialisa di RSSM Cibinong. Kesimpulan: Tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien memiliki kekuatan korelasi kuat yang bermakna hubungan negatif sehingga semakin tinggi tingkat depresi maka semakin buruk kualitas hidup pasien dan self care management dengan kualitas hidup pasien memiliki kekuatan korelasi kuat yang bermakna hubungan positif sehingga semakin baik self care management maka semakin baik kualitas hidup pasien. Saran: Peneliti selanjutnya sebagai sumber dan memberikan pemahaman yang lebih baik dan jelas tentang tingkat depresi, self care management, dan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisa.
Hubungan Peran Kader Puskesmas dan Pengetahuan Penderita TBC Dengan Kesembuhan Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cibatu Kabupaten Bekasi
TB paru merupakan penyakit menular yang masuk ke dalam salah satu kategori penyakit berbahaya dan menjadi salah satu penyakit pennyebap kematian di dunia setelah Human Immunodeficiency Virus (HIV) . Metode yang di pakai oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini dengan menggunakan cross sectional. Sampel kader dalam penelitian ini sebanyak 32 responden dan penderita TBC sebanyak 39 sampel. teknik Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Non Probability Sampling dengan pendekatan Purposive Sampling. menggunakan , instrumen yang digunakan adalah dengan lembar Kuesioner.Hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi-Square menunjukan bahwa p-value = 0,001 (p<0,05) dari nilai fisher exact test karena ada sel dengan frekuensi harapan kurang dari 5, maka dapat diartikan bahwa H0 ditolak yang berarti terdapat hubungan antara Peran Kader dengan Kesembuhan Pasien TBC. Kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang signifikan terhadap peran kader puskesmas pada kesembuhan penderita dengan Tuberkulosis paru di puskesmas Cibatu, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.
Hubungan Stunting Dengan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian Usia Batita di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi
Kejadian stunting merupakan permaslash perkembangan yang di sebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau malnutrisi, di tandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari anak seusianya, kondisi ini menjadi permaslah serius karena berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit dan tingginya angka kemantian. Dampak jangka Panjang dapat berpengaruh negatif terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara stunting dengan perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan bicara, sosialisasi dan kemandirian pada anak usia batita di wilayah kerja Puskesmas Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional serta pendekatan cross-sectional. Adapun populasi dalam penelitian ini mencakup anak batita dengan total sebanyak 1.945 anak batita. Berdasakan penerapan rumus slovin jumlah sampel yang di tentukan dalam penelitian ini adalah 96 anak batita, yang diambil melalui metode non-probabilitasdengan Teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner KPSP. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil analisis uji statistik chi-square variabel perkembangan motorik kasar dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,028, PR 1483, CI 1,042-2.109, CC 0.240. Variabel perkembangan morotik halus dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,020, PR 1.580. CI 1.070-2.335, CC 0,251. Variabel perkembangan bahasa dan bicara dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,022, PR 1.435. CI 1.048-1.996, CC 0,248. Variabel perkembangan sosialisasi dan kemandirian dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,044, PR 1.448. CI 1.015-2.066, CC 0,222. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, Bahasa dan bicara, sosialisasi dan kemandirian.
Hubungan Dukungan Keluarga dan Kepatuhan Minum Obat Dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Waluya Cikarang Utara
Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah penyakit kronis yang memengaruhi kualitas hidup penderita, di mana dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat berperan penting untuk peningkatannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup penderita DMT2 di Puskesmas Waluya Cikarang Utara melalui teknik cross-sectional sejumlah 49 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner HDFSS (dukungan keluarga), MARS-5 (kepatuhan minum obat), dan DQOL (kualitas hidup), lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (p < 0,000 dan p < 0,004), di mana pasien dengan dukungan rendah berisiko 2,6 kali lebih besar mengalami kualitas hidup rendah (PR 2.602, CI 1.062-6.373), sedangkan pasien dengan tingkat kepatuhan rendah mempunyai peluang 3,7 kali lebih tinggi (PR 3,733, CI 0,683-20,419). Dukungan keluarga yang lebih tinggi hingga kepatuhan dalam mengonsumsi obat ikut serta dalam peningkatan kualitas hidup penderita DMT2. Dengan ini, hasil penelitian bisa menjadi referensi bagi tenaga kesehatan untuk merancang intervensi berbasis keluarga guna meningkatkan kualitas hidup pasien DMT2 melalui peningkatan dukungan keluarga dan kepatuhan terhadap pengobatan.
Hubungan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Anak Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Kabupaten Bekasi
Stres kerja adalah sebuah faktor yang bisa sangat berdampak pada kinerja perawat, terutama di lingkungan dengan tingkat stres tinggi seperti IGD, ICU, dan ruang rawat inap anak. Karena perawat mempunyai peran krusial dalam pelayanan kesehatan, performa mereka menjadi sangat penting untuk dikaji guna menjaga hingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara stres kerja dengan kinerja perawat yang bertugas di IGD, ICU, dan ruang rawat inap anak. Studi ini menerapkan metode korelasional melalui pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan tanggal Desember 2024. Sekitar 41 perawat yang bekerja di ketiga unit ini dipilih sebagai sampel menggunakan teknik purposive sampling. Lalu dsta dikumpulkan melalui kuesioner stres kerja dan kinerja perawat, kemudian dianalisis dengan uji Gamma. Dari penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas perawat mengalami stres kerja dalam kategori ringan, yakni sejumlah 22 orang (53,7%). Sedangkan, kinerja perawat sebagian besar tergolong baik, sejumlah 30 responden (73,2%). Analisis statistik menghasilkan nilai Gamma senilai -0,649, mengindikasikan hubungan sedang hingga kuat. Selain itu, nilai p-value senilai 0,030, lebih rendah dari tingkat signifikansi 0,05, memperlihatkan bahwa hubungan tersebut signifikan secara statistik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa stres kerja terdapat hubungan signifikan dengan kinerja perawat di IGD, ICU, dan ruang rawat inap anak.
Pengaruh Terapi Rendam Kaki Air Hangat Campuran Garam dan Kencur Terhadap Tekanan Darah Lansia Hipertensi di Sentra Terpadu Pengudi Luhur Bekasi Jawa Barat Tahun 2025
Latar Belakang: “Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang sering dialami oleh lansia, yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur terhadap tekanan darah lansia hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Jawa Barat tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental, one group pretest-posttest dan pendekatan crossectional. Sampel terdiri dari 30 lansia hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan merendam kaki menggunakan air hangat bersuhu 38-40°C yang dicampur dengan 15 gram garam dan 100 gram kencur selama 10-20 menit setiap hari selama 7 hari. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital. Hasil Penelitian: Pada penelitian ini menunjukkan adanya penurunan signifikan pada tekanan darah sesudah intervensi. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,001 dimana p < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur terhadap penurunan tekanan darah lansia hipertensi. Kesimpulan: Pada penelitian ini adalah bahwa terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Disarankan untuk peneliti selanjutnya ini dapat dijadikan referensi dan untuk peneliti selanjutnya dapat menunjukkan perubahan dalam manajemen untuk hasil yang lebih efektif.”
Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di RS Djajakusuma Sukatani
Latar Belakang : Diabetes Mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia dan hal ini diperkirakan akan terus berlanjut selama dua dekade mendatang atau mungkin seterusnya Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di RS. Djajakusumah Sukatani. Subyek Dan Metode : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional, Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien di Rumah Sakit Djajakusumah Sukatani. Jumlah populasi sebanyak 63 orang yang menderita Diabetes Mellitus tipe 2 di RS.Djajakusumah Sukatani. Dan sampel yang akan diambil keseluruhan adalah 54 sampel dengan rumus slovin. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan Kuesioner Hill-Bone versi Indonesia yang telah dimodifikasi untuk pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang terdiri dari 14 pertanyaan. Hasil: Berdasarkan hasil uji Chi-square nilai value : 0,000 (p value ≤ 0, 05), maka H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya ada hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien diabetes Mellitus tipe 2 di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Djajakusumah Sukatani. Kesimpulan: Studi ini terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Djajakusumah Sukatani.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Melalui Audiovisual Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Penanganan Demam Pada Anak Usia 0-2 Tahun Menggunakan Tepid Water Sponge di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi
Demam merupakan terjadinya kenaikan suhu tubuh di atas kisaran normal akibat adanya infeksi atau peradangan. Penanganan dengan non farmakologis untuk menurunkan demam pada anak terkadang sering terlupakan oleh orang tua dalam hal ini ibu, salah satunya tepid water sponge. Pengetahuan ibu yang kurang terkait penatalaksanaan demam pada anak secara non farmakologis mengakibatkan cara penatalaksanaan yang tidak tepat, sehingga berakibat kurang optimalnya proses penyembuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan melalui audiovisual terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan demam pada anak 0-2 tahun menggunakan tepid water sponge di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi. Metode penelitian ini menggunakan Quasi-experimental designs (one group pretest-posttest). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 94 ibu yang mempunyai anak usia 0-2 tahun di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian dari uji statistik menunjukan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui audiovisual terhadap tingkat pengetahuan ibu (sig.0,000 < 0,05). Kesimpulan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui audiovisual terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan demam pada anak usia 0-2 tahun menggunakan tepid water sponge di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi. Saran diharapkan meningkatkan pelaksanaan pendidikan kesehatan kepada ibu yang memiliki anak, terkait penanganan demam pada anak menggunakan tepid water sponge.