BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan pada remaja merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular di masa mendatang. Pengetahuan dan sikap diduga berperan dalam membentuk pola konsumsi remaja, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang beragam. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 responden yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data pengetahuan dan sikap diperoleh melalui kuesioner, sedangkan pola konsumsi gula, garam, dan lemak diukur menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis penelitian, sebagian besar responden berusia 17 tahun, yaitu sebanyak 80 responden (93,0%), sedangkan responden yang berusia 16 tahun sebanyak 6 responden (7,0%). Mayoritas berjenis kelamin perempuan (72,1%) dan memiliki uang saku kategori sedang (91,9%). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik (70,9%), sikap kategori baik (73,3%), serta pola konsumsi gula (75,6%), garam (73,3%), dan lemak (72,1%) pada kategori cukup. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pola konsumsi gula (p=0,621), garam (p=0,866), maupun lemak (p=0,588). Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan pola konsumsi gula (p=0,433), garam (p=0,640), maupun lemak (p=0,390). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap tidak berhubungan secara signifikan dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Perilaku konsumsi GGL kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan makan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, ketersediaan pangan, dan pengaruh teman sebaya. Oleh karena itu, upaya perbaikan pola konsumsi GGL pada remaja perlu dilakukan secara komprehensif melalui edukasi gizi yang didukung oleh lingkungan pangan yang sehat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: “Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang sering dialami oleh lansia, yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur terhadap tekanan darah lansia hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Jawa Barat tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental, one group pretest-posttest dan pendekatan crossectional. Sampel terdiri dari 30 lansia hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan merendam kaki menggunakan air hangat bersuhu 38-40°C yang dicampur dengan 15 gram garam dan 100 gram kencur selama 10-20 menit setiap hari selama 7 hari. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital. Hasil Penelitian: Pada penelitian ini menunjukkan adanya penurunan signifikan pada tekanan darah sesudah intervensi. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,001 dimana p < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur terhadap penurunan tekanan darah lansia hipertensi. Kesimpulan: Pada penelitian ini adalah bahwa terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Disarankan untuk peneliti selanjutnya ini dapat dijadikan referensi dan untuk peneliti selanjutnya dapat menunjukkan perubahan dalam manajemen untuk hasil yang lebih efektif.”
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Secara nasional, konsumsi garam beryodium cukup adalah 62,3% dan di
Provinsi Jawa Barat adalah 58,3%, Dibuktikan dengan prevalensi GAKY
berdasarkan Riskesdas dan di Provinsi Jawa Barat saat ini adalah 58,3%. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap
penggunaan garam beryodium dalam menu makanan sehari hari pada ibu di
wilayah Desa Telaga Murni.
Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional yaitu jenis penelitian
kuantitatif. Jumlah sampel sebanyak 88 responden. Tempat penelitian yaitu di
Wilayah Desa telaga Murni. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square.
Hasil penelitian menggambarkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan penggunaan garam beryodium nilai P-Value= 0,924.
Hasil penelitian antara sikap dengan penggunaan garam beryodium terdapat
hubungan yang signifikan dengan nilai P-Value = 0,020.
Kesimpulan adanya hubungan sikap ibu dengan penggunaan garam beryodium.
Saran yang diberikan kepada Ibu Rumah Tangga yaitu diharapkan memiliki
pengetahuan yang cukup dalam memilih garam yang beryodium dan menghindari
proses pengolahan makanan yang dapat mengurangi penurunan yodium pada
garam.