2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular. Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), hipertensi sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi tubuh, salah satunya adalah Sindrom Yang hati naik (Gan Yang Shang Kang). Terapi Tuina sebagai salah satu modalitas TCM diyakini mampu melancarkan aliran Qi dan darah serta menyeimbangkan fungsi organ melalui stimulasi titik-titik akupunktur tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang hati naik. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Subjek penelitian adalah pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest dengan 30 responden hipertensi Sindrom Yang Hati Naik yang dipilih secara purposive sampling. Terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) diberikan selama 15 menit, 2 kali seminggu. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter, kemudian dianalisis dengan Paired Sample T-Test atau Wilcoxon Signed Rank Test pada α = 0,05.
Penelitian menunjukkan bahwa terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang Hati Naik. Rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 162,47 menjadi 150,53 mmHg, sedangkan diastolik dari 98,23 menjadi 91,13 mmHg. Terapi Tuina dapat menjadi terapi komplementer pendamping dalam penatalaksanaan hipertensi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, kelompok kontrol, serta waktu intervensi dan pengamatan yang lebih panjang.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM) dan
merupakan salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Kasus tekanan
darah tinggi secara global cukup tinggi, yaitu satu dari tiga orang penduduk di
dunia mengalami Hipertensi. Sekitar dua pertiga dari populasi tersebut tinggal di
negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Perbandingan empat dari
lima orang penderita hipertensi tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Namun
jika negara – negara mendapatkan pengobatan yang memadai, 76 juta kematian
dapat dicegah antara tahun 2023 – 2050 (WHO, 2023).
Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi dengan sindrom akumulasi phlegma lembab di Jiao
Tengah.
Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-
eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling ,
melibatkan 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur
Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan
terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah
sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar
139 mg/dl (5 subjek = 25%) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5%).
Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan
intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10%). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan
intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl
(1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah
dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5%) dan paling rendah sebesar
76 mg/dl (2 subjek = 10%).
Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap tekanan darah
pada penderita hipertensi sindrom akumulasi phlegma lembab di jiao tengah,
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tekanan darah
sebelum dan sesudah intervensi.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Stroke iskemik merupakan salah satu penyebab utama kecacatan
dengan angka kejadian yang terus meningkat. Dalam Pengobatan Tradisional
Tiongkok (PTT), banyak kasus stroke iskemik diklasifikasikan sebagai sindrom
darah stasis, yang ditandai dengan sumbatan aliran Qi dan darah pada meridian
otak. Akupunktur dipercaya dapat membantu memulihkan fungsi motorik dengan
melancarkan sirkulasi darah dan energi vital.
Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi titik akupunktur LI4 (Hegu), LI11
(Quchi), ST36 (Zusanli), SP10 (Xuehai), dan BL17 (Geshu) terhadap peningkatan
fungsi motorik pada klien stroke dengan sindrom darah stasis.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan
one-group pretest-posttest. Sebanyak 30 klien stroke iskemik dari populasi 58 klien
dengan sindrom darah stasis di Acupuncture Center DB Bandung diberikan terapi
akupunktur dua kali per minggu selama empat minggu. Fungsi motorik dinilai
menggunakan Indeks Barthel sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data
dilakukan dengan uji normalitas, uji T berpasangan, dan uji Wilcoxon.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses fisiologis alami yang dialami oleh
setiap wanita sebagai tanda kematangan seksual. Namun, gangguan menstruasi seperti
siklus tidak teratur, perdarahan berlebihan, atau nyeri haid sering terjadi dan dapat
memengaruhi kualitas hidup wanita secara fisik, psikologis, dan sosial. Dalam
pendekatan TCM, gangguan menstruasi dipandang sebagai ketidakseimbangan Qi dan
darah, yang salah satunya dapat disebabkan oleh sindrom defisiensi Qi (Qi Xu). Salah
satu terapi yang digunakan dalam TCM untuk mengatasi gangguan ini adalah
akupunktur. Dimana akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik-titik tertentu untuk
menyeimbangkan aliran energi tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengatur
fungsi hormonal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur pada
penderita gangguan menstruasi dengan sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma
Bakti, Bandung.
Metode: penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis kuantitatif
dengan populasi sebanyak 40 dan sampling sebanyak 30 dengan kriteria inklusi dan
ekslusi. Subjek penelitian dari bulan april-juni 2025 di Klinik Akupunktur Darma Bakti,
Bandung, Jawa Barat. Sampel Wanita berusia 17-55 tahun dengan terapi akupunktur
sebanyak 10x dengan periode 2x minggu.
Hasil: Hasil Uji-t Berpasangan menunjukkan nilai t-statistik adalah 7,097 dengan
derajat kebebasan (df) 29. Nilai p (two-tailed) yang diperoleh adalah 0,0000000828.
jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yakni α=0.05.
Kesimpulan: terapi akupunktur efektif dalam mengurangi volume perdarahan
menstruasi pada penderita gangguan menstruasi dengan sindrom Qi Xu.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Peningkatan penyakit tidak menular (PTM), khususnya dislipidemia, menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Dislipidemia berkontribusi pada risiko penyakit kardiovaskular melalui akumulasi lipid dalam darah. Pengobatan konvensional umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pendekatan komplementer seperti akupunktur dari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) mulai dilirik sebagai alternatif yang efektif. Akupunktur
dipercaya dapat menyeimbangkan energi tubuh dan meningkatkan metabolisme lipid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada pasien dislipidemia sebagai upaya pengelolaan PTM yang lebih holistik..
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain preeksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di klinik akupunktur, Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur dua kali seminggu sebanyak 6 kali dan dilakukan cek total kolesterol darah sebelum dan
setelah di lakukan terapi. Hasil: Rata-rata kadar kolesterol sebelum terapi adalah 255,50 mg/dL dan menurun menjadi 251,37 mg/dL setelah terapi, dengan rata-rata penurunan 4,13 mg/dL. Uji
Paired Sample t-Test menunjukkan p-value < 0,001, menandakan perbedaan signifikan secara statistik. Hasil ini mendukung efektivitas akupunktur dalam membantu menurunkan kadar kolesterol darah sesuai prinsip TCM. Kesimpulan: Terapi akupunktur secara teratur pada titik ST36, ST40, LI4, LI11,
SP6, CV4, CV6, CV12, LV3, dan ST25 efektif membantu menurunkan kadar kolesterol darah pada penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Data WHO (2019) menunjukan bahwa 33% penduduk di negara berkembang mengalami nyeri persisten. Warga negara Inggris yang mengalami nyeri punggung bawah sekitar 17,6 juta orang dan sekitar 1,1 juta mengalami kelumpuhan tungkai bawah akibat nyeri punggung bawah. Sekitar 7,6% sampai 37% keluhan nyeri punggung bawah terjadi di Indonesia. Kondisi yang menurut fungsinya tanpa adanya keluhan sangat memperngaruhi produktivitas. Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) menyatakan bahwa rasa sakit nyeri punggung bawah disebabkan oleh ketidakharmonisan internal antara yin dan yang, qi dan darah, dan perbedaan dalam lima elemen. Akupunktur dilaksanakan untuk menyeimbangkan antara yin dan yang pada tubuh yang tidak seimbang dari sakit nyeri punggung bawah. Terapi dari akupunktur dapat meningkatkan kualitas hidup individu.
Tujuan: penelitian untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita nyeri punggung bawah di klinik akupunktur Kebun Rumput, Cimahi, Jawa Barat.
Metode: Penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan Mei-juni 2025 di klinik Akupunktur Kebun Rumput Cimahi Jawa Barat. Sampel berusia 30-50 tahun dengan terapi Akupunktur seminggu 2 kali sebanyak 6 kali dilakukan test nyeri setelah di lakukan terapi.
Hasil: dari 20 responden terpilih mengalami penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi akupunktur selama 6 kali sebanyak 1 subjek (60 %), 1 subjek (66,66 %), 1 subjek (75 %), 1 subjek (80 %), 4 subjek (83,33 %), 1 subjek (85,71 %) 2 subjek (87,5 %), 5 subjek (100 %). Rata-rata mengalami penurunan skala nyeri sebesar 82,35 %. Mekanisme kerja akupunktur terhadap nyeri punggung bawah melibatkan beberapa aspek, termasuk: akupunktur dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam titik-titik tertentu pada tubuh, yang dapat merangsang respons fisiologis, terjadi pelepasan neurotransmitter. Dalam konteks nyeri punggung bawah, akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri dan kekakuan dengan cara, yaitu: mengurangi tekanan pada saraf, mengurangi inflamasi dan peradangan, meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas, dan mengurangi stres dan kecemasanan.
Kesimpulan: Responden mengalami penurunan skala nyeri rata-rata sebesar 82,35 %. Hal ini menunjukkan bahwa akupunktur sangat efektif menurunkan skala nyeri punggung bawah. Penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi akupuntur membuat kualitas hidup penderita meningkat.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Nyeri haid (dismenore) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami wanita usia reproduksi. Hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan tingkat produktivitas, serta mengganggu kualitas hidup wanita. Salah satu metode alternatif yang digunakan untuk mengurangi nyeri haid adalah akupunktur, terutama untuk kasus dismenore akibat sindrom stagnasi qi dan xue menurut konsep pengobatan tradisional Tiongkok (PTT).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi akupunktur Titik SP 6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong), dan ST 36 (Zusanli) terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue di klinik bidan “S” Bandung.
Metode: penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi selama januari-juni 2025. Intervensi berupa terapi akupunktur dilakukan 3–5 hari sebelum menstruasi. Intensitas nyeri diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale) sebelum dan sesudah terapi. Analisis data menggunakan uji wilcoxon signed-rank test karena data tidak berdistribusi normal.
Hasil: penelitian terhadap 30 subjek, diperoleh sebanyak 15 subjek berusia 21 tahun (50 %), 7 subjek berusia 18 tahun (23.3 %), 7 subjek berusia 22 tahun (23.3 %) dan 1 subjek berusia 24 tahun (3,3%). Responden terdiri dari 18 mahasiswa (60%), 5 karyawan swasta (16.7 %) dan 7 pelajar (23.3 %). Skor skala nyeri minimum diangka 4 dan maksimum diangka 8 sebelum dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 10 responden (33.3 %) diangka 6, 9 responden (30 %) diangka 7, 9 responden (30 %) diangka 5, 1 responden ( 3.3 %) diangka 8 dan 1 responden (3.3 %) diangka 1. Skor skala nyeri minimum diangka 1 dan maksimum diangka 6 setelah dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 13 responden (43.3 %) diangka 1, 8 responden (26.7 %) diangka 2, 6 responden (20 %) diangka 3, 1 responden ( 3.3 %) diangka 4, 1 responden (3.3 %) diangka 5, dan 1 responden (3.3 %) diangka 6.
Kesimpulan: skor skala nyeri rata-rata angka sebelum terapi sebesar 6.00 dan sesudah terapi sebesar 2.06. Perbedaan rata-rata skor skala nyeri sebelum dan setelah sebesar 3.94 (65%) yang berarti terapi akupunktur efektif terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue. Perbedaan signifikan antara intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi akupuntur diperoleh dari hasil uji wilcoxon signed rank test, diperoleh nilai p = 0,000 (< 0,05)