Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

31 hasil
Subjek: Stroke
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stroke Iskemik di ruang Stroke Unit RS Sentra Medika Cikarang

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang : Stoke iskemik merupakan suatu kondisi yang terjadi diakibatkan oleh pasokan darah ke bagian otak tiba-tiba terganggu, karena sebagian sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran darah karena sumbatan pembuluh darah otak.Tujuan penelitian ini berhubungan untuk mengetahui faktor –faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian stroke iskemik diruang stroke unit RS.Sentra Medika Cikarang. Metode: penelitian ini bersifat survey analitik dengan pendekatan cross sectional dengan menganalisis data primer yang didapatkan dari hasil wawancara pada pasien stroke iskemik,populasi berjumlah 36 responden dengan menggunakan total sampling. Hasil penelitian : Dari hasil menunjukan mayoritas responden berumur 56-65 tahun sebanyak 17 responden (47,2%). Riwayat Hipertensi diperoleh sebanyak 26 responden (72,2%) nilai pvalue=0’000. Mayoritas Jenis kelamin laki-laki sebanyak 18 responden dengan prosentase (50%) dengan nilai pvalue= 0,032. Mayoritas responden memiliki riwayat diabetes melitus dengan 26 responden (72,2%) dengan pvalue=0,000. serta pasien dengan riwayat Merokok dengan 15 responden (41,7%)dengan nilai pvalue=0,002. Kesimpulan: ada hubungan antara hipertensi, jenis kelamin, diabetes mellitus dan merokok pada pasien stroke iskemik

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur dengan Kombinasi Modifikasi Formula Bu Yang Huan Wu Tang Terhadap Pemulihan Kekuatan Otot Pasien Stroke Sindrom Defisiensi Qi di Jakarta

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Stroke adalah kondisi klinis yang ditandai gangguan fungsi otak dengan risiko kematian atau kecacatan jika berlangsung lebih dari 24 jam. Dampaknya bisa berupa kelumpuhan, gangguan komunikasi, serta hilangnya fungsi tubuh (Noer et al., 2025). Pasien hemiplegia atau hemiparesis membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari, sebagian besar dari keluarganya. Dengan meningkatkan fungsi motorik tubuh pasien melalui terapi, maka tidak hanya berdampak pada peningkatan kesehatan dan kualitas hidup pasien, namun juga memberikan keringanan bagi keluarganya. Tujuan: membandingkan kekuatan otot dan kemandirian antara terapi akupunktur dengan kombinasi akupunktur dan modifikasi formula Bu Yang Huan Wu Tang pada pasien stroke Sindrom Defisiensi Qi di Jakarta. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental, dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-test and post-test design, dengan total 30 responden dibagi menjadi 2 kelompok terdiri dari 15 responden pada masing-masing kelompok dengan rentang usia antara 40 – 70 tahun. Kelompok kontrol hanya diberikan tindakan akupuntur dan kelompok intervensi diberikan kombinasi terapi akupuntur dan modifikasi formula Bu Yang Huan Wu Tang dengan dosis 3 kali sehari. Hasil: Kelompok kombinasi modifikasi formula dengan akupunktur menunjukkan perbedaan yang signifikan. Perbedaan ini diuji dengan menggunakan uji Mann-Whitney dengan p-value < 0,05 Kesimpulan: Penggunaan kombinasi modifikasi formula Bu Yang Huan Wu Tang dan terapi akupunktur terhadap peningkatan kekuatan otot dan kemandirian pasien dinilai lebih baik daripada hanya menggunakan terapi akupunktur saja, walaupun kedua kelompok mampu meningkatkan kekuatan otot dan kemandirian pasien.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Efektivitas Antara Core Stability Exercise dan Weight Shifting Exercise Untuk Meningkatkan Keseimbangan Dinamis Pada Pasien Post Stroke Iskemik di RSUD Pakuhaji Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Stroke adalah gangguan fungsi neurologis akibat terhambatnya aliran darah ke otak yang sering menyebabkan gangguan keseimbangan. Pada pasien post stroke iskemik fase subakut, latihan core stability exercise dan weight shifting exercise dapat digunakan untuk meningkatkan keseimbangan dinamis. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan efektivitas core stability exercise dan weight shifting exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada pasien post stroke iskemik. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen two group pretest-posttest design pada 18 pasien post stroke iskemik fase subakut yang diambil dengan teknik total sampling dan dibagi menjadi dua kelompok. Intervensi diberikan selama 4 minggu, dua kali seminggu. Keseimbangan diukur menggunakan Berg Balance Scale (BBS) dan dianalisis dengan uji Wilcoxon serta Mann–Whitney. Hasil: Hasil uji Wilcoxon dari pre-post kedua kelompok menunjukkan peningkatan keseimbangan yang signifikan. Pada kelompok core stability exercise nilai p value = 0,007 (p<0,05) sedangkan pada kelompok weight shifting exercise nilai p value = 0,008 (p<0,05). Hasil dari uji Mann–Whitney dari kedua kelompok menunjukkan nilai p value = 0,001 (p<0,05), yang menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok, dimana weight shifting exercise memberikan peningkatan lebih besar. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menyimpulkan Kedua latihan efektif meningkatkan keseimbangan dinamis pasien post stroke iskemik, namun weight shifting exercise lebih efektif. Rekomendasi : Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi fisioterapis dalam meningkatkan keseimbangan dinamis pasien post stroke dengan memprioritaskan weight shifting exercise, serta core stability exercise sebagai latihan pendukung untuk meningkatkan kontrol postural.

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Pemberian Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Dinamis Pada Lansian Pasca Stroke

2026•Koleksi Perpustakaan

Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas pada lansia yang sering menimbulkan gangguan keseimbangan, khususnya keseimbangan dinamis. Gangguan keseimbangan pada lansia pasca stroke meningkatkan risiko jatuh yang dapat berdampak pada penurunan kemandirian dan kualitas hidup. Fisioterapi memiliki peran penting dalam rehabilitasi keseimbangan, salah satunya melalui latihan keseimbangan seperti Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia pasca stroke serta membandingkan efektivitas kedua latihan tersebut. Penelitian ini menggunakan desain two group pre-test and post-test quasi experimental design. Subjek penelitian berjumlah 20 lansia pasca stroke yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 10 subjek. Kelompok I diberikan intervensi Single Leg Stand Exercise, sedangkan Kelompok II diberikan Ankle Strategy Exercise. Pengukuran keseimbangan dinamis dilakukan menggunakan Timed Up and Go Test (TUG) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada kedua kelompok. Kelompok I mengalami penurunan nilai TUG dari 34,99 ± 4,17 detik menjadi 34,08 ± 4,12 detik (p < 0,05). Kelompok II mengalami penurunan nilai TUG dari 40,39 ± 5,75 detik menjadi 39,28 ± 5,59 detik (p < 0,05). Uji perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna (p = 0,029), dengan nilai TUG post-test Kelompok I lebih rendah dibandingkan Kelompok II. Kesimpulan penelitian ini adalah Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise sama - sama berpengaruh terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia pasca stroke, namun Single Leg Stand Exercise menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam meningkatkan keseimbangan fungsional.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Foot Core Stability Exercise Dengan Pendekatan New Bobath Concept Terhadap Kemampuan Kontrol Postural Pada Pasien Pasca Stroke di RS Hermina Arcamanik Kota Bandung

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penyakit stroke merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Pada pasien dengan disfungsi neurologis, akan ada kerusakan sistem yang menghasilkan presentasi yang berbeda. Gangguan kontrol postural yang mengikuti lesi neurologis biasanya dapat menurunkan kemandirian, meningkatnya resiko jatuh, dan penurunan produksi gerakan yang terkoordinasi. Kontrol dan keseimbangan kaki sangat penting dalam meningkatkan kemampuan kontrol postural dan menjaga keseimbangan fungsional tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kontrol postural adalah foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept. Tujuan: Mengetahui pengaruh foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept terhadap kemampuan kontrol postural pasien pasca stroke di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest–posttest control group design, dengan melibatkan dua kelompok penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 36 pasien. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah total sampling, dengan semua populasi digunakan sebagai sampel. Pengukuran kontrol postural menggunakan Postural Assessment Scale for Stroke (PASS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Pada kelompok intervensi, hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,0001 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test. Kesimpulan : Foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan kontrol postural pada pasien pasca di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Reaching Movement Terhadap Peningkatan Kemampuan Aktivitas Sehari-hari Pada Pasien Pasca Stroke Dengan Disfungsi Upper Limb di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang pada populasi dewasa dan sering menimbulkan disfungsi ekstremitas atas (upper limb dysfunction) yang berdampak pada keterbatasan aktivitas sehari-hari. Gangguan fungsi ekstremitas atas menyebabkan kesulitan dalam melakukan aktivitas fungsional seperti meraih, memegang, dan memanipulasi objek. Latihan reaching movement sebagai latihan berbasis tugas (task-specific training) diyakini dapat menstimulasi neuroplastisitas melalui aktivitas gerak yang berulang dan bermakna secara fungsional. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh latihan reaching movement terhadap peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari pada pasien pasca stroke dengan disfungsi upper limb. Penelitian ini menggunakan Metode : Eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test. Subjek penelitian adalah pasien pasca stroke dengan disfungsi ekstremitas atas yang menjalani fisioterapi di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. Pengukuran fungsi motorik upper limb menggunakan Fugl-Meyer Assessment of Upper Extremity (FMA-UE), sedangkan tingkat kemandirian aktivitas sehari-hari diukur menggunakan Barthel Index sebelum dan sesudah intervensi. Hasil : penelitian menunjukkan adanya peningkatan fungsi motorik ekstremitas atas dan kemampuan aktivitas sehari-hari setelah pemberian latihan reaching movement. Kesimpulan : Dengan demikian, latihan reaching movement efektif dalam meningkatkan fungsi motorik upper limb dan kemandirian aktivitas sehari-hari pada pasien pasca stroke.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Edukasi FAST Berbasis Audiovisual Terhadap Deteksi Dini Stroke Pada Masyarakat Dengan Hipertensi di Desa Sukainda Kabupaten Bekasi 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Hipertensi menjadi faktor risiko utama karena dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah otak secara progresif. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tanda dan gejala awal stroke menyebabkan keterlambatan penanganan. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi FAST berbasis audiovisual terhadap deteksi dini pencegahan stroke pada masyarakat dengan hipertensi di Desa Sukaindah Kabupaten Bekasi Tahun 2026 Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain One Group Pretest–Posttest. Populasi berjumlah 596 penderita hipertensi, dengan sampel 86 responden menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner 15 pertanyaan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Intervensi dilakukan melalui pemutaran video edukasi FAST selama 10–15 menit. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Seluruh responden mengalami peningkatan skor setelah intervensi. Nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. Kesimpulan: Edukasi FAST berbasis audiovisual berpengaruh signifikan dalam meningkatkan deteksi dini pencegahan stroke pada masyarakat dengan hipertensi.Saran: Edukasi FAST berbasis audiovisual dapat diterapkan secara berkelanjutan di masyarakat sebagai upaya meningkatkan deteksi dini stroke serta dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya dengan jumlah sampel yang lebih besar.

42 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Kualitas Hidup Penderita Pasca Stroke

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang yang berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Terapi akupunktur, sebagai bagian dari pengobatan tradisional Tiongkok, telah digunakan secara luas sebagai terapi komplementer dalam rehabilitasi pasca stroke. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis literatur ilmiah mengenai pengaruh terapi akupunktur terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke. Metode: Studi ini menggunakan metode literatur review terhadap 15 jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2024. Data dikumpulkan dari berbagai basis data online seperti National Center of Biotechnology Information (NCBI), Frointiers in Neurology, Google Scholar, dan Garuda Ristekbrin. Hasil: Mayoritas studi menunjukkan bahwa akupunktur memberikan dampak positif terhadap aspek fisik, psikologis, dan sosial pasien pasca stroke. Terapi ini terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi motorik, mengurangi nyeri, memperbaiki kualitas tidur, dan menurunkan kelelahan serta depresi. Kesimpulan: Akupunktur merupakan terapi komplementer yang efektif dan aman untuk meningkatkan kualitas hidup penderita pasca stroke, terutama bila dikombinasikan dengan rehabilitasi konvensional.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Fungsi Gerak Pada Pasien Stroke Dengan Sindrom Hiperaktif Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Stroke merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada jaringan otak dan gangguan fungsi tubuh, terutama fungsi gerak. Stroke dapat menyebabkan kelumpuhan atau gangguan motorik pada satu sisi tubuh (hemiparesis), kesulitan berbicara, dan penurunan kemampuan sensorik. Gangguan motorik yang terjadi setelah stroke adalah salah satu penyebab utama kecacatan pada pasien stroke dan memerlukan penanganan rehabilitasi untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Terapi Akupunktur terhadap fungsi gerak pada pasien stroke dengan sindrom Hiperaktif Yang Hati. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan Quasi experimental design atau desain eksperimen semu, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 responden penelitian dari bulan maret-juni 2025 di , Kota Bekasi, Jawa Barat. Sampel berusia 41-75 tahun dengan terapi Akupunktur secara teratur 2 kali seminggu selama 8 kali. Hasil: Subjek penelitian ini terbanyak berada pada usia 46-50 tahun (4 responden = 20%) dan 66-70 tahun (4 responden = 20%), dan terendah pada usia 71-75 tahun (1 responden = 5 %). Distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 responden penelitian menunjukkan bahwa skala gerak dari pasien sebelum diberikan perlakuan paling banyak pada skala 2 dengan persentase 55% (11 responden), lalu distribusi frekuensi skala gerak pada pasien stroke setelah diberikan perlakuan adalah paling banyak pada skala 4 dengan persentase sebesar 40% (8 responden) Kenaikan perubahan skala gerak pada pasien stroke sebelum dan setelah diberikan perlakuan mengalami kenaikan paling banyak pada skala angka 2 dengan persentase sebesar 45% (9 responden). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk mendapatkan nilai pre-test 0,001 dan nilai post-test 0,001 berarti nilai signifikansi nilai <0.05, sehingga data diatas tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji Wilcoxon . Hasil Uji Wilcoxon didapat hasil berupa nilai Z dari data skala gerak pada pasien stroke yang diberi perlakuan akupunktur memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 atau +0,001, yang artinya bahwa terdapat pengaruh pemberian perlakuan akupunktur terhadap perubahan skala gerak pada pasien stroke. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan fungsi skala gerak pada pasien stroke dengan sindrom Hiperaktif Yang hati, dengan rata-rata skala gerak sebelum intervensi pada skala 2 dan skala gerak rata-rata setelah intervensi pada skala 4, maka terdapat perbedaan kenaikan skala perubahan sebesar skala 2 setelah diberikan intervensi.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Static Cycle dan Deep Breathing Exercise Pada Insan Pasca Stroke Dengan Penurunan Kardiorespirasi di RS Sentra Medika Cikarang

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Penyebab kematian tertinggi kedua di dunia di sebabkan oleh stroke dengan angka 15 juta jiwa setiap tahun nya. Rata-rata stroke bersifat iskemik karena terjadi penurunan aliran darah yang disebabkan oklusi arteri. Gejala stroke yang bersifat hemoragik sebesar 10-40% tergantung epidemiologi regional serta disebabkan pecahnya arteri cerebral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh static cycle dan deep breathing exercise pada insan pasca stroke dengan penurunan kardiorespirasi di RS Sentra Medika Cikarang. Subyek dan Metode: Penelitian ini menggunakan quasi experimental dengan desain penelitian berupa pretest-posttest twogroup. Penelitian dilakukan di Instalasi Rehabilitasi Medik Fisioterapi RS Sentra Medika Cikarang. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 16 orang dan dibagi kedalam 2 kelompok perlakuan. Masing- masing kelompok perlakuan terdiri dari 8 orang.total sampling. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah penurunan kardiorespirasi pada insan pasca stroke sedangkan variabel independen adalah static cycle dan deep breathing exercise. Data dikumpulkan menggunakan pemeriksaan 6MWT pre-test dan post-test dengan metode shapiro wilk test. Hasil: Hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh pemberian intervensi static cycle dengan intensitas ringan – sedang durasi 10 -15 menit didapatkan nilai p=0,0002 atau p<0,05 dan deep breathing exercise didapatkan nilai p=0,0002 atau p<0,05 dengan durasi 4- 5 menit menit.Kesimpulan:Dengan instrumen 6MTW untyk mengukur kebugaran kardiovaskuler secara pre test dan post test maka hasil penelitian yang didapatkan berupa terdapat pengaruh pemberian static cycle dan deep breathing exercise pada insan pasca stroke dengan penurunan kardiorespirasi.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pemberian Hidroterapi Terhadap Perbaikan Mobilitas Berjalan dan Peningkatan Kekuatan Otot Ekstremitas Bawah pada Pasien Pasca Stroke

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: . Stroke merupakan penyebabkan kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Fisioterapi sangat berperan dalam penanganan pasien pasca stroke sesuai yang di sampaikan salah satu intervensi Fisioterapi adalah hidroterapi. Hidroterapi terapi di dalam kolam renang merupakan tindakan rehabilitasi yang digunakan untuk mengoptimalkan kemandirian fungsional seseorang dengan gangguan neurologi keseimbangan. Tujuan : Untuk mengetahui pemberian hidroterapi terhadap perbaikan pola jalan dan peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke.. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental untuk mengetahui suatu intervensi yang dilakukan terhadap suatu objek penelitian. Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data penelitian. Proses ini menggunakan sistem komputerisasi program Graphpad Prism 8, dengan tingkat signifikan p<0,05. Langkah awal pengolahan data yang dilakukan yaitu melakukan uji normalitas data. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk karena jumlah sample kurang dari 50. Selanjutnya dilakukan uji unpaired T-test tidak berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna.. Hasil : Uji normalitas menggunakan Saphiro Wilk Test perlakuan TUGT sebelum nilai p value 0,59 dan sesuadah v value 0,89 artinya signifikan untuk kelompok perlakuan tersebut. Sedangkan uji normalitas Saphiro Wilk Test perlakuan MMT nilai sebelum p value 0,05 dan sesudah nilai p value 0,05. Yang artinya nilai signifikan p>0,05 yang berarti data berdistribusi normal . Unpaired t test pada pemeriksaan TUGT dengan p value 0,0098 dan MMT p value 0,0134 hasil signifikan sesuai dengan p value ( P < 0,05)

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Aerobic Exercise Terhadap Kemampuan Aktifitas Fungsional Pada Lansia Stroke

2024•Koleksi Perpustakaan

Proses penuaan adalah hal yang normal, namun bisa saja diiringi dengan masalah medis seperti terkenanya stroke salah satu masalah stroke yaitu terganggunya aktifitas fungsional pada lansia stroke. Faktor-faktor utama stroke pada lansia adalah usia semakin menua akan semakin rentan terkena hipertensi, penyakit jantung, obesitas, diabetes mellitus, stress emosional, merokok, peminum alcohol dan kurangnya berolahraga. Gangguan aktifitas fungsional pada lansia disebabkan oleh lamanya menderita stroke transisi dari ketergantungan aktivitas hidup sehari-hari menjadi independen terjadi terutama pada tahun pertama pacsa stroke sampai 5 tahun pasca stroke dan gangguan kognisi menunjukkan gangguan kognisi termasuk gangguan memori kerja memiliki korelasi yang signifikan dengan kemandirian aktivitas hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerobic exercise terhadap kemampuan aktifitas fungsioanal pada lansia stroke. Metode penelitian quasi experiment menggunakan desain penelitian one group pre-test and post-test. Jumlah responden 20 orang lansia yang berusia 60 tahun keatas yang di kunjungi ke rumah – rumah di pasien nya di bawah Yayasan Senyum Sehat Home Care yang dipilih dengan satu kelompok perlakuan dengan di berikan aerobic exercise selama 4 minggu, Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengukuran menggunakan indexs barther pre-test dan post-test. Hasil: satu kelompok pengujian menggunakan unpaired t-test didapatkan hasil p value = 0,0314* pada pasca lansia stroke.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Core Strengthening dan Pelvic PNF Pada Keseimbangan Berdiri dan Berjalan Pada Lansia Pasca Stroke

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Stroke merupakan penyebab kedua dalam kematian dan ketiga kecacatan di dunia. Kematian mendadak beberapa sel otak yang disebabkan adanya kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak karena penyumbatan atau pecah dari arteri ke otak. Akibat stroke ditentukan bagian mana otak yang terjadi cedera (kanan atau kiri), hal ini mempengaruhi perubahan yang terjadi setelah serangan stroke yaitu kelumpuhan sebagian belah tubuh (hemiplegi) ataupun dimana sebelah bagian tubuh dirasakan tidak berasa (hemiparesis). Pasien stroke akan mengalami gangguan keseimbangan. Tujuan : Mengetahui pengaruh penambahan Core Stengthening dan Pelvic PNF terhadap keseimbangan berdiri dan berjalan pada lansia. Metode : Eksperimental dengan rancangan Three Group Pre Test dan Post Test. Responden dipilih 3 kelompok, yaitu pada lansia post stroke dengan gangguan keseimbangan statis dan dinamis. Setiap sampel diberikan perlakuan pemberian latihan core strengthening dan Pelvic PNF. Hasil : Uji normalitas data menggunakan shapiro wilk test dengan p>0,05. Berdasarkan tabel uji normalitas menunjukkan distribusi data penelitian ini adalah normal, hasil unpaired test mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Untuk core strengthening pada kelompok perlakuan menunjukkan terdapat perubahan p value=<0,0435, pelvic PNF menunjukkan ada perubahan p value=<0,0297. Core strengthening dan pelvic PNF menunjukkan perubahan signifikan dengan p value=<0,0012.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Core Stability Exercise Terhadap Fungsi Trunk dan Aktivitas Fungsional Pada Lansia Pasca Stroke

2024•Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian latihan stabilitas inti terhadap fungsi trunk dan aktivitas fungsional pada lansia pasca stroke. Dua hipotesis utama diuji dalam penelitian ini: pertama, apakah latihan stabilitas inti berdampak signifikan terhadap fungsi trunk pada lansia pasca stroke; dan kedua, apakah latihan stabilitas inti berdampak signifikan terhadap aktivitas fungsional pada lansia pasca stroke. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimental. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan stabilitas inti terhadap peningkatan fungsi trunk dan aktivitas fungsional pada lansia pasca stroke. Temuan ini menunjukkan bahwa latihan stabilitas inti dapat menjadi intervensi yang efektif dalam program rehabilitasi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia pasca stroke.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektifitas Latihan Range of Motion Dengan Penambahan Bola Karet Terhadap Peningkatan Fungsi Menggenggam Pada Pasien Stroke di Rumah Sakit Izza Karawang Tahun 2024

2024•Koleksi Perpustakaan

Stroke adalah suatu kondisi yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak dengan gejala seperti kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan dan kekuatan otot menurun. Salah satu peran fisioterapi pada kasus Stroke yaitu mengembalikan fungsional tubuh pasien dengan terapi latihan. Desain penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan two group pre-post test. Dengan sampel berjumlah 20 orang yang terbagi menjadi dua, yakni kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. Penelitian dilaksanakan selama 4 minggu di Rumah Sakit Izza Karawang yang terdiri dari satu kali pre test, dengan pertemuan 2 kali seminggu dengan durasi 20-30 menit dan satu kali post test. Instrument yang digunakan adalah sollerman hand functional test. Hasil :Uji normalitas menggunakan Saphiro Wilk test menghasilkan nilai signifikansi p>0.05. Dari hasil uji paired test kedua kelompok di dapatkan nilai signifikan dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Selisih persentase pre test dan post test pada kelompok perlakuan 1 sebesar 22,6 dan pada kelompok perlakuan 2 sebesar 14,9. Kesimpulan: Intervensi latihan range of motion dengan penambahan bola karet dan latihan range of motion dapat mempengaruhi kemampuan fungsional menggenggam. Dengan hasil lebih efektif pada intervensi latihan range of motion dengan penambahan bola karet dalam meningkatkan kemampuan fungsional menggenggam pasien dengan stroke.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh kombinasi pemberian core strengthening dan pelvic PNF terhadap keseimbangan berdiri dan berjalan pada lansia pasca stroke.

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cerebrovascular accident atau biasa kita kenal dengan istilah stroke merupakan penyebab utama kedua dalam kematian dan penyebab utama ketiga kecacatan di dunia. Stroke merupakan kematian mendadak beberapa sel otak yang dikarenakan adanya kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak hilang karena penyumbatan atau pecah dari arteri ke otak (Johnson, Onuma, Owolabi, & Sachdev, 2016). Akibat stroke ditentukan oleh bagian mana otak yang terjadinya cedera, baik yang mempengaruhi otak bagian kanan atau kiri, dan hal ini akan mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi setelah terserang stroke yaitu kelumpuhan sebagian belah tubuh (hemiplegi) ataupun hemiparesis dimana sebelah bagian tubuh yang terkena dirasakan tidak bertenaga. Pasien stroke juga akan mengalami berbagai gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan pada pasien stroke berhubungan dengan ketidak mampuan gerak otot yang menurun sehingga keseimbangan tubuh menurun. (Nisa et all,2019) Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka hal inilah yang menjadi landasan bagi peneliti untuk melakukan penelitian tentang pengaruh penambahan Core Strengthening dan pelvic PNF terhadap keseimbangan berdiri dan berjalan pada lansia pasca stroke. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan three group pre test dan post test. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok pasien, dimana masing-masing kelompok pasien akan dinilai efektifitas pemberian latihan. Kelompok yang diteliti adalah pasien sampel yaitu pada lansia post stroke dengan gangguan dengan gangguan keseimbangan statis dan dinamis Total sampel yang diperoleh berdasarkan kriteria inklusi adalah 30 orang, dimana terdapat 30 sampel lansia post stroke. Setiap sampel diberikan perlakuan berupa pemberian latihan Core Strengthening, Pelvic PNF, Pelvic PNF dan Core Strengthening. Uji normalitas data dengan menggunakan Shapiro wilk test dengan p ˃ 0,05.Berdasarkan table uji normalitas data penelitian diatas menunjukan bahwa distribusi data dalam penelitian ini adalah berdistribusi normal dengan p ˃ 0,05 Berdasarkan hasil unpaired T-test pada masing-masing mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Untuk core strengthening pada kelompok perlakuan menunjukan bahwa terdapat perubahan dengan p Value = 0,0435, Pelvic PNF pada kelompok perlakuan menunjukan bahwa terdapat perubahan dengan p Value = 0,0297, Core Strengthening dan Pelvic PNF pada kelompok perlakuan menunjukan bahwa terdapat perubahan yang signifikan dengan p Value = 0,0012.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIFITAS LATIHAN RANGE OF MOTION DENGAN PENAMBAHAN BOLA KARET TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI MENGGENGGAM PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT IZZA KARAWANG TAHUN 2024

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRACT Stroke is a condition that occurs when the blood supply to the brain is disrupted due to blockage or rupture of cerebral blood vessels with symptoms such as hemiparesis, slurred speech, difficulty walking, loss of balance and decreased muscle strength. One of the roles of physiotherapy in stroke cases can be treated with exercise therapy, with the intervention method of range of motion exercises with the addition of rubber balls. In order to help improve functional grasping abilities. To determine the effectiveness of range of motion training with the addition of rubber ball training on functional grasping abilities. This research design uses a quasi-experiment with a two group pre-post test. With a sample of 20 people selected by purposive sampling who were divided into two, namely treatment group 1 and treatment group 2. The research was carried out for 4 weeks consisting of one pre-test, with meetings 2 times a week with a duration of 20-30 minutes and one post test times. The instrument used was the Sollerman hand functional test. The normality test using the Shapiro Wilk test produced a significance value of p>0.05. From the results of the paired test, the two groups obtained a significant value with a value of p=0.000 (p0.05). The difference in the percentage of pre test and post test in treatment group 1 was 22.6 and in treatment group 2 was 14.9. Range of motion training intervention with the addition of a rubber ball and range of motion training can influence functional grasping abilities. With more effective results in range of motion training interventions with the addition of rubber balls in improving the functional grasping ability of patients with stroke

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemberian Hidroterapi terhadap Perbaikan Mobilitas Berjalan dan Peningkatan Kekuatan Otot Ekstremitas Bawah pada Pasien Pasca Stroke

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pendahuluan : Penyakit stroke masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan, bukan hanya di Indonesia namun di dunia. Stroke juga merupakan penyebabkan kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Fisioterapi sangat berperan dalam penanganan pasien pasca stroke sesuai yang di sampaikan . Salah satu intervensi Fisioterapi adalah hidroterapi. Hidroterapi terapi di dalam kolam renang merupakan tindakan rehabilitasi yang digunakan untuk mengoptimalkan kemandirian fungsional seseorang dengan gangguan neurologi. Tujuan : Untuk mengetahui pemberian hidroterapi terhadap perbaikan pola jalan dan peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke. Sampel : : Terdiri dari 16 orang pasien Fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Kota Bandung dipilih berdasarkan purpose sampling dengan menggunakan tabel assessmen yang tersedia dan kriteria yang sudah ditetapkan. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental untuk mengetahui suatu intervensi yang dilakukan terhadap suatu objek penelitian. Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data penelitian. Proses ini menggunakan sistem komputerisasi program Graphpad Prism 8, dengan tingkat signifikan p0,05. Langkah awal pengolahan data yang dilakukan yaitu melakukan uji normalitas data. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk karena jumlah sample kurang dari 50. Selanjutnya dilakukan uji unpaired T-test tidak berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna. Hasil : Uji normalitas menggunakan Saphiro Wilk Test perlakuan TUGT sebelum nilai p value 0,59 dan sesuadah v value 0,89 artinya signifikan untuk kelompok perlakuan tersebut. Sedangkan uji normalitas Saphiro Wilk Test perlakuan MMT nilai sebelum p value 0,05 dan sesudah nilai p value 0,05. Yang artinya nilai signifikan p>0,05 yang berarti data berdistribusi normal. Kesimpulan : Ada perbaikan mobilitas berjalan dan peningkatan kekuatan otot ekstremitas bawah setelah pemberian hidroterapi dengan pengukuran Timed Up & Go Test (TUGT) dan Manual Muscle Test (MMT) sebelum dan sesudah dengan nilai p 0,05.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN AEROBIC EXERCISE TERHADAP KEMAMPUAN AKTIFITAS FUNGSIONAL PADA LANSIA STROKE

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Proses penuaan adalah hal yang normal, namun bisa saja diiringi dengan masalah medis seperti terkenanya stroke salah satu masalah stroke yaitu terganggunya aktifitas fungsional pada lansia stroke. Faktor-faktor utama stroke pada lansia adalah usia semakin menua akan semakin rentan terkena hipertensi, penyakit jantung, obesitas, diabetes mellitus, stress emosional, merokok, peminum alcohol dan kurangnya berolahraga. Gangguan aktifitas fungsional pada lansia disebabkan oleh lamanya menderita stroke transisi dari ketergantungan aktivitas hidup sehari-hari menjadi independen terjadi terutama pada tahun pertama pacsa stroke sampai 5 tahun pasca stroke dan gangguan kognisi menunjukkan gangguan kognisi termasuk gangguan memori kerja memiliki korelasi yang signifikan dengan kemandirian aktivitas hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerobic exercise terhadap kemampuan aktifitas fungsioanal pada lansia stroke. Metode penelitian quasi experiment menggunakan desain penelitian one group pre-test and post-test. Jumlah responden 20 orang lansia yang berusia 60 tahun keatas yang di kunjungi ke rumah – rumah di pasien nya di bawah Yayasan Senyum Sehat Home Care yang dipilih dengan satu kelompok perlakuan dengan di berikan aerobic exercise selama 4 minggu, Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengukuran menggunakan indexs barther pre-test dan post-test. Hasil: satu kelompok pengujian menggunakan unpaired t-test didapatkan hasil p value = 0,0314* pada pasca lansia stroke.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stroke Pada Pasien Diabetes Melitus di Ruang Perawatan Dewasa RS Sentra Medika Cisalak Tahun 2022

2023•Koleksi Perpustakaan

Diabetes melitus dan stroke di Indonesia prevalensinya sebesar 0,4%. Tingginya prevalensi DM dengan komplikasi di RS Sentra Medika Cisalak yaitu sebesar 614 kasus dalam tahun 2022 atau sekitar 73 % dan Kejadin DM dengan stroke terdapat 26 kasus deng an presentase kejadian 19, 4 % yang merupakan faktor risiko utama pada pasien DM dan menimbulkan lama rawat saat dalam perawatan di rumah sakit. Penelitian dilakukan periode April – Desember 2022 dengan jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik menggunakan desain studi cross sectional. Populasi berjumlah 134 responden dan teknik pengambilan sampel menggunakan Random Sampling dan Analisis data hasil penelitian menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan Terdapat 26 dari 134 orang (19.4%) yang menderita stroke pada pasien Diabetes Melitus. Hasil uji statistik dengan menggunakan Chi-square diperoleh hubungan atara hipertensi dengan stroke pada pasien Diabetes Melitus didapatkan (p valeu <0,05) dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara hipertensi dengan stroke pada pasien Diabetes Melitus, lalu hasil uji statistik hubungan antara dislipidemia dengan stroke pada pasien diabetes melitus didapatkan (p valeu <0,05) artinya ada hubungan signifikan antara keduanya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan signifikan antara faktor hipertensi dan dislipidemia dengan stroke pada pasien Diabetes Melitus diruangan perawatan dewasa RS Sentra Medika Cisalak. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor yang berhubungan lain seperti durasi menderita Diabetes Melitus, aktifitas fisik dan merokok yang juga berhubungan dengan kejadian stroke.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail