Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

15 hasil
Subjek: tuina
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH TERAPI TUINA ANFA PADA TITIK SHENSHU TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PINGGANG PADA PEKERJA KANTOR SUPRA GROUP DENGAN SINDROM LEMBAB DINGIN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari (Tanjung et al., 2023). Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian (WHO, 2022). Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri (Huang et al., 2026), namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group dengan nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil dengan purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2x/minggu selama 4-6 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p0,05). Penelitian dilaksanakan di Kantor Supra Group, Jakarta Pusat pada Juni-Juli 2026. Hasil: Penelitian melibatkan 20 responden dengan karakteristik usia 21-30 tahun (55%), laki-laki (55%), dan durasi kerja ≥4 jam/hari. Rata-rata skor NRS sebelum intervensi 4,45 (nyeri sedang) menurun menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value = 0,000 (p0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping. Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), dengan penurunan rata-rata skor NRS dari 4,45 menjadi 1,15. Terapi ini aman dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.

67 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH TERAPI TUINA TEKNIK AN RAU TITIK AKUPUNTUR BL23 BL 25 BL 40 TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PINGGANG PADA PASIEN DEWASA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (low back pain) merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering ditemukan, dengan prevalensi global mencapai 619 juta kasus pada tahun 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi 843 juta kasus pada 2050. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi gangguan muskuloskeletal nasional sebesar 7,30%. Penatalaksanaan konvensional menggunakan OAINS bersifat simtomatik dan kurang efektif mengatasi penyebab mendasar nyeri pinggang kronis, sehingga dibutuhkan alternatif terapi komplementer seperti Tuina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23 (Shenshu), BL 25 (Dachangshu), dan BL 40 (Weizhong) terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa. Desain penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimental one group pretest-posttest, dengan sampel sebanyak 30 responden di Klinik Velda, Tanjung Priok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental one-group pretestposttest dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 30 responden di Klinik Velda, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi Tuina teknik Rou Fa diberikan sebanyak 8 kali pertemuan (2 kali/minggu selama 4 minggu). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) pada saat pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk uji normalitas dan uji Paired T-Test untuk uji hipotesis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor NRS menurun dari 4,83 (SD = 1,949) sebelum intervensi menjadi 1,03 (SD = 1,273) setelah intervensi, dengan besaran penurunan rata-rata 3,800 poin (SD = 1,064) atau setara dengan penurunan sekitar 78,7% dari skor nyeri awal. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (t = -19,571; df = 29; p = 0,000). Kesimpulan: Terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 berpengaruh signifikan secara statistik terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa di Klinik Velda.

71 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh terapi tuina pada Titik neiguan(PC6) Dan Taichong (LR3) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan sindrom yang hati naik

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular. Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), hipertensi sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi tubuh, salah satunya adalah Sindrom Yang hati naik (Gan Yang Shang Kang). Terapi Tuina sebagai salah satu modalitas TCM diyakini mampu melancarkan aliran Qi dan darah serta menyeimbangkan fungsi organ melalui stimulasi titik-titik akupunktur tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang hati naik. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Subjek penelitian adalah pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest dengan 30 responden hipertensi Sindrom Yang Hati Naik yang dipilih secara purposive sampling. Terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) diberikan selama 15 menit, 2 kali seminggu. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter, kemudian dianalisis dengan Paired Sample T-Test atau Wilcoxon Signed Rank Test pada α = 0,05. Penelitian menunjukkan bahwa terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang Hati Naik. Rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 162,47 menjadi 150,53 mmHg, sedangkan diastolik dari 98,23 menjadi 91,13 mmHg. Terapi Tuina dapat menjadi terapi komplementer pendamping dalam penatalaksanaan hipertensi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, kelompok kontrol, serta waktu intervensi dan pengamatan yang lebih panjang.

66 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Tuina Pediatrik untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang :Masalah kurang nafsu makan pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan yang sering dihadapi, terutama pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Menurut teori Pengobatan Tradisional China (TCM), limpa berperan vital dalam proses pencernaan dan transportasi sari makanan. Defisiensi Qi Limpa menyebabkan gangguan fungsi transportasi dan transformasi limpa, yang bermanifestasi sebagai penurunan nafsu makan, rasa cepat kenyang, perut kembung, dan gangguan pertumbuhan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada status gizi, daya tahan tubuh, dan perkembangan anak secara keseluruhan. Tujuan : Berbagai upaya non-farmakologis telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah terapi pijat Tuina pediatrik. Tuina merupakan teknik pemijatan yang menstimulasi titik-titik meridian untuk melancarkan peredaran darah dan memperbaiki fungsi pencernaan pada limpa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Tuina pediatrik dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental One Group Pretest-Posttest, yaitu mengukur nafsu makan anak sebelum dan sesudah pemberian intervensi Tuina. Sampel penelitian adalah anak-anak yang didiagnosis mengalami sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi Tuina pediatrik diberikan selama beberapa sesi dengan durasi 10–15 menit setiap kali perawatan, dengan menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, seperti titik limpa), titik lambung, dan titik-titik lainnya yang berfungsi memperkuat limpa dan meningkatkan nafsu makan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner penilaian nafsu makan yang telah tervalidasi, diisi sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak terdistribusi normal. Hasil :Penelitian menunjukkan adanya peningkatan nafsu makan yang signifikan pada anak setelah diberikan intervensi Tuina pediatrik. Rata-rata skor nafsu makan meningkat dari kategori cukup pada pretest menjadi kategori baik pada posttest. Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan nilai *p* = 0,003 (*p* < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan dari pijat Tuina terhadap peningkatan nafsu makan anak. Secara fisiologis, stimulasi titik meridian pada terapi Tuina meningkatkan gerakan peristaltik usus, mempercepat proses pengosongan lambung, serta mengoptimalkan sirkulasi darah dan fungsi organ pencernaan untuk penyerapan nutrisi yang lebih baik. Kesimpulan: Pijat Tuina pediatrik terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Terapi ini mampu menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, sehingga memperbaiki fungsi transportasi dan transformasi limpa yang terganggu. Implikasi: Tuina pediatrik dapat direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis yang aman, efektif, dan tanpa efek samping untuk mengatasi masalah kurang nafsu makan pada anak dengan defisiensi Qi Limpa. Griya Sehat Rauhiyyah dan fasilitas kesehatan lainnya dapat mengadopsi terapi ini sebagai bagian dari pelayanan komprehensif untuk anak-anak dengan gangguan nafsu makan. Penelitian lebih lanjut dengan desain randomized controlled trial (RCT) dan jumlah sampel yang lebih besar disarankan untuk memperkuat bukti ilmiah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Kombinasi Tuina Titik Li 11, Li 4, dan Gv 14 Terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada Demam Anak Usia 10-16 Tahun

2026•Koleksi Perpustakaan

Demam merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi kombinasi Tuina pada titik LI 11 (Quchi), LI 4 (Hegu), dan GV 14 (Dazhui) dalam menurunkan suhu tubuh anak usia 10–16 tahun dengan hipertermia. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre–post test tanpa kelompok kontrol. Sampel penelitian berjumlah 30 anak yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi dilakukan selama ±10 menit (2 menit per titik dengan kecepatan 100–120 rotasi per menit), kemudian suhu tubuh diukur pada menit ke 15, ke 30, dan ke 60 pasca-intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, rata-rata suhu tubuh partisipan adalah 38,5°C dengan mayoritas berada pada rentang 38,0–38,4°C. Setelah intervensi, terjadi penurunan suhu tubuh yang signifikan dan progresif: 0,25°C pada menit ke 15, 0,60°C pada menit ke 30, dan 0,85°C pada menit ke 60. Mayoritas subjek mencapai suhu akhir 37,0–37,4°C yang mendekati normal. Uji Paired T-Test menghasilkan nilai p = 0,000 (< 0,05) pada seluruh perbandingan, menandakan adanya perbedaan signifikan antara suhu tubuh sebelum dan sesudah intervensi. Secara fisiologis, stimulasi titik Tuina ini bekerja melalui mekanisme neuroimunologis dengan menurunkan sitokin pro inflamasi, meningkatkan vasodilatasi, dan menginduksi diaforesis. Kesimpulannya, kombinasi Tuina pada titik LI 11, LI 4, dan GV 14 terbukti efektif, aman, dan dapat dijadikan terapi komplementer non farmakologis dalam pengelolaan hipertermia pada anak usia sekolah dan remaja. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan protokol terapi komplementer berbasis bukti di bidang Traditional Chinese Medicine (TCM) dan pelayanan kesehatan pediatri.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektifitas Teknik Tuina pada Titik Shenmen dan Titik Baihui Terhadap Kualitas Tidur Pasien Insomnia Kronis di Griya Sehat Rauhiyyah

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Insomnia kronis merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun terlalu dini yang berlangsung minimal tiga kali dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan. Prevalensi insomnia kronis terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, serta kesehatan fisik dan mental. Pengobatan farmakologis sering menimbulkan efek samping dan ketergantungan, sehingga diperlukan terapi nonfarmakologis yang aman dan efektif. Teknik Tuina dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) dipercaya dapat menenangkan Shen, melancarkan sirkulasi Qi dan darah, serta meningkatkan kualitas tidur. Tujuan: Mengetahui efektivitas teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia kronis di Griya Sehat Rauhiyyah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi berupa teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) yang diberikan sebanyak 8 sesi selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample t-test setelah data dinyatakan berdistribusi normal melalui uji Shapiro-Wilk. Hasil: Rata-rata skor PSQI sebelum intervensi adalah 9,17 ± 2,08 dan setelah intervensi menurun menjadi 7,50 ± 1,58. Seluruh 30 responden mengalami penurunan skor PSQI dengan rata-rata penurunan sebesar 1,67 poin. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai t = 11,378 dengan derajat kebebasan (df) = 29 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor PSQI sebelum dan sesudah terapi Tuina. Kesimpulan: Teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien insomnia kronis di Griya Sehat Rauhiyyah. Terapi ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan berbasis bukti dalam penatalaksanaan insomnia kronis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tuina Pada Titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi dengan Sindrom Yang Hati Naik

2026•Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular. Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), hipertensi sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi tubuh, salah satunya adalah Sindrom Yang hati naik (Gan Yang Shang Kang). Terapi Tuina sebagai salah satu modalitas TCM diyakini mampu melancarkan aliran Qi dan darah serta menyeimbangkan fungsi organ melalui stimulasi titik-titik akupunktur tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang hati naik. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Subjek penelitian adalah pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest dengan 30 responden hipertensi Sindrom Yang Hati Naik yang dipilih secara purposive sampling. Terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) diberikan selama 15 menit, 2 kali seminggu. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter, kemudian dianalisis dengan Paired Sample T-Test atau Wilcoxon Signed Rank Test pada α = 0,05. Penelitian menunjukkan bahwa terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang Hati Naik. Rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 162,47 menjadi 150,53 mmHg, sedangkan diastolik dari 98,23 menjadi 91,13 mmHg. Terapi Tuina dapat menjadi terapi komplementer pendamping dalam penatalaksanaan hipertensi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, kelompok kontrol, serta waktu intervensi dan pengamatan yang lebih panjang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tuina Teknik Rou Fa Titik Akupunktur Bl 23, Bl 25, Dan Bl 40 Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pinggang pada Pasien Dewasa

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (low back pain) merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering ditemukan, dengan prevalensi global mencapai 619 juta kasus pada 2020. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi gangguan muskuloskeletal sebesar 7,30%. Penatalaksanaan konvensional menggunakan OAINS bersifat simtomatik dan kurang efektif mengatasi penyebab mendasar nyeri pinggang kronis, sehingga dibutuhkan alternatif terapi komplementer seperti Tuina. Tujuan: Menganalisis pengaruh terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretestposttest kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 30 responden di Klinik Velda, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi Tuina teknik Rou Fa diberikan sebanyak 8 kali pertemuan (2 kali per minggu selama 4 minggu). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) saat pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan Shapiro-Wilk dan pairedsamples t-test. Hasil: Rata-rata skor NRS menurun signifikan dari 4,83 (SD = 1,949) sebelum intervensi menjadi 1,03 (SD = 1,273) setelah intervensi. Penurunan rata-rata sebesar 3,800 poin (SD = 1,064) atau setara dengan 78,7% dari skor awal. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (t = -19,571; df = 29; p < 0,001). Kesimpulan: Terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 berpengaruh signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa di Klinik Velda.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tuina Anfa pada Titik Shenshu Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pinggang pada Pekerja Kantor Supra Group dengan Sindrom Lembab Dingin

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor, dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian. Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri, namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin. Metode: Penelitian eksperimen kuasi dengan desain interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group yang mengalami nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil secara purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2 kali/minggu selama 4 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p<0,05). Hasil: Sebanyak 20 responden berpartisipasi (55% usia 21-30 tahun, 55% laki-laki, seluruhnya bekerja ≥4 jam/hari). Rata-rata skor NRS menurun dari 4,45 (nyeri sedang) menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping. Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), aman, dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS TUINA PEDIATRIK UNTUK MENINGKATKAN NAFSU MAKAN PADA ANAK DENGAN SINDROM DEFISIENSI QI LIMPA DI GRIYA SEHAT RAUHIYYAH

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. Keywords: Pediatric Tuina, eating pattern, children, Spleen Qi Deficiency Syndrome.

49 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Tipe-2 (Xiao Ke) Sindrom Panas Lambung

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penyakit Diabetes ini merupakan pintu masuk bagi penyakit- penyakit lainnya seperti stroke, penyakit jantung, infeksi kaki, kerusakan kulit atau gangrene yang dapat mengakibatkan amputasi, gagal ginjal dan bahkan disfungsi seksual sekalipun. Terapi tuina merupakan pilihan pengobatan yang aman dan efektif untuk neuropati perifer diabetik. Terapi tuina menunjukkan perbaikan dibandingkan pengobatan rutin, yang menunjukkan manfaat dalam meredakan gejala secara keseluruhan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Frekuensi responden paling banyak sebanyak 4 responden (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi responden paling sedikit sebanyak 1 responden (5%) pada usia 20, 21, 23, 30 tahun. Mayoritas responden merupakan perempuan sebanyak 12 responden (60%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 29 tahun (20%). Karakteristik subjek sebagai karyawan sebanyak 8 orang (40%) dan pekerjaan paling sedikit sebagai petugas Rumah Sakit sebanyak 2 orang (10 %). Kadar gula darah berkisar antara 131–163 mg/dL sebelum dilakukan intervensi tuina. Frekuensi paling banyak pada ukuran 138, 142, 144, 148 mg/dl (10 %). Sedangkan frekuensi paling sedikit pada penelitian responden. Setelah dilakukan intervensi terdapat perbedaan kadar gula antara 120-149 mg/dl. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupuntur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo kĕ) dengan sindrom panas lambung dengan nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 145 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 131.30 dengan perbedaan penurunan sebesar 14.00 mg/dl (9.6%).

36 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Hiperaktivitas Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi sangat perlu mendapatkan perhatian dari setiap individu karena merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya hingga mendapatkan julukan The Silent Killer. Hal ini dikarenakan hipertensi dapat menyerang setiap orang tanpa adanya tanda yang muncul pada tubuh. Hipertensi diklasifikasikan penyakit tidak menular (PTM) yang dapat disebabkan gaya hidup tidak sehat maupun faktor keturunan. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) disebut Gāoxuěyā, Ganfeng (Liver Wind), Ganyang (Liver Yang), Taotong (headache), Xuangyu (dizziness), Zhongfeng (Stroke). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Griya Pahri, Kota Depok, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah laki-laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek = 40 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 33 tahun (3 subjek = 15 %), terrendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Pekerjaan subjek penelitian terbanyak adalah karyawan (10 subjek = 50 %), wiraswasta (7 subjek = 35 %) dan IRT (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 80 mmHg (1 subjek = 5 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 123 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 112 mmHg (2 subjek = 10 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 84 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 72 mmHg (1 subjek = 5 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati dengan rata-rata angka penurunan tekanan darah sistolik 135.00 mmHg dan diastolik 84.80 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 116.45 mmHg (sistolik) dan 77.75 mmHg (diastolik). Perbedaan penurunan sistolik sebesar 18.65 mmHg (13.79%) dan diastolik 7.05 mmHg (8.31%).

34 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Qi dan Yin

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit tidak menular yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan global yang signifikan, dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara-negara berkembang. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi Qi dan Yin. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Kelompok usia 30-40 tahun dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi, yaitu 12 orang (60 %) dibandingkan dengan jumlah laki – laki, yaitu 8 orang (40 %). Data subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun sejumlah 4 orang (20 %), dan data usia terendah pada usia 30 tahun berjumlah 1 orang (5 %). Data subjek penelitian terbanyak bekerja sebagai karyawan yaitu berjumlah 11 orang (55 %), bekerja sebagai pedagang sebanyak 5 orang (25 %) dan paling sedikit bekerja sebagai petugas rumah sakit sebanyak 4 orang (20 %). Jumlah total 20 subjek penelitian menunjukkan data kadar gula tertinggi sebelum dilakukan intervensi ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 141 mg/dl dan paling rendah ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 126 mg/dl. Data kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervnesi ada 2 subjek (10 %) dengan kadar 115 mg/dl dan paling rendah ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 98 mg/dl. Data kadar gula darah yang mengalami penurunan tertinggi di angka 32 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %), sedangkan terrendah diangka 21 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan Shapiro-Wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Hasil Paired Sample T-Test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai Sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Tuina memberikan pengaruh penurunan terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisien Qi dan Yin dengan angka penurunan sebesar 25.9 mg/dl dari angka sebelum intervensi dengan rata-rata 133.45 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 107.55 mg/dl.

33 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Retensi Dahak Lembab

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah dalam tubuh. Hipertensi termasuk penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Penyakit hipertensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena potensinya yang mampu mengakibatkan berbagai kondisi komplikasi, diantaranya seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok disebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek =40 %). Usia responden terbanyak 31, 34 dan 37 tahun (3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Responden terbanyak bekerja sebagai karyawan (7 subjek = 35 %), wiraswasta (5 subjek = 25 %), Ibu Rumah Tangga (5 subjek = 25 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25 %) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.25 mmHg dan diastolik 84.75 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 125.85 mmHg (sistolik) dan 80.20 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 9.50 mmHg (7.02%) dan diastolik 4.55 mmHg (5.36%).

35 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tuina Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Nyeri Lutut di Klinik Lotus Jakarta 2023

2024•Koleksi Perpustakaan

Pijat Tuina merupakan salah satu bagian dari akupuntur yang termasuk dalam teknik akupressur. Teknik ini menggunakan penekanan pada titik meridian tubuh atau garis aliran energi sehingga relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan akupuntur. Nyeri lutut merupakan penyakit yang paling sering mengenai kartilago sendi. Kartilago yang sehat akan memungkinkan tulang melakukan gerakan dengan sempurna satu sama lain dan dapaat meredam rejatan (shock) yang timbul akibat aktifitas fisik. Menurut Ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT atau TCM), dalam buku Yellow Emperor ( Huang Di Nei Jing sekitar tahun 2717-2599 sebelum masehi atau sekitar 5 ribu tahun yang lalu ) – pada bagian kitab Shu Wen, mencatat istilah yang popular yaitu : “Tong Ce Bu Tong, Bu Tong Ze Tong” dengan pengertian bila aliran Qi dan Xue itu lancar maka tidak ada terjadi nyeri/sakit, sebalik nya bila terdapat nyeri /sakit berarti aliran Qi dan Xue tidak lancar/terjadi hambatan. Tahun 2023 pada kelompok usia 40-43 tahun sebanyak 1 orang (5%), kelompok usia 44-47 tahun sebanyak 6 orang (30%), kelompok usia 48-51 tahun sebanyak 1 orang (5%), kelompok usia 52-55 tahun sebanyak 8 orang (40%) dan pada kelompok usia 56-60 tahun sebanyak 4 orang (20%), Dari total 20 responden penelitian yang mengalami penurunan skala nyeri sampai di angka 1 dan 3 sebanyak 8 responden, 12 responden sisanya mengalami penurunan derajat nyeri sampai di angka 2. Penelitian dengan 20 responden mengalami penurunan derajat nyeri diangka 1-3 yang berarti nyeri ringan. Hal ini bisa disebabkan karena faktor fisik, emosi dan rutinitas terapi dari responden itu sendiri. Faktor fisik yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh masing-masing responden dan tingkat emosi yang dimiliki oleh masing-masing responden.

46 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail