Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

15 hasil
Subjek: Demam
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

hubungan tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan demam typhoid pada penderita demam typhoid di ruang Rawat Inap Orchid Rs Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Demam thypoid atau typhus abdominalis merupakan suatu infeksi akut yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Pengetahuan dan sikap seseorang dalam upaya pencegahan terdinya demamtyphoid sangat penting. Hubungan tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan demam typhoid pada penderita demam typhoid di ruang Rawat Inap Orchid Rs Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023. Desain penelitian ini survei analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu jenis penelitian dengan metode kuantitatif. Dengan jumlah populasi 372 responden dan jumlah sampel 95 responden. Hasil uji statistik menunjukkan tingkat pengetahuan kurang 48 responden (50,5%), dan upaya pencegahan kurang baik 54 responden (56,8%). Disimpulkan tingkat penegetahuan seseorang sangat mempengaruhi sikap dala upaya pencegahan terjadinya demam typhoid. Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan demam typhoid pada penderita demam typhoid di ruang Rawat Inap Orchid Rs Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023. P-Value 0,000 < 0,05.

45 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Bawang Merah Terhadap Penurunan Suhu pada Balita Demam di Klinik Handayani pada Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Demam merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dan memerlukan penanganan yang tepat. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah kompres bawang merah yang secara empiris digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bawang merah terhadap penurunan suhu pada balita demam di Klinik Handayani Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pengukuran suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian kompres bawang merah. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan suhu tubuh balita setelah diberikan kompres bawang merah. Nilai p-value hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan suhu tubuh sebelum dan sesudah pemberian kompres bawang merah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompres bawang merah berpengaruh terhadap penurunan suhu pada balita demam di Klinik Handayani Tahun 2026.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku Kader Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarmukti Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Demam Berdarah Dengue (DBD) memerlukan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahannya. Kader kesehatan berperan dalam mendorong masyarakat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku kader dalam pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti tahun 2026. Penelitian menggunakan metode mixed methods dengan desain Sequential Explanatory. Tahap kuantitatif melibatkan 82 kader aktif dan dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dengan α = 0,05, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan 64,6% kader memiliki pengetahuan baik, 57,3% memiliki sikap positif, 78,0% memperoleh dukungan petugas kesehatan yang baik, dan 56,1% memiliki perilaku pencegahan yang baik. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (r = 0,307; p = 0,005), sikap dengan perilaku (r = 0,460; p = 0,001), serta dukungan petugas kesehatan dengan perilaku (r = 0,453; p = 0,001). Hasil kualitatif menunjukkan kader melakukan edukasi 3M Plus, mengingatkan masyarakat, dan mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan. Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, dan dukungan petugas kesehatan berhubungan dengan perilaku kader dalam pencegahan DBD.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Edukasi Kesehatan Dengan Audiovisual Terhadap Pengetahuan Tentang Pencegahan DBD (Demam Berdarah Dengue) Antara Siswa Kelas 3 dan 4 di SDIT Insan Taqwa Tahun 2025

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Usia sekolah dasar (7–12 tahun) merupakan kelompok penting dalam pendidikan kesehatan karena perkembangan kemampuan kognitif dan pembentukan kebiasaan. Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat pada anak sebagai kelompok rentan, yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang pencegahan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan sejak dini diperlukan, dengan media audiovisual sebagai pilihan yang lebih efektif karena mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas edukasi kesehatan dengan audiovisual terhadap pengetahuan tentang pencegahan DBD antara siswa kelas 3 dan 4 di SDIT Insan Taqwa Tahun 2025. Metode Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain Quasi eksperimental (Pretest-Posttest Two Group). Sampel penelitian berjumlah 66 siswa kelas 3 dan 4 di SDIT Insan Taqwa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner sebelum (Pretest) dan sesudah (Posttest) intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No:005517/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025). Hasil Penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pengetahuan yang signifikan antara siswa kelas 3 dan 4 setelah diberikan edukasi kesehatan dengan audiovisual, hasil analisis uji Mann Whitney p = 0,000 < 0,05. Kesimpulan: Edukasi kesehatan dengan audiovisual lebih efektif meningkatkan pengetahuan pencegahan DBD pada siswa kelas 4 dibandingkan siswa kelas 3 di SDIT Insan Taqwa tahun 2025.

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Perbanidngan Efektivitas Edukasi Media Leaflet dan Video Terhadap Pengetahuan Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Desa Sukarahayu Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah endemis. Di Indonesia pada tahun 2022 dilaporkan sebanyak 131.265 kasus DBD dengan 1.183 kematian. Dan kembali meningkat di tahun 2024 mencapai 210.644 kasus dengan 1.239 kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan efektivitas media leaflet dan video edukasi pencegahan DBD terhadap kejadian DBD di Desa Sukarahayu. Metode Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pretest–posttest two group design. Sampel penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive sampling dan terdapat 74 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok media leaflet dan media video. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan pengetahuan pada kelompok media leaflet dan video (p=0,000). Uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua media (p=0,000), dengan mean rank media video (48,93) lebih tinggi dibandingkan leaflet (26,77). Kesimpulan edukasi kesehatan dalam penelitian ini menunjukan bahwa menggunakan media video lebih efektif dibandingkan media leaflet.

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kepatuhan Penggunaan Kelambu dan Kebiasaan Menggantung Pakaian Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa Sukajadi Kabupaten Bekasi Tahun 2025

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih sering terjadi dan berkaitan erat dengan perilaku pencegahan di lingkungan rumah. Perilaku kepatuhan penggunaan kelambu dan kebiasaan menggantung pakaian diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya DBD. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan kelambu dan kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 98 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak patuh menggunakan kelambu, yaitu 71 responden (72,4%), dan hampir setengah responden memiliki kebiasaan menggantung pakaian, yaitu 48 responden (49,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan penggunaan kelambu dengan kejadian DBD (p = 0,175). Sementara itu, terdapat hubungan yang sangat bermakna antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD (p = 0,000). Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan penggunaan kelambu dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebaliknya, terdapat hubungan yang sangat bermakna antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD. Dengan demikian, kebiasaan menggantung pakaian merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian DBD dalam penelitian ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui peningkatan edukasi kesehatan, khususnya terkait pengelolaan lingkungan rumah dan kebiasaan yang berpotensi menjadi tempat istirahat nyamuk, guna menurunkan risiko terjadinya DBD.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Biaya Pengobatan Pasien Demam Tifoid Rawat Inap BPJS di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024

2025•Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas klinis dan efisiensi biaya pengobatan demam tifoid menggunakan terapi tunggal ceftriaxon, cefixime, serta terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan analisis cost-effectiveness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas pengobatan pada kelompok terapi tunggal adalah sebesar 66,66% untuk ceftriaxon dan 66,66% untuk cefixime, sedangkan terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime pada kelompok B menunjukkan efektivitas 100%. Rata-rata total biaya pengobatan yang dikeluarkan untuk masing-masing terapi adalah Rp4.721.391 (ceftriaxon), Rp5.303.698 (cefixime), dan Rp4.599.894 (ceftriaxon dan cefixime). Analisis biaya-efektivitas rata-rata (Average Cost-Effectiveness Ratio/ACER) menunjukkan nilai sebesar Rp70.827 untuk ceftriaxon, Rp79.563 untuk cefixime, dan Rp45.998 untuk terapi kombinasi. Sementara itu, nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) untuk peralihan terapi dari ceftriaxone tunggal ke cefixime tunggal adalah Rp582.307. Berdasarkan hasil tersebut, terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime memberikan efektivitas klinis tertinggi dengan nilai efisiensi biaya yang paling optimal dibandingkan terapi tunggal. Oleh karena itu, terapi kombinasi dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang lebih cost-effective dalam penanganan pasien demam tifoid.

18 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat Inap Demam Tifoid Anak di Rumah Sakit Permata Bekasi Tahun 2023

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 70% kematian terjadi di Asia. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di negara Indonesia. Demam tifoid merupakan salah satu dari 20 penyakit terbanyak yang dilaporkan di puskesmas di Kota Tangerang pada tahun 2020, berdasarkan data penyakit rawat jalan dari lembaga tersebut. Tujuan penelitian : Untuk menilai penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid yang dirawat di Rumah Sakit X pada tahun 2023, dengan penekanan pada penggunaan obat yang bijaksana atau tepat. Metode : Penelitian ini menggabungkan data noneksperimental berupa rekam medis retrospektif pasien anak di Rumah Sakit X yang didiagnosis menderita demam tifoid antara bulan Januari dan Desember 2023. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dan kuantitatif. Formulir khusus digunakan untuk mengumpulkan data, dan pasien anak yang didiagnosis menderita demam tifoid antara usia 1 dan 18 tahun diikutsertakan dalam penelitian ini tanpa memandang kondisi medis yang menyertainya. Analisis Chi-Square digunakan untuk memeriksa data. Hasil : Nilai p sebesar 0,000 dari pengujian SPSS, yang kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa terdapat korelasi substansial antara kualitas penggunaan antibiotik sebagaimana ditentukan oleh teknik Gyssens dan hasilnya. Serupa dengan ini, evaluasi metode ATC/DDD terhadap kualitas penggunaan antibiotik juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan hasilnya, yang diperkuat oleh nilai p analisis SPSS sebesar 0,000, yang sekali lagi menunjukkan adanya korelasi karena nilainya kurang dari 0,05. Kesimpulan : Nilai p sebesar 0,000, atau kurang dari 0,05 menunjukan adanya hubungan kualitas dan kuantitas antibiotik terhadap outcame klinis.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Dengan Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit tropis yang paling umum dan telah berkembang menjadi masalah kesehatan internasional yang krusial. Faktor lingkungan fisik yang berkontribusi terhadap penyebaran DBD meliputi suhu, kelembapan, jarak antar rumah, ventilasi rumah tanpa kawat kasa, pakaian yang menggantung, barang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta Tempat Penampungan Air (TPA) yang terbuka. Perilaku pencegahan DBD mencakup tindakan seperti menguras tempat penampungan air setiap minggu, memasang kasa kawat pada ventilasi rumah, dan menyimpan pakaian di dalam lemari. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan metode crosssectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 62 orang. Variabel independen mencakup faktor lingkungan fisik, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan DBD. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara faktor lingkungan fisik dengan perilaku pencegahan DBD, dengan nilai P = 0,02 (P < 0,05) dan Odds Ratio (OR) sebesar 0,088, yang menunjukkan bahwa perilaku pencegahan yang kurang terkait dengan lingkungan fisik yang buruk. Kesimpulan: Terdapat hubungan faktor lingkungan fisik dengan perilaku pencegahan DBD nilai signifikansi P = 0.02 (P< 0.05).

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Melalui Audiovisual Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Penanganan Demam Pada Anak Usia 0-2 Tahun Menggunakan Tepid Water Sponge di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi

2024•Koleksi Perpustakaan

Demam merupakan terjadinya kenaikan suhu tubuh di atas kisaran normal akibat adanya infeksi atau peradangan. Penanganan dengan non farmakologis untuk menurunkan demam pada anak terkadang sering terlupakan oleh orang tua dalam hal ini ibu, salah satunya tepid water sponge. Pengetahuan ibu yang kurang terkait penatalaksanaan demam pada anak secara non farmakologis mengakibatkan cara penatalaksanaan yang tidak tepat, sehingga berakibat kurang optimalnya proses penyembuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan melalui audiovisual terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan demam pada anak 0-2 tahun menggunakan tepid water sponge di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi. Metode penelitian ini menggunakan Quasi-experimental designs (one group pretest-posttest). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 94 ibu yang mempunyai anak usia 0-2 tahun di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian dari uji statistik menunjukan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui audiovisual terhadap tingkat pengetahuan ibu (sig.0,000 < 0,05). Kesimpulan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui audiovisual terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan demam pada anak usia 0-2 tahun menggunakan tepid water sponge di Puskesmas Tambelang Kabupaten Bekasi. Saran diharapkan meningkatkan pelaksanaan pendidikan kesehatan kepada ibu yang memiliki anak, terkait penanganan demam pada anak menggunakan tepid water sponge.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Upaya Pencegahan Kekambuhan Demam Typhoid Pada Penderita Deman Typhoid di Ruang Rawat Inap Orchid RS Harapan Bunda Jakarta

2023•Koleksi Perpustakaan

Demam thypoid atau typhus abdominalis merupakan suatu infeksi akut yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Pengetahuan dan sikap seseorang dalam upaya pencegahan terdinya demamtyphoid sangat penting. Hubungan tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan demam typhoid pada penderita demam typhoid di ruang Rawat Inap Orchid Rs Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023. Desain penelitian ini survei analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu jenis penelitian dengan metode kuantitatif. Dengan jumlah populasi 372 responden dan jumlah sampel 95 responden. Hasil uji statistik menunjukkan tingkat pengetahuan kurang 48 responden (50,5%), dan upaya pencegahan kurang baik 54 responden (56,8%). Disimpulkan tingkat penegetahuan seseorang sangat mempengaruhi sikap dala upaya pencegahan terjadinya demam typhoid. Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan demam typhoid pada penderita demam typhoid di ruang Rawat Inap Orchid Rs Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023. P-Value 0,000 < 0,05.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Asuhan Keperawatan Hipertermi Pada Ny. S Dengan Demam Tifoid di Ruang Jasmine RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2022

2023•Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah penyakit infeksi dari bakteri salmonella thypi bakteri ini menempel pada makanan, kemudian memakan pada saat kondisi imunitas/ kekebalan/daya tahan tubuh menurun atau sedang lemah maka akan mudah tertular, penyakit ini menyerang anak-anak maupun orang dewasa melalui makanan, fases, urine, maupun air yang terinfeksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan mempelajari proses pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan yang komprehensif pada pasien dengan hipertermi. Metode penelitian studi kasus dengan menggunakan metode pendeketan penelitian deskriptif. Data yang diperoleh yaitu pemeriksaan fisik pada pasien, keluarga, perawat ruangan, observasi secara langsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien demam tifoid dengan masalah keperawatan hipertermi ditemukan adanya klien tampak lemas, kulit tampak kemerahan, akral teraba hangat, suhu 38,3C, trombosit 16 10ul, tes widal (+). Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam didapatkan suhu tubuh klien kembali normal yaitu 36-37,5C. Tindakan keperawatan yang efektif pada penelitian ini adalah water tepid sponge dan tindakan kolaborasi pemberian obat paracetamol. Kesimpulan penelitian ini adalah tindakan yang dilakukan pada implementasi sangat efektif dalam mengatasi keperawatan utama pada penelitian ini dengan evaluasi terakhir masalah keperawatan hipertermi teratasi ditandai dengan akral teraba dingin, kulit tampak tidak kemerahan, 99/67 mmHg, N = 78x/menit, RR = 20x/menit, S = 36,5C.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Lingkungan Desa Telaga Murni RT 003/ RW 008 Tahun 2020

2021•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Demam berdarah atau dengue hemorrhagic atau lazimnya disebut DBD/DHF merupakan suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue, dimana virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Faktor lingkungan yang memberi pengaruh terhadap keberadaan DBD antara lain lingkungan fisik seperti suhu udara, kelembaban, hujan, angin, sinar matahari, arus air, lingkungan biologi seperti tidak menumpuk barang-barang bekas dan lingkungan sosial yaitu kebiasaan atau perilaku seseorang dalam memelihara lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 12 Juli 2020 terlihat bahwa warga di desa Telaga murni khususnya di RT 003/RW 008 hasil yang didapatkan bahwa dari 8 orang faktor lingkungan fisiknya terlihat kurang baik dikarenakan keterbatasan ventilasi pada ruangan. 9 orang faktor lingkungan sosialnya kurang baik dikarenakan tidak membersihkan saluran air dan talang air yang tersumbat. 10 orang lingkungan biologi nya kurang baik dikarenakan banyak barang-barang bekas yang menumpuk dan tempat minum hewan peliharaan yang tidak dibersihkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Telaga Murni didapatkan data ada 8 warga yang pernah mengalami DBD. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue Tahun 2020. Metode Penelitian : Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan “cross sectional”. Dengan populasi sebanyak 42 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive sampling dengan jumlah sampel 35 responden. Instrument yang digunakan kuesioner. Analisa data yang digunakan analisa bivariat menggunakan Chi-Square dengan nilai signifikan < α (0,05). Hasil Penelitian : Hasil dari penelitian ini diperoleh tidak adanya hubungan lingkungan sosial dengan kejadian demam berdarah dengue di Desa Telaga murni RT 003/ RW 008 Tahun 2020 dengan p-value (1,000). Pada penelitian ini di dapatkan bahwa dari 11 responden lingkungan sosial kurang, ada sebanyak 9 (81,8%) responden. Sedangkan dari 31 responden lingkungan sosialnya baik, ada sebanyak 26 (83,9%). Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan lingkungan sosial dengan kejadian demam berdarah dengue di Desa Telaga murni RT 003/ RW 008 Tahun 2020. Saran : Diharapkan masyarakat seharusnya memanfaatkan peran JUMANTIK yang sudah ada dan menyadari betul tentang pentingnya upaya pemberian penyuluhan dan pengamatan tentang kejadian demam berdarah agar terhindar dari wabah penyakit DBD, jika ada yang kurang mengerti tentang upaya apa yang harus dilakukan dalam melakukan pengamatan terhadap kejadian DBD hendaknya mencari tahu lewat surat kabar atau majalah, iklan televisi, browsing di google atau internet atau dating ke Pusat pelayanan kesehatan untuk menanyakan hal-hal yang tidak diketahui dan memanfaatkan Puskesmas untuk membantu memantau kesehatan anggota keluarga.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Bawang Merah (Alllium Cepan Var. Ascalonicum) Dengan Perilaku Ibu Dalam Penanganan Demam Pada Anak (0-1 Tahun) di Kp. Bendungan RW05 Desa Marengmang Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang Tahun 2019

2020•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Pengetahuan ibu dalam penanganan demam pada anak menimbulkan berbagai macam perilaku memberikan terapi farmakologi dan non farmakologi. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 18-20 Mei 2019 di Kp. Bendungan RW 05 Desa. Marengmang Kecamatan. Kalijati Kabupaten. Subang yang dilakukan pada 50 orang ibu di dapatkan data hasil dari wawancara pada ibu yang mengetahui tentang bawang merah sebagai penurun demam dan tidak melakukan kompres bawang merah sebanyak 35 orang ibu, sedangkan ibu yang menggunakan bawang merah sebagai obat demam pada anak dan mengetahui manfaat bawang merah sebagai obat penurun demam pada anak sebanyak 15 orang ibu. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang bawang merah (Allium Cepa Var. Ascalonicum) dengan perilaku ibu dalam penanganan demam pada anak (0-1 Tahun) di Kp. Bendungan RW 05 Desa. Marengmang Kecamatan. Kalijati Kabupaten. Subang. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling sebanyak 108 responden dilaksanakan di Kp. Bendungan RW 05. Instrumen dalam penelitian menggunakan kuesioner, dianalisa dengan Chi-Square. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar tingkat pengetahuan ibu rendah sebanyak (68.5%), perilaku ibu menggunakan pengobatan lain sebanyak (73.1%) dan perilaku ibu menggunakan kompres bawang merah sebanyak (26.9%). Hasil analisa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang bawang merah terhadap perilaku ibu dalam penanganan demam pada anak p-value (0,003). Saran : Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dalam pendidikan kesehatan pada ibu tentang penanganan demam pada anak. Dan dapat memilih terapi pengobatan dengan tepat sesuai dengan peningkatan suhu tubuh yang di alami pada anak.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Gambaran Perilaku Masayrakat Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di RW 02 Desa Sukahurip Kecamatan Sukatani Tahun 2019

2019•Koleksi Perpustakaan

Masalah penyakit demam berdarah dengue (DBD) jika terlambat ditangani akan menyebabkan kematian. Berdasarkan data Pusat Kesehatan Masyarakat Sukatani Kecamatan Sukatani pada tahun 2016 mengemukakan bahwa kasus demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2016 sebanyak 92 orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dalam pencegahan penyakit demam berdarah dengue. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang terdiri dari ibu dan ayah yang tinggal di RW 02 Desa Sukahurip Kecamatan Sukatani. Metode penelitian ini menggunakan Acidental sampling. Dimana jumlah populasi terdapat sebanyak 69 responden. Hasil penelitian ini didapatkan dari 69 responden yang berperilaku tidak pernah melakukan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 22 responden (31,9%), sedangkan yang berperilaku pernah melakukan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 47 responden (68,1%), responden yang bersikap tidak baik sebanyak 17 responden (24,6%), sedangkan responden yang bersikap baik sebanyak 52 responden (75,4%), didapatkan responden yang berpendidikan rendah sebanyak 23 responden (33,3%), responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 46 responden (66,7%), dan responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 23 responden (33,3%), responden yang berpengetahuan cukup sebanyak 44 responden (63,8%), dan responden yang berpengetahuan baik sebanyak 2 responden (2,9%).

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail