BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis, dan perilaku yang muncul menjelang menstruasi serta dapat menimbulkan nyeri dan mengganggu aktivitas remaja putri. Pumpkin seeds (Cucurbita moschata) mengandung magnesium, zinc, asam lemak tak jenuh, dan senyawa bioaktif yang berpotensi membantu mengurangi intensitas nyeri PMS. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi pumpkin seeds (Cucurbita moschata) terhadap intensitas nyeri Premenstrual Syndrome pada remaja putri di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel sebanyak 38 remaja putri dipilih menggunakan purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Responden diberikan pumpkin seeds sangrai sebanyak 28 gram per hari selama 10 hari berturut-turut, dimulai pada awal fase luteal. Intensitas nyeri diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) 0–10. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebelum intervensi, sebagian besar responden mengalami nyeri sedang sebanyak 18 responden (47,4%), nyeri berat 12 responden (31,6%), dan nyeri ringan 8 responden (21,1%), dengan rata-rata skor 5,79 ± 2,220. Setelah intervensi, 24 responden (63,2%) mengalami nyeri ringan, 9 responden (23,7%) tidak nyeri, dan 5 responden (13,2%) mengalami nyeri sedang, dengan rata-rata skor 1,92 ± 1,683. Terjadi penurunan rata-rata intensitas nyeri sebesar 3,87 poin. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p < 0,001. Penelitian dilakukan tahun 2026. Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian pumpkin seeds (Cucurbita moschata) sebanyak 28 gram per hari selama 10 hari terhadap penurunan intensitas nyeri Premenstrual Syndrome pada remaja putri
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Premenstrual syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala yang muncul 2–14 hari sebelum menstruasi dan dialami sekitar 90% perempuan usia reproduktif. Salah satu faktor yang memengaruhi PMS adalah stres, terutama pada remaja putri SMA yang rentan mengalami tekanan akademik. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan keparahan gejala PMS pada siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan desain penelitian analitik korelasional. Sampel penelitian ini sebanyak 282 siswi dihitung menggunakan rumus slovin dengan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner DASS-Y dan SPAF. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No: 005143/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025). Hasil: Uji korelasi Spearman diperoleh nilai sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05 dan correlation coeffisien sebesar 0,555. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan keparahan gejala PMS pada siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara dengan kategori kekuatan hubungan kuat dan arah positif. Saran: Remaja putri diharapkan dapat memahami hubungan tingkat stres dengan keparahan gelaja PMS, sehingga mampu mengendalikan stres dan mengatur gaya hidup sehat, sedangkan peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel kondisi fisik dan gaya hidup dengan metode lebih beragam untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
BookOpen AccessPDF tersedia
2023•Koleksi Perpustakaan
Premenstrual syndrome merupakan keluhan yang biasanya terjadi satu minggu sebelum datangnya haid dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti. PMS sering dialami oleh wanita usia reproduksi pada usia 14-49 tahun. Gejala PMS yang munculnya berupa rasa cemas, depresi, suasana hati yang tidak stabil, kelelahan, pertambahan berat badan, pembengkakan, sakit pada payudara, kejang dan nyeri punggung yang dapat timbul sekitar 7-10 hari sebelum datangnya haid dan memuncak pada saat haid timbul. Dampak yang bisa ditimbulkan dari PMS adalah terganggunya aktivitas sehari-hari, seperti menurunnya produktivitas kerja, sekolah dan belajar. Untuk mengurangi gejala PMS bisa dengan melakukan aktivitas olahraga seperti senam, jogging, berjalan kaki, berenang dan bersepeda dengan teratur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara aktivitas olahraga terhadap kejadian premenstrual syndrome pada siswi di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023.
Jenis penelitian yang dilakukan menggunakan penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah sejumlah 235 remaja putri di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan stratified random sampling dan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak
148 siswi. Analisis data yang digunakan yaitu Chi-Square.
Hasil analisis dengan menggunakan uji Chi-Square menghasilkan nilai p 0,031 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara aktivitas olahraga terhadap kejadian premenstrual syndrome pada siswi di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun
2023. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara aktivitas olahraga terhadap kejadian premenstrual
syndrome pada siswi di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang : Premenstrual syndrome merupakan keluhan yang biasanya terjadi satu minggu sebelum datangnya haid dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti. PMS sering dialami oleh wanita usia reproduksi pada usia 14-49 tahun. Gejala PMS yang munculnya berupa rasa cemas, depresi, suasana hati yang tidak stabil, kelelahan, pertambahan berat badan, pembengkakan, sakit pada payudara, kejang dan nyeri punggung yang dapat timbul sekitar 7-10 hari sebelum datangnya haid dan memuncak pada saat haid timbul. Dampak yang bisa ditimbulkan dari PMS adalah terganggunya aktivitas sehari-hari, seperti menurunnya produktivitas kerja, sekolah dan belajar. Untuk mengurangi gejala PMS bisa dengan melakukan aktivitas olahraga seperti senam, jogging, berjalan kaki, berenang dan bersepeda dengan teratur. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara aktivitas olahraga terhadap kejadian premenstrual syndrome pada siswi di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023. Metode : Jenis penelitian yang dilakukan menggunakan penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah sejumlah 235 remaja putri di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan stratified random sampling dan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 148 siswi. Analisis data yang digunakan yaitu Chi-Square. Hasil : Hasil analisis dengan menggunakan uji Chi-Square menghasilkan nilai p 0,031 (p0,05) yang berarti terdapat hubungan antara aktivitas olahraga terhadap kejadian premenstrual syndrome pada siswi di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023. Kesimpulan : Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara aktivitas olahraga terhadap kejadian premenstrual syndrome pada siswi di SMK Darul Amal Babelan Bekasi Tahun 2023.