BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Tingginya risiko penularan HIV/AIDS pada kelompok usia remja sering kali dipicu oleh keterbatasan akses informasi serta minimnya tingkat pengetahuan. Pendidikan kesehatan berbasis media video animasi menjadi salah satu satu inovasi sarana pembelajaran interaktif yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa secara menyeluruh. Tujuan dari penelitian untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan dengan media video animasi terhadap peningkatan pengetahuan remaja kelas X tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode desain pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 2 Cikarang Selatan yang berjumlah 450 orang. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi dengan rumus slovin sehingga diperoleh 232 responden. Pengumpulan data pengetahuan menggunakan instrumen kuesioner. Analisis data bivariat dilakukan menggunakan uji non parametrik Wilcoxon Signed Rank karena data berdistribusi tidak normal. Sebelum dilakukan intervensi, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori kurang sebesar 71,98% (167 orang). Setelah diberikan intervensi pendidikan kesehatan dengan media video animasi, tingkat pengetahuan responden meningkat secara signifikan menjadi kategori baik sebesar 89,66% (208 orang). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan nilai p-value = 0,000 (α < 0,05) dengan nilai Z = -12,926. Kesimpulan pada penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian pendidikan kesehatan dengan media video animasi terhadap peningkatan pengetahuan remaja kelas X tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 2 Cikarang Selatan tahun 2026. Media audiovisual seperti video animasi terbukti efektif dimanfaatkan sebagai sarana promosi kesehatan reproduksi remaja.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penurunan suhu tubuh merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien
pasca anestesi umum di ruang pemulihan serta dapat meningkatkan ketidaknyamanan dan risiko
komplikasi pasca operasi. Intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk meningkatkan
suhu tubuh pasien adalah body warmer pads. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian body warmer pads terhadap kenaikan suhu tubuh pada pasien shivering pasca
general anesthesia di ruang Post Anesthesia Care Unit RSUD Bayu Asih. Metode: Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experimental one group pretest–posttest.
Sampel penelitian berjumlah 29 responden. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah
pemberian body warmer pads selama 15 menit menggunakan termometer digital. Uji normalitas
menunjukkan sebagian data tidak berdistribusi normal sehingga analisis menggunakan uji Wilcoxon
Signed Rank Test. Hasil: Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z = -4,710 dengan
p value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara suhu tubuh sebelum dan
sesudah pemberian body warmer pads. Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan pemberian body
warmer pads terhadap kenaikan suhu tubuh pada pasien shivering pasca general anesthesia. Saran:
Pemberian body warmer pads ini terbukti efektif sebagai tindakan keperawatan nonfarmakologis
untuk mencegah dan mengatasi penurunan suhu tubuh pada pasien pasca general anesthesia.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi pada periode intra operatif akibat gangguan termoregulasi setelah pemberian spinal anestesi. Ketinggian blok spinal diduga memengaruhi luas vasodilatasi perifer yang dapat meningkatkan kehilangan panas tubuh sehingga berpotensi memicu terjadinya shivering pada pasien pasca operasi.
Tujuan: Mengetahui hubungan ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering intra operatif pada pasien operasi urologi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan
consecutive sampling dengan jumlah sampel 36 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Sebagian besar responden mengalami ketinggian blok spinal rendah dan sebagian besar tidak mengalami shivering. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi urologi.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian blok spinal anestesi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi urologi di RSUD Kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan anestesi spinal dan dapat meningkatkan konsumsi oksigen, beban metabolik, serta risiko gangguan hemodinamik pada pasien di ruang pemulihan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regional anestesi subaraknoid blok terhadap terjadinya shivering pada fase pasca anestesi di ruang recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani anestesi spinal dan diobservasi kejadian shivering dalam 0–30 menit pertama pasca anestesi. Hasil penelitian: menunjukkan adanya pengaruh antara regional anestesi subaraknoid blok dengan kejadian shivering pasca anestesi. Faktor usia, jenis kelamin, serta kondisi fisiologis pasien turut berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Kesimpulan: bahwa anestesi spinal berpengaruh terhadap terjadinya shivering pada fase pemulihan. Saran: diperlukan pemantauan suhu tubuh dan manajemen pencegahan yang optimal guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien di ruang recovery room.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang :HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat,
terutama pada remaja usia 15-24 tahun yang berisiko. Rendahnya pengetahuan
tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dapat menodorong perilaku berisiko.
sehingga diperlukan pendekatan inovatif seperti permainan ular tangga berbasis
peer group Tujuan: Menganalisis pengaruh permainan ular tangga dengan
pendekatan peer group terhadap pengetahuan remaja tentang penularan dan
pencegahan HIV/AIDS di SMAN 1 Sukakarya Tahun 2026. Metode: Penelitian
kuantitatif dengan desain pre-eksperimental dengan rancangan one group pretestposttest
pada 78 responden. Analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan instrumen kuesioner HIV-KQ-18. Hasil: Sebelum intervensi, mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup (60,3%). Setelah intervensi, kategori baik meningkat menjadi 39,7 dan kategori kurang menurun menjadi 6,4%. Uji Statistik menunjukkan p value = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Permainan ular tangga
berbasis peer group efektif meningktkan pengetahuan remaja tentang penularan dan
pencegahan HIV/AIDS. Saran: Sekolah dan tenaga kesehatan dapat menggunakan
permainan edukatif berbasis peer group sebagai alternatif pembelajaran kesehatan bagi remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : HIV/AIDS di kalangan remaja telah menjadi permasalahan kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama karena meningkatnya jumlah kasus pada kelompok usia tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di Posyandu Remaja Desa Karangasih Bekasi Tahun 2025. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian terdiri dari dua yaitu: variabel bebas meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, dukungan orang tua, dukungan teman sebaya dan sumber informasi. Variabel terikat yaitu pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Total sampling digunakan untuk mengetahui jumlah sampel sebanyak 75 responden. Teknik analisis data univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara jenis kelamin (p-value 0,001), usia (p-value 0,014), pendidikan (p-value 0,009), dukungan orang tua (p-value 0,000), dukungan teman sebaya (p-value 0,000), sumber informasi (p-value 0,000) dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Kesimpulan : Ada hubungan antara pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dengan jenis kelamin, usia remaja, pendidikan, dukungan orang tua, dukungan teman sebaya, dan sumber informasi. Meningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS memerlukan pendekatan komprehensif dengan menyediakan akses ke informasi yang akurat, tidak menstigma, dan sesuai dengan perkembangan remaja.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi.
Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank.
Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48).
Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia menuntut penanganan yang optimal melalui terapi Antiretroviral (ARV) untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Kepatuhan dalam minum obat ARV menjadi faktor penentu keberhasilan terapi dan kualitas hidup yang optimal pada pasien HIV/AIDS (Kemenkes RI, 2024). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kepatuhan pengobatan ARV dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 133 orang dengan HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV, dipilih menggunakan teknik total sampling (Sugiyono, 2020). Hasil : penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat kepatuhan pengobatan ARV dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS (p = 0,001 < 0,05). Kesimpulan : nilai Korelasi Koefisien sebesar 0,558 menunjukkan hubungan sedang (moderat), di mana kepatuhan tinggi berpengaruh positif terhadap kualitas hidup, terutama pada kesehatan fisik dan tingkat kemandirian pasien. Distribusi frekuensi menunjukkan 56,7% responden memiliki kepatuhan rendah, 40% sedang, dan 3,3% tinggi, dengan kualitas hidup kategori kurang baik sebanyak 43,4%, cukup baik 46,7%, dan baik 10%. Saran : hasil ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pengobatan ARV berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan dukungan berkelanjutan untuk meningkatkan kepatuhan pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering. Background Anesthesia is a field of medical discipline that knows how to dispel a taste, be it pain, fear or discomfort. The length of surgery is the length of time the patient takes for surgery, starting from the time the patient is transferred to the operating table until it is moved to the recovery room . Body Mass Index is a simple tool or way to monitor the nutritional status of adults, especially those related to underweight and overweight. Shivering/shivering is one of the side effects of anesthesia in surgical patients. Investigator Objectives: The general objective of this study is to determine the Relationship between Surgery Length and Body Mass Index and Shivering Incidence in Post-Spinal Anesthesia Patients in the Recovery Room.At the Bekasi Regency Hospital Method: This study is a quantitative method and applies techniques to determine the relationship between independent variables (length of surgery and body mass index) and variable dependent, namely (occurrence of shivering after spinal anesthesia in the recovery room of Bekasi Regency Hospital) Results : From the results obtained using the spearmans rho test x, the results found in the spearmans rho test obtained a significance value of 0.0000.05 which shows that there is a shivering relationship. Conclusion: The category of this study was obtained the body mass index that had the most influence on the incidence of shivering, namely the thin category of 28 people (70.0%) because a P-value of 0.05 was obtained. Shivering
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia menuntut penanganan yang optimal melalui terapi Antiretroviral (ARV) untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Kepatuhan dalam minum obat ARV menjadi faktor penentu keberhasilan terapi dan kualitas hidup yang optimal pada pasien HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kepatuhan pengobatan ARV dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 133 orang dengan HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV, dipilih menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat kepatuhan pengobatan ARV dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS (p = 0,001 0,05). Nilai Correlation Coefficient sebesar 0,558 menunjukkan hubungan sedang (moderat), di mana kepatuhan tinggi berpengaruh positif terhadap kualitas hidup, terutama pada kesehatan fisik dan tingkat kemandirian pasien. Distribusi frekuensi menunjukkan 56,7% responden memiliki kepatuhan rendah, 40% sedang, dan 3,3% tinggi, dengan kualitas hidup kategori kurang baik sebanyak 43,4%, cukup baik 46,7%, dan baik 10%. Hasil ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pengobatan ARV berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan dukungan berkelanjutan untuk meningkatkan kepatuhan pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Jumlah kasus kematian disebabkan oleh HIV-AIDS di kalangan remaja secara global menunjukkan status yang mengkhawatirkan. Data statistik menyebutkan setiap harinya terdapat 4000 kasus termasuk 1100 kasus di usia remaja (15 sampai 24 tahun) terpapar HIV-AIDS. Tujuan: Untuk meneliti adanya pengaruh metode pendidikan kesehatan mengenai HIV-AIDS dengan media Audio visual terhadap pengetahuan remaja di SMAN 1 Kedung Waringin. Metode: Jenis penelitian ini adalah pre eksperimental dengan rancangan pretest- posttest one grup design, Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa-siswi di SMAN 1 Kedung Waringin kelas XI yang berjumlah 316 orang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 85 remaja menggunakan teknik non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Instrament penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan untuk analisis bivariate adalah uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden sebagian besar dengan gender perempuan (58,82%). Sedangkan pada umur responden sebagian besar berusia 16 tahun adalah (81,18%), Hasil uji bivariaet dengan nilai p-value- 0,000, di mana hal tersebut menunjukkan terdapat pengaruh dengan meningkatnya nilai rata-rata pengetahuan remaja tentang HIV-AIDS sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Kesimpulan: Penelitian ini menyatakan bahwa pendidikan kesehatan mengenai pencegahan HIV-AIDS pada remaja dengan menggunakan media audio visual berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan remaja di SMAN 1 Kedung Waringin.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Shivering pasca anestesi dapat terjadi pada pasien dengan anestesi umum sebesar 5-65% dan
sedangkan pada anestesi spinal mencapai 33-57%. Shivering pasca anestesi adalah mekanism
kompensasi dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, termasuk
ketidaknyamanan pasien, nyeri akibat perluasan bekas luka operasi, dan peningkatan kebutuhan
oksigen akibat meningkatnya aktivitas otot. TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk untuk
mengetahui hubungan lama operasi dengan shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi diruang operasi RS.Medirossa Cikarang. HASIL: Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dijelaskan bahwa pasien yang telah menjalani tindakan pembedahan herniatomi dengan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25 responden (80,6%). Dan perempuan 6 responden (19,4%). Berdasarkan hasil penelitian umu mayoritas yang mengalami pembedahan herniotomi dengan spinal anestesi dalam penelitian in adalah rentang umur 43-55 tahun sebanyak 15 responden (48,4%). Dari uji statistik pearson chi square diperoleh nilai (p-value) 0,012 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi dan shivering pada pembedahan herniotomi menggunakan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang. KESIMPULAN: Ada hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi di RS. Medirossa Cikarang
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
General anestesi merupakan salah satu teknik prosedur pembedahan yang banyak digunakan untuk pasien bedah mayor. Pasien yang menjalani operasi lebih dari 60 menit dengan teknik general anestesi memiliki resiko terjadinya shivering. Kejadian Post Anesthesia Shivering (PAS) dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan komplikasi pada luka bedah. Tujuan : Mengetahui adanya hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik general anestesi berjumlah 33 menggunakan teknik stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi shivering scale Crossley dan Maharjan. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian : Lama operasi yang dijalani pasien adalah > 2 jam sebanyak 21 responden (63,3%) dan pasien pasca operasi dengan general anestesi mayoritas mengalami shivering sebanyak 19 orang (57,6%). Hasil analisis statistik Chi-Square menunjukan ada hubungan antara lama operasi dengan shivering p-value < 0,004. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara lama operasi terhadap kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah jenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired immonodeficiency syndrom) merupakan stadium paling akhir dalam perjalanan penyakit ini. HIV menyerang sel darah putih yang ada ditubuh manusia kemudian melemahkan sistem kekebalan tubuh. Di Jawa Barat pada bulan Oktober tahun 2022 angkas kasus HIV sebanyak 57.914 dan AIDS sebanyak 12.353. Pengetahuan ibu hamil akan HIV akan sangat mempengaruhi perilaku ibu tersebut, baik untuk pencegahan pada saat ibu hamil tersebut
dinyatakan negative HIV maupun pada saat ibu dinyatakan positif HIV. Pengetahuan ibu hamil terhadap HIV akan mempengaruhi kesehahteraan ibu dan janinnya baik secara fisik maupun psikologis. Adapun tujuan umumnya ntuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pengetahuan ibu hamil terhadap penularan HIV di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) Romi Serang Baru Kabupaten Bekasi Tahun 2023.
Jenis penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik, Desain yang digunakan adalah cross sectional. Dimana variabel independent ( pendidikan, usia, pekerjaan, sumber informasi) sedangkan variabel dependent (pengrtahuan ibu hamil terhadap penularan HIV). Populasi dalam penelitian ini adalah 125 ibu hamil yang melakukan ANC di TPMB Romi peirode bulan Juli-November 2023. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin didapat 55 sampel dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner berupa kuesioner. Data dianalsis dengan menggunaka uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan pengetahuan ibu hamil terhadap penularan
HIV di Tempat praktik Mandiri Bidan Romi Serang Baru Kabupaten Bekasi Tahun 2023 adalah pendidikan (p=0.027),
usia (p=0.003), pekerjaan (p=0.001), dan sumber informasi (p=0.022). Dari 4 variabel tersebut, semua variabel saling
berhubungan. Diharapkan responden lebih pahamtentang penyakit HIV dan penularannya.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara pendidikan, usia, pekerjaan, dan sumber informasi
dengan pengetahuan ibu hamil terhadap penularan HIV Di Tempat Praktik Mandiri Bidan Romi Serang Baru
Kabupaten Bekasi Tahun 2023. Disarankan pada ibu hamil memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat dan
mencari informasi terkait penularan HIV ke fasilitas kesehatan terdekat jika masih ada yang belum mengerti.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kejadian kematian akibat HIV-AIDS di kalangan anak muda di seluruh dunia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data statistic menyebutkan setiap harinya 4000 orang termasuk 1100 anak muda (usia 15-24 tahun) terinfeksi HIV. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh media pendidikan kesehatan HIV-AIDS dengan metode Audio Visual terhadap pengetahuan dan sikap remaja di SMAN 2 Cikarang Pusat.
Jenis penelitian ini adalah pre eksperimental dengan rancangan pretest-posttest one grup design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/I di SMAN 2 Cikarang Pusat pada tahun 2023 yang berjumlah 814 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 86 orang menggunakan tekhik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan untuk analisis bivariate adalah uji Wilcoxon Signed Rank Test
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan (64%). Sedangkan pada umur responden sebagian besar berumur 17 tahun adalah (51,2%). Hasil uji bivariat dengan nilai p-value = 0,000, dimana hal terebut menunjuan ada pengaruh dengan meningkatnya nilai rata-rata pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV-AIDS sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan
Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa metode audio visual berpengaruh meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja. Bagi remaja SMAN 2 Cikarang Pusat disarankan agar banyak mencari informasi melalui media digital yang mudah diakses dan tentu dengan memperhatikan keilmiahannya sehingga dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang HIV-AIDS
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Shivering pasca anestesi dapat terjadi pada pasien dengan anestesi umum sebesar 5-65% dan sedangkan pada anestesi spinal mencapai 33-57%. Shivering pasca anestesi adalah mekanisme kompensasi dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, termasuk ketidaknyamanan pasien, nyeri akibat perluasan bekas luka operasi, dan peningkatan kebutuhan oksigen akibat meningkatnya aktivitas otot. TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi diruang operasi RS.Medirossa Cikarang. HASIL: Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dijelaskan bahwa pasien yang telah menjalani tindakan pembedahan herniatomi dengan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25 responden (80,6%). Dan perempuan 6 responden (19,4%). Berdasarkan hasil penelitian umur mayoritas yang mengalami pembedahan herniotomi dengan spinal anestesi dalam penelitian ini adalah rentang umur 43-55 tahun sebanyak 15 responden (48,4%). Dari uji statistik pearson chi-square diperoleh nilai (p-value) 0,012 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi dan shivering pada pembedahan herniotomi menggunakan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang. KESIMPULAN: Ada hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi di RS. Medirossa Cikarang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : General anestesi merupakan salah satu teknik prosedur pembedahan yang banyak digunakan untuk pasien bedah mayor. Pasien yang menjalani operasi lebih dari 60 menit dengan teknik general anestesi memiliki resiko terjadinya shivering. Kejadian Post Anesthesia Shivering (PAS) dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan komplikasi pada luka bedah. Tujuan : Mengetahui adanya hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik general anestesi berjumlah 33 menggunakan teknik stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi shivering scale Crossley dan Maharjan. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian : Lama operasi yang dijalani pasien adalah > 2 jam sebanyak 21 responden (63,3%) dan pasien pasca operasi dengan general anestesi mayoritas mengalami shivering sebanyak 19 orang (57,6%). Hasil analisis statistik Chi-Square menunjukan ada hubungan antara lama operasi dengan shivering p-value 0,004. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara lama operasi terhadap kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi.