2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas pada lansia yang sering menimbulkan gangguan keseimbangan, khususnya keseimbangan dinamis. Gangguan keseimbangan pada lansia pasca stroke meningkatkan risiko jatuh yang dapat berdampak pada penurunan kemandirian dan kualitas hidup. Fisioterapi memiliki peran penting dalam rehabilitasi keseimbangan, salah satunya melalui latihan keseimbangan seperti Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia pasca stroke serta membandingkan efektivitas kedua latihan tersebut.
Penelitian ini menggunakan desain two group pre-test and post-test quasi experimental design. Subjek penelitian berjumlah 20 lansia pasca stroke yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 10 subjek. Kelompok I diberikan intervensi Single Leg Stand Exercise, sedangkan Kelompok II diberikan Ankle Strategy Exercise. Pengukuran keseimbangan dinamis dilakukan menggunakan Timed Up and Go Test (TUG) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test.
Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada kedua kelompok. Kelompok I mengalami penurunan nilai TUG dari 34,99 ± 4,17 detik menjadi 34,08 ± 4,12 detik (p < 0,05). Kelompok II mengalami penurunan nilai TUG dari 40,39 ± 5,75 detik menjadi 39,28 ± 5,59 detik (p < 0,05). Uji perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna (p = 0,029), dengan nilai TUG post-test Kelompok I lebih rendah dibandingkan Kelompok II.
Kesimpulan penelitian ini adalah Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise sama - sama berpengaruh terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia pasca stroke, namun Single Leg Stand Exercise menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam meningkatkan keseimbangan fungsional.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka
panjang pada populasi dewasa dan sering menimbulkan disfungsi ekstremitas atas
(upper limb dysfunction) yang berdampak pada keterbatasan aktivitas sehari-hari.
Gangguan fungsi ekstremitas atas menyebabkan kesulitan dalam melakukan
aktivitas fungsional seperti meraih, memegang, dan memanipulasi objek. Latihan
reaching movement sebagai latihan berbasis tugas (task-specific training) diyakini
dapat menstimulasi neuroplastisitas melalui aktivitas gerak yang berulang dan
bermakna secara fungsional. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh latihan
reaching movement terhadap peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari pada
pasien pasca stroke dengan disfungsi upper limb. Penelitian ini menggunakan
Metode : Eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test. Subjek penelitian
adalah pasien pasca stroke dengan disfungsi ekstremitas atas yang menjalani
fisioterapi di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. Pengukuran fungsi motorik upper
limb menggunakan Fugl-Meyer Assessment of Upper Extremity (FMA-UE),
sedangkan tingkat kemandirian aktivitas sehari-hari diukur menggunakan Barthel
Index sebelum dan sesudah intervensi. Hasil : penelitian menunjukkan adanya
peningkatan fungsi motorik ekstremitas atas dan kemampuan aktivitas sehari-hari
setelah pemberian latihan reaching movement. Kesimpulan : Dengan demikian,
latihan reaching movement efektif dalam meningkatkan fungsi motorik upper
limb dan kemandirian aktivitas sehari-hari pada pasien pasca stroke.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pra-lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami peningkatan parameter kardiovaskular, terutama tekanan darah yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis sama-sama terbukti dapat menurunkan tekanan darah melalui mekanisme peningkatan fungsi endotel dan penurunan resistensi vaskular. Namun, penelitian yang secara langsung membandingkan efektivitas kedua jenis latihan ini pada kelompok pra-lansia masih terbatas.
Tujuan: Membandingkan efektivitas latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pra-lansia.
Metode: Studi ini mengadopsi desain eksperimental semu (quasi-experimental) dengan pendekatan two-group pretest-posttest. Partisipan penelitian berjumlah 28 individu pra-lansia berusia 45-59 tahun yang telah lolos seleksi berdasarkan kriteria inklusi yang ditetapkan. Mereka kemudian dibagi secara acak ke dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok senam aerobik low impact (14 orang) dan kelompok latihan sepeda statis (14 orang). Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 1 kali per minggu, durasi 60 menit per sesi. Tekanan darah diukur sebelum dan setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji paired t-test atau Wilcoxon untuk melihat perubahan dalam kelompok, serta independent t-test atau Mann-Whitney untuk membandingkan perbedaan antar kelompok (p<0,05).
Hasil: Pada kelompok aerobik low impact terjadi penurunan rerata tekanan darah sistolik yang bermakna secara statistik, yaitu dari 145,86 mmHg menjadi 132,29 mmHg dengan selisih -13,57 mmHg (p = 0,014), dengan effect size large (d = 1,30). Tekanan darah diastolik menurun signifikan dari 89,86 mmHg menjadi 83,43 mmHg (Δ = -6,43 mmHg; p = 0,005; d = 1,63). Pada kelompok sepeda statis, tekanan darah sistolik menurun signifikan dari 140,29 mmHg menjadi 129,43 mmHg (Δ = -10,86 mmHg; p = 0,015; d = 1,27), sedangkan tekanan darah diastolik menurun tidak signifikan dari 89,29 mmHg menjadi 85,14 mmHg (Δ = -4,14 mmHg; p = 0,137; d = 0,65). Tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pada penurunan tekanan darah sistolik (p = 0,605) maupun diastolik (p = 0,436).
Kesimpulan: Latihan aerobik low impact efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan pada pra-lansia. Latihan sepeda statis efektif menurunkan tekanan darah sistolik secara signifikan, namun tidak signifikan pada tekanan darah diastolik. Meskipun tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok, kedua jenis latihan memberikan efek klinis yang besar (large effect size) pada tekanan darah sistolik, dengan latihan aerobik low impact memberikan gambaran keunggulan pada penurunan diastolik. Kedua latihan direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis untuk pengendalian tekanan darah pada komunitas pra-lansia.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Ischialgia merupakan kondisi nyeri radikuler yang sering dialami oleh lansia
akibat iritasi atau penekanan pada saraf ischiadicus. Kondisi ini dapat menyebabkan
keterbatasan aktivitas fungsional serta penurunan kualitas hidup pada lansia.
Berbagai intervensi fisioterapi digunakan untuk mengurangi nyeri pada kondisi ini,
di antaranya McKenzie Exercise dan Neural Mobilization yang sering
dikombinasikan dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)
untuk meningkatkan efek analgesik melalui mekanisme biomekanik dan
neurofisiologis. Namun demikian, perbandingan efektivitas penambahan TENS
pada kedua metode latihan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan efektivitas penambahan TENS pada McKenzie Exercise dan
Neural Mobilization terhadap penurunan intensitas nyeri pada lansia dengan
ischialgia di Rumah Sakit Husada.
Jenis Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode quasi-
eksperimental komparatif. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok
intervensi, yaitu kelompok yang mendapatkan TENS dengan McKenzie Exercise
dan kelompok yang mendapatkan TENS dengan Neural Mobilization. Pengukuran
intensitas nyeri dilakukan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan
sesudah pemberian intervensi. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk
melihat perubahan dalam kelompok dan perbedaan antar kelompok perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan intensitas nyeri yang
signifikan pada masing-masing kelompok setelah pemberian intervensi (p < 0,05).
Selain itu, hasil uji komparatif antar kelompok menunjukkan adanya perbedaan
besarnya penurunan nyeri antara kedua kelompok perlakuan.
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penambahan TENS pada McKenzie
Exercise maupun Neural Mobilization efektif dalam menurunkan intensitas nyeri
pada lansia dengan ischialgia, dengan perbedaan tingkat efektivitas antara kedua
intervensi tersebut.