BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Perilaku masturbasi yang berisiko pada remaja dapat memberikan dampak terhadap kesehatan reproduksi apabila tidak disertai dengan pemahaman dan sikap yang tepat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membentuk sikap positif remaja adalah melalui pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual. Berdasarkan survei pendahuluan terhadap 10 siswi, sebanyak 70% siswi telah terpapar informasi terkait perilaku seksual dan masturbasi, sedangkan 30% lainnya masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai masturbasi dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan sikap remaja terhadap pencegahan perilaku masturbasi yang berisiko. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual terhadap sikap remaja putri tentang pencegahan perilaku masturbasi yang berisiko pada kesehatan reproduksi di SMPN 5 Cikarang Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Pra-Eksperimen melalui pendekatan one group pretest-posttest. Populasi penelitian adalah seluruh siswi SMPN 5 Cikarang Selatan sebanyak 566 orang, dengan sampel sebanyak 30 responden yang dipilih menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner sikap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata sikap meningkat dari 82,97 sebelum intervensi menjadi 106,53 setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual. Hasil uji menunjukkan nilai t = -8,223 dengan p-value = 0,000 (p<0,05), sehingga terdapat pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual terhadap sikap remaja putri tentang pencegahan perilaku masturbasi yang berisiko pada kesehatan reproduksi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang berperan adalah anemia pada remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non farmakologis untuk mencegah anemia sejak remaja. Intervensi yang dapat dilakukan adalah edukasi kesehatan mengenai stunting, anemia, gizi seimbang, dan kesehatan reproduksi sebagai upaya mempersiapkan remaja putri memasuki masa kehamilan dan peran sebagai ibu, sehingga risiko stunting dapat dicegah. Selain edukasi, intervensi nonfarmakologis lainnya adalah pemberian makanan tambahan berupa HEMOPING yang kaya zat besi, dari buah naga dan daun kelor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media audiovisual dan buku saku terhadap peningkatan pengetahuan, serta pengaruh pemberian HEMOPING terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Babelan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 34 responden yang mendapatkan intervensi edukasi kesehatan dan 24 responden yang mendapatkan intervensi HEMOPING, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan edukasi kesehatan dengan hasil signifikan (0,003 < 0,05). Intervensi HEMOPING juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin (0,000 < 0,05). Kesimpulan: Edukasi kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, dan pemberian HEMOPING berpengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia. Program PENERANG yang mengkombinasikan edukasi kesehatan dan pangan lokal berkontribusi dalam upaya mewujudkan Zero New Stunting pada generasi mendatang.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infertilitas merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang banyak dialami oleh pasangan usia subur yang dapat berdampak pada aspek fisik, psikologis, sosial, maupun ekonomi, infertilitas dibedakan menjadi primer dan sekunder. Gaya hidup tidak sehat seperti pola makan buruk, merokok, konsumsi alkohol/kafein berlebihan, kurang aktivitas fisik, stres, dan pola tidur buruk merupakan Salah satu faktor yang diyakini dapat mempengaruhi hormon, ovulasi, serta kualitas sel telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian infertilitas pada wanita usia subur di Desa Sukaragam tahun 2025. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan jumlah sampel 100 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Sebanyak 53 responden atau 53% yang memiliki gaya hidup buruk, dan dari kelompok ini sebanyak 49,1% mengalami infertilitas. Sementara itu, hanya 17% wanita dengan gaya hidup baik yang mengalami infertilitas. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gaya hidup dengan kejadian infertilitas (p = 0,001) dengan perolehan nilai OR yaitu 4.694 menunjukan adanya hubungan yang signifikan secara statistik. Selain itu, karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas berusia <35 tahun (73%), menikah ≤5 tahun (60%), berpendidikan rendah (62%), dan tidak bekerja (53%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah gaya hidup berhubungan signifikan dengan kejadian infertilitas pada wanita usia subur di Desa Sukaragam, di mana responden dengan gaya hidup buruk memiliki risiko lebih tinggi mengalami infertilitas primer.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Karena kurangnya pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi,
mengakibatkan remaja saat ini sering kali mendapatkan informasi yang keliru serta dapat
menjerumuskan mereka kearah penyimpangan perilaku seksual. Penelitian ini bertujuan untuk
untuk mengetahui Pengaruh Edukasi Kesehatan Reproduksi Dengan EMIVO (Education Media
Video) Terhadap Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Usia 10-12 Tahun Di SDN
Karang Sentosa 02. Metode: Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Peneliti
menggunakan jenis penelitian Pre-Eksperimental Pretest-Post Test Only One Group Design dengan
teknik pengambilan sampel puposive sampling, populasi sebanyak 158 siswa, dan sampel sebanyak
61 siswa. Instrumen yang dipakai pada riset ini berupa lembaran kuesioner. Analisa data yang
digunakan adalah anilsa univariat dan bivariat berupa kolmogorov-smirnov dengan nilai signifikan a
> 0,05. Hasil : Berdasrkan hasil data yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa dari 61
responden terdapat paling banyak 26 orang (42,6%), berusia 12 Tahun dengan jenis kelamin
perempuan sebanyak 35 orang (57,4%), Sejumlah 61 responden, sebanyak 45 orang (73,8%) siswa
di SDN Karang Sentosa 02 berpengetahuan Baik sebelum diberikan edukasi kesehatan reproduksi
melalui video dan, sebanyak 61 orang (100,0%) siswa di SDN Karang Sentosa 02 berpengetahuan
Baik setelah diberikan edukasi kesehatan reproduksi melalui video. Kesimpulan : Dari penelitian
ini menunjukan adanya pengaruh edukasi kesehatan reproduksi dengan EMIVO (Education Media
Video) terhadap tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi remaja Usia 10-12 tahun di SDN Karang
Sentosa 02. Dengan nilai p tingkat kepercayaan 95% sebesar 0,200>0,05.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Abstrak. Data WHO menunjukkan bahwa seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10-19
tahun dimana 900 juta berada di negara sedang berkembang. Masa remaja merupakan masa peralihan
dari anak-anak ke masa dewasa. Remaja cenderung menjadi lebih terfokus pada usaha menarik perhatian
lawan jenis mereka dalam rangka mendapatkan pemahaman tentang aspek seksualitas. Kurangnya
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat menyebabkan berbagai masalah, salah satunya adalah
terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi, perkawinan dan pernikahan dini, IMS atau
PMS dan HIV/AIDS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Reproduksi Terhadap Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi di MTs. Miftahul Falah
Bekasi Tahun 2023.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode Pre eksperimental One Group With Pre-Post Test
Design. Pengambilan sampel dengan purposive sampling sebanyak 47 responden. Analisa data
menggunakan distribusi frekuensi dan uji Wilcoxon. Penelitian ini menggunakan data primer dari
pengisian kuesioner oleh responden.
Hasil penelitian ini menunjukkan p value sebesar 0,102 > 0,05 kesimpulannya adalah Ha ditolak atau Ho
diterima artinya tidak ada pengaruh yang signifikan pada pemberian pendidikan kesehatan terhadap
peningkatan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di MTs. Miftahul Falah Bekasi tahun
2023.
Penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan
reproduksi dan dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pendekatan secara intensif
bagi para guru dan siswa. Hasil penelitian ini juga semoga dapat menjadi pedoman kebijakan dari sekolah
untuk menyediakan pendidikan kesehatan yang komprehensif di sekolah yang mencakup informasi yang
akurat dan berbasis bukti tentang kesehatan reproduksi, termasuk tentang risiko penyakit menular seksual,
metode kontrasepsi, dan pentingnya hubungan yang sehat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Menurut SDKI 2019 diketahui terdapat 22 provinsi yang memiliki perkawinan wanita usia 15-19 di atas rata-rata nasional sebesar 10,82%. Pemerintah sudah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi melalui PIK-KRR untuk SMA maupun SMK. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pemilihan usia perkawinan ideal di SMK Mitra Karya Rengas dengklok. Penelitian ini bersifat analitik korelatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2023 dengan populasi yaitu siswi SMK Mitra Karya Rengasdengklok. Metode pengambilan sampel dengan stratifiet random sampling berjumlah 105 siswi. Data adalah data primer dengan menggunakan instrument yaitu kuesioner. Analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden yang berpengetahuan kurang 72 (68,6%) dan baik 33 (31,4%). Sebagian besar responden mempunyai sikap tidak mendukung sebanyak 68 (64,8,2%) responden. Responden yang memiliki pengetahuan kuramg dan menyatakan sikap tidak mendukung sebanyak 60 responden (83,3%). Responden yang mempunyai pengetahuan kurang dan menyatakan sikap mendukung sebesar 8 responden (24,2%). Berdasarkan uji chi-square diketahui nilai p=0,030 (p<0,05) yang berarti menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pemilihan usia perkawinan ideal. Kesimpulan ada hubungan pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pemilihan usia perkawinan ideal
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN Skripsi, Agustus 2023 Nama : Adinda Hudzaifah NIM : 010318501 HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP PEMILIHAN USIA PERKAWINAN IDEAL DI SMK MITRA KARYA RENGASDENGKLOK TAHUN 2023 v + 84 Halaman + 10 Tabel + 2 Gambar + 17 Lampiran ABSTRAK Latar Belakang: Menurut SDKI 2019 diketahui terdapat 22 provinsi yang memiliki perkawinan wanita usia 15-19 di atas rata-rata nasional sebesar 10,82%. Pemerintah sudah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi melalui PIK-KRR untuk SMA maupun SMK. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pemilihan usia perkawinan ideal di SMK Mitra Karya Rengas dengklok Metode: Penelitian ini bersifat analitik korelatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2023 dengan populasi yaitu siswi SMK Mitra Karya Rengasdengklok. Metode pengambilan sampel dengan stratifiet random sampling berjumlah 105 siswi. Data adalah data primer dengan menggunakan instrument yaitu kuesioner. Analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden yang berpengetahuan kurang 72 (68,6%) dan baik 33 (31,4%). Sebagian besar responden mempunyai sikap tidak mendukung sebanyak 68 (64,8,2%) responden. Responden yang memiliki pengetahuan kuramg dan menyatakan sikap tidak mendukung sebanyak 60 responden (83,3%). Responden yang mempunyai pengetahuan kurang dan menyatakan sikap mendukung sebesar 8 responden (24,2%). Berdasarkan uji chi-square diketahui nilai p=0,030 (p0,05) yang berarti menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pemilihan usia perkawinan ideal Kesimpulan: Ada hubungan pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pemilihan usia perkawinan ideal Bahan bacaan: 23 jurnal ( 2018 – 2022 ) Kata Kunci: kehamilan remaja, kesehatan reproduksi, pengetahuan, sikap