Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Atonia Uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018
Antonia Uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setalah bayi dan plasenta lahir (Maryunan, 2014). Berdasarkan data Depkes RI, 2014 terdapat 10% kejadian atonia uteri pada ibu bersalin diseluruh indonesia. Berdasarkan angka kematian ibu (AKI) di jawa barat pada tahun 2014 adalah 31/100.000 kelahiran hidup yang disebabkan pendarahan karena atonia uteri sebanyak 1 orang. Seorang ibu dapat mengalami kematian karena pendarahan pasca persalinan dalam waktu yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi (Departemen Kesehatan RI, 2014). Berdasarkan data rekam medik yang diambil di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2017 jumlah kejadian atonia uteri pada ibu bersalin ada seabnyak 14 orang dari 263 ibu bersalin atau sekitar 5,3%. Sedangkan pada tahun 2018 jumlah ibu bersalin dengan atonia uteri mencapai 17 orang dari 226 ibu bersalin atau 6,3%. Jumlah kasus atonia uteri meningkat 1% pada tahun 2018. Tujuan dari penelitian ini dalah utntuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian atonia uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross secsional, dengan populasi 266 ibu bersalin normal dan sampel 17 ibu bersalin yang mengalami Atonia Uteri di ruang VK RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Dimana variabel independen dan dependen diukur secara bersamaan dengan menggunakan data rekam medik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 226 ibu bersalin yang mengalami atonia uteri sebanyak 17 orang (7,5%), sedangkan yang tidak mengalami atonia uteri sebanyak 209 orang (92,5%). Hasil penelitian ini membuktikan adanya hubungan signifikan antara umur ibu P Value 0,020 < a 0,05 dan OR 4,133, paritas P Value 0,007 < a 0,005 dan OR 4,934, interval persalinan P Value 0,004 < a 0,05 dan OR -, dan anemia P Value 0,019 < a 0,05 dan OR 3,870. Kesimpulannya ada hubungan signifikat antara umur, paritas, anemia, dan interval persalinan dengan kejadian atonia uteri dan tidak terdapat kesenjangan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara umur ibu, paritas, interval persalinan, dan anemia dengan kejadian atonia uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018 dan sesuai dengan teori-teori yang sudah dikemukakan. Diharapkan kesadaran masyarakat khususnya ibu bersalin agar lebih meningkatkan dan memelihara kesehatan untuk mencegah kejadian atonia uteri dengan cara informasi tentang tanda bahaya pad aibu hamil dan bersalin.