BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kehamilan trimester III merupakan periode yang dapat meningkatkan kecemasan ibu karena semakin dekat dengan proses persalinan. Kecemasan yang tidak dikelola dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu dalam menghadapi persalinan. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi kecemasan adalah aromaterapi lavender. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di RSIA Bunda Trinanda Karawang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest tanpa kelompok kontrol. Sampel penelitian berjumlah 31 ibu hamil trimester III yang mengalami kecemasan dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum diberikan aromaterapi lavender, sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 24 responden (77,4%), kecemasan sedang sebanyak 6 responden (19,4%), dan tidak mengalami kecemasan sebanyak 1 responden (3,2%), dengan rata-rata skor HARS sebesar 18,32. Setelah diberikan aromaterapi lavender, sebanyak 25 responden (80,7%) mengalami kecemasan ringan, 5 responden
(16,1%) tidak mengalami kecemasan, dan 1 responden (3,2%) mengalami kecemasan sedang, dengan rata-rata skor HARS menurun menjadi 16,00. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z = -4,651 dan p-value = 0,000 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender. Kesimpulan: Pemberian aromaterapi lavender berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di RSIA Bunda Trinanda Karawang Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hiperbilirubin sama dengan ikterus neonatorum setelah hasil laboratorium yang membuktikan peningkatan kadar
bilirubin. Hiperbilirubin dapat diakibatkan proses fisiologis dan patologis. Hiperbilirubin pada bayi kurang dari satu bulan
adalah penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan bilirubin di dalam jaringan tubuh mengakibatkan kulit, mukosa, dan
sklera berubah warna sehingga menjadi kuning, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor
– factor (masa gestasi, cara persalinan, dan induksi persalianan) yang berhubungan dengan angka kejadian hiperbilirubin
di ruang perina RS X Kabupaten Bekasi. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif menggunakan pendekatan
retrospektif. Populasi dalam penelitian ini . yang mengalami hiperbilirubin yang di rawat di RS X Kabupaten Bekasi
pada tahun 2020 sejumlah 128 bayi. Tehnik pengambilan sampel dengan cara total sampling. Hasil penelitian ini
didapatkan berdasarkan uji statstik chi square bahwa masa gestasi berhubungan dengan angka kejadian hiperbilirubin (p
value 0,000 OR 0,314), cara persalinan berhubungan dengan angka kejadian hiperbilirubin ( p value 0,011 OR 0,005),
dan induksi persalinan tidak berhubungan dengan angka kejadian hiperbilirubin (p value 0,319 OR 1,551). Kesimpulan
dari penelitian terdapat hubungan antara masa gestasi, cara persalinan, sedangkan induksi persalinan dengan
hiperbilirubin tidak ada hubungannya, maka dari itu diharapkan dari penelitian ini perawat dapat melakukan upaya
tindakan kesehatan dini untuk mencegah hiperbilirubin.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Antonia Uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setalah bayi dan plasenta lahir (Maryunan, 2014). Berdasarkan data Depkes RI, 2014 terdapat 10% kejadian atonia uteri pada ibu bersalin diseluruh indonesia. Berdasarkan angka kematian ibu (AKI) di jawa barat pada tahun 2014 adalah 31/100.000 kelahiran hidup yang disebabkan pendarahan karena atonia uteri sebanyak 1 orang. Seorang ibu dapat mengalami kematian karena pendarahan pasca persalinan dalam waktu yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi (Departemen Kesehatan RI, 2014). Berdasarkan data rekam medik yang diambil di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2017 jumlah kejadian atonia uteri pada ibu bersalin ada seabnyak 14 orang dari 263 ibu bersalin atau sekitar 5,3%. Sedangkan pada tahun 2018 jumlah ibu bersalin dengan atonia uteri mencapai 17 orang dari 226 ibu bersalin atau 6,3%. Jumlah kasus atonia uteri meningkat 1% pada tahun 2018. Tujuan dari penelitian ini dalah utntuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian atonia uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross secsional, dengan populasi 266 ibu bersalin normal dan sampel 17 ibu bersalin yang mengalami Atonia Uteri di ruang VK RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Dimana variabel independen dan dependen diukur secara bersamaan dengan menggunakan data rekam medik.
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 226 ibu bersalin yang mengalami atonia uteri sebanyak 17 orang (7,5%), sedangkan yang tidak mengalami atonia uteri sebanyak 209 orang (92,5%). Hasil penelitian ini membuktikan adanya hubungan signifikan antara umur ibu P Value 0,020 < a 0,05 dan OR 4,133, paritas P Value 0,007 < a 0,005 dan OR 4,934, interval persalinan P Value 0,004 < a 0,05 dan OR -, dan anemia P Value 0,019 < a 0,05 dan OR 3,870. Kesimpulannya ada hubungan signifikat antara umur, paritas, anemia, dan interval persalinan dengan kejadian atonia uteri dan tidak terdapat kesenjangan.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara umur ibu, paritas, interval persalinan, dan anemia dengan kejadian atonia uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018 dan sesuai dengan teori-teori yang sudah dikemukakan. Diharapkan kesadaran masyarakat khususnya ibu bersalin agar lebih meningkatkan dan memelihara kesehatan untuk mencegah kejadian atonia uteri dengan cara informasi tentang tanda bahaya pad aibu hamil dan bersalin.