BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Gangguan lambung dengan sindrom panas lambung merupakan keluhan pencernaan yang umum dijumpai dalam praktik klinis (World Gastroenterology Organization, 2021). Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) mengandung senyawa aktif seperti kurkuminoid, xanthorrhizol, dan seskuiterpen yang memiliki sifat antiinflamasi, gastroprotektif, antimikroba, dan analgesik (Ariyani et al., 2020; Riswanti et al., 2021). Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Temulawak (Shu Gu Jiang Huang) terhadap nyeri lambung dengan sindrom panas lambung. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one-group pre-test post-test (Sugiyono, 2021). Sebanyak 30 pasien di LKP Daun Mas dipilih menggunakan teknik simple random sampling (Sugiyono, 2020). Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) (Notoatmodjo, 2020) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nyeri yang signifikan (p = 0.000), dari sebagian besar kasus nyeri sedang sebelum intervensi (63,3%) menjadi nyeri ringan setelah intervensi (93,3%). Temuan ini menunjukkan bahwa Shu Gu Jiang Huang efektif dalam mengurangi nyeri lambung yang berhubungan dengan sindrom panas lambung. Kesimpulan: Shu Gu Jiang Huang terbukti secara signifikan efektif dalam meredakan nyeri lambung pada pasien dengan sindrom panas lambung, sehingga mendukung penggunaannya sebagai bagian dari terapi integratif dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilakukan karena banyaknya balita memiliki masalah pada nafsu makan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian temulawak madu terhadap peningkatan nafsu makan pada balita dengan gizi kurang. Penelitian ini berjenis kausalitas dengan metode penelitian kuantitatif quasi eksperiment. Alat pengumpul yang digunakan adalah kuisioner CEBQ. Populasi sasaran adalah balita dengan gizi kurang di Desa Solokan wilayah kerja Puskesmas Pakisjaya Kabupaten Karawang. Subjek penelitian terdiri dari 42 balita gizi kurang, diperoleh menggunakan total sampling. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah pemberian temulawak madu sebagai variable independent dan peningkatan nafsu makan balita dengan gizi kurang sebagai dependent variable. Pengukuran variable menggunakan one grup pretest-post test. Analisa data menggunakan analisis bivariat dan analisis unvariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nafsu makan balita sebelum diberikan temulawak madu dan sesudah diberikan temulawak madu. Hal ini dibuktikan dari jumlah balita dengan nafsu makan baik meningkat yaitu sebelum pemberian temulawak madu sebesar 9.5%, sedangkan sesudah diberikan temulawak madu jumlah balita dengan nafsu makan baik sebesar 83.3%. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa temulawak madu dapat digunakan sebagai alternatif untuk memperbaiki nafsu makan balita, sehingga pemberian makan pada balita dapat optimal.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Air Susu Ibu ( ASI ) merupakan makanan yang ideal bagi pertumbuhan neonates. Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi Asi dengan berupa pemijatan dan mengonsumsi makanan bergizi berbagai macam tumbuhan yang dapat membantu pengeluaran dan produksi Asi antara lain jamu Temulawak dan daun katuk. Kandungan Temulawak merupakan jamu tradisional yang dapat membantu melancarkan produksi Asi bagi ibu nifas.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi temulawak terhadap kelancaran produksi Asi pada ibu nifas di TPMB Emi Yunita Tahun 2023.Metode penelitian yang digunakan adalah metode One Group Pretest Posttest.Pengambilan sampel dengan purposive sampling sebanyak 30 orang.Analisa data menggunakan distribusi frekuensi dan uji statistic Wilcoxon. Penelitian ini menggunakan data primer yang di ukur menggunakan lembar observasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata mengalami kenaikan produksi Asi setelah diberikan Temulawak pada kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Hasil analisis menggunakan Uji statistic Wilcoxson dengan P-value 0,000< 0,05 artinya Ho di tolak dan Ha diterima artinya ada pengaruh yang signifikan pemberian Temulawak terhadap kelancaran produksi Asi pada ibu nifas di TPMB Emi Yunita, Tahun 2023. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan terapi non invasif yang dapat ditawarkan kepada ibu menyusui dalam rangka meningkatkan produksi ASI sehingga dapat mencapai target ASI eksklusif.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Enzim 3-Chymotrypsin-Like Protease (3-CLPro), mediator inflamasi IL-6 dan IL-18 merupakan faktor yang mempercepat siklus hidup SARS-CoV-2. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) diketahui dapat menambat sitokin proinflamasi. Tujuan penelititan ini untuk mengetahui senyawa dan nilai binding energy (ΔG) yang paling negatif atau terendah yang dihasilkan oleh senyawa temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) secara in silico. Metode dilakukan dengan molecular docking secara in silico antara reseptor (enzim 3-CLPro, mediator inflamasi IL-6, IL-18) dan ligan (Curcuma xanthorrhiza Roxb) menggunakan aplikasi PyRx. Hasil molecular docking atau penambatan dari 24 senyawa temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) menunjukkan bahwa semua senyawa dapat menghambat enzim 3-Chymotrypsin Like-Protease (3-CLPro), mediator inflamasi IL-6, dan mediator inflamasi IL-18. Curcumin memiliki nilai penurunan energi yang mendekati kontrol positif boceprevir dan ivermectin dalam penghambatan enzim 3-CLPro sebesar -10,0 kcal/mol. Pada penurunan mediator inflamasi IL-6 dan IL-18, curcumin memiliki nilai yang paling negatif atau terbaik dibandingkan dengan kontrol positif boceprevir dan ivermectin -10,2 dan -10,0 kcal/mol. Maka, dapat disimpulkan bahwa senyawa dalam temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) berpotensi sebagai pengembangan obat terbaru untuk SARS- CoV-2.