Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

28 hasil
Subjek: Sindrom
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH TERAPI TUINA ANFA PADA TITIK SHENSHU TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PINGGANG PADA PEKERJA KANTOR SUPRA GROUP DENGAN SINDROM LEMBAB DINGIN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari (Tanjung et al., 2023). Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian (WHO, 2022). Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri (Huang et al., 2026), namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group dengan nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil dengan purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2x/minggu selama 4-6 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p0,05). Penelitian dilaksanakan di Kantor Supra Group, Jakarta Pusat pada Juni-Juli 2026. Hasil: Penelitian melibatkan 20 responden dengan karakteristik usia 21-30 tahun (55%), laki-laki (55%), dan durasi kerja ≥4 jam/hari. Rata-rata skor NRS sebelum intervensi 4,45 (nyeri sedang) menurun menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value = 0,000 (p0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping. Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), dengan penurunan rata-rata skor NRS dari 4,45 menjadi 1,15. Terapi ini aman dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.

67 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Aktivitas Fisik dan Indeks Massa Tubuh Terhadap Kualitas Hidup Perempuan yang Mengalami Psikosomatik Sindrom Perimenopause di Kampung Rawasentul Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai oleh perubahan hormonal yang dapat memicu sindrom psikosomatik dan berdampak pada kualitas hidup perempuan. Aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) diduga berperan dalam memengaruhi kualitas hidup selama masa perimenopause. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan aktivitas fisik dan IMT terhadap kualitas hidup perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause di Kampung Rawasentul Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif komparatif dengan pendekatan case-control. Sampel terdiri atas 66 responden, yaitu 33 kelompok kasus dan 33 kelompok kontrol yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF), World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF), Menopause Rating Scale (MRS), serta pengukuran IMT. Analisis data dilakukan menggunakan uji One Way ANOVA, Kruskal–Wallis, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategori aktivitas fisik maupun IMT pada seluruh domain kualitas hidup (p>0,05). Namun, pada kelompok kasus aktivitas fisik dan IMT secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan pengaruh signifikan pada seluruh domain kualitas hidup. Disimpulkan bahwa aktivitas fisik dan IMT tidak menunjukkan perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategorinya, tetapi secara simultan berpengaruh terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis pada perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause. Perempuan disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki atau senam ringan, selama sekitar 30 menit, 3–5 kali per minggu, secara rutin dan bertahap sesuai kemampuan dan mempertahankan IMT normal dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang untuk membantu menjaga kualitas hidup.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tuina Anfa pada Titik Shenshu Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pinggang pada Pekerja Kantor Supra Group dengan Sindrom Lembab Dingin

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor, dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian. Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri, namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin. Metode: Penelitian eksperimen kuasi dengan desain interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group yang mengalami nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil secara purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2 kali/minggu selama 4 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p<0,05). Hasil: Sebanyak 20 responden berpartisipasi (55% usia 21-30 tahun, 55% laki-laki, seluruhnya bekerja ≥4 jam/hari). Rata-rata skor NRS menurun dari 4,45 (nyeri sedang) menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping. Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), aman, dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Akumulasi Phlegma Lembab Jiao Tengah di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat Bandung

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM) dan merupakan salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Kasus tekanan darah tinggi secara global cukup tinggi, yaitu satu dari tiga orang penduduk di dunia mengalami Hipertensi. Sekitar dua pertiga dari populasi tersebut tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Perbandingan empat dari lima orang penderita hipertensi tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Namun jika negara – negara mendapatkan pengobatan yang memadai, 76 juta kematian dapat dicegah antara tahun 2023 – 2050 (WHO, 2023). Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan sindrom akumulasi phlegma lembab di Jiao Tengah. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling , melibatkan 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25%) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10%). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5%) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10%). Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom akumulasi phlegma lembab di jiao tengah, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Akupunktur Pada Penderita Gangguan Menstruasi Sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses fisiologis alami yang dialami oleh setiap wanita sebagai tanda kematangan seksual. Namun, gangguan menstruasi seperti siklus tidak teratur, perdarahan berlebihan, atau nyeri haid sering terjadi dan dapat memengaruhi kualitas hidup wanita secara fisik, psikologis, dan sosial. Dalam pendekatan TCM, gangguan menstruasi dipandang sebagai ketidakseimbangan Qi dan darah, yang salah satunya dapat disebabkan oleh sindrom defisiensi Qi (Qi Xu). Salah satu terapi yang digunakan dalam TCM untuk mengatasi gangguan ini adalah akupunktur. Dimana akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik-titik tertentu untuk menyeimbangkan aliran energi tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengatur fungsi hormonal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur pada penderita gangguan menstruasi dengan sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung. Metode: penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis kuantitatif dengan populasi sebanyak 40 dan sampling sebanyak 30 dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek penelitian dari bulan april-juni 2025 di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung, Jawa Barat. Sampel Wanita berusia 17-55 tahun dengan terapi akupunktur sebanyak 10x dengan periode 2x minggu. Hasil: Hasil Uji-t Berpasangan menunjukkan nilai t-statistik adalah 7,097 dengan derajat kebebasan (df) 29. Nilai p (two-tailed) yang diperoleh adalah 0,0000000828. jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yakni α=0.05. Kesimpulan: terapi akupunktur efektif dalam mengurangi volume perdarahan menstruasi pada penderita gangguan menstruasi dengan sindrom Qi Xu.

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes (Xiao Ke) Sindrom Panas Lambung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) termasuk salah satu penyakit tidak menular (PTM). Diabetes Mellitus (DM) menurut American Diabetes Association adalah sutau kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes dikenal sebagai Xiāo Kĕ dalam pengobatan tradisional tiongkok. Xiāo Kĕ ditandai dengan kondisi peningkatan asupan makanan dan minuman, peningkatan diuresis, penurunan berat badan, dan urin berbau manis keruh. Kondisi ini terjadi karena kekurangan yin, pola makan tidak teratur, serta kegagalan dalam mengatur emosi dan kelelahan Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Ndalem PUIN Daun Mas, kota Bekasi, Jawab Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden perempuan sebanyak 15 subjek (75 %) dan laki-laki sebanyak 5 subjek (25 %). Mayoritas responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 4 subjek (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi pekerjaan responden 9 karyawan (45 %), 5 wiraswasta (25 %), 5 ibu rumah tangga (25 %), dan 1 mahasiswa (5%). Sebelum dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 142 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 128.00 mg/dl. Setelah dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 121 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 106.00 mg/dl. Kesimpulan: terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 135 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 114.75 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 20.30 mg/dl. Hasil uji Paired Sample T-Test dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000, yang jauh lebih kecil dari ambang batas 0.005. Artinya, hipotesis nol (H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima, menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Tipe-2 (Xiao Ke) Sindrom Panas Lambung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penyakit Diabetes ini merupakan pintu masuk bagi penyakit- penyakit lainnya seperti stroke, penyakit jantung, infeksi kaki, kerusakan kulit atau gangrene yang dapat mengakibatkan amputasi, gagal ginjal dan bahkan disfungsi seksual sekalipun. Terapi tuina merupakan pilihan pengobatan yang aman dan efektif untuk neuropati perifer diabetik. Terapi tuina menunjukkan perbaikan dibandingkan pengobatan rutin, yang menunjukkan manfaat dalam meredakan gejala secara keseluruhan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Frekuensi responden paling banyak sebanyak 4 responden (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi responden paling sedikit sebanyak 1 responden (5%) pada usia 20, 21, 23, 30 tahun. Mayoritas responden merupakan perempuan sebanyak 12 responden (60%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 29 tahun (20%). Karakteristik subjek sebagai karyawan sebanyak 8 orang (40%) dan pekerjaan paling sedikit sebagai petugas Rumah Sakit sebanyak 2 orang (10 %). Kadar gula darah berkisar antara 131–163 mg/dL sebelum dilakukan intervensi tuina. Frekuensi paling banyak pada ukuran 138, 142, 144, 148 mg/dl (10 %). Sedangkan frekuensi paling sedikit pada penelitian responden. Setelah dilakukan intervensi terdapat perbedaan kadar gula antara 120-149 mg/dl. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupuntur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo kĕ) dengan sindrom panas lambung dengan nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 145 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 131.30 dengan perbedaan penurunan sebesar 14.00 mg/dl (9.6%).

36 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Tipe 2 (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Yin Ginjal

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) adalah sebuah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kekurangan insulin atau resistensi terhadap insulin. Penyakit DM termasuk salah satu penyakit tidak menular. Penyakit ini termasuk kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. Hiperglikemia yang terjadi akibat dari kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi yin ginjal. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di , Kota Bekasi, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: subjek penelitian terbanyak berada pada usia 27 tahun (6 subjek = 30 %), terrendah pada usia 22 tahun (1 subjek = 5 %). Distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian perempuan lebih tinggi (13 subjek = 65 %) dibandingkan dengan laki – laki (7 subjek = 35 %). Subjek penelitian terbanyak adalah wiraswasta (11 Subjek = 55 %), karyawan ( subjek = 25 %) dan ibu rumah tangga (4 subjek = 20 %). Kadar gula tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 142 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 128 mg/dl (1 subjek = 5 %). Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %). Penurunan kadar gula terbanyak sebesar 115 mg/dl (4 subjek = 20 %). Kadar gula darah yang mengalami penurunan tertinggi di angka 23 mg/dl sebanyak 3 subjek dengan presentase (15 %), sedangkan terendah diangka 18 mg/dl sebanyak 2 subjek dengan presentase (10 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi yin ginjal dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 136.25 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 115.80 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 24.45 mg/dl (17.94 %).

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Hiperaktivitas Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi sangat perlu mendapatkan perhatian dari setiap individu karena merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya hingga mendapatkan julukan The Silent Killer. Hal ini dikarenakan hipertensi dapat menyerang setiap orang tanpa adanya tanda yang muncul pada tubuh. Hipertensi diklasifikasikan penyakit tidak menular (PTM) yang dapat disebabkan gaya hidup tidak sehat maupun faktor keturunan. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) disebut Gāoxuěyā, Ganfeng (Liver Wind), Ganyang (Liver Yang), Taotong (headache), Xuangyu (dizziness), Zhongfeng (Stroke). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Griya Pahri, Kota Depok, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah laki-laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek = 40 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 33 tahun (3 subjek = 15 %), terrendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Pekerjaan subjek penelitian terbanyak adalah karyawan (10 subjek = 50 %), wiraswasta (7 subjek = 35 %) dan IRT (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 80 mmHg (1 subjek = 5 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 123 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 112 mmHg (2 subjek = 10 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 84 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 72 mmHg (1 subjek = 5 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati dengan rata-rata angka penurunan tekanan darah sistolik 135.00 mmHg dan diastolik 84.80 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 116.45 mmHg (sistolik) dan 77.75 mmHg (diastolik). Perbedaan penurunan sistolik sebesar 18.65 mmHg (13.79%) dan diastolik 7.05 mmHg (8.31%).

34 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Qi dan Yin

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit tidak menular yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan global yang signifikan, dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara-negara berkembang. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi Qi dan Yin. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Kelompok usia 30-40 tahun dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi, yaitu 12 orang (60 %) dibandingkan dengan jumlah laki – laki, yaitu 8 orang (40 %). Data subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun sejumlah 4 orang (20 %), dan data usia terendah pada usia 30 tahun berjumlah 1 orang (5 %). Data subjek penelitian terbanyak bekerja sebagai karyawan yaitu berjumlah 11 orang (55 %), bekerja sebagai pedagang sebanyak 5 orang (25 %) dan paling sedikit bekerja sebagai petugas rumah sakit sebanyak 4 orang (20 %). Jumlah total 20 subjek penelitian menunjukkan data kadar gula tertinggi sebelum dilakukan intervensi ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 141 mg/dl dan paling rendah ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 126 mg/dl. Data kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervnesi ada 2 subjek (10 %) dengan kadar 115 mg/dl dan paling rendah ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 98 mg/dl. Data kadar gula darah yang mengalami penurunan tertinggi di angka 32 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %), sedangkan terrendah diangka 21 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan Shapiro-Wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Hasil Paired Sample T-Test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai Sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Tuina memberikan pengaruh penurunan terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisien Qi dan Yin dengan angka penurunan sebesar 25.9 mg/dl dari angka sebelum intervensi dengan rata-rata 133.45 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 107.55 mg/dl.

33 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Retensi Dahak Lembab

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah dalam tubuh. Hipertensi termasuk penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Penyakit hipertensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena potensinya yang mampu mengakibatkan berbagai kondisi komplikasi, diantaranya seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok disebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek =40 %). Usia responden terbanyak 31, 34 dan 37 tahun (3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Responden terbanyak bekerja sebagai karyawan (7 subjek = 35 %), wiraswasta (5 subjek = 25 %), Ibu Rumah Tangga (5 subjek = 25 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25 %) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.25 mmHg dan diastolik 84.75 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 125.85 mmHg (sistolik) dan 80.20 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 9.50 mmHg (7.02%) dan diastolik 4.55 mmHg (5.36%).

35 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Defisiensi Yin dan Hiperaktivitas Yang

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi merupakan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara abnormal. Ini diukur dengan dua angka: tekanan sistolik (tekanan saat jantung berkontraksi) dan tekanan diastolik (tekanan saat jantung beristirahat antara detak). Ilmu Pengobatan Tradisioinal Tiongkok (PTT) menyebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng) sebagai penyakit yang mirip dengan gejala hipertensi. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom defisiensi yin hiperaktivitas yang. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tui na setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (11 subjek = 55 %) dibandingkan dengan perempuan (9 subjek =45 %). Usia responden terbanyak 33, dan 37 tahun (@3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Responden terbanyak bekerja sebagai pedagang (8 subjek = 40 %), karyawan (5 subjek = 25 %), IRT (4 subjek = 20 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (3 subjek = 15 %) dan paling rendah sebesar 81 mmHg (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 126 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 115 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 83 mmHg (3 subjek = 15 %) dan paling rendah sebesar 75 mmHg (3 subjek = 15 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom defisiensi yin hiperaktivitas yang. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.15 mmHg dan diastolik 85.55 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 120.75 mmHg (sistolik) dan 79.45 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 14.40 mmHg (10.65%) dan diastolik 6.10 mmHg (7.13%).

34 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Hiperaktivitas Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu faktor utama penyebab kematian di dunia, dengan angka kematian mencapai sekitar 7,5 juta jiwa setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, prevalensi hipertensi menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, tercatat bahwa sebanyak 34,1% penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi patofisiologis yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah melebihi batas normal, yaitu di atas 120/80 mmHg. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti sakit kepala di pelipis atau sisi kepala, pusing, telinga berdenging, gangguan pendengaran, pandangan kabur, mulut dan tenggorokan kering, gangguan tidur, mudah lelah, mudah marah, gangguan ingatan, kelemahan pada pinggang dan lutut, serta kekakuan pada leher. Terapi Akupunktur dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penyakit hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat Bandung. Sampel berusia 40-60 tahun dengan terapi akupunktur sebanyak 4 sesi terapi selama 4 hari berturut-turut dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan signifikan tekanan darah sistolik dari rata-rata 153 mmHg menjadi 130 mmHg (p = 0,000) dan tekanan darah diastolik dari 87 mmHg menjadi 75 mmHg (p = 0,000) setelah terapi akupunktur. Kesimpulan: Pengobatan Tradisional Tiongkok khususnya terapi akupunktur terbukti secara statistik signifikan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Akupunktur dapat dijadikan alternatif untuk pengelolaan hipertensi.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabates (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Yin Yang

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diantara penyakit tidak menular (PTM), salah satunya termasuk diabetes mellitus (DM). Diabetes adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes merupakan penyakit metabolik kronik sehingga apabila terlambat dideteksi atau tidak ditangani dengan tepat, maka akan dapat mengakibatkan kerusakan serius dan mengancam jiwa. Ancamannya bisa pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf (WHO, 2025). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom defisiensi yin yang. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: mayoritas responden merupakan perempuan (70%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 38 tahun (20%). Kadar gula darah berkisar antara 126–140 mg/dL sebelum dilakukan intervensi akupunktur. Intervensi yang diberikan berhasil menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada seluruh subjek, ditandai dengan penurunan kadar tertinggi menjadi 119 mg/dL dan kadar terendah mencapai 104 mg/dL. 4. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupunktur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo Kĕ) dengan sindrom defisiensi yin yang dengan nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo Kĕ) sindrom defisien yin yang dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 134.25 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 111.90 dengan perbedaan rata-rata penurunan sebesar 22.35 mg/dl.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabates (Xiao Ke) Sindrom Panas Paru

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, termasuk di Indonesia. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi dan dampaknya terhadap masyarakat. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi (14 subjek = 70 %) dibandingkan dengan laki – laki (6 subjek = 30 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun (4 subjek = 20 %), terrendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Subjek penelitian terbanyak adalah buruh pabrik (9 subjek = 45 %), pedagang ( 6 subjek = 30 %) dan IRT (5 subjek = 25 %). Sebelum dilakukan intervensi terdapat subjek penelitian dengan angka tertinggi sebesar 141 mg/dl (1 subjek =5 %) dan paling rendah 127 mg/dl (1 subjek = 5 %) dengan rata-rata 135.60 mg/dl. Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %) dengan rata-rata 110.45 mg/dl. Penurunan kadar gula tertinggi di angka 24 mg/dl sebanyak 4 subjek (20 %), sedangkan terendah diangka 19 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 135.60 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 110.45 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 25.15 mg/dl (18.54 %).

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Kencur Dalam Meredakan Gejala Batuk Pada Anak Akibat Sindrom Angin Dingin

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Sindrom angin dingin merupakan gangguan kesehatan umum pada anak yang ditandai dengan batuk, hidung tersumbat, dan produksi dahak encer. Kencur (Shā Jiāng) sebagai herbal tradisional Tiongkok diketahui memiliki sifat hangat dan pedas yang berpotensi meredakan gejala tersebut. Tujuan: Mengetahui efektivitas kencur dalam mengurangi frekuensi dan intensitas batuk pada anak dengan sindrom angin dingin berdasarkan parameter Traditional Tiongkok dan penilaian klinis. Metode: Penelitian menggunakan kuesioner observasional dengan skala penilaian frekuensi batuk (0-5) dan intensitas batuk (0-10). Partisipan terdiri dari 30 anak usia 2-12 tahun yang diberikan terapi kencur selama 7 hari. Data dianalisis secara deskriptif dan uji statistik parametrik. Hasil:Terdapat penurunan signifikan pada frekuensi batuk (rerata dari skala 4 menjadi 2) dan intensitas batuk (rerata dari skala 7 menjadi 3). Gejala penyerta seperti hidung tersumbat dan produksi dahak juga menunjukkan perbaikan. Tidak dilaporkan efek samping serius. Kesimpulan: Kencur efektif meredakan gejala batuk pada anak dengan sindrom angin dingin berdasarkan kriteria tradisional chinese medice. Penelitian lanjutan dengan desain lebih ketat dan sampel lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini.

23 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur dan Seduhan Murraya Paniculata (Jiu Li Xiang) Terhadap Penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) Pada Penderita Obesitas Sindrom Panas Lambung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Obesitas (Féi Pàng) merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengalami peningkatan signifikan di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2023, prevalensi obesitas nasional mencapai 28,7% dan lebih tinggi pada kelompok wanita usia subur. Obesitas berkontribusi pada gangguan metabolisme, risiko penyakit tidak menular, serta disfungsi hormonal dan reproduksi. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), obesitas dipandang sebagai akibat ketidakseimbangan fungsi limpa dan lambung, akumulasi kelembaban, serta sindrom panas lambung (Wei Re). Penanganan yang tepat memerlukan pendekatan holistik seperti akupunktur dan herbal. Salah satu herbal yang digunakan adalah Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng), yang secara empiris dan farmakologis memiliki efek hipolipidemik dan peluruh panas. Terapi ini diyakini dapat menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT) secara efektif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) terhadap penurunan IMT pada wanita penderita obesitas dengan sindrom panas lambung. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 20 orang wanita usia 21–36 tahun yang menjalani terapi sebanyak 6 kali selama 2 minggu di Klinik Petos Sehat Jakarta. Data dikumpulkan melalui pengukuran IMT sebelum dan sesudah intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil: Rerata IMT sebelum terapi menunjukkan nilai 30,19 kg/m² Setelah intervensi, rerata nilai IMT menurun menjadi 29,31 kg/m². Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05), yang menandakan adanya pengaruh terapi terhadap penurunan indikator obesitas. Kesimpulan: Terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan IMT pada penderita obesitas dengan sindrom panas lambung. Pendekatan integratif ini dapat menjadi alternatif terapi non-farmakologis yang efektif dan aman dalam menangani obesitas pada wanita usia subur.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Berat Badan Balita Penderita Malnutrisi (Gan Zheng) Sindrom Defisiensi Limpa Dengan Stagnasi Makanan

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Malnutrisi pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Masalah ini berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan daya tahan tubuh anak. Malnutrisi merupakan kondisi ketidakseimbangan asupan zat gizi, yang secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu undernutrition (gizi kurang) dan overnutrition (gizi lebih). Undernutrition mencakup kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight, sedangkan overnutrition berkaitan dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Salah satu penyebab malnutrisi, terutama undernutrition, adalah gangguan fungsi sistem pencernaan. Dalam pandangan pengobatan tradisional Tiongkok, kondisi ini sering dikaitkan dengan sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan. Terapi Tui Na dapat digunakan untuk memperbaiki fungsi limpa dan meningkatkan berat badan balita pada penderita malnutrisi. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan berat badan pada balita penderita malnutrisi (Gan Zheng) sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, yaitu one group pre-post test design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan 20 partisipan berusia 1-5 tahun, yang diambil dari Panti Sehat NPJ, Kota Bekasi, Jawa Barat, selama periode Maret hingga Juli 2025. Terapi Tui Na dilakukan sebanyak 6 kali dalam waktu 2 minggu, dengan melakukan pengukuran berat badan sebelum dan setelah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil: Rata-rata berat badan partisipan sebelum intervensi adalah 11,285 kg (SD 1,859), meningkat menjadi 11,600 kg (SD 1,959) setelah intervensi, dengan selisih rata-rata sebesar 0,315 kg. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p-value = 0.000, yang berarti ada perbedaan signifikan antara berat badan sebelum dan setelah terapi Tui Na. Dengan demikian, H₀ ditolak dan H₁ diterima, hal ini menunjukkan bahwa terapi Tui Na memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan berat badan. Kesimpulan: Terapi Tui Na memberikan pengaruh terhadap peningkatan berat badan balita penderita malnutrisi (Gan Zheng) sindrom defisiensi limpa dengan stagnasi makanan

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kembung di Ulu Hati (Epigastrium) Akibat Sindrom Stagnasi Q1 Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kembung merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan adanya perasaan penuh, rasa tekanan, atau rasa tidak nyaman di perut yang bisa dikarenakan penumpukan gas dalam saluran pencernaan. Data dari World Gastroenterology Organisation (WGO) menunjukkan bahwa sekitar 16-30% populasi dunia mengalami gejala kembung secara teratur. Di Indonesia, survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan pada tahun 2022 mencatat bahwa 20% responden mengeluhkan gejala kembung setidaknya satu kali dalam sebulan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan Kembung Di Ulu Hati (Epigastrium) Akibat Sindrom Stagnasi Qi Hati. Metode: Penelitian menggunakan kuasi-eksperimen dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan mei-juni 2025 di Living Clinic, Kota Medan, Sumatera Utara. Sampel berusia 20-60 tahun dengan terapi Tui Na 3 kali seminggu dengan jeda sehari selama 2 minggu. Tingkat kembung di ulu hati akan dievaluasi sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Berdasarkan uji analisis data menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai p value adalah 0,000. Karena nilai p-value < 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, sehingga kesimpulannya adalah ada pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan kembung di ulu hati (epigastrium) akibat sindrom stagnasi qi hati. Kesimpulan: Terapi Tui Na memberikan pengaruh terhadap kadar Kembung di Ulu Hati (Epigastrium) Akibat Sindrom Stagnasi Qi Hati Di Living Clinic.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Temulawak (Shu Gu Jiang Huang) Terhadap Nyeri Lambung Dengan Sindrom Panas Lambung di LKP Duan Mas

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Gangguan lambung dengan sindrom panas lambung merupakan keluhan pencernaan yang umum dijumpai dalam praktik klinis (World Gastroenterology Organization, 2021). Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) mengandung senyawa aktif seperti kurkuminoid, xanthorrhizol, dan seskuiterpen yang memiliki sifat antiinflamasi, gastroprotektif, antimikroba, dan analgesik (Ariyani et al., 2020; Riswanti et al., 2021). Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Temulawak (Shu Gu Jiang Huang) terhadap nyeri lambung dengan sindrom panas lambung. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one-group pre-test post-test (Sugiyono, 2021). Sebanyak 30 pasien di LKP Daun Mas dipilih menggunakan teknik simple random sampling (Sugiyono, 2020). Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) (Notoatmodjo, 2020) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nyeri yang signifikan (p = 0.000), dari sebagian besar kasus nyeri sedang sebelum intervensi (63,3%) menjadi nyeri ringan setelah intervensi (93,3%). Temuan ini menunjukkan bahwa Shu Gu Jiang Huang efektif dalam mengurangi nyeri lambung yang berhubungan dengan sindrom panas lambung. Kesimpulan: Shu Gu Jiang Huang terbukti secara signifikan efektif dalam meredakan nyeri lambung pada pasien dengan sindrom panas lambung, sehingga mendukung penggunaannya sebagai bagian dari terapi integratif dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail