ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Pelayanan kefarmasian merupakan pelayanan kesehatan yang mempunyai peranan penting dalam mewujudkan kesehatan yang bermutu, sedangkan apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mewujudkan pelayanan kefarmasian yang bermutu. Pelayanan kefarmasian selain sebagai tuntutan profesionalisme juga dapat dilihat sebagai faktor yang menarik konsumen untuk membeli obat farmasi (Sari & Suprianto). Jenis penelitian ini termasuk penelitian nonekperimental dengan desain penelitian deskriptif menggunakan analisis kuantitatif yaitu menggunakan analisis data berupa angka yang bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di klinik Raffa Medika. Penelitian ini menggunakan pendekatan (survey) dimana pengumpulan data ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden, dengan bantuan perhitungan aplikasi SPSS versi 25. Berdasarkan hasil uji Chi-square pada jenis kelamin bisa dilihat pada table diatas didapatkan p-value 0.151, sehingga p-value 0.01. Untuk jenis kelamin laki-laki, ada sebanyak 2 responden yang menyatakan tidak puas, 33 responden menyatakan cukup puas, dan 10 responden menyatakan puas, jadi total jenis kelamin laki-laki ada sebanyak 45 responden. Dan untuk jenis kelamin Perempuan, ada sebanyak 28 responden menyatakan cukup puas, 16 responden menyatakan puas, total jenis kelamin perempuan ada sebanyak 44 responden. Berdasarkan uji statistik dapat di nyatakan bahwa tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan Kepuasan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Pandu Irawan Hubungan Perilaku Sedentari Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2022 Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang terjadi akibat tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif (WHO, 2019). Menurut Organisasi International Diabetes Federation (IDF), memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019. Menurut PERKENI (2019) meningkatnya jumlah penderita diabetes melitus tipe-2 dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kurangnya aktivitas fisik (perilaku sedentari). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan hubungan perilaku sedentari dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan pendekatan cross sectional study (potong lintang). Sampel pada penelitian ini adalah pasien diabetes melitus yang melakukan pengobatan rawat jalan di poliklinik RS. Sentra Medika Cikarang dengan jumlah sampel sebanyak 41 orang. Alat pengumpul data berupa instrument/angket dengan uji chi-square. Hasil: Adanya hubungan antara perilaku sedentari dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II, dengan hasil uji chi-square nilai p = 0,004, atau Ha diterima (p0,05). Kesimpulan: Adanya hubungan antara perilaku sedentari dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Saran: pentingnya mempunyai ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai penyakit diabetes mellitus yang diderita serta pentingnya dukungan keluarga dalam proses perawatan bagi penderita diabetes mellitus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Perawat yang mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam memberikan pelayanan keparawatan harus mampu memberikan andil dan tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan yang berkualitas untuk menjamin kepuasan pasien. Komplain pasien yang tidak puas jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan turunnya kapabilitas pelayanan rumah sakit terhadap layanan dalam hal ini kepuasan pasien sangat berpengaruh dalam menjaga mutu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kenerja dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit Sentra Madika Cikarang. Penelitian ini menggunakan desain analitik correlation dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien rawat jalan di ruang Hemodialisa Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang sejumlah 61 orang dan dengan menggunakan tehnik nonprobability sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kinerja perawat dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kepuasan pasien. Instrumen yang digunakan yaitu dengan lembar kuisioner. Analisis hubungan kinerja perawat dengan kepuasan pasien dengan menggunakan uji Spearman Rho karena tujuan penelitian bersifat korelasi, jumlah variabel ada 2, skala data variabel yang dianalisis adalah skala ordinal. Uji Spearman Rho dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 22.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar penilaian kinerja perawat dalam kategori cukup (50.8%) dan sebagian besar penilaian kepuasan pasien dalam kategori baik (70.5%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,001 yang artinya kurang dari 0.05 maka kesimpulannya ada hubungan signifikan antar kinerja perawat dengan kepuasan pasien. Untuk tingkat kekuatan antara hubungan didapatkan hasil 0.415 artinya tingkat kekuatan hubungan adalah hubungan sedang anntara kinerja perawat dengan kepuasan pasien. Angka koefisien korelasi diatas bernilai 0.415 maka arah hubungan variebelnya itu positif yang artinya hubungan/korelasi searah maka semakin besar nilai kinerja perawat maka semakin besar pula tingkat kepuasan pasien. Daftar Pustaka : 8 buku dan 16 jurnal (Tahun 2013 s/d 2022) Kata Kunci : Kinerja Perawat, Kepuasan Pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes melitus adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Terapi farmakologi dan non farmakologi Diabetes Mellitus harus dilakukan dengan seimbang dan teratur, jika tidak maka dapat mengakibatkan muncul komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antidiabetik oral pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Ruang Rawat Inap RS Sentra Medika Cisalak. Metode: Jenis metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional yang menerapkan pendekatan kuantitatif untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik. Sampel penelitian berdasarkan Rumus Slovin adalah sebanyak 107 responden. Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner yang selanjutnya dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan dari 107 responden berusia antara 40-70 tahun berjenis kelamin laki-laki 62 orang dan perempuan 45 orang. Responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 67 orang dan tingkat pengetahuan kurang baik 40 responden. Responden berdasarkan tingkat kepatuhan sebanyak 66 responden (61,7%) patuh dan 41 responden (38,3%) tidak patuh. Analisis bivariat menunjukkan kelompok tingkat pengetahuan baik sebanyak 66 responden patuh dan 1 responden tidak patuh. Responden yang memiliki pengetahuan yang kurang baik sejumlah 40 (37,4%) semuanya tidak patuh dalam menggunakan antidiabetik oral. Hasil uji chi square dihasilkan nilai p value 0,0000,05 yang berarti terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan menggunakan antidiabetik oral, dengan nilai OR 67,000 (9,557-468,706) sehingga H0 ditolak dan Ha diterima Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini adalah responden dengan tingkat pengetahuan tinggi memiliki pengaruh 67 kali lebih besar untuk mematuhi penggunaan antidiabetik oral dibandingkan responden yang memiliki pengetahuan rendah. Perlu dilakukan edukasi pada pasien diabetes untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan penggunaan obat. Bahan Baca: 3 buku (2020-2022) dan 10 jurnal kesehatan (2017-2022)
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Katarak merupakan gangguan penglihatan yang ditandai dengan hilangnya kejernihan atau terjadinya kekeruhan pada lensa mata yang diakibatkan oleh tingginya Gula darah. Terjadinya katarak akan mempengaruhi kualitas hidup pasien katarak. Penurunan kualitas hidup pasien katarak ditandai dengan berkurangnya kemampuan seseorang dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu atau terbatasnya aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari. Tujuan penelitian : Mengetahui Pengaruh operasi katarak mata terhadap kualitas hidup pasien dengan Diabetes Mellitus RS Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023. Metode Penelitian : Jenis penelitian deskriptif statistik jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan Cross sectional. Jumlah populasi 50 responden dan sampel 50 responden dengan menggunakan tehnik total sampling. Hasil penelitian : usia > 40th (80%), jenis kelamin laki-laki (60%), pendidikan SMA (73,3%), pekerjaan swasta (46,7%), pre test kualitas hidup kurang baik (100%). Pos test kualitas hidup baik (80%). Disimpulkan : Ada Pengaruh operasi katarak mata terhadap kualitas hidup pasien dengan Diabetes Mellitus RS Harapan Bunda Jakarta Tahun 2023 P-Value 0,000 < 0,05. Kesimpulan dan Saran : Operasi katarak bisa mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan DM, saran agar pasien lebih sering memeriksakan kesehatan mata apabila ada masalah di bagian visual terutama pasien dengan DM.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Retinopati diabetika adalah kelainan retina berupa mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerusakan mikrovaskular pada retina. Pendidikan kesehatan adalah sebuah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan untuk memelihara, dan meningkatkan taraf kesehatannya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang retinopati diabetika. Metode penelitian yang digunakan Quasi Eksperiment dengan pendekatan pre-test and post-test non equivalent control group. Jumlah populasi dan sampel dalam penelitian ini seluruh pasien yang terdiagnosis retinopati diabetika di JTEC RS Harapan Bunda dalam 3 bulan terkahir sebanyak 32 Pasien. Tehnik Sampling yang digunakan total samping. Hasil penelitian yaitu Usia 51-60 th (44%), jenis kelamin perempuan (69%), pendidikan SMA (41%), pekerjaan wiraswasta dan IRT /tidak bekerja (31%), pengetahuan sebelum pendidikan kesehatan kurang (63%), pengetahuan setelah pendidikan kesehatan baik (84%). Ada pengaruh yang signifikan antara sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang retinopati diabetika di JTEC RS harapan Bunda Jakarta Timur Tahun 2023 dengan P-Value 0.000. Kesimpulan dan Saran : Pendidikan kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas manusia, dengan pendidikan kesehatan manusia memperoleh pengetahuan dan informasi. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka akan semakin berkualitas hidupnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pelayanan homecare memberikan perawatan kesehatan yang berkesinambungan di rumah pasien, di mana kepuasan pasien menjadi salah satu indikator utama mutu pelayanan. Salah satu faktor kunci yang memengaruhi kepuasan tersebut adalah komunikasi terapeutik perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien homecare di RS Siloam Lippo Cikarang Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 133 pasien homecare, dengan sampel 63 responden yang dipilih melalui rumus Slovin dan probability sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur, yaitu PCCS-12 untuk menilai komunikasi terapeutik dan HCCSI-R untuk menilai kepuasan pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman's Rank (α = 0,05). Hasil: Mayoritas responden menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik (73,0%) dan menyatakan puas terhadap pelayanan homecare (65,1%). Hasil uji bivariat Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kedua variabel dengan nilai p-value < 0,001 dan koefisien korelasi (r_s) sebesar 0,698. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien homecare di RS Siloam Lippo Cikarang. Semakin baik kualitas komunikasi terapeutik yang diterapkannya, semakin tinggi pula tingkat kepuasan yang dirasakan oleh pasien. Disarankan bagi institusi untuk terus mempertahankan dan meningkatkan keterampilan komunikasi perawat guna menjaga mutu pelayanan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Surgical Safety Checklist (SSC) merupakan instrumen keselamatan pasien yang wajib diisi lengkap pada setiap tahapan pembedahan (Sign-In, Time-Out, Sign-Out) guna mencegah kesalahan prosedural. Studi pendahuluan di Ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) RS Sentra Medika Hospital Cisalak menunjukkan masih ada beberapa dokumen SSC yang ditemukan tidak lengkap, yang diduga berkaitan dengan kejadian nearmiss intraoperatif dan pemanjangan lama rawat pasien. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelengkapan SSC dengan kejadian nearmiss intraoperatif dan lama rawat pasien di Ruang IBS RS Sentra Medika Hospital Cisalak tahun 2026. Metode : penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang menjalani tindakan operasi di Ruang IBS periode Januari–April 2026 sebanyak 1.053 pasien, dengan sampel sebanyak 183 pasien yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data bersumber dari rekam medis pasien dan register Insiden Keselamatan Pasien (IKP), dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact Test. Hasil : penelitian menunjukkan bahwa dari 183 dokumen SSC yang ditelaah, sebanyak 154 dokumen (84,1%) terisi lengkap dan 29 dokumen (15,9%) tidak lengkap. Kejadian nearmiss intraoperatif ditemukan pada 15 pasien (8,2%), dari 183 responden sedangkan 168 pasien( 91,8 % ) tidak mengalami kejadian nearmiss, sedangkan lama rawat memanjang (>5 hari) dialami oleh 29 pasien (15,9%),sesuai standart < 3 hari yaitu 116 orang ( 63,2 % ) ,38 orang ( 20,9 % ) sesuai klinical pathway rumah sakit,dari total 183 responden.Terdapat hubungan yang bermakna antara kelengkapan SSC dengan kejadian nearmiss intraoperatif (p=0,000; Odds Ratio 7,946; 95% CI: 2,611–24,176) dan dengan lama rawat pasien (p=0,000). Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara kelengkapan Surgical Safety Checklist dengan kejadian nearmiss intraoperatif dan lama rawat pasien, sehingga disarankan bagi rumah sakit untuk melakukan audit berkala terhadap kelengkapan pengisian SSC guna meningkatkan mutu keselamatan pasien di ruang bedah
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Keberhasilan pengobatan hipertensi sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antihipertensi secara teratur. Namun, tingkat kepatuhan pasien masih menjadi tantangan karena dipengaruhi oleh berbagai karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Kedungwaringin Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif analitik melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 149 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data karakteristik pasien meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan diperoleh melalui kuesioner karakteristik responden, sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, memiliki rata-rata usia n52,47 tahun, berpendidikan Sekolah Dasar (SD), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia (p = 0,006) dan tingkat pendidikan (p = 0,000) berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, sedangkan jenis kelamin (p = 0,529) dan pekerjaan (p = 0,584) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Disimpulkan bahwa usia dan tingkat pendidikan merupakan karakteristik pasien yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, sedangkan jenis kelamin dan pekerjaan tidak berhubungan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi edukasi dan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi di pelayanan kesehatan primer.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kepuasan pasien merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan kefarmasian. Tingkat Kepuasan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk karakteristik pasien. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Hubungan karakteristik Pasien Rawat Jalan Terhadap Tingkat Kepuasan Pada Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Cikarang Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan desain cross-sectional dengan sampel berjumlah 94 pasien rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dan dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil menunjukkan bahwa sebagaian besar responden berjenis kelamin perempuan, berpendidikan SD dan SMA, berusia 30-39, bekerja sebagai Ibu Rumah tangga dan merupakan menggunakan layanan PBI dengan frekuensi kunjungan 1 kali. Hasil Uji Chi Square menunjukkan bahwa umur yang memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat kepuasan, (P-Value 0,03) sedangkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan frekuensi kunjungan tidak memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan penelitian menunjukan dapat disimpulkan bahwa usia merupakan satu-satunya karakteristik pasien yang berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepuasan pada pelayanan kefarmasian di Puskesmas Cikarang. Sementara itu, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan frekuensi kunjungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap tingkat kepuasan pasien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dengan memperhatikan kebutuhan pasien pada berbagai kelompok usia.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan, dan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi salah satu faktor penentu utamanya di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Meskipun standar pelayanan kefarmasian telah diatur melalui regulasi pemerintah, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan informasi obat hingga waktu tunggu pelayanan, sehingga evaluasi terhadap hubungan antara kualitas pelayanan kefarmasian dan kepuasan pasien menjadi penting, khususnya di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas pelayanan kefarmasian, tingkat kepuasan pasien, serta hubungan keduanya berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, guna menjawab pertanyaan apakah kualitas pelayanan kefarmasian berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien di puskesmas tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan teknik accidental sampling terhadap 254 responden yang memenuhi kriteria inklusi, data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kefarmasian dan tingkat kepuasan pasien secara umum berada pada kategori baik dan puas. Uji bivariat mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pelayanan kefarmasian secara keseluruhan dengan kepuasan pasien (p=0,004), serta pada seluruh dimensi SERVQUAL yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy (masing-masing p=0,000), yang memperkuat pemahaman bahwa kelima dimensi tersebut secara konsisten berkontribusi terhadap kepuasan pasien pada layanan kefarmasian di puskesmas. Dengan demikian, peningkatan mutu pelayanan kefarmasian perlu dilakukan secara berkelanjutan pada seluruh dimensi tersebut untuk mempertahankan kepuasan pasien, dan penelitian selanjutnya disarankan menjangkau fasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain yang turut memengaruhi kepuasan pasien
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Rasionalitas terapi berperan penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan gastroenteritis akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan rasionalitas pengobatan dengan lama rawat inap pasien gastroenteritis akut di Rumah Sakit Kartika Husada Setu. Penelitian menggunakan desain observasional analitik retrospektif terhadap 65 rekam medis pasien rawat inap periode Januari–Juni 2026 dengan teknik total sampling. Rasionalitas dinilai berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat rute pemberian, dan tepat lama pemberian. Data yang didapat kemudian dievaluasi kerasionalannya. Hubungan antara kerasionalan terapi dengan lama rawat inap diuji menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45 pasien (69,2%) menerima terapi rasional dan 20 pasien (30,8%) menerima terapi tidak rasional. Ketidakrasionalan ditemukan pada aspek ketepatan indikasi, ketepatan dosis, dan ketepatan lama pemberian. Uji Fisher’s Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas terapi dan lama rawat inap (p=0,741). Kesimpulannya, sebagian besar pasien memperoleh terapi yang rasional (69,2%), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas terapi dengan lama rawat inap.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit dapat dinilai melalui waktu tunggu pelayanan obat dan ketersediaan obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan obat dan ketersediaan obat terhadap kepuasan pasien penyakit degeneratif di poli penyakit dalam Rumah Sakit Kartika Husada Setu. Penelitian menggunakan metode kuantitatif observasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 87,83% responden memperoleh waktu tunggu pelayanan obat sesuai standar dan 95,95% memperoleh obat yang tersedia. Tingkat kepuasan pasien terdiri atas 39,2% sangat puas, 36,5% puas, dan 24,3% tidak puas. Uji Statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara waktu tunggu pelayanan obat dengan tingkat kepuasan pasien (p-value= 0,004), sedangkan ketersediaan obat tidak berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien (p-value= 0,130). Dapat disimpulkan bahwa waktu tunggu pelayanan obat berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan, sedangkan ketersediaan obat tidak terdapat hubungan dengan kepuasan pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Aplikasi Mobile JKN merupakan salah satu bentuk digitalisasi pelayanan kesehatan yang dapat mempermudah peserta JKN dalam mengakses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN oleh pasien rawat jalan peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 97 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Variabel independen meliputi ekspektasi kinerja (Performance Expectancy), ekspektasi usaha (Effort Expectancy), pengaruh sosial (Social Influence), dan kondisi yang memfasilitasi (Facilitating Conditions), sedangkan variabel dependen adalah pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62 responden (63.9%) memanfaatkan aplikasi Mobile JKN dan 35 responden (36.1%) tidak memanfaatkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara ekspektasi kinerja (p < 0.001), ekspektasi usaha (p < 0.001), pengaruh sosial (p=0.007), dan kondisi yang memfasilitasi (p < 0.001) dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa keempat variabel yang diteliti berhubungan signifikan dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN pada pasien rawat jalan peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan
yang berkualitas sesuai standar minimal kepuasan pasien di atas 95%. Komunikasi
terapeutik merupakan instrumen krusial bagi perawat dalam membangun hubungan
saling percaya, menyampaikan informasi medis, dan memberikan dukungan
emosional yang berdampak langsung pada kenyamanan pasien. Fenomena di
Ruang Gladiol RS Sentra Medika Cikarang menunjukkan adanya kesenjangan, di
mana skor kepuasan pasien baru mencapai 75,37% dan masih ditemukan keluhan
terkait kurangnya penjelasan tindakan oleh perawat. Tujuan: Penelitian ini
dilakukan untuk mengidentifikasi gambaran pelaksanaan komunikasi terapeutik
perawat, mengidentifikasi gambaran tingkat kepuasan pasien, serta menganalisis
hubungan antara kedua variabel tersebut di Ruang Gladiol Rawat Inap Rumah Sakit
Sentra Medika Cikarang. Metode: Studi ini merupakan penelitian kuantitatif
dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional.
Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik total sampling terhadap 30
responden yang menjalani rawat inap pada Februari 2026. Instrumen penelitian
menggunakan kuesioner komunikasi terapeutik yang telah diuji validitasnya serta
kuesioner kepuasan pasien standar rumah sakit. Analisis data dilakukan secara
univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Analisis
univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai komunikasi
terapeutik perawat dalam kategori baik (50%) dan memiliki tingkat kepuasan yang
tinggi (63,3%). Hasil uji bivariat mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan
antara pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien,
dengan nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05$) dan koefisien korelasi (r) sebesar
0,588. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif dengan kekuatan korelasi sedang
antara komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien. Hal ini menginterpretasikan
bahwa semakin optimal perawat dalam menjalankan tahapan komunikasi
terapeutik—mulai dari prainteraksi hingga terminasi—maka persepsi kepuasan
pasien terhadap mutu pelayanan rumah sakit akan semakin meningkat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal
Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation
Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p < 0,003
Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik dengan ditandai peningkatan kadar glukosa dalam darah, yang dikenal sebagai hiperglikemia yang dikarenakan gangguan dalam sekresi insulin dan ketidakcukupan fungsi insulin itu sendiri dan dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan, serta berdampak signifikan pada kualitas hidup penderita. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden dan memberikan gambaran demografi mengenai hubungan antara dukungan keluarga dalam kepatuhan perawatan pada pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif cross-sectional dan menekankan pada waktu yang dihabiskan untuk mengukur atau mengamati data variabel dependen dan independen satu per satu terhadap 62 sample dari 160 populasi dibulan Oktober sampai November di RS Sentra Medika Cibinong. Berdasarkan Uji Normalitas data Kolmogrov-Smirnov dan penelitian diperoleh asymp.sig (2-tailed) sebesar 0,576 atau > 0,05 artinya data terdistribusi dengan normal dan berdasarkan analisis statistik uji chi-square menunjukkan bahwa P-Value = 0,005 (P<alpa 0,05), maka Ha diterima yang berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga tinggi dengan peningkatan kepatuhan perawatan di RS Sentra Medika Cibinong. Dari hasil penelitian ini, analisis data dan pembahasan maka tujuan penelitian telah terjawab yakni ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi RS Sentra Medika Cibinong dalam upaya memberikan promosi kepada pasien diabetes melitus mengenai pentingnya menjaga kepatuhan dalam melaksanakan aktivitas perawatan diri.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Penyakit ginjal kronik (PGK) telah muncul sebagai salah satu penyebab kematian dan penderitaan paling menonjol di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan hipertensi dengan kualitas hidup pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RS. Sentra Medika Cikarang tahun 2025. Metode : penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 185 pasien dengan penyakit ginjal kronik, dengan sampel dipresisi menggunakan rumus Slovin. Sehingga didapatkan sampel sebanyak 72 orang responden pasien penyakit gagal ginjal yang menjalani hemodialisa, dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang menggali karakteristik responden, hipertensi dan kuesioner WHOQOL untuk mengukur kualitas hidup. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat menggunakan spearman rank test. Hasil : analisis bivariat menggunakan spearman rank test, terdapat hubungan signifikan (p-value = 0,000) yang kuat dan searah antar variabel faktor risiko hipertensi dan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik. Saran : diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini, dengan mencari hubungan atau efektivitas antara varibel independen lainnya dengan kualitas hidup pada pasien penderita penyakit ginjal kronik, menggunakan metode dan desain penelitian selain analitik kuntitatif, serta analisis yang lebih mendalam demi pengembangan kebaharuan ilmu pengetahuan terhadap kualitas hidup pasien dengan penyakit ginjal kronik.